Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (1)

Josh Chen – Global Citizen

 

Artikel ini ditulis karena terinspirasi artikel pak Anwari yang berjudul Sakit dan Mati, dan terpicu oleh diskusi dengan bu Nunuk di artikel Batik Modern serta artikel Pemakaman dan Makam di Belanda dan juga diskusi dengan Itsmi di komentar artikel pak Anwari.

Budaya Tionghoa dikenal dengan segala kerumitan adat istiadat dan tata caranya, mulai dari kehamilan, kelahiran sampai lengkapnya siklus manusia yaitu kematian.

Catatan khusus:

Tulisan ini tidak untuk memertentangkan agama, keyakinan dan kepercayaan para pembaca, tapi murni untuk sharing apa yang saya ketahui.

Tidak semua kaum Tionghoa menjalankan adat istiadat dalam tulisan ini. Adat istiadat tidak ada hubungannya dengan agama tertentu, walaupun memang bagi sebagian orang yang sudah memeluk agama tertentu, adat istiadat seperti ini ada yang tidak menjalankannya, namun masih ada juga yang menjalankannya.

Tulisan ini tidak bermaksud mengedepankan takhayul (superstitious) ataupun berhala, sekali lagi murni adalah adat istiadat dan tata cara yang dikenal dalam budaya Tionghoa.

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

105 Comments to "Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (1)"

  1. J C  5 December, 2012 at 20:55

    Mega Vristian: lebih banyak kemiripannya atau banyak bedanya? Tiap negara memiliki keunikan tersendiri…

  2. Mega Vristian  5 December, 2012 at 18:08

    Mas JC, saya membaca ulang tulisannya. Sambil membandingkan yang saya lihat di Hong kong. Nenek saya di Hong Kong, baru meninggal 2 minggu yang lalu. Saya mau membaca lanjutannya tulisan ini dulu ya.

  3. J C  30 November, 2012 at 14:44

    Yuli Duryat: terima kasih juga sudah mampir di sini…

  4. Yuli Duryat  30 November, 2012 at 11:42

    Wah terima kasih informasinya Mas JC jadi tahu begini toh ya, soalnya saya di Hong Kong belum pernah melihat prosesi pemakaman/kremasi.

  5. J C  3 October, 2012 at 05:40

    Ugie: benar sekali keluarga harus pakai baju putih…

    Angela: terima kasih sudah mampir di artikel lama ini dan berkomentar. Ada lanjutannya lagi lho, dan masih belum selesai, belum sempat nyambung lagi…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *