Friday, 25 May 2012
Josh Chen – Global Citizen
Artikel ini ditulis karena terinspirasi artikel pak Anwari yang berjudul Sakit dan Mati, dan terpicu oleh diskusi dengan bu Nunuk di artikel Batik Modern serta artikel Pemakaman dan Makam di Belanda dan juga diskusi dengan Itsmi di komentar artikel pak Anwari.
Budaya Tionghoa dikenal dengan segala kerumitan adat istiadat dan tata caranya, mulai dari kehamilan, kelahiran sampai lengkapnya siklus manusia yaitu kematian.
Catatan khusus:
Tulisan ini tidak untuk memertentangkan agama, keyakinan dan kepercayaan para pembaca, tapi murni untuk sharing apa yang saya ketahui.
Tidak semua kaum Tionghoa menjalankan adat istiadat dalam tulisan ini. Adat istiadat tidak ada hubungannya dengan agama tertentu, walaupun memang bagi sebagian orang yang sudah memeluk agama tertentu, adat istiadat seperti ini ada yang tidak menjalankannya, namun masih ada juga yang menjalankannya.
Tulisan ini tidak bermaksud mengedepankan takhayul (superstitious) ataupun berhala, sekali lagi murni adalah adat istiadat dan tata cara yang dikenal dalam budaya Tionghoa.
Pages: « 11 10 [9] 8 7 6 5 4 3 2 1 »
Pages: « 11 10 [9] 8 7 6 5 4 3 2 1 »
May 26th, 2012 at 22:29
JC : memang bener, peti matinya dipecuti. Ini jauh lebih menyeramkan daripada peti matinya sekedar klonthangan atau glodhagan. Si peti matinya karena dipecuti, ya, cari mangsa, toh? Hiiyyy….
May 26th, 2012 at 22:20
Lani : sewa grup musik opo kesenian pas acara persemayaman jenazah seorang Tionghoa totok, itu namanya Grup Cai Ma, kalo istilahku itu namanya Band Surga…
May 26th, 2012 at 21:46
Kang Josh, yang namanya celah memang susah.. Tidak ada yang mudah bagi suatu celah.. Jadi, celah adalah.. haiyaaah..!
May 26th, 2012 at 21:38
Romo Cris: terima kasih banyak sudah mampir dan memberikan pandangan dari sudut iman Katholik, sungguh berharga masukan tsb…
amiiiinnn…untuk doanya…
mas BagJul: suwuuuuunnnnn jugaaaa…
Silvia: lho, lho….siapa toh yang punya itu? Rumah ini jelas milik KITA BERSAMA kok, kebetulan ada beberapa gelintir di belakang layar yang mengurusnya…
situs ini milik kita bersama… 
Kang Anoew: ini merupakan usaha mengambyarken artikelku yo?
biasanya kowe ngomong susah mencari celah ambyar… 
May 26th, 2012 at 21:33
Setelah mati, orang (kebanyakan) berharap masuk ke surga, lepas dari bagaimana proses pemakamannya. Namun, surga yang aneh adalah ketika seorang anak 5 tahun berpikir bahwa tempat itu di bawah telapak kaki ibu. Sedangkan ayah si anak berasumsi sedikit lebih ke atas.
“Bu, apa benar surga seorang anak ada di bawah telapak kaki ibu?”
“Iya benar.”
“Lalu di mana surga untuk bapak, bu?
“Oh.., di atas telapak kaki ibu
“Apakah bapak pernah ke sana, bu ?”
“Oooh sering, nak. Malah tiap malam minggu, malam selasa dan malam jumat bapak sering ke sana.
“Tapi, bu.., kalau mau ke surga, orang kan harus mati dulu? Bapak kan masih hidup, bu?!
“Kalau ini beda, nak… Malah yang mati dihidupkan, terus disuruh mondar-mandir di pintu surga. Kalau sudah pusing, baru dia mati lagi.
May 26th, 2012 at 19:25
Yang punya situs ini orangnya suka mengalah…….kalau mau dengan mudah artikel2nya bisa jadi yang terbanyak dikomentari di tiap tulisan2nya. Jika saja dia membalas satu persatu komen yang masuk. Tapi dia selalu balas komen2 sekaligus. *tepuk tangan buat sikapnya ini*
Laaaaaani, dimana dirimu? Siapa sih yang punya situs ini? Koq aku lupa, Lan…….
May 26th, 2012 at 19:07
JC>>>
Artikel sip yang pasti jadi penanda kekuatan semboyan : “dari JC untuk Semua”……
Hmmm,…… dari Nusantara untuk Dunia……
Suwunnn…
May 26th, 2012 at 17:16
Bagus artikelnya. Sebagai contoh konkrit pelaksanaan pemakaman dalam tradisi Tionghoa.
Ada beberapa nilai moral universal yang berlaku di sini:
- penghormatan pada orang yang meninggal
- menghormati jenazah
- kepercayaan akan kehidupan setelah kematian (hidup kekal)
- relasi yang berlanjut dengan orang yang meninggal
Iman Katolik melaksanakan dan menghormati nilai-nilai moral di atas itu.
Semoga ia beristirahat dalam damai
Budiman
May 26th, 2012 at 14:22
81 AKI BUTO : kumattttttt………..ini namanya menggugah yg di Solo utk membahas dunia perjokian meneh……woalaaaaaah dasar buto
May 26th, 2012 at 14:19
Lani: wah, kalau kereta atau kuda yang bergerak sendiri aku tidak pernah tahu dan tidak pernah dengar. Yang aku pernah dengar adalah ketika ada kuda masuk dapur dan menaiki jokinya itu lho…
Ary Hana: gubbbrrraaakkk…kok nanyanya gitu sih…
bener Elnino, dikramasi saja ya… 
Elnino: hehehe…harta karun begini ini yang tak ternilai dan tak ada bandingannya…sangat specific dan sarat makna serta cerita…
Jhony Lubis: sepertinya ada bagian yang sedikit membahas masalah tempat pemakaman di artikel lanjutannya nanti…