Kartu Pos Kematian

Ary Hana

 

Setiap kali melalui sebuah kantor pos di kota persinggahan, selalu ada  gejolak di hati untuk berkunjung sejenak. Sekedar melongokkan kepala, melihat betapa lapangnya ruangan di dalam kantor pos itu. Membaui debu di setiap sudutnya, dan cat-cat yang mengelupas di tembok dan palang pintu. Atau sekedar mendengarkan bunyi ketokan stempel di atas perangko, dan kasak-kusuk pelanggan dan petugas. Tapi aku tak pernah mencoba untuk mengirim sepucuk surat, atau sekedar lembaran kartu pos. Tak pernah. Tak ada niatku tuk berkabar. Atau sekedar memamerkan keberadaanku saat ini. Semua kepongahan itu telah mati lama dalam hati.

Aku masih mengamati sedikit lukisan yang dipajang di kantor pos Georgetown pagi itu. Mengagumi ketuaannya. Gambar gedung tua yang dibangun semasa Sir Francis Light, juga perangko-perangko yang dipajang, tak lupa kartu pos-kartu pos lama di sana. Semua menyenangkanku. Menggirangkanku. Sekaligus membangkitkan rasa puas yang dalam.

Kubeli satu dua kartu pos. Namun hanya sekedar kusimpan. Sebagai kenangan bahwa aku pernah bertandang kemari. Sejenak kuingat pesan seorang kawan muda di jejaring muka buku jelang pengembaraanku kali ini. “Jangan lupa kirimi aku kartu pos ya, Mba..”

Aku hanya membalasnya dengan memasang tanda ‘senyum’, abjad d besar. Kurasa tak ada yang perlu kuiyakan atau kutolak. Aku tetap tak suka berkabar. Tak lagi.

Dulu, di awal pengembaraanku, tuman sekali aku membeli kartu pos lalu mengirimkannya ke beberapa sahabat terdekat. Orang-orang yang kuanggap memberi dukungan perjalananku, mereka yang ikut memberi sangu, atau kawan-kawan tempat aku menumpang di perjalanan sebelumnya. Sekedar memberi kabar bahwa aku sudah sampai di ampiran baru.

Padahal kutahu, ketika kartu pos itu sampai ke tujuan, aku mungkin sudah menjejak tempat yang baru lagi. Tahulah kau betapa lamanya perjalanan sebuah kartu pos. Namun selama apapun, selalu kartu pos memberi luapan kegembiraan bagi penerimanya. Mirip girang yang abadi.

Aku pun sangat menikmati kiriman kartu pos dari kawan-kawan semasa kuliah. Dari Syafri, pelatih beladiri saat menjalani pelatihan di Belanda. Dari Penta yang kuliah di jurusan metalurgi Kanada. Dari Mahasena saat menjalani master astronominya di Kyoto.  Pokoknya dari siapapun.

Ketika melepas kepergian seorang kawan, selalu kubisikkan pesan, ‘Jangan bawakan aku oleh-oleh. Cukup kirimi aku kartu pos’. Hanya beberapa sen dolar ongkos perangkonya, tapi euforia yang didapat penerimanya lebih dari sekilo hirupan ganja.

Pernah seorang sahabat kami –kusebut demikian, karena menjadi sahabat sekumpulan kawan-kawan terdekatku- pergi memanca suatu ketika. Berbulan-bulan. Mungkin setahun. Mungkin lebih, aku tak begitu ingat. Tak ada kabar tentangnya. Kupikir dia sangat amat sibuk dengan kegiatan barunya. Jadi kurasa dia tak sempat berbalas kabar walau hanya berkirim selembar kartu pos. Dan aku enggan mengganggu kegiatannya, walau dulu kami cukup dekat.

Suatu hari, aku dan sekumpulan kawan dekat itu bertemu di sebuah warung makan. Sambil bersantap, bertukar kabar, seorang kawan mendadak berkisah tentang sahabatku ini, sebut saja Made.

“Eh.. si Made udah balik lho, kalian tahu nggak?”

Yang lain mengangguk-angguk mengiyakan. Ada yang berkata, ‘Iya.. tiga hari lalu dia sms aku,.’ Ada juga yang ujar, ‘Oya? Lama nggak kontak dia. Terakhir waktu dia kirimi aku kartu pos bergambar kuil dan sungai.’ Tapi ada pula yang berceloteh, ‘Aku kecipratan sebuah buku darinya, buku sejarah kuliner.’

Ramai mereka memamerkan pemberian si Made. Tak ada yang mau kalah. Mungkin, hanya aku yang senyap. Tak kudengar kabar apapun dari si Made. Tak ada pesan singkat, tak juga kiriman kartu pos, apalagi pemberian buku. Tiba-tiba keriuhan itu berhenti. Semua mata memandang ke arahku.

Aku tersenyum, ‘Iya.. aku juga dapat kiriman kartu pos. Bergambar daun-daun yang gugur dari pohon,’ jawabku terbata-bata, mencoba menghapus kecurigaan. Kawan-kawan baikku kembali berceloteh riuh. Hatiku pun riuh, walau ada sesuatu yang berguguran.

Sejak saat itu, aku tak lagi tertarik mengirim kartu pos, mengabarkan tempat-tempat yang kukunjungi, mengirim pesan atau apapun. Aku masih mengembara. Dalam senyap, dari kota ke kota, dari negeri ke negeri, juga dari mimpi ke mimpi.

Kujauhi kedekatan, kuhindari kontak dan tukar kabar dengan teman dekat. Entah mengapa aku memilih berjalan dalam sunyi. Seperti daun-daun yang jatuh dari pohon dalam gambar kartu pos imajinasiku. Bagi mereka, aku toh tak berarti. Sudah lama mati.

 

64 Comments to "Kartu Pos Kematian"

  1. awesome  5 June, 2012 at 13:14

    ndak usah kirim kartu pos, update location di fb aja, sama jangan lupa update foto2 + komentar2 menarik

  2. ugie  3 June, 2012 at 00:32

    aku memilih dapat kartu pos mbak , drpd berjalan sunyi ..

  3. AH  31 May, 2012 at 20:32

    mbak linda: pamor … paling amor

    mending kirim kartuposnya ke markas baltyra, njur jc suruh motret semua kartupos yg datang n dia buat tulisan. di tiap kartupos ada pesan n kesan khusus ttg blog ini. siapa tahu ada yg pasang iklan juga huahahahaha.. *usul ngasal

  4. Linda Cheang  28 May, 2012 at 13:44

    pamor ajah dipikirin?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.