Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Juru Masak Pribumi dan Rijsttafel Masa Kolonial

Friday, 25 May 2012

Viewed 1051 times, 2 times today | 19 Comments |

Joko Prayitno

 

Kuliner yang kita miliki memiliki berbagai ragam jenis dan sangat kaya itu jelas dan tidak bisa dipungkiri lagi. Penggunaan rempah-rempah untuk bumbu makanan membuat kuliner kita disejajarkan dengan kuliner Prancis yang sangat haute causine. Dalam pandangan Eropa bahwa syarat haute causine umumnya tidak dapat dipisahkan dari penggunaan bahan-bahan makanan yang dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Selain itu, hidangan pribumi identik dan sarat penggunaan bahan rempah-rempah yang tentunya eksotis di mata mereka.

Juru Masak di Jawa Tahun 1900 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Kekayaan ini telah ada sejak lama bahkan bangsa Belanda yang datang pun mengakui ini. Menurut Onghokham hal ini dapat dijelaskan bahwa sewaktu berkunjung ke Keraton Mataram pada tahun 1656, duta VOC Rijklofs van Goens begitu heran melihat jenis masakan dari daging, ayam, ikan hingga sayuran yang diolah, mulai dari dibakar, digoreng hingga dikukus. Semua ini terhidang untuk menjamu para tamu raja. Melimpahnya hidangan ini merupakan tradisi tahunan keraton ketika para bupati dari tiap daerah membawa upeti bagi raja (asok bulu bekti gelondhong pangarang-arang) disertai para pengikut mereka, diantaranya para petani yang wajib bekerja mengabdi di keraton. Para bupati ini juga membawa juru masak sendiri dan biasanya makanan khas daerah tiap bupati ikut dipersembahkan untuk hidangan di meja raja. Hal inilah yang menyebabkan melimpahnya hidangan di meja raja.

Peran koki atau juru masak pribumi yang bekerja menjadi pembantu masak di keluarga Eropa sebenarnya sangat dominan semenjak gelombang kedatangan orang-orang Eropa pada abad ke-19. Juru masak (koki) pribumi ini banyak dimanfaatkan oleh orang-orang Eropa untuk mengurusi rumah mereka, karena pada awal kedatangan bangsa Eropa mereka tidak membawa istri dan keluarga mereka. Juru masak (koki) pribumi ini sangat besar perannya dalam memperkenalkan budaya makan Indonesia. Dari juru masak (koki) pribumi inilah masyarakat Eropa beradaptasi terhadap makanan lokal terutama nasi dan hidangan lainnya. Kebiasaan makan nasi ini menjadikan kebiasaan yang turun menurun di kalangan orang Eropa yang tinggal di Jawa.

Kebiasaan makan nasi bangsa Eropa khususnya orang Belanda yang tinggal di Hindia Belanda akhirnya menciptakan sebuah budaya makan yang bernama Rijsttafel. Rijsttafel berarti hidangan nasi dapat juga dikatakan sebagai suatu sajian makan nasi yang disajikan secara special. Menurut Fadly Rahman, rijsttafel yang di kalangan masyarakat pribumi sebagai kebiasaan makan sehari-hari yang biasa maka di kalangan Eropa rijsttafel menjadi gaya hidup yang terkesan mewah. Kesan mewah ini ditampilkan melalui kuantitas hidangan serta aspek penyajiannya. Dan bila dicermati bahwa rijsttafel ini dapat dikatakan memiliki kemiripan dengan tradisi dan kebiasaan makan di Keraton masa lalu.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa juru masak (koki) pribumi ini memiliki andil besar terhadap terbentuknya kebudayaan baru terutama dalam budaya kuliner yang terkadang tidak kita sadari. Seandainya juru masak (koki) pribumi ini tidak dipekerjakan dalam rumah tangga Eropa maka budaya rijsttafel tidak akan terbentuk, maka nasi hanya menjadi hidangan biasa.

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2012/05/23/juru-masak-koki-pribumi-dan-rijsttafel-masa-kolonial/

 

Share This Post

Posted by Friday, 25 May 2012 on 09:53.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

19 Responses to “Juru Masak Pribumi dan Rijsttafel Masa Kolonial”

Pages: « 2 [1]

  1. 10
    J C Says:

    Itsmi, hahahaha…aku setuju dengan komentarmu, bahwa “rasanya sama semua”. Itu juga berlaku untuk Chinese food di Belanda. Aku pertama bingung, makan di resto, pesan ini itu, setelah keluar, penampakan beda-beda, tapi setelah dimakan lha kok rasanya mirip semua… setelah omong punya omong, kebanyakan orang bilang bahwa memang sudah disesuaikan dengan citarasa selera lidah Belanda…ya sudah mau ngomong apa lagi…

  2. 9
    Silvia Says:

    Cuma memang belum pernah nemu resto yg mengusung rijsttafel dengan menu gulai kepala ikan……Mungkin kudu diajarin dulu tuh chef resto tsb sm chef dr Belanda

  3. 8
    Silvia Says:

    Itsmi, kalau menu di resto2 yg sy suka itu menunya: ada kerupuk, acar, sate, perkedel, rendang sapi, serundeng, sayur lodeh, sambal bajak/uleg, soto ayam, mie goreng………Enak-enak loh……..

  4. 7
    phie Says:

    mas joko, aku selalu ngikutin tulisanmu ttg budaya masa lalu. seneng jg liat gambar2 kuno itu. hobiku jg jalan2 liat gedung bersejarah selalu terkagum2 dgn arsitektur kuno seakan2 berjalan di mesin waktu mbayangin dulunya ini kya apa. sbnrnya ini hobi yg agak tdk baik…soalnya pulangnya suka ada yg nginthil…hahaha…..oleh2 dari ke kraton+tamansari kmrn ada ‘penumpang’ gelap 3 biji…ga tanggung2!

  5. 6
    Itsmi Says:

    Kalau kita mau objektif makanan Indonesia (rijstafel) tidak begitu enak karena rasanya mirip semuanya….

  6. 5
    Linda Cheang Says:

    makan ajah, dah

  7. 4
    Joko Prayitno Says:

    Thanks All…

  8. 3
    Joko Prayitno Says:

    Thanks All

  9. 2
    Silvia Says:

    Memasak=rileksasi.

    Suka sm resto rijsttafel di Jkt yg pakai gong kalau ada tamu datang. Suka juga sama resto rijsttafel disini.

  10. 1
    Handoko Widagdo Says:

    Wong Jowo itu memang cepat belajar

Pages: « 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)