Friday, 25 May 2012
Josh Chen – Global Citizen
Artikel ini ditulis karena terinspirasi artikel pak Anwari yang berjudul Sakit dan Mati, dan terpicu oleh diskusi dengan bu Nunuk di artikel Batik Modern serta artikel Pemakaman dan Makam di Belanda dan juga diskusi dengan Itsmi di komentar artikel pak Anwari.
Budaya Tionghoa dikenal dengan segala kerumitan adat istiadat dan tata caranya, mulai dari kehamilan, kelahiran sampai lengkapnya siklus manusia yaitu kematian.
Catatan khusus:
Tulisan ini tidak untuk memertentangkan agama, keyakinan dan kepercayaan para pembaca, tapi murni untuk sharing apa yang saya ketahui.
Tidak semua kaum Tionghoa menjalankan adat istiadat dalam tulisan ini. Adat istiadat tidak ada hubungannya dengan agama tertentu, walaupun memang bagi sebagian orang yang sudah memeluk agama tertentu, adat istiadat seperti ini ada yang tidak menjalankannya, namun masih ada juga yang menjalankannya.
Tulisan ini tidak bermaksud mengedepankan takhayul (superstitious) ataupun berhala, sekali lagi murni adalah adat istiadat dan tata cara yang dikenal dalam budaya Tionghoa.
Pages: « 11 10 9 8 7 [6] 5 4 3 2 1 »
Pages: « 11 10 9 8 7 [6] 5 4 3 2 1 »
May 25th, 2012 at 19:10
Waduh mas Iwan, jangan menjadi risih begitu. Sasayu percaya kalau Bumi punya mekanisme sendiri, cuma pake logika saja, dengan beban populasi saat ini, dan proses agriculture yang relatively makin tidak aman, ga tau juga kan apa aja yg udah dikonsumsi manusia selama hidup. Pemikirannya memang cukup radikal sih, Sasayu sih menangkap sisi positifnya aja, membantu meringankan beban bumi. Yah akhirnya toh terserah mau dengan cara apapun, tradisi apapun yang dipercayai yang wafat dan keluarganya.
May 25th, 2012 at 18:39
Ada satu kesamaan antara adat Tionghoa peranakan dengan adat suku saya, Gorontalo. Bila ada kedukaan atau melayat HARUS PAKAI BAJU PUTIH.
Makanya saya agak risih pakai baju hitam bila ada kematian selain bukan seperti diatas.
May 25th, 2012 at 18:09
Wow…dokumentasi keluarga mas Jc luar biasa…ini sesuatu yang sangat berharga bagi anak cucu penerusnya, apalagi dengan kemampuan mas Jc dalam menuliskannya…sungguh ini jangan sampai musnah…dibukukan mas Jc, untuk keluarga seterusnya…
Pak Anwari komentarnya selalu ciamik he he…
Mas Jc….kostum dalam suasana duka, semua warna putih?
May 25th, 2012 at 18:07
Sasayu, jadi risih membaca komentarmu (juga nonton link TED) bahwa manusia beracun untuk dikembalikan ke bumi. Kayaknya terlalu berlebihan ah. Ini pasti radical enviromentalist. Bumi sudah punya mekanisme tersendiri untuk menerima, apapun yang diberikan kepadanya.
May 25th, 2012 at 18:04
Kaget ada penjelasan dari Om Josh, bahwa abu jenazah dijadikan diamond! Walau secara chemical saya paham karena sama-sama senyawa kimia karbon.
Terserah, kesukaan masing-masing orang berbeda-beda.
May 25th, 2012 at 17:41
Om JC, waktu di krematorium Dadap ada ruangan buat kremasi pakai kayu yang tentunya petinya besar seperti engkongmu. Tapi jarang yang pakai dan mungkin mahal. Untuk membakarnya perlu waktu sehari lebih.
Malah saya ingin sekali melihat kremasi orang India yang disini. Sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana “sistem kremasi” orang keturunan India disini yang semuanya Hindu.
Bila kaya, konon menggunakan kayu cendana sebagai alat pembakarnya. Hmmm…wanginya…
May 25th, 2012 at 17:06
Komen no 39: Wow.
May 25th, 2012 at 16:39
JC, iya, ya, sewaktu Emak meninggal awal tahun 1976, peti Emak yang sui pan/siu pan sepertinya bukan sesuatu yang mahal pada saat itu, tapi jelas dari kayu jati. Tradisi keluarga Tjio, jenazah harus di “liam” alias dikafani, tapi ujung-ujung tali kafannya dikepang. Nah, peti siu pan yang Emak sebelum ditutup, dilapis dulu dengan seng. Sedangkan Engkong waktu meninggal, sudah pesan, nggak mau peti matinya dilapis seng karena katanya “takut nggak bisa keluar”. Peti matinya Engkong meski bukan siu pan, tapi lebih menyeramkan karena banyak ukiran bunga krisan di sisi luarnya.
Cerita bunyi peti mati ada glodhagan, kalau di kotaku sini ceritanya lain lagi. Ada satu tempat pembuatan peti mati yang letaknya terpencil, harus masuk ke gang, milik satu yayasan keagamaan Buddha. Jika setelah beberapa waktu lamanya tidak ada orang yang beli peti mati, maka salah satu pengurus di situ mengambil pecut lalu peti-peti mati yang belum laku, dipecuti satu-satu.Katanya si peti matinya “disuruh cari pembeli”.
Biasanya setelah dipecuti, esoknya ada saja orang yang memang beli beli mati yang dipecuti tsb.
Peristirahatan terakhir, Emak dan Engkong dari Papa, keduanya dimakamkan di Pekuburan Tionghoa. Tapi suasana pekuburannya tidak menyeramkan, karena banyak “istana-istana” indah di sana. Baru Emak dari Mama yang dikremasi, 2006 lalu.
May 25th, 2012 at 15:50
Ternyata wajah Buto plek papanya.
Paling takut dan tak bisa bayangkan orang di kremasi…. ngeri dengar suara plethok2. HAdhuhhhhhhhhhhhhhhhhhh…..
Tapi manusia hidup selalu dipengaruhi kebiasaaan, budaya kepercayaan dlsb….. Ntar kalau aku mati enak e diapak ke ya?????
May 25th, 2012 at 15:43
SA : mungkin bs aku bantu jawab SUI PAN =peti mati, bener apa ndak aki??????