Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (1)

Friday, 25 May 2012

Viewed 5132 times, 4 times today | 105 Comments |

Josh Chen – Global Citizen

 

Artikel ini ditulis karena terinspirasi artikel pak Anwari yang berjudul Sakit dan Mati, dan terpicu oleh diskusi dengan bu Nunuk di artikel Batik Modern serta artikel Pemakaman dan Makam di Belanda dan juga diskusi dengan Itsmi di komentar artikel pak Anwari.

Budaya Tionghoa dikenal dengan segala kerumitan adat istiadat dan tata caranya, mulai dari kehamilan, kelahiran sampai lengkapnya siklus manusia yaitu kematian.

Catatan khusus:

Tulisan ini tidak untuk memertentangkan agama, keyakinan dan kepercayaan para pembaca, tapi murni untuk sharing apa yang saya ketahui.

Tidak semua kaum Tionghoa menjalankan adat istiadat dalam tulisan ini. Adat istiadat tidak ada hubungannya dengan agama tertentu, walaupun memang bagi sebagian orang yang sudah memeluk agama tertentu, adat istiadat seperti ini ada yang tidak menjalankannya, namun masih ada juga yang menjalankannya.

Tulisan ini tidak bermaksud mengedepankan takhayul (superstitious) ataupun berhala, sekali lagi murni adalah adat istiadat dan tata cara yang dikenal dalam budaya Tionghoa.

 

 

Share This Post

Posted by Friday, 25 May 2012 on 09:53.

Categories: Budaya. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

105 Responses to “Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (1)”

Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »

  1. 20
    Wahnam Says:

    JC, Papaku sewaktu meninggal di kremasi di RD Jelambar (1992), Sedangkan Mamaku(2008 ) juga ditempat yg sama. Abu mereka ditaruh di Dadap. Awal tahun 2009, kakakku yg ada di HK memutuskan untuk membawa abu mereka ke Guangzhou(GZ) dan ditempatkan disana untuk digabungkan dgn abu kakek dan leluhurku (yg mana sebelumnya sudah dipindahkan dari Mei Zhou ke GZ). Maksudnya adalah supaya semuanya bisa “Ngumpul” jadi satu disana

    di GZ ada satu pemakaman yg agak mirip Sandiego hill namanya : 万安园 (wàn ān yuán) yang terletak dikota kecil (town) yaitu : 增城(Zēng chéng). Jadi abu mereka ditempatkan disana sekarang. Dari Shen Zhen ke sana hanya makan waktu sekitar 1 1/2 jam.

  2. 19
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Kalau sudah dapat harinya, hari baik, barulah diletakkan dalam rumah abu berbentuk locker. Ada juga yang besar seperti dalam foto tulisan ini. Jelas ini yang mahal sekali.

    Dimana diletakannya? Di kotak-kotak mirip locker. Yang “eye-level” letaknya, sangat mahal harga sewa. Yang dibawah setinggi pusat, lutut atau dibawahnya jelas lebih murah. Yang diatas kepala juga murah.

  3. 18
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Mengapa tidak dilarungkan ke laut atau di disimpan di kotak “locker”? Oooh…tunggu hari baik dan hari kesusaian pihak yang mati. Kapan duia lahir, kapan dia mati, kapan dia dibakar. Pokoknya rumit dan lebih rumit dari orang Jawa.

    Darimana bisa tahu itung2an itu? Mereka punya buku tebal kekuning-kuningan, seperti daftar logaritma. Hanya orang tertentu yang bisa baca dan mengerti. Banyak orang Tionghoa yang sudah kebarat-baratan tidak tahu lagi budaya ini.

  4. 17
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Abu jenazah dikumpulkan kedalam kantong kain berwarna merah. Abu jenazah dan abu peti sangat berbeda bentuk dan warnanya.

    Barulah abu jenazah diletakkan begitu saja di dalam sebuah ruangan (biasanya ruang kerja pengurus kremasi). Kantong abu jenazah dituliskan huruf kanji yang saya tak tahu maknanya.

  5. 16
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Setelah dibakar, oh ya pelanggan bisa memilih pakai gas atau kayu (jarang digunakan karna lama dan mahal, kecuali untuk kaum Hindi India kaya di Indoensia).

    Sekali bakar biasanya 4 jam baru selesai. Kalau pakai listrik sekitar sejam, tetapi pada waktu itu (1989) belum ada. John Lennon dibakar cukup cuma 1 jam.

    Barulah setelah dikremasi, pihak keluarga datang. Persis seperti yang ditulis disini dan dialamai oleh Phie.

  6. 15
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Yang paling menari proses kremasi. Saya pernah pergi ke krematorium Cilincing (tidak lama) dan Dadap Kamal (Cengkareng).

    Saya heran, semua petugasnya tak ada yang keturunan Tionghoa (mungkin pekerjaan hina). Semuanya muslim dan pribumi. Sampai saya harus menunggu kremator sholat dulu untuk berbincang-bincang.

    “kalau ada yang mau mati, biasa saya sudah feeling”, katanya. Entah bunyi klontang atau apa yg berasal dari dalam ruang perapian, sebelum jenazah yg mau dikremasi. Percaya atau tidak.

  7. 14
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Sewaktu ingin sudah dimakam, ada pembakaran semacam ornamen yang saya tak tahu maknya. Nanti setelah itu dilihat apunya (rangka bambu) jatuhnya ke arah mana. Betul ‘kan Om JC. Mereka pun menyebar “uang” yang saya kurang suka baunya.

  8. 13
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Dulu waktu kecil masih tinggal di jatinegara, banyak sekali teman keturunan Tionghoa. Jika ada yang wafat, saya “senang”, karena ada sebar uang. Pecahan denominasi Rp. 5, – dan Rp. 10,-

    Biasanya dimakamkan di Kebon Nanas dekat Kantor Menteri Lingkungan Hidup. Tradisi kematian kaum Tionghoa memang menakjubkan. Tulisan ini membawa saya semasa kecil nan menyenangkan.

  9. 12
    Tan Hwie Giap (Wibowo Budiman) Says:

    Hi Josh,
    Aku sering baca artikel2 di Baltyra, dan sangat menikmatinya. Artikelmu yang ini dengan foto2 bikin aku kaget, karena disalah satu foto ada foto adik emakku, yaitu emakmu. Nama emakku Oei Kian Nio, engkong namanya Tan Siok Swie, asal Semarang. Aku lahir di Solo, anaknya Tan Gie Yang. Kokonya papi namanya Tan Gie Hong. Kalau bener, wah seru deh! Jangan muat email ini ya, karena termasuk pribadi. Thanks Josh! Aku sekarang tinggal di Vancouver Canada.

  10. 11
    phie Says:

    Baba JC: aku jg baru tau kmrn papa meninggal mesti itung2an kpn jam dan hari baik buat tutup peti, dikremasi, smp dilarung-nya. katanya eh katanya klo ngasal aja ga pake itungan bisa2 sing urip dadi seret yo rejekine? trs abis itu mamaku+anak2 jg suruh cisua (buang sial). ya kita sih ngikut aja apa kata mrk (tetua). trs ya, bener ya klo org yg selama hidupnya dibenci/prnh bikin sakit hati mendiang itu bau bacin-nya menguar? aku taunya pas malem sblm kremasi kan berdiri di dpn peti liat fotonya papa trs jalan ke arah dada-kepala, mksdnya mo bilang ‘selamat jalan’ lha kok dr bagian situ bau bacin bgt, aku manggil mama+adik2ku nanya ini kok bau bukannya udh di-seal rapet??? anehnya bagian dada ke kaki ga bau lho!!! bsknya abis selesai kremasi mama bilang sama kita (pas sodara2 udh pulang) klo mama udh tau klo itu bacin sejak si keluarga A dtg, org yg bbrp bulan sebelumnya ribut gede sama papaku.

Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)