Teruntuk Wanita-wanita Hebat (4.2)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Tak terasa sudah sekian bulan aku bekerja di Bandung, hawa dingin yang kadang sulit kuterima lama kelamaan menjadi biasa, toh sewaktu di Hongkong akupun merasakan musim dingin. Alvino sesekali nampak pergi meninggalkan rumah, entah kemana.

Bedanya saat pulang ke rumah ia tidak lagi membunyikan klakson secara brutal, dia tak sekalipun berbicara pada kami, hanya saat dia butuh, dia bicara ketus seadanya.

Ingin rasanya aku mengajaknya bicara, dan itu adalah hal mustahil. Hingga terjadilah sebuah peristiwa yang seolah merubah situasi yang ada. Kisah yang aku alami ini sangat membuatku ketakutan namun juga merasa lega menemukan titik awal yang seolah menghapus kabut hitam dikediaman ini.

Pagi itu Mak Ben dan Entin pergi ke pasar diantar oleh A Nana. Mereka juga langsung belanja ke supermarket untuk membeli aneka kebutuhan. Tuan Gun bulan depan ada rencana kembali ke Indonesia. Pak Effendi sibuk di pos sembari mengawasi tukang kebun yang sedang merapihkan taman depan.

Alvino nampak asyik berjemur di bangku panjang dekat kolam renang. Aku sendiri tengah menyiapkan hidangan makan siang berupa ikan mujair goreng berikut sayur bening dan sambal tempe penyet plus lalapan komplit. Saat aku selesai menyiapkan sayuran, aku berniat membuang sampahnya keluar dapur, yaitu ke kotak sampah yang ada di luar. Dari arah dapur aku dapat melihat ke arah kolam renang, walau tidak jelas karena dihalangi taman dengan aneka bunga tropis setinggi 2 meteran juga disain bangunan yang berundak-undak.

Sekilas aku melihat sesuatu di dalam air yang tampak timbul tenggelam. Tadinya nyaris aku abaikan, namun aku merasa penasaran, dan aku berjalan sedikit di jalan setapak yang terbuat dari batu alam. Setelah melewati deretan bunga setinggi 2 meter, aku baru dapat lebih jelas melihat ke arah kolam renang, jarak sekitar 15 meter dari tempatku berdiri membuat pandanganku kurang detail akan apa yang ada di dalam kolam, belum lagi mozaik kolam berwarna biru tua dengan motif bunga merah putih ditambah bias pantulan sinar matahari.

Namun saat ku lihat bangku bangku di tepi kolam kosong semua, baru ku sadari yang di air itu memang orang tenggelam, orang itu Alvino. Aku ingat rasanya waktu tak berdaya di dalam air, seperti kehabisan tenaga. Aku spontan berlari ke arah kolam, namun aku baru ingat tak bisa berenang. Ingin lari ke pos depan memanggil Pak Effendi rasanya waktu sudah demikian sempit. Aku harus mengambil tindakan cepat.

Kulihat ada ban karet warna merah di tepi kolam, segera ku lemparkan kearah Alvino, namun ternyata dia sudah lemas, sepertinya dia kram, ban itu pun terlontar tidak tepat berada di dekatnya. Dalam keadaan panik aku melihat jacket pelampung milik Alvino tergeletak di meja dan tanpa pikir panjang aku memakainya.

“BYUUURRRRRR”, aku terjun bebas., karena tidak bisa berenang apalagi mengetahui tehnik berenang, sempat membuatku meminum air kolam. Naluriku memaksaku mendekati pelampung yang nampak mengapung tak jauh dariku. Ku dorong dengan susah payah agar dekat dengan Alvino, sekuat tenaga kubuang rasa takut berada di dalam kolam yang cukup besar itu.

Kuingat-ingat cara menolong orang tenggelam, waktu SMU aku pernah mendapat pelajaran olah raga renang. Dan sungguh mengingat-ingat sesuatu di kondisi kalut adalah usaha yang mustahil. Akhirnya dengan susah payah aku menyentak ban pelampung itu agar mendekat ke arah Alvin yang mulai lemas, dan berhasil. Dia kini nampak berpegangan pada pelampung itu dan diam tak bergerak sepertinya kehabisan tenaga. Lalu dengan susah payah aku berhasil mendekatinya. Kudengar dia bicara lirih, “dorong badanku”. Tanpa menunggu aku mendorong tubuh Alvin agar mendekati tepi kolam.

Setelah merapat di tepi kolam, aku buru-buru keluar dan menarik tangan Alvin bermaksud membantunya naik ke bibir kolam. Tubuh Alvin sangat berat ditambah kondisinya yang terkulai membuatnya jauh lebih berat. “BYUURRR” aku terjungkal kembali ke dalam kolam, ah entar berapa banyak air kolam yang terminum olehku, juga yang memasuki telingaku membuatku seperti penuh berisi air, namun membiarkan Alvin di dalam air dalam kondisi lemas bisa berakibat kematian maka dengan segala daya upaya aku berusaha membuatnya keluar dari dalam kolam.

Saat akhirnya Alvin bisa menempel di tepi kolam, aku kini harus bisa membuatnya naik ke atas. Dan aku merusaha mendorong pantatnya agar dia lebih mudah mengangkat tubuhnya ke bibir kolam. Namun tanpa disadari kakinya mencari pijakan, akibatnya aku yang tengah berusaha mendorongnya ke atas dengan sisa tenagaku tanpa sengaja menjadi tumpuan pijakannya, aku pun terbenam dalam air.

Aku hanya belajar renang sewaktu SMU kelas satu, itu pun dinyatakan buruk oleh Pak Yus guru olah ragaku, kini mau tidak mau aku harus melawan rasa takutku di air, saat aku terbenam buru-buru kutahan nafas, aku tidak boleh panik, dan jacket pelampung yang kukenakan sangat membantu, dengan segera aku kembali terlontar ke permukaan kolam.

Mataku perih banyak terkena air kolam, samar-samar ku lihat Alvin sudah separuh badan berada di bibir kolam, posisi tertelungkup dengan bagian pinggang ke bawah masih di dalam air. Aku dengan gerakan sekenanya berusaha menepi, walau susah payah akhirnya berhasil.

Nafasku tersengal-sengal, ini mungkin kisah paling seru dan menegangkan sepanjang hidupku. Setelah nafasku stabil aku berusaha memanjat ke tepi kolam, dengan hati-hati kutarik tangan Alvin agar seluruh tubuhnya naik ke tepi kolam, dengan sisa tenaganya ia berusaha merayap hingga seluruh tubuhnya kini ada di tepi kolam.

Aku pernah melihat cara bantuan CPR di tv tapi sejujurnya aku tidak tahu tehnisnya. Ku coba menekan dada Alvin dengan kedua telapak tanganku, entah untuk apa, aku hanya ikut-ikutan seperti yang ku lihat di TV. Namun tak lama Alvin terbatuk-batuk dan dari mulutnya keluar air. Matanya setengah terpejam, namun dia terlihat baik-baik saja walau wajahnya pucat pasi.

*****

Ibarat dalam film, polisi selalu datang terlambat, dan itu berlaku kepada Pak Effendi, yang datang tergopoh-gopoh saat semua sudah berlalu, rupanya ia mencari-cariku agar menyiapkan kopi untuk tukang kebun di depan, dan mungkin tanpa sengaja ia melihatku di pinggir kolam bersama Alvin dalam keadaan basah kuyup.

“Masyaallah Neng, ada apa ini ? Kenapa kamu basah kuyup begini ? Ini Alvin kenapa ?”, Pekik Pak Effendi dengan panik. Aku yang duduk kelelahan berusaha bercerita dengan singkat musibah yang baru saja terjadi.

Dibantu tukang kebun, kami menggotong Alvin ke sofa di ruang tengah. Ku ambil handuk dan kuseka tubuhnya. Lalu buru-buru kubantu ia untuk meminum teh hangat. Ku lihat Alvin sama sekali tidak membantah, bahkan tiba-tiba ia menangis tersedu sedu. Ku beri aba-aba agar Pak Effendi meninggalkan kami.

Kuusap-usap rambut Alvin yang masih setengah basah dan ku bisikkan kata-kata bahwa semua sudah berlalu, sementara ia sibuk menangis. Sosok yang selama ini menyebalkan tiba-tiba nampak rapuh. Pelan-pelan dia bangkit dan duduk di sofa, lalu kembali ku sodorkan teh dan ia meminumnya dengan perlahan.

“Terima kasih ya kamu udah nyelamatin nyawaku”, Ujar Alvin dengan suara parau. Rasanya tidak percaya saat aku mendengarnya memakai kata ‘kamu’ bukan ‘elo’ seperti hari hari kemarin. Aku hanya mengangguk saja, tidak tahu harus berkata apa.

“Aku selalu kasar padamu, tapi kamu selalu perduli padaku, dan kini kamu menolongku”, Lanjut Alvin sambil menunduk. “Oh iya, namamu siapa ?”.

Aku tersenyum, lalu berkata, “iya tidak apa-apa Tuan, sudah menjadi kewajiban saya menolong orang dalam kesusahan. Nama saya Uci, saya juru masak di rumah ini”.

Alvin menatapku dalam dalam, wajah tampan itu tersenyum, baru sekali ini aku melihatnya. “Panggil aku Alvin, semua yang di rumah ini cukup memanggilku Alvin, maafkan ya Uci kalau sikapku selalu buruk pada kalian, entahlah kenapa aku seperti itu”, Ujar Alvin sambil menunduk.

Aku terpaku di kursiku, tidak tahu harus melakukan apa, tiba-tiba Mak Ben masuk, “Masyaallah, ada apa ini ? Neng ayo ganti baju dulu, nanti kamu masuk angin, tadi Emak sudah menyuruh Entin membuat coklat panas untukmu”, Ujar Mak Ben panik, persis Ibu kandungku saat melihatku pulang sekolah dan basah kuyup karena kehujanan. Lalu ia melihat Alvin yang masih setengah telanjang, “Aduh Tuan, kenapa bisa nyaris tenggelam, pasti belum pemanasan ya tadi, ayo nak, Mak bantu ke atas, segera pakai baju”. Mak Ben dengan sigap menggandeng tangan Alvin.

Alvin menunduk malu, tiba-tiba ia menarik tangan Emak dan mencium tangannya, sambil berlutut ia berkata “Mak maafin Alvin, selama ini aku sangat menyebalkan, aku sudah sepantasnya mati tenggelam”. Alvin berbicara sambil menangis tersedu-sedu mirip seorang anak kecil.

Mak Ben memang berhati tulus, gambaran seorang Ibu yang penuh kasih, diusapnya kepala Alvin, “sudahlah Tuan, Emak sudah memaafkan kok, jangan diungkit lagi ya, sekarang yuk ke atas, mandi air hangat dan pakai baju supaya tidak sakit, nanti Emak gosokin badan kamu pakai minyak kayu putih”.

Alvin nampak terpukul sekaligus terharu, orang-orang yang selama ini tidak dipandang olehnya, kini justru menjadi orang-orang yang mengasihinya. “Mak, panggil aku Alvin aja ya, aku tidak sepatutnya dipanggil Tuan”, Ujar Alvino.

“Baiklah, aku akan memanggilmu ‘nak’, karena kamu, Uci, Entin dan Nana bagaikan anak anak Emak sendiri, kalianlah pelita hidup Emak walau tidak lahir dari rahim Emak, ah bahagianya anak Emak sekarang bertambah satu orang”, Sahut Mak Ben sambil tersenyum. Aku sempat terharu melihat semua itu, memaafkan kesalahan orang lain sangatlah mulia, aku kelak ingin seperti Mak Ben, selalu keibuan dan sabar juga bijaksana, membagi cintanya yang tulus kepada siapapun yang membutuhkannya.

Mak Ben juga menghubungi Tuan Mario di Jakarta, dan dari sanalah kami sadar, Alvin memang miskin kasih sayang, semua dihargai dengan materi.

“Maaf Tuan Mario, saya Mak Ben dari rumah Tuan Karel Gunawan di Bandung, tadi Tuan Alvin nyaris tenggelam di kolam”, Ujar Emak.

“Oh yaa ? Tapi nggak apa-apa kan Mak ? Yaa kalau ada apa-apa bawa saja ke rumah sakit, nanti suruh pihak rumah sakit menghubungi saya untuk biaya-biayanya”, Sahut Tuan Mario tanpa nada terkejut sedikitpun.

“Tuan, sepertinya Tuan Alvin baik-baik saja, sekarang sudah beristirahat di kamarnya”, Jawab Emak dengan rasa heran di dalam hati, adiknya nyaris mati kok tidak ada keinginan bertanya kondisinya saat ini.

“Hmmm baguslah, yaa sudah urus saja yaa, saya sibuk sekali, bye !”, Tuan Mario langsung menutup telpon

Emak terdiam dengan gagang telpon yang masih menempel di kupingnya, ia memandangku dan Entin yang berdiri tak jauh darinya secara bergantian . Dalam hati aku bersyukur pada yang Kuasa, walau tak berlimpah materi namun aku berlimpah kasih sayang dari orang orang yang seharusnya memang mencintaiku.

*****

Sore harinya ku lihat Alvin menuruni tangga, sementara kami tengah asyik menikmati coklat panas dengan gorengan yang begitu menggoda, aku segera bangkit dan melongok ke arah koridor, “Alvin sudah bangun ? Mau coklat panas dan gorengan? Aku antar keatas ya ??”, Sapaku ramah kepadanya. Alvin nampak ragu, dengan malu-malu ia menjawab,

“Boleh nggak kalau aku bergabung dengan kalian ? Aku belom pernah makan sama-sama, bersama orang-orang yang saling mengasihi”, Alvin bicara dengan suara pelan.

“Ohhh tentu saja boleh, ayo, sini”, Ujarku ramah dan menggandeng tangan Alvin yang nampak ragu, dari dalam pantry  terdengar suara Mak Ben berbicara ramah.

“Sini Nak, gabung sama kita, cepetan, keburu dingin lho gorengannya, tuh A Nana sama Entin makan gorengan udah kaya balapan aja”, Mak Ben bangkit dari kursinya dan mengajak Alvin duduk.

Pemandangan langka lagi lagi terjadi, Alvin mencium tangan Pak Effendi dan Mak Ben, juga menyalami A Nana dan Entin. Kami semua bersikap ramah, menyambut Alvin bagaikan tidak pernah terjadi hal buruk sebelumnya. Sore yang istimewa, coklat panas, gorengan dan satu keluarga besar yang berbahagia. Bahagia hatiku menjadi bagian orang orang yang pemaaf, tidak mendendam dan saling menerima.

 

8 Comments to "Teruntuk Wanita-wanita Hebat (4.2)"

  1. Dewi Aichi  26 May, 2012 at 00:34

    Kornelya hi hi…nyangkut di mana? di New York ya nyangkutnya?

  2. Alvina VB  25 May, 2012 at 01:36

    Akhirnya ada titik terang, ditunggu lanjutannya ……

  3. Kornelya  24 May, 2012 at 23:44

    Alvin pacarannya nanti jangan lama-lama, yang baik datangnya hanya sekali. Enief, ditunggu lanjuntannya mumpung episode sebelumnya masih nyangkut di memory. Salam.

  4. Dewi Aichi  24 May, 2012 at 18:02

    Woooo HO HO HO…..Akhirnya..Alvino Alvino……

    Mas Enief….Alvino jodoh in ama aku ya ya ya…….

  5. J C  24 May, 2012 at 15:11

    Dan cinta pun mulai bersemi…

  6. Sierli  24 May, 2012 at 10:43

    Akhirnyaaa, sadar juga…xixixii…
    Terharu…hiks..

  7. [email protected]  24 May, 2012 at 10:25

    hihihihihihi………….
    LANJUT!!!!!…… cerita yang menarik…..

  8. Linda Cheang  24 May, 2012 at 10:13

    horeee, sudah ada sambungannya…
    tunggu sambungan lagi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.