Sugiyarti Ugie
Waktu itu bulan Juni 2009, akhirnya kesampaian juga saya memiliki sepeda. Senang sekali rasanya, karena impian saya adalah saya bisa bersepeda tiap berangkat dan pulang mengajar. Mungkin agak aneh ya keinginan saya.
Bersepeda ? Ya bersepeda. Sederhana, gak mutu dan ndeso ya ? Ya gimana lagi bawaan lahir mank ndeso.. susah ilangnya. .hehe..
Saya kadang merasa tak wajar dengan angan-angan saya. Sangat sederhanaaa.., kadang malah gak mutu.
Dulu banget saya ingiin sekali bisa bekerja (karena saya lulusan IKIP. tentunya jadi guru ) di kota kecil lereng gunung yang sejuuk, indah dan bebas polusi. Kenapa saya saya terobsesi hal ini ? Mungkin karena sering jatuh cinta dengan kota-kota kecil di lereng gunung waktu saya pernah beberapa kali singgah waktu kuliah atau bertandang ke rumah sahabat. Indahhhh sekali. Dan ingin bisa tinggal lebih lama. Saya sering membayangkan tinggal di kota kecil, lereng gunung, bersepeda tiap hari untuk berangkat mengajar, menyapa anak-anak yang masih polos. …. wuiiih indahnya.
Khayalan bener dotcom..
Tetapi. ., kenyataan membawa saya ke Jakarta yang nota bene kota metropolitan berhias hiruk pikuk, macet dan pekat dengan polusi. Tapi angan-angan saya bersepeda ke tempat bekerja tak pernah pupus, menempel tak hilang! Terutama setelah tempat tinggal saya memang memungkinkan untuk itu. Di samping kalau bersepeda lebih cepat (terjangkau 7 menit dari rumah ) juga ada alasan khusus antara lain kalau saya jalan kaki sekitar 12-15 menit, dan karena murid-murid banyak yang tinggal di mana jalur jalan kaki; saya banyak bertemu dengan mereka dan ini menghambat laju perjalanan so kalau bertemu mereka cium tangan dan saya memang kurang nyaman dengan kebiasaan cium tangan, menurut saya mereka cukup menyapa atau tersenyum, saya kan bukan orang suci yang pantas untuk dicium tangannya. ..hehe..
Jalur perjalanan saya ada dua yaitu jalur timur dan jalur barat, yang pertama adalah jalur utama alias jalan raya di mana angkot dan dan kendaraan lain lewat, memang ramai tapi nyaman karena bebas polisi tidur. Kalau dihitung-hitung saya lebih sering melalui jalur ini. Jalur dua lebih sepi kendaraan tapi terlalu banyak polisi yang malas ;so tiduran di jalanan, meski begitu saya suka juga bersepeda di jalur ini kalau bosan dengan jalan raya yang kadang macet, walau tak lama karena sempitnya jalan.
________
Enak gak sih bersepeda ?
Pertama, saya harus menyesuaikan diri untuk menguasinya, agak melayang walaupun saya dari kecil mahir bersepeda. Hanya dua hari, selebihnya saya bisa ngebut dengan aman.
Dan bagaimana reaksi teman-teman di skul? Waaa macam-macam…
Ada yang gimana.. eeem seolah tidak terima ada seorang guru di Jakarta bersepeda.., mungkin artinya ’miskin amat ’ seperti jaman Oemar Bakrie aja. Lho ??
“Bu Ugie, kog gak beli motor aja, yang matic gitu ?” Kata pak Arya sambil memandangi sepedaku ketika ia memarkir motornya di sebelah Siesi, begitu kunamai sepedaku. Siesi singkatan dari Siera (seri sepedaku) yang berwarna Silver.
“Ah, enggak ah. “Jawabku seolah saya tak paham tatap mata yang tersirat. Dan saya berlalu.
Dan pertanyaan ini ada lebih tiga kali dilemparkan pada saya, seolah masih tak rela saya bersepeda. . . Haduuh.
Jawaban sayapun tetap sama. . heehe. . konsisten gitu..
Lha kenapa kalau saya bersepeda, toh bukan tindak kriminal dan apakah menjatuhkan martabat guru?
Entahlah..
Tapi ada banyak teman takjub sedikit iri melihat saya dengan coolnya bersepeda.
“Aseek bener, mbak Ugie. Aku pingin lho nggowess begini dari rumah. ” kata bu Endang orang ke dua di TU sambil terkekeh dengan muka jeles dan mupeng. Hihihi..
“Ayoo to mbak, biar Siesi ada temannya. ” jawabku menggodanya.
” Ya gak berani.. bisa -bisa diseruduk metromini. ”
Ada lagi yang suka mupeng seperti bu Ira, bu Nita, pak Agus atau pak Nug. Jadi kadang mereka ‘main’ sepeda di lapangan seusai pelajaran atau ketika anak-anak sudah pulang.
Biarin deh, pengobat rasa ingin. . hehe..
Ada juga teman yang salut, seperti kata pak Ketut : ” Karena dekat ya bu, bisa sambil olah raga, ngirit dan anti polusi.”
Hehe. . iya juga.
_________________
Memang, bersepeda di Jakarta walaupun pinggiran, kadang makan hati. Entahlah, mungkin menghargai orang lain atau dan nyawa sendiri sangat kurang, antara lain pernah ketika tiga orang remaja putri berjalan kaki memenuhi jalan, saya bunyikan bel agar mereka minggir, eee malah berteriak : “Halah. . kalau ditabrak sepeda gak bakal mati ini. ”
Ha ???
Iya si… tapi kalau ada sepeda motor atau mobil di belakangmu, tempat kamu jatuh ? Bahaya kan.
Mereka berseragam biru putih, untunglah bukan anak-anak saya. Kalau anak-anak saya hmmmm saya sentil pasti; bikin gemes.
Pernah jatuh atau kecelakaan? Di Jakarta githu loh.
Pernah sekali, waktu itu siang hari, ketika saya berdamai dengan panas, tak disangka-sangka beberapa sopir angkot yang nongkrong di warteg bercanda berlebihan di jalanan. Seorang di antara mereka menabrak sepeda saya yang melaju cepat karena jalanan menurun. Saya kehilangan keseimbangan, jatuhlah saya dan Siesi. Hasilnya ? Kaki tangan saya lecet-lecet, keranjang sepeda saya penyok dan sarung stang robek. Beruntung, di belakang tak ada angkot yang biasanya tak pernah sepi. Alhamdulillah.
Tak terasa sudah tiga tahun Siesi bersama saya, menemani dalam panas, hujan, ketergesa-gesaan, dan kegembiraan saya. Siesi masih cantik dan ngangeni.Saya selalu jatuh cinta padanya. Dan teman-teman saya masih suka memujinya.
Siesi. . Siesi, makasih ya. .
*___^
Jakarta, 18 Mei 2012
Salam Siesi Nggowess..
May 26th, 2012 at 00:45
Mbak Ugi…
Lucu juga ceritanya….
Semoga bisa menjadi contoh dan banyak orang kita yang sadar dan mau menggunakan speda.
Semoga banyak Siesi-siei yang mengikuti…..
Anak Dj. juga guru, juga setiap hari kerja dengan menggunakan speda, kecuali winter, dia gunakan bus.
Hati-hati dijalanan, jangan sampai meleng ya.
Salam manis dari Mainz.
May 25th, 2012 at 23:25
Bersepeda tanpa jalur khusus = bercanda dengan maut, apa lagi kalau yg nyetir mobil egonya gede.
Semoga Ugi dan assei bisa beraktifitas bersama lagi. Salam.
May 25th, 2012 at 14:42
UGIE : akhirnya artikel ini mencungul juaaaaaa………….pie kabarmu kok njur ndekem??????
May 25th, 2012 at 12:35
Bagusnya kalau kota kota besar berikan fasilitas untuk bersepeda.
ini sebagai alternatif dan membasmi kemacetan dan polusi…. dan di tempat kerja di sediakan tempat mandi…..
May 25th, 2012 at 12:19
ayo, makin banyak yang gowes, makin asyik.
May 25th, 2012 at 11:16
Bersepeda di tempat yg tepat= rileksasi juga.
May 25th, 2012 at 11:06
Asyik, makin banyak yang naik sepeda
Ugie, “mupeng” itu artinya apa ya?
May 25th, 2012 at 10:44
Selamat bersepeda dan hati-hati karena jalan sepeda khusus belum tersedia…Gr. Nu2k
May 25th, 2012 at 10:11
Kereeeeeeennnnn…… sayang kantorku jauh, kalo deket aku juga mau lho ke kantor naik sepeda
May 25th, 2012 at 09:55
Inilah contoh guru yang bisa digugu dan ditiru