Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (1)

Friday, 25 May 2012

Viewed 5134 times, 1 times today | 105 Comments |

Josh Chen – Global Citizen

 

Artikel ini ditulis karena terinspirasi artikel pak Anwari yang berjudul Sakit dan Mati, dan terpicu oleh diskusi dengan bu Nunuk di artikel Batik Modern serta artikel Pemakaman dan Makam di Belanda dan juga diskusi dengan Itsmi di komentar artikel pak Anwari.

Budaya Tionghoa dikenal dengan segala kerumitan adat istiadat dan tata caranya, mulai dari kehamilan, kelahiran sampai lengkapnya siklus manusia yaitu kematian.

Catatan khusus:

Tulisan ini tidak untuk memertentangkan agama, keyakinan dan kepercayaan para pembaca, tapi murni untuk sharing apa yang saya ketahui.

Tidak semua kaum Tionghoa menjalankan adat istiadat dalam tulisan ini. Adat istiadat tidak ada hubungannya dengan agama tertentu, walaupun memang bagi sebagian orang yang sudah memeluk agama tertentu, adat istiadat seperti ini ada yang tidak menjalankannya, namun masih ada juga yang menjalankannya.

Tulisan ini tidak bermaksud mengedepankan takhayul (superstitious) ataupun berhala, sekali lagi murni adalah adat istiadat dan tata cara yang dikenal dalam budaya Tionghoa.

 

 

Share This Post

Posted by Friday, 25 May 2012 on 09:53.

Categories: Budaya. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

105 Responses to “Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (1)”

Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 [1]

  1. 10
    J C Says:

    bu Nunuk: matur nuwun nggih sudah absen nomer 1… artikel ini merespon dan terinspirasi dari artikel Panjenengan yang tentang pemakaman itu. Mengenai pertanyaan Panjenengan, memang ada yang diikutkan ke dalam peti almarhum, ada juga yang disimpan oleh keluarga yang ditinggalkan.

    Pak Hand: ini masih puanjaaaannnggg…

    Nia: sekarang makin banyak jenis rumah duka dan servisnya…yang paling wah di sono tuh San Diego Hills…

    Silvia: untuk yang tingkat ekonominya “sangar” biasanya memang semua uang duka akan disumbangkan, bisa ke satu yayasan, atau ke panti asuhan atau mana saja. Yang huebuat, makin tinggi status sosial ekonomi almarhum di masyarakat, uang dukanya makin “mengerikan”.

    Hennie: masih ada beberapa yang menyewa ‘tukang nangis’ tsb. Tapi sekarang rasanya sudah tidak ada lagi (atau juarang sekali).

    mas Iwan: terima kasih sudah mampir. Wah, wah, mas Iwan juga akrab sekali dengan adat istiadat Tionghoa rupanya…

  2. 9
    Tammy Says:

    Dulu aku sering bentuin bikin uang2an. Apalagi bagian muter kertasnya supaya gampang diambil (nggak lengket), juga ngerantai uang kertas yg udah dilipat.

  3. 8
    Linda Cheang Says:

    wuih, petinya kong conya JC masih pake sui pan. Jati bener, tuh. Bisa jadi, kong conya udah habis, petinya masih utuh.

    Dulu kata Papa, Emak (mamanya Papa) juga pakai peti sui pan. Kalo pas Engkong meninggal, pake keti biasa saja.

    Baru ketika Engkong meninggal itu, aku baru mengerti yang namanya kematian, kedukaan sampai segala macam urusannya seperti yang Panjenengan ceritakan di atas.

  4. 7
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Seneng ada artikel ini. Akrab dengan masa kecil ketika banyak teman-temanku dari etnis Tionghoa. Nanti sehabis shalat Jumat deh.

  5. 6
    HennieTriana Oberst Says:

    JC, di Medan sekolahku (SMP & SMA) dekat sekali dengan rumah duka. Di depan sekolahku Klenteng. Jadi aku sering sekali melihat iring-iringan keluarga dan tamu para pelayat, prosesinya belum pernah lihat, hanya keramaiannya saja. Dengan pernak-pernik makanan. Dulu teman-temanku yang cowo suka ngambilin makanannya, (mereka ngambil tanpa ijin atau bukan nggak tau juga).
    Ada pertanyaanku, apa betul ada yang disewa untuk menangis?

  6. 5
    Silvia Says:

    Pertama kali melihat proses upacara kematian yg luar biasa ketika kakek sepupu meninggal. Altarnya saja gedeeeee banget. Belum lagi ada mobil2an, dsb.Saya bantuin sepupu2 dan sepupu2 mereka bikin duit2an sampai pegel banget. Terkesima melihat atraksi pedang api yg dilakukan pd saat prosesi.

    Terperanjat mendengar jumlah uang sumbangan yg diterima dr pelayat. Jumlahnya gede banget bisa beli rumah bagus di daerah elit kota tsb. Lebih terperanjat lagi mendengar uang sumbangan tersebut disumbangkan oleh oom saya dan saudara2 nya. Saya mikir dlm hati,” Gile, buat bokap gue napa…….Lumayan buat nambahin modal.” Dasar kecil2 sdh ngerti duit

  7. 4
    nia Says:

    klo rumah dukanya tipe yg terbuka bs kliatan mana yg pelayatnya banyak mana yg sedikit hehehe… pernah liat yg kyk gini

  8. 3
    nu2k Says:

    Dimas JC, dulu waktu kecil saya pernah lihat pemakaman ala Thionghoa. Buaaanyak sekali pernak pernik milik yang meninggal (asli dan palsu) yang turut serta masuk ke pemakamannya. Terus kalau dikremasi apakah semuanya juga ikut dibakar? Eman ya kalau masih bisa dimanfaatkan oleh yang ditinggalkan…Apakah hal itu masih dilakukan. groetjes en werkt ze, Nu2k

  9. 2
    Handoko Widagdo Says:

    Kang JC, terima kasih sudah share budaya pemakaman.

  10. 1
    nu2k Says:

    Absen dulu dan ambil nomor 1. gr. Nu2k

Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)