Mpek Dul
Menurut tradisi agama Katholik Roma, Mei dan Oktober adalah bulan-bulan khusus Maria,
Di bulan-bulan ini banyak sekali peziarah dari seluruh dunia yang mengunjungi tempat-tempat yang khusus untuk memanjatkan doa-doa memohon kepada Tuhan dengan perantaraan Maria atau Miriam, bunda dari Yesus atau Isa.
Salah satu tempat menjadi pusat ziarah yang terkenal di dunia adalah Lourdes.
Apakah Lourdes ini dan bagaimana sejarah awal mulanya?
Lourdes (ucapkan: Lur – de) atau Lorda dalam bahasa dialek Oksitan adalah satu kota kecil di departemen (baca depar – temang) di daerah pegunungan Haute Pyrénées di Perancis Selatan.
Kota yang terletak di lembah kaki pegunungan Pyrénées ini memiliki penduduk sekitar 17.000 orang dan merupakan tempat ziarah dari agama Katolik terbesar di Perancis dan di dunia.
Kompleks yang menjadi pusat ziarah sendiri adalah yang dikenal sebagai Grotto, atau gua Massabielle.
Mulai dari bulan Februari sampai akhir Oktober “Sanctuary of Our Lady of Lourdes”, kompleks dari tempat ziarah ini telah terbuka untuk umum, dan tidak saja hanya khusus terbatas untuk mereka yang beragama Katholik.
Meski bahasa Perancis adalah bahasa nasional tetapi penduduk di sini memakai bahasa dialek Oksitan, yang tergolong bahasa Romano dan banyak dipakai di daerah Languedoc yang juga terkenal dengan industri anggurnya.
Setiap tahun tempat ini dikunjungi oleh sekitar 5,5 juta peziarah dari seluruh dunia. Banyak di antara mereka adalah orang-orang yang sakit dan cacad.
Salah satu pusat ziarah terpenting di samping grotto itu sendiri adalah mata air yang menyembur keluar. Pada tanggal 25 Februari 1858 Bunda Maria memberi petunjuk kepada Bernadette agar menggali dengan tangannya sendiri tanah yang di samping gua di sebelah kiri Bernadette.
Waktu digali hanya beberapa centimeter saja, tanah itu mulai basah dan mengeluarkan air yang keruh mengandung tanah liat.
Setelah Bernadette menggali lebih kurang 20 centimeter, maka air mulai menyembur dan lambat laun makin jernih.
Sumber air ini sampai di hari ini masih menyembur dan begitu jernihnya sehingga dapat diminum langsung. Dengan cara tehnis tertentu, air ini disalurkan lewat saluran-seluran besi tidak berkarat (stainless steel) yang dipasang dinding batu gunung tidak jauh dari gua untuk kebutuhan minum para peziarah dan turis2 lain.
Selain itu air ini juga dipakai di kolam pemandian tertentu sekitar 50 meter dari gua, untuk pencucian badan sebagai simbolis pencucian jiwa.
Sebagai tradisi biasanya air ini juga dibawa pulang sebagai kenangan untuk diminum di rumah, dengan jalan disimpan di botol-botol kecil sampai ke jeriken yang berjumlah 15 liter yang dapat dibeli di toko-toko souvenier di sekitar kompleks ziarah ini. Secara simbolis air ini dinilai sebagai penguat rohani.
Tentu saja semua ini dibawah pengawasan Kementerian Kesehatan Rakyat dari pemerintah Perancis. Tidak saja untuk menjaga dan menjamin kesehatan, tetapi juga untuk mencegah adanya epidemi menyebarnya bakteri penyebab penyakit yang berbahaya, baik yang dibawa oleh para pendatang ziarah atau untuk mereka yang bekerja dan bertugas di kompleks ini.
Satu mujizat yang sampai sekarang belum pernah terjadi ada kejadian timbulnya penyakit apapun akibat dari pengunjung masal ziarah yang berdatangan dari seluruh dunia.
Sejak adanya penampakan di tempat ini, menurut laporan resmi telah terjadi banyak keajaiban atau mujizat kesembuhan tanpa ada seorang dokter ahli yang dapat menjelaskannya, meskipun menurut laporan ada lebih dari 3000 “keajaiban” mujizat kesembuhan yang telah terjadi, tetapi oleh otoritas gereja Katolik di Roma, hanya 67 saja yang benar-benar diakui sebagai keajaiban, mujizat kesembuhan. Pengakuan terakir kalinya adalah pada tahun 2005.
Banyak di antara pasien ini sudah dinyatakan terminal dan ternyata akhirnya sembuh dan ada beberapa orang yang sekarang masih hidup.
Keterangan resmi demikian ini tidak diakui dan diberikan begitu saja, melainkan sesudah diadakan penyelidikan mendalam yang setidaknya memakan waktu lebih dari 3 tahun, di bawah pengawasan Medis komite Internasional Lourdes yang didirikan pada tahun 1947 yang bekerja sama dengan Jawatan penyelidikan medis Lourdes yang didirikan tahun 1905.
Hal ini untuk menjaga agar tidak semua pengalaman dari orang-orang yang sakit dan sembuh sesudah berkunjung kemari begitu saja menjadi satu dongengan tanpa berdasar sehingga membuat kepercayaan berkurang karena dinilai sebagai satu kejadian yang “biasa” saja.
Menurut sejarahnya, pada tanggal 11 Februari 1858, untuk pertama kalinya Perawan Maria Tidak Ternoda menampakkan diri kepada Bernadette Soubirous (dikenal sebagai St.Bernadette), seorang gadis kecil dari keluarga yang sangat miskin sekali yang berusia 14-tahun.
Desa Lourdes yang diwaktu itu adalah satu desa yang tidak ada artinya, terdiri dari 430 gubug dan perumahan, hanya dihuni oleh 4135 orang, hampir semua keluarga yang miskin yang bekerja sebagai kuli di kincir air penggilingan gandum atau penggembala domba-domba dan kuda-kuda milik keluarga yang mampu.
Penampakan ini berlangsung selama 18 kali sampai 16 juli 1858 di Grotto atau gua of Massabielle yang waktu itu sangat terpencil dan tidak banyak penduduknya di Lourdes, satu desa kecil di bawah kaki pegunungan Pirenia (bahasa Spanyol: Pirineos; bhs Perancis: Pyrénées; bhs Katalan: Pirineus; bhs Occitan: Pirenèus; bhs Aragon: Perinés; bhsa Basque: Pirinioak) .
Pirenia adalah satu rantaian pegunungan sekitar 430 km (267 mil) di Eropa barat daya yang membentuk perbatasan alami antara Perancis dan Spanyol, memisahkan semenanjung Iberia dari benua Eropa, dan terbentang dari Teluk Biskaya hingga Laut Tengah.
Darimana asal mula nama Lourdes ini?
Menurut sejarahnya, pada tahun 711 bangsa Moor di bawah pimpinan Tarik Ibn Zijad memasuki dan menduduki Spanyol. Selama puluhan tahun sampai sekitar tahun 800, bangsa ini berhasil menduduki Spanyol dan Portugis selatan.
Orang Moor adalah penduduk Muslim zaman pertengahan di barat Mediterranean dan barat Sahara, termasuklah: al-Maghrib (kawasan pantai dan gunung Maghribi dan Algeria sekarang), serta Tunisia, al-Andalus, selatan Sahara ke tengah (Mauritania dan Mali, selatan Maghribi dan Algeria, sebahagian Niger, Chad dan Libya); dan, bandar-bandar selat Gibraltar, Ceuta dan Melilla; dan mungkin juga Kepulauan Canary dan Sicily.
Kebudayaan mereka adalah Moorish. Nama Moor sendiri sebetulnya berasal dari suku Maure dari kerajaan Mauritania tua. Sekitar tahun 778, kaisar Karel Agung mulai menyerang Mirat, penguasa militer dari tentara Moor dengan satu peperangan yang dinamakan “Reconquista” atau perebutan kembali, Mirat yang mulai kalah dan terkepung itu mencoba meyakinkan Karel Agung, bahwa di dalam markas besar tentaranya masih cukup banyak makanan sehingga mereka dapat mereka masih dapat bertahan lama dengan mempersembahkan ikan forel besar. Pada awal mulanya Karel mempercayai taktik ini, tetapi akirnya dia mengetahui alasan yang palsu ini dan melanjutkan menghancurkan tentara Mirat serta menahannya.
Uskup Turpin dari keuskupan Le Puy en Velay coba menyelamatkan Mirat dengan syarat bahwa dia akan dibebaskan jika dia bersedia ziarah ke satu tempat ziarah buat Maria atau Miryam (nama yang diberikan kamu Muslim untuk Maria). Setelah ziarah kesana Mirat akirnya bertobat dan memeluk agma Katholik Roma dengan mengambil nama Lorus dan tinggal di desa kecil yang akirnya diberi nama Lourdes.
Di dalam kompleks Ziarah Lourdes sendiri ada beberapa bangunan gereja yang hampir setiap jam dipakai untuk ibadah, antara lain Basilik Rosario, Basilika Perawan Tidak bernoda, gereja Bernadette, kecuali basilika Pius X yang berada di bawah tanah dan dapat menampung 27.000 umat dan hanya dipakai untuk misa internasional yang diadakan hari-hari Rabu dan Minggu pagi.
Di musim dingin, temperatur dapat mencapai minus 10 derajad Celsius, karena letak kota yang berada di bawah pegunungan Pyrénée.
Setiap malam pukul 20.30 diadakan prosesi lilin yang diikuti oleh ribuan orang. Banyak di antara mereka yang cacad duduk di kursi roda atau sakit berbaring di tempat pembaringan khusus yang didorong oleh para sukarelawan. Perayaan ini adalah satu kejadian yang sangat hikmat, berkesan dan emosional mengharukan sekali.
Selain itu setiap tahun juga diadakan ziarah militer internasional yang diikuti oleh militer dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari negara-negara Afrika dan Asia serta pengawal Vatican.
Para pendatang ziarah yang kurang mampu diberi fasilitas di Cité St Pierre, satu kompleks yayasan caritas sosial Katolik, sekitar 15 menit di luar Lourdes sendiri. Di sini tamu-tamu dapat bermalam dengan beaya yang sangat murah sekali, paling lama lima hari dengan beaya sukarela, sebagai indikasi sekitar € 20,- semalamnya, jika ingin mendukung lebih dari itu juga boleh. Untuk mereka yang sama sekali tidak mampu membayar tidak dipungut beaya satu sen pun, tetapi harus ada surat keterangan ketidak mampuan dari paroki gereja dimana mereka menjadi anggautanya , hal ini untuk mencegah agar fasilitas cuma-cuma ini tidak disalah gunakan begitu saja oleh orang-orang yang sebenarnya mampu membayar, tetapi mereka mencari murahnya saja. Lingkungan dari kompleks ini sangat bagus sekali dan juga tempat yang sangat ideal sekali untuk back packers!
Untuk mereka yang pernah belajar bahasa Perancis, Cité St Pierre juga satu tempat yang bagus sekali untuk mempraktekkan bahasa Perancis yang telah di pelajari. Banyak pendatang dari seluruh dunia yang bermalam di sini. Bermacam bahasa dipergunakan di sini, tetapi bahasa Perancis dan Inggris adalah bahasa yang umum dipergunakan sebagai bahasa perantara. Di dalam praktiknya banyak juga pekerja sukarelawan yang menguasai bahasa Spanyol, Jerman, Itali.
Cité St. Pierre sendiri juga memberikan kesempatan kepada mereka yang bersedia bekerja sebagai pekerja sukarelawan disitu tanpa digaji dengan syarat setidaknya harus bekerja selama enam minggu. Para peminat dapat mendaftarkan diri.
Ongkos-ongkos ke sana harus ditanggung sendiri, hanya makan dan pondokan yang menjadi tanggungan yayasan dari tempat penampungan ini.
Kompleks ini adalah terletak di lembah pegunungan sekitar 15 menit berjalan dari kompleks Sanctuary Lourdes, sangat bagus untuk dipakai sebagai tempat renungan dan mengundurkan diri dari kesibukan harian, jauh dari stress.
Siapa di antara pembaca ada yang berminat….?
Jarak antara Amsterdam ke Lourdes jika ditempuh dengan mobil adalah sekitar 1.000 km dengan melewati autoroute peage – jalan tol A1 ke arah Paris, tetapi tetap mengambil ringway atau jalan lingkaran luar lewat bandara Charles de Gaulle – Boulevard Périphérique, mengambil arah Clermont Ferrand – Limousin ke Toulouse dan dari sini membelok ke kanan menuju ke Lourdes. Jika tidak ada halangan traffic jam yang terkadang dapat mencapai puluhan kilometer di musim liburan panas, dan kita mengemudikan bergantian dan relax, sekitar 130 km per jamnya, dan mibil di setting automatis cruise control, maka dalam 12 jam sudah sampai.
Jalur kereta api di Paris sangat tidak praktis karena ada beberapa stasiun yang terpisah dan tidak dapat dihubungkan sehingga terkadang harus pindah dari stasiun yang satu ke stasiun yang lain lewat metro. Jaringan metro di Paris sendiri sangat bagus sekali. Mulai dari stasiun Paris Montparnasse yang terletak di bagian utara Paris dapat mengambil kereta bullet TGV yang dapat berjalan sekitar 400 km per jam nya langsung ke kota Lourdes yang ditempuh dalam 7 jam. Jika ingin dicapai dengan pesawat terbang, maka harus lewat bandara Pau Pyrénées, sekitar 55 km dari Lourdes, karena kota ini sendiri tidak mempunyai bandara udara.
Dengan back pack jalan kaki? Jika kita setiap harinya berjalan sekitar 60 km, dan tidak lenggang kangkung, maka dalam 12 hari kita sudah sampai di Lourdes.
Atau ingin bersepeda? Dapat juga ! Jika kita rata-rata menempuh sekitar 150 km setiap harinya, maka dalam seminggu sudah berada ditempat tujuan. Silahkan mencoba ……
Bukankah banyak jalan menuju ke Lourdes? A place to be…. Menikmati keindahan alam yang bagus dan bersih udaranya, dimana air dari sungai di pegunungan yang dapat langsung diminum. Tidak ada debu dan nyamuk….
May 31st, 2012 at 22:55
Kangmas Dulllll, aduuuuuhhhh, nuwun sewu… Salah tulis…. Bukan maksud saya untuk menyapa anda dengan sebutan “Mpek Dul”lho yooo… Ini karena kecerobohan saja… Ngapunten sak estu kangmas… Kus, kus, kus… Ben gak nesu…Gr. Nu2k
May 31st, 2012 at 22:54
Mpek Dul, itu nyilih fotonya sopo toch yooo sing ditempel ning kene… Ha, ha, haaa… Duuuuhhhh, coba kita sudah saling jumpa ya… Tak pasang hasil jepretanku, ben kabeh iso mirsani wajahnya wong ngganteng sak Baltyra….Ha, ha, haaaa…. Tot andere keer… gr. Nu2k
May 30th, 2012 at 03:27
MPEK DUL : sapa bilang nang omah wae murah????? mmgnya ndak makan? ndak butuh beli ini itu……..org hidup sll metu duit mpek…………wakakakak…………pakai cara indo, yg sll dikatakan klu bs dipersulit kenapa dipermudah…….nah, klu bs dpt murah, knp hrs barang larang? hayoooooooo…….mpek wae kemana-mana milih engklek…..naik egrang…….. bek-pek ……hayo alasannya apa???? biar murah to?????
May 30th, 2012 at 02:57
Lani Says: May 30th, 2012 at 02:49
Naik KA ke Lourdes jauh banget dan harganya lbh mahal………
Dasar orang pelit, bisa gelandangan ke NZL yg lebih mahal nggak ngomel. Memangnya mau yang nopes? wis ning omah wae murah.
May 30th, 2012 at 02:49
MPEK DUL : mau tau pelud?????? PELABUHAN UDARA……..jgn diubah jd welut…..belut……..klu itu mah masuk keperut mpek wakakakaka……………
mpek jahat………aku dikongkon mikul sing abotttttt…………mana kuat cm 140 cm dan kurang dr sekarung goni beras……yg pantes mpek ngrewangi ktk msh berattttttttt……….trs ktk udah mulai ringan aku pikul bareng2 sama Alvina………
naik KA ke Lourdes jauh banget dan harganya lbh mahal…………wlu jelas pemandangannya lbh indah………..tp nek mau praktis ya mabur waelah……murah, dan menyingkat wkt perjalanan………….
May 28th, 2012 at 09:12
Mpek Dul, mau mau mau…kartu pos dari Lourdes dan tempat2 lain di manapun mpek Dul singgah. Beneran ya mpek, jangan bohongin anak kecil lho… Nanti aku nangis kekejer nih. Muaachh muaaachh ceproot…
May 28th, 2012 at 06:04
nu2k Says: May 25th, 2012 at 03:30
Aduuuhhh, kangmas Dul… Mbok fotonya diganti lah.. Keriput marut-marut.. Gelilah kalau harus mencium pipinya 3 kali…Kemana larinya “vet” di pipi… Rak nggak terbakar oven barengan sama jeng Lani toch… ha, ha, haaa..gr. Nu2k
Boos? boos? gimana bisa boos ama mbak Nuk kalo lihat senyumnya?
Ok ini sdah mpek ganti fotonya yg asli, mau dicium pipi 30 kali pasti tdak kecewa
May 28th, 2012 at 04:27
Waahhh te laat, kangmas. Nulisnya sebelum commentaar kangmas no 31 keluar.. Eehhhh allah, punyaku keluar setelah kangmas muncul.. Kesannya seperti nggak baca ya… padahal saya selalu melahap semuanya sampai ke titik dan komanya… Apalagi kalau ada tayangan pilihan… Ha, ha, haaa.. Bukan menganak tirikan lho yaaa. Hanya kadang membacanya lebih sreg dan cocok saja dengan yang ada di benak saya…That’s all… Gr en wees niet boos zijn, nu2k
May 28th, 2012 at 03:03
Bagong Julianto Says: May 27th, 2012 at 05:23
Mpek Dul, Sendang Sono…..Pernah mrono?
Oh la la Sendang Sono, pernah kesono dong, apalagi waktu masih sekolah dan remaja, sering kesono, tiap tahun, masih jalan sekitar 5-6 km kalo hujan becek, sekarang bisa berhenti didekatnya. Th 2009 juga mampir kesitu. Gua Kerep, Puh sarang. Kaliori, Gua Maria Sendang Sriningsih, Mojosongo, Gua Maria Lawangsih, Gua Maria Tritis. Ratu Rosari Juwana. DI Jawa tengah itu buanyak sekali, teturama dari Keuskupan Agung Semarang.
Maklum, bocah Semarang asli, nggak pernah tinggal diluar Semarang. Kota yang makanannya juga paling enak, sayang waktu remaja sdh meninggalkan Smg dan Indon untuk merantau menuntut ilmu buat masa depannya, sampe sekarang nggak penah netap kembali di Indon.
May 27th, 2012 at 05:23
Mpek Dul>>>
Sendang Sono…..
Pernah mrono?
Suwunnn.