Wednesday, 23 May 2012
Nunuk Pulandari
Teman-teman di Baltyra, musim semi di Belanda kali ini sangat tidak menentu. Bulan April lalu cuaca di Belanda boleh dikatakan cukup baik. Matahari banyak menyinarkan cahayanya. Orang sudah bersiap menyambutnya dengan penuh suka cita . Tetapi seperti yang sering terjadi di Belanda, cuaca dapat berubah sesuai dengan kehendak alam yang ada. Seperti yang terjadi kali ini. Biasanya di pertengahan bulan Mei, cuaca sudah mulai panas.. Dan bunga-bunga justru sudah akan mulai berguguran. Tetapi seperti yang kita lihat, di bulan Mei ini bunga-bunga masih bermekaran dengan indahnya dan matahari sering menyembunyikan dirinya.
Foto 1. Bunga Tulip yang ada di antara tanaman bunga Mawar yang belum sempurna pertumbuhannya.
Teman-teman meskipun bunga Tulip sudah mulai bermekaran, tetapi masih banyak bunga-bunga lainnya yang bahkan baru mulai bersemi tunas-tunas barunya. Seperti bunga-bunga mawar di kebun yang belum sempurna pertumbuhannya Memang kadang matahari bermurah hati membagi sinarnya pada penghuni yang ada di bumi ini tetapi sang bayu seringkali tidak mau bekerja sama. Jadi walaupun ada matahari udaranya masih tetap dingin. Dalam minggu-minggu belakangan ini, mungkin hanya separuh harinya bermandikan matahari. Sisanya hanya hujan rintik, atau hujan deras yang disertai dengan tiupan angin yang cukup kencang… Alhasil, walaupun bulan Mei sudah melewati minggu keduanya , banyak orang masih yang mengenakan jas tebalnya…Brrrrrr..
Yang sangat menarik untuk diamati dalam musim semi ini adalah fenomen pertambahan generasi baru di dunia fauna. Hal ini bisa disaksikan di sekitar kehidupan kita sehari-hari. Seperti yang tampak di bawah ini. Sabtu lalu di antara semak-semak kehijauan yang tumbuh di belakang bunga Tulip (lihat foto 1), tiba-tiba terdengar suara mencicit- cicit. Saya berusaha melongoknya di setiap “bukaan” dedaunan yang rimbun itu. Daaaannn, saya melihat ada sebuah kepala burung yang mendongak, memandang tanpa berkedip. Wouwww..
Foto 2. Satu sarang yang letaknya tidak terlalu dalam..Tetapi masih belum terlihat anaknya.
Rasanya cukup kaget juga , melihat kepala burung dengan mata yang tajam memandangi saya. Tidak berkedip dan terlihat begitu “galak”. Saya segera bergegas mengambil camera dan mencoba membidikan lensanya untuk mengabadikan wajah si burung itu.. Karena di kerimbunan dedaunan itu terdapat beberapa “bukaan”, saya lalu berpindah dari bukaan satu ke bukaan berikutnya dam seterusnya. .. Di bukaan ketiga, yang seolah tertutupi dengan daun, tiba-tiba saya melihat beberapa kepala burung yang mendongak ke atas. Sedang satu kepala lainnya melihat dengan penuh was-was pada saya.
Foto 3. Seekor induk dengan beberapa anaknya.
Sayang saya tidak berani menggunakan lampu kameranya ketika mengabadikannya. Saya khawatir bahwa mereka akan merasa terancam dan tidak nyaman kena sinar yang menyilaukan lalu akan meninggalkan sarangnya. Sementara anak-anaknya belum bisa terbang.
Perlahan saya meninggalkan kedua sarang burung, setelah saya tidak menemukan lagi sarang burung lainnya. Ketika saya akan memasuki rumah lewat pintu garasi dari kebun belakang, dari atas pohon di samping pintu ini terdengar suara burung yang mencicit cicit dan sedikit bersiul.
Foto 4. Sang jantannya dengan gagahnya mengawasi apa yang sedang saya lakukan dari puncak pohon di batas pagar.
Rupanya ada burung yang sedang menanti kesempatan untuk menjenguk salah satu sarang yang ada di kehijauan.. Seekor burung yang menurut saya sedang berkomunikasi dengan pasangan salah satu burung yang sedang ada di sarang sana. Teman-teman, saya kira burung yang ada di atas pohon adalah si jantannya, hal ini terlihat ketika saya mengintip dari balik vitrage pintu garasi nampak si burung dengan serba kilat terbang dan hinggap di pinggiran bukaan dedaunan yang merupakan pintu masuk ke sarang itu. Hanya sebentar burung itu singgah, lalu dia mengepakkan sayapnya dan terbanglah burung itu meninggalkan keluarganya.. Dan entah kapan dia akan kembali lagi..
Keesokan harinya saya melihat kembali ke dalam bukaan di kehijauan itu.. Daaannn.. Ach, ach…
Foto 5. Sarang yang telah ditinggalkan penghuninya
Rupanya, kehadiran saya telah mengganggu dan menyebabkan mereka melarikan diri. Saya mencoba mencarinya ke dalam semak dedaunan yang ada tetapi hanya kekosongan sarang burung yang terlihat di sana…Jammer. Saya tidak sempat mengabadikan ketika burung-burung kecil sedang belajar mengepakkan sayapnya….Sayang seribu sayang…
Foto 6. Di atas atap rumah tetangga di belakang, nampak sepasang burung sedang bermesraan
Foto 6 di atas, saya ambil ketika kedua burung sedang akan menyelesaikan ”tugas alami” nya untuk mengembang biakkan keturunannya. Semuanya terjadi dalam sekejap sehingga tidak ada waktu bagi saya untuk mengabadikannya. Sayang sekali. Yang cukup menarik perhatian adalah terlihatnya segumpalan bulu-bulu berwarna hitam di dada burung yang berbulu abu-abu yang saya kira sedang diperlihatkan untuk dipamerkan pada pujaan hatinya….Itu cerita tentang perburungan yang ada di kebun belakang.
Teman-teman , dalam salah satu acara bersepeda ke Den Haag, di dekat Lapangan Golf (Burggolf) , yang terletak paralel dengan jalan A12 ke arah Den Haag, kami melihat beberapa burung Fazant.
Foto 7. Seekor burung Fazant jantan, yang indah warna bulunya.
Tidak jauh dari burung Fazant yang satu terlihat sepasang burung Fazant lainnya. Nampak dalam dunia binatang fenomena yang sering kali kita lihat betapa tidak adilnya dalam pembagian keindahan warna dan penampilannya. Tidak perlu dipungkiri lagi bahwa kelompok jantan burung Fazant memiliki warna bulu dan figure yang lebih indah dari kelompok betinanya.
Foto 8. Fazant betina dan Fazant jantan.
Tampak betapa indah dan beraneka warnanya bulu-bulu sang jantan. Juga bentuk penampilannya lebih menarik dari sang betinanya yang memiliki barna begitu pudar. Dalam moment-moment yang berikutnyaa tampak bahwa kedua burung Fazant itu sedang memadu cinta.
Foto 9. Kedua burung semakin saling mendekatkan diri
Foto 10. Sang betinanya sudah menyerahkan dirinya dengan membungkukkan tubuhnya.
Foto 11. Sang jantannya sedang menyelesaikan tugasnya untuk berkembang biak.
Ketika saya menjepretkan lensa ke arah burung itu, terasa sekali betapa cepatnya proses itu berlangsung. Hal ini nampak dari beberapa foto yang sempat saya ambil. Pertanyaan yang sering saya ajukan pada konco ngajeng adalah:”Mengapa sampai saat ini saya belum pernah melihat telur dan anak-anak burung Fazant”. Rupanya untuk berkembang biak sang “biung” burung Fazant mencari dan bersembunyi di balik semak yang cukup tinggi dan banyak makanan.. Dan di Belanda ada cukup banyak area yang tersedia dan khusus diperuntukkan bagi burung-burung yang memerlukannya.
Foto 12. Burung Ooievaar mempersiapkan sarangnya
Teman-teman burung Ooievaar termasuk jenis burung yang dilindungi. Pemerintah begitu peduli sekali melihat perkembangan yang ada. Dalam salah satu acara persepedahan beberapa minggu lalu, ketika kami melewati station kereta api di Den Haag Pusat, nampak di taman luas, di samping restaurant Pannekoekenhuis ada semacam pagar tinggi yang di dalamnya ada beberapa burung Ooievaar. Rupanya Pemerintah sedang menunjukkkan pada masyarakat bagaimana sibuknya kehidupan burung-burung ini ketika mereka akan berkembang biak.
Foto 13 dan 14. Beberapa sarangnya yang besar di salah satu dahan pohon
Teman-teman di Baltyra, di luar sangkar besar itu, juga berdatangan beberapa jenis burung lainnya. Ada burung Angsa liar dan Angsa putih leher pendek. Mereka turut memanfaatkan makanan yang disediakan dari para pengasuh burung-burung itu.
Foto 15 dan 16. Burung-burung Angsa liar dan Angsa leher pendek
Teman-teman foto burung-burung ini saya jepretkan ketika kami sedang bersepedahan ke Leidschehage lewat route Voorweg.
Foto 16 dan 17. Sebelah kiri adalah angsa betina; di sebelah kanan adalah angsa jantan
Mengetahui mana jantannya dan mana betinanya, terjadi secara kebetulan belaka. Ketika saya mendekati angsa 16 dan sibuk menjepretkan camera, tiba-tiba angsa itu berteriak-teriak sambil menjulurkan lehernya. Lalu dari kejauhan terdengar suara yang serupa, dan terlihat ada angsa no. 17 (jauh di belakang kiri pagar) sambil melirik tajam ke angsa no.16..
Ternyata, teriakan angsa nomor 16 itu mengundang angsa 17 agar mendekat. Hal ini terlihat ketika tidak lama kemudian angsa no 17, beringsut-ingsut mendekati sarang angsa no 16. Dan secara perlahan angsa no 17 turun ke air berenang menuju ke celah pembatas air sambil berkali-kali mendongakkan lehernya dan memandangi saya. (foto 18). Rupanya kehadiran saya tidak terlalu diharapkan bagi ketenangan di betinanya.
Pada saat bersamaan konco ngajeng mengingatkan saya untuk berhati-hati agar tidak sampai dipatuk. … Saya hanya membatin: ”Ternyata kesetiaan dalam dunia angsa (putih jenis seperti dlm foto 18) memang dapat menjadi contoh untuk kita semua”. Memang menurut bacaan yang ada tertuliskan bahwa jenis angsa ini tidak akan meninggalkan pasangannya sampai salah satunya mati… Tidak salah bila figure sepasang angsa putih sering hadir di atas meja atau kue pengantin dalam upacara pernikahan.
Foto 18. Posisi si jantan selama melindungi sang betinanya; berputar di sekitar bukaan pintu air sambil memandangi saya…
Teman-teman, musim semi memang suatu musim yang menurut saya sangat menarik untuk di amati. Banyak fenomeen alam yang bisa kita lihat dan perhatikan di sekeliling kehidupan yang ada. Di musim semi kali ini, entah mengapa dunia fauna telah menarik perhatian saya. Tampak betapa banyaknya unggas dan ternak yang sedang sibuk mengurusi anak-anak sebagai anggota baru dalam keluarganya.. Di sepanjang parit yang terlewati, terlihat para bebek, itik berenang kian kemari dalam kelompok ibu dan anak. Atau kita melihat kecebong memancarkan cahaya karena pantulan sinar matahari yang menyinarinya. Kita melihat banyaknya biri-biri dengan beberapa anaknya bergerombol beriringan mencari makan di lading-ladang rumput yang luas. Juga sapi-sapi muda yang belum lepas dari puting susu induknya, terlihat beriringan berjalan di atas rumput yang ada.
Foto 19. Bebek dengan 2 atau 3 anaknya berenang menjauhi saya…
Foto 20. Induk dan anak bebek sedang bermandikan matahari
Foto 21 dan 22. “Ayam-ayaman” dengan dua anaknya yang berkepala merah ketika masih kecil, di kemudian hari menjadi putih.
Kalau kita perhatikan, di sekitar kehidupan fauna di Belanda banyak sekali kita jumpai jenis unggas dan ternak yang saat ini sedang berkembang biak. Kadang saya melihat seekor angsa liar yang beranak pinak dalam jumlah yang cukup besar. Hal ini sesungguhnya bisa menjadikan tanda bahwa alam di sekeliling Belanda sangat aman dan relatief sangat sedikit ancaman; juga terdapat banyak sumber makanan yang bisa didapatnya di alam terbuka dan alamnya yang sangat ramah lingkungan.
Foto 23. Angsa dan pagar besi
Dalam salah satu acara persepedahan di seitar Noodorp tampak pagar besi yang diletakkan oleh yang berwenang untuk melindungi angsa yang sedang bertelur dan pasangannya agar tidak mengganggu para pemakai jalan. Tetapi apa yang terjadi ??.. Justru si angsa jantan terbang keluar pagar dan mengusir para pemakai sepeda dari jalurnya. Termasuk kami yang berusaha agar tidak terpatuk oleh si angsa sampai harus bersepeda di jalan raya untuk mobil…Achhhhh..
Lain lagi dengan cerita tentang jenis dan nasib si Angsa liar seperti yang terpampang di bawah ini (foto 24)
Foto 24. Angsa liar dengan 9 anaknya
Pertambahan jumlah unggas ini meskipun bisa dibanggakan sesungguhnya juga menjadi ancaman bagi para petani. Angsa-angsa ini selalu hidup dalam kelompok yang besar. Belum lagi kalau kita sedang bersepedahan dan terjatuhi “telek / poepnya” si Angsa liar yang sedang terbang…Wouwwww, baunya tidak kalah dengan yang kita tinggalkan kalau kita selesai menutup pintu toilet… “Dalam di bulan-bulan mendatang separuh dari jumlah yang ada, yang besaran nominalnya mencapai plus minus 180.000, dari angsa liar ini akan dibinasakan” begitu kita membaca beritanya di media cetak. Tentu dengan catatan bahwa pemusnahan ini hanya akan dilakukan bila cara / metode membunuhnya yang sangat “ramah dan tidak menyakitkan” telah ditemukan.
Lain dengan cerita di atas. Burung berpatuk panjang indah yang dinamakan “Lepelaar” ini sangat dilindungi , karena jumlahnya yang tidak banyak lagi. Dalam bahasa Indonesia kata “lepel” berarti sendok. Memang patuk burung Lepelaar ini panjang menyerupai sendok bebek. Ini terjadi karena sendok yang dimaksud di ujungnya mempunyai bentuk yang agak melebar yang gunanya untuk me”nyosor” makanan yang ada di dasar mangkuk atau kubangan air (yang dangkal) yang ada.
Foto 25, 26, 27 burung sosor bebek “lepelaar” berparuh hitam.
Burung Lepelaar ini sempat terlihat ketika sedang bersepedahan menuju ke arah Delf, di kubangan Deflfsehout. Kami mengharapkan akan melihat beberapa ekor, ternyata ini adalah satu-satunya yang sempat kami jumpai saat itu.
Teman-teman di Baltyra, itu sebagian dari penghuni Fauna yang sempat kami jumpai di perjalanan dalam acara bersepedahan sebelum akhirnya kami bisa menikmati secangkir Capuccinno dengan sepiring kecil Poffertjes atau Pannenkoeken …
Foto 26. Poffertjes dari Leiden yang super heerlijk.
Foto 27. Pannenkoek dari Leiden yang menjadikan kami ketagihan untuk menyantapnya.
Foto 28. Capuccinno dan penyajinya yang hmmmmm.
Siapa sih yang tidak mau ikut bersepedahan dengan iming-iming cerita di atas? Walaupun mungkin setelah pulang bersepedahan langsung “babak belur” dan harus beristirahat berlama-lama di tempat tidur….
Terlalu cepat hari-hari dan musim berganti. Hanya dalam hitungan mingguan kita akan memasuki musim panas. Semoga anda semua dalam kondisi yang prima sehingga bisa bersepedahan dengan saya… Walaupun kita melakukannya di negeri yang saling berbeda…. Selamat berkarya , Nu2k
Pages: « 12 … 11 10 9 8 7 6 [5] 4 3 2 1 »
Pages: « 12 … 11 10 9 8 7 6 [5] 4 3 2 1 »
May 24th, 2012 at 11:28
Jeng Wiwiek, sepeda yang dipakai jeng Wiwiek sudah lenyap…Diganti yang baru… Mudah-mudahan lebih enak dan pas sadelnya… ha, ha, haaa.. Jeng, nanti sepedahannya rame-rame dengan mas dan adikku dari Bandung en Jakarta ya.. Asyiiikkkk en kus, kus, kus, Nu2k
May 24th, 2012 at 11:26
Dimas Handoko, jelaslah… Banyak jenis burung yang akan ditembaki dari Indonesia bermigrasi ke Belanda…Entah berapa jumlah burung di Belanda saat ini… Ada dimana saat ini dimas? Salam, juga untuk diajeng Iinnya …Nu2k
May 24th, 2012 at 11:22
Mbak Dian, betuuulll… Rasanya saya punya foto tupai, si Bajing dari NYork… Nanti siang saya carikan.. Kalau ketemu saya kirimkan untuk anda….Lucu-lucu fotonya….Groetjes en dag dag, nu2k
May 24th, 2012 at 11:20
Sugeng endjang kangmas Sumonggo… Wah senengnya diampiri. Saya setuju sekali dengan pendapat yang panjenengan serataken. Terutama bagian yang menyatakan bahwa “…bisa menjadi sarana refreshing melepaskan kepenatan menurunkan tensi ketegangan”… Monggo toch kalau mau bersepedahan di Belanda dengan jeng Wiwiek, mbakyu Clara, jeng Maria, dimas JC, dimas Handoko, dimas P pangkat 6 dan jeng Probooo (naik motor sebagai voorrijdernya, ha, ha, haaa) … Waaahhh… Pasti ramai.. Salam, salam, salam, Nu2k
May 24th, 2012 at 11:06
Jeng Dewi Ayu (DA), ha, ha, haaaa…Betuuull, betuul, apalagi kalau jalannya melewati tanjakan… Jadi nyesel deh nggak naik sepeda sendiri… Gr en werkt ze, Nu2k
May 24th, 2012 at 09:59
Lieve mbak Nuk, tulisan dan foto2nya membuat diriku pingin balik lagi niiiiiiih…….heeeeeem membayangkan pannenkoek yang di Leiden…….burung2 yang bisa terbang bebas……warna warni bunga…..dan udara tanpa polusi……Agustus nanti mudah2an nggak panas sekali mbak Nuk dan aku boleh pinjem sepedanyakan???ks ks
May 24th, 2012 at 09:18
burung di Indonesia bilang: “Oh betapa bahagianya saudara-saudaraku di negeri kincir angin.”
May 24th, 2012 at 07:11
Mbak Nunuk, …burungnya cantik…, angsanya jalan2 ke jalan raya, kayak Tupai2 di amrik…., selamat menikmati udara hangat musim semi yaa…
May 24th, 2012 at 06:09
Sugeng enjang Bu Nunuk, bila melihat taman-taman tersebut, saya kalau tidak salah ingat ada peneliti yang mengamati bagaimana bila fasilitas taman-taman di kota mencukupi dan terawat baik, ternyata bisa menjadi sarana refreshing melepaskan kepenatan menurunkan tensi ketegangan dari segala hiruk pikuk kota, bisa menurunkan kekerasan atau bahkan kriminalitas. Monggo, dilanjut bersepedanya. Nuwun.
May 24th, 2012 at 05:41
BU Nunuk..bersepeda boncengan sama Yayang….biar berat juga pura pura kuat wakakaka…yang cewe tanya ke cowonya, “mas….mas…cape ngga?” Cowonya menjawab,” ngga dik…masih kuat kok(tapi njawabnya sambil ngos-ngosan kehabisan nafas), ha ha….iya ngga bu?