Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

D(evil) = Setan

Thursday, 24 May 2012

Viewed 1069 times, 2 times today | 22 Comments |

Anwari Doel Arnowo

 

Evil =  kejahatan (kata sifat). Evil person  =  orang jahat.

DEVIL  =  setan, iblis (kata benda) YOU LITTLE DEVIL !  =  Kau bajingan !

Itu saya kutip dari sebuah kamus.

Saya bertanya kepada diri saya sendiri, pernahkah saya melihat setan yang sesungguhnya? Saya harus jujur menjawabnya: BELUM PERNAH. Pernah merasakan perbuatannya? Jawabnya: pernah, sebagai akibat perbuatan yang sifatnya saya nilai tidak patut apabila dibuat oleh orang yang berbudaya kesopanan sosial. Dengan demikian saya harap saya bisa menerangkan bahwa syaitan atau setan atau devil itu sesungguhnya lebih bisa saya tangkap secara kemampuan saya adalah nisbi, tidak nyata. Saya kira penggambaran apa dan bagaimana setan itu amat banyak telah muncul di dalam alam maya dan kehidupan manusia.

Banyak digambarkan dalam legenda dan cerita, baik bentuk fiksi maupun bentuk lainnya sesuai dengan imaji para “pencipta”nya yang didominasi oleh daya pikir manusia yang ingin menerangkan apa setan itu. Digambarkan bertanduk, berkaki binatang dan memiliki mata bersinar merah?? Ya macam-macamlah. Sekarang saya menggambarkan apa yang disebut setan itu tidak lain adalah bentuk software (perangkat lunak) dari imaji manusia. Di dalam ajaran agama, setan dan jin serta iblis dan macam-macam nama itu adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kalau pengalaman saya selama ini, tentang masalah ini, berlawanan dengan pengertian dan ajaran di dalam sesuatu agama tertentu, ya saya tidak kuasa menyesuaikan diri saya, karena semua pengalaman saya begitu.

Untuk menepis masalah setan ini, waktu saya masih belajar di SMA, pernah bersama empat kawan lain tengah malam, naik mobil bersama ke Kuburan Karet di Jakarta dekat Tanah Abang. Di sana kami berempat turun dan memasuki kuburan dan berpencar sendiri-sendiri. Yang seorang lagi, si pembual yang selalu  mengaku paling berani dengan jalan bercerita begini dan begitu, tetap duduk di dalam mobil, tidak berani turun. Kita berempat berlomba berlama-lama, selama mungkin, di dalam area kuburan yang gelap gulita itu. Setelah berpisah berpencar dan sendirian, saya hanya berdiri membiasakan pandangan mata.

Agaknya tidak terlalu lama, mata saya sudah bisa melihat remang-remang apa yang ada di sekitar saya. Apa yang terlihat? Ya kuburan, berisi jenazah manusia, sisa-sisa makhluk hidup yang biasa disebut dengan sisa-sisa  manusia (mortal remains), semuanya ada di sekeliling saya. Agak lama kemudian saya bisa berhasil membaca beberapa nama yang tercantum di nisan-nisannya. Berjalan ke kanan dan ke kiri, tidak bertemu sesuatu yang besar yang bergerak. Yang terasa bergerak hanya angin kecil. Bulu kuduk saya pun tetap tertidur, tidak juga bergerak. Rasa takut? Ya, tadi sudah saya tinggalkan di mobil, tidak saya bawa serta. Takut apa sih? Toh yang ada di situ adalah jenazah yang pasti sudah hancur karena di”makan” oleh tanah, dibantu oleh binatang-binatang kecil serta biota yang ada di sekitarnya.

Oleh karena lombanya adalah siapa paling lama berada di dalam area kuburan menjadi pemenang, maka saya duduk saja di tanah, tanpa  memikir cacing atau binatang melata lainnya. Lama-lama saya bosan juga, segera memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan tempat “merenung“ itu serta menuju ke mobil. Saya jumpai dua teman yang tadi berpencar dan kita bertiga menyaksikan bahwa yang jagoan di dalam mobil telah menciptakan bau di dalam mobil. Bau? Iya itu bau urine (air kencing)nya yang tanpa tertahan membasahi sebagian tempat duduk dan lantai mobil. Sambil menahan tawa kami bertiga kembali lagi ke kuburan dan masing-masing berteriak memanggil nama teman yang masih tinggal di situ. Ternyata dia muncul dan menemui kami, tersenyum simpul karena sadar sekali bahwa dia pemenangnya. Secara iseng saya raba celananya di arah selangkangan, memeriksa basah atau tidak. Mungkin sekali dia juga mengalami seperti si pembual di dalam mobil tadi. Sayang sekali keempat teman-teman itu terpisah-pisah oleh kehidupan masing-masing, tidak bisa mengadakan reuni.

Ketika saya mulai belajar di Tokyo, saya tiba di sana bulan Desember, 1959, sudah ada sekitar seratus mahasiswa asal Indonesia yang telah berada di sana beberapa bulan lamanya. Mereka menghuni sebuah bagunan yang disebut dengan Asrama Indonesia Iidabashi, sesuai dengan nama kelurahannya. Apabila menuju tempat itu dari stasiun Kereta Api (listrik) bila ingin cepat sampai, maka harus mengambil jalan setapak yang sebagian melintasi area sebuah kuburan. Karena saya bertempat tinggal di area lain, maka saya tidak sering ke Asrama Indonesia itu. Suatu saat, setelah berkali-kali ke sana, saya datang sesudah matahari terbenam. Udara dingin sekali karena masih fuyuu, musim dingin. Saya berjalan santai melintas di dalam kuburan. Tidak ada rasa takut karena tidak berpikir apapun yang mengarah ke “alam lain”. Tiba-tiba saya menyadari bahwa yang saya lakukan itu bukan sesuatu yang biasa bagi orang Indonesia. Saya membuka mata, dan mendapatkan kenyataan seperti apa yang saya lihat di Kuburan Karet tempo hari. Tidak ada apa-apa!!

Cerita tentang kuburan di Jepang itu belum habis. Suatu saat setelah beberapa kali bertemu, berteman dengan seorang gadis Jepang, kami mulai berpacaran. Suatu kali kami sudah bosan duduk di Kissaten (baca Kissateng) yang artinya Warung Kopi lah singkatnya. Setelah mereka-reka kita mau pergi arah kemana tanpa hasil, Yoshie, itu nama sang pacar, diucapkan Yoshi dan e nya tersendiri seperti e di dalam kata enak), mengajak saya berjalan-jalan. Tetapi ternyata dia mengajak saya ke sebuah Kuburan. Saya tanya mengapa ke sini? Dia menjawab: “O Haka wa Suteki desu you .. !!” yang artinya Kuburan itu tempat yang bagus dan menarik. Saya ikuti sekedarnya. Wah banyak juga pasangan muda-mudi di dalam area kuburan ini.

Melihat kuburan yang ukurannya tidak seperti yang ada di Indonesia, ada yang seperti gundukan kecil saja ada yang lebih besar. Ternyata yang kecil itu sebenarnya hanya abu jenazah yang disertai dengan barang-barang kesayangan almarhum. Ah, lama-lama saya berperasaan tidak enak atau nyaman. Mengapa harus di kuburan, sih? Saya ajak ke luar dari situ secepatnya. Yoshie kecewa sekali saya tidak sejalan pikiran dengan dia, eh, saya kan orang Jawa bukan orang Jepang. Tidak banyak kita berkata-kata lagi, tidak ada kemarahan yang mencuat dan menyadari bahwa saya dan dia sebelum ini memang berasal dari dua dunia yang berlainan.

Itu secara tidak sengaja adalah bukti  timbulnya rasa pluralis.

Semoga pengalaman di  atas bisa membantu bagaimana kita bisa bersikap apabila masalah yang biasa disebut dengan setan itu datang dan timbul. Kalau menengarai ajaran agama yang mengatakan bahwa diciptakannya makhluk bernama setan dan sejenisnya itu, biasanya lengkap disertai dengan keterangan bahwa mereka, setan and the gang itu, sesungguhnya derajatnya berada di bawah derajat manusia. Di kalangan agama ini pun diajarkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling tinggi stratanya.

Jadi MENGAPA TAKUT ??

Saya juga mempunyai kisah-kisah yang menyangkut hantu tetapi rasanya kurang sreg saya untuk mengulangi masalah ini sekarang. Yang saya ingin ceritakan pada akhir tulisan ini adalah anecdote yang paling sering saya ulang-ulang. Saya mulai dengan pertanyaan; “Perbuatan jelek apakah yang tidak disukai oleh setan?” Ini biasanya saya dahului dengan sedikit epilog: Setan itu suka perbuatan jelek, malah bertepuk tangan bila ada perbuatan jelek. Nah kali ini ada perbuatan jelek yang dia tidak suka? Benarkah? Apa itu? Tidak saya jumpai yang bisa menjawab dengan tepat. Ternyata kemudian yang beginilah saya berikan jawabannya: “Itu adalah perbuatan yang menyangkut waktu ada yang menggoda bini sang setan!! Kali ini setan tidak bertepuk tangan, malah sebaliknya setan amat berang hatinya dan marah-marah …. !!

 

Anwari Doel Arnowo

17 Mei, 2012 (hari lahir saya tepat 74 tahun yang lalu)

 

Share This Post

Posted by Thursday, 24 May 2012 on 10:00.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

22 Responses to “D(evil) = Setan”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 22
    ririn Says:

    Sugeng tanggap warso Pak Anwari, maturnuwun dengan semua tulisan Pak Anwari yang menginspirasi. Ternyata ulang tahunnya juga sama seperti suami saya

  2. 21
    Alvina VB Says:

    Bpk Anwari,
    Happy belated birthday…Bpk. ada di Toronto/ Jakarta saat ini?
    Saya dah pernah lihat setan, ttp lebih sering lagi lihat roh setan dlm wujud manusia, he..he…..
    Gak usah takut dgn setan lah…krn yg di dlm diri kita sebetulnya lebih besar dari setan itu sendiri…mustinya setan yg takut dgn kita dunk….

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)