Audrey (5): Tamara Ramia Something

Anastasia Yuliantari

 

Dirimu pasti tengah terlelap di sana, aku juga terbangun tanpa sengaja. Suara angin bercampur derai hujan ini membuatku ketakutan. Bulan lalu angin membuat beberapa pohon di kota ini tumbang, menimbulkan berbagai kerusakan, dan tentu saja aliran listrik jadi terhenti selama beberapa jam. Aku tak suka kegelapan, karenanya aku menyediakan emergency lamp di sebelahku, menyalakan laptop, dan mencoba berkirim kabar ini padamu.

Selain angin dan hujan, ternyata ada hal lain yang bisa menggerus sesuatu. Katakan saja, seorang perempuan yang lebih tua sedikit dariku, berwajah sok innocent, bertutur kalem seakan tak berdaya tapi pilihan katanya setajam duri, dan bertampang lumayan. Well, sebenarnya aku tak suka mengatakan tentang penampilan, terlalu dangkal dan jelas aku lebih cerdas dari hanya sekedar memandang kulit luar, tetapi kali ini menjadi perkecualian karena dia menggunakan penampilannya, serta sedikit otak yang dimilikinya untuk dimanfaatkan menggerus perasaan orang di sekitarnya.

Istilah menggerus ini pasti membuatmu mengernyitkan kening, kan? Tapi aku sungguh-sungguh memaksudkannya demikian, karena hasil perkataan dan perbuatan perempuan ini bisa menimbulkan kerusakan bagi orang lain demi kepentingannya. Tak mirip lahar dingin Gunung Merapi yang menerjang apa saja secara tiba-tiba, atau  air hujan di hutan yang mulai gundul di bagian selatan kotaku sehingga menyebabkan longsor yang menelan beberapa puluh nyawa. Tingkahnya lebih serupa dengan air yang meresap ke dinding rumahmu secara perlahan, tak menimbulkan kewaspadaan, namun jelas menandai kehadirannya dengan noda-noda jelek yang merusak warna cat. Sungguh menyebalkan tapi tak dapat dicegah sebelumnya.

Sebelum lupa, kami memanggilnya dengan Tamara. Nama yang seharusnya mewakili kecantikan nan perkasa seperti kisahnya. Belum cukup dengan nama elok itu, orang tuanya menambahi dengan Ramia dan selanjutnya, dan seterusnya. “Selanjutnya dan seterusnya?” kamu pasti bertanya dengan segera setiap kali menemukan kalimat yang tak semestinya. Tapi memang demikianlah, bila namanya ditulis lengkap, dibutuhkan dua deret kolom untuk menampungnya. Aku heran bagaimana dia bisa tenang mengisi form bermacam keharusan administrasi dengan nama sepanjang rel kereta itu. Bahkan dengan disingkat pun tak kurang dari lima huruf akan berderet di belakang Tamara Ramia.

“Oh, tak mungkin!” Aku membayangkan dirimu akan menampakkan tampang tak percaya seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh, yes!” Aku tegaskan kepadamu itulah kenyataannya. Dibutuhkan dua kolom untuk memuat namanya!

Untuk tak mengurangi waktumu yang berharga sekaligus esensi cerita, aku sebut saja Tamara Ramia Something. Ehm, sebetulnya sebutan ini bukan berasal dariku, tapi dari salah seorang teman. Temanku itu tak sabar mengeja nama panjang Tamara sehingga dengan percaya diri memanggilnya, “Hei, Tamara Ramia Something!”

Abaikan saja gramatikanya, tapi bisakah kau bayangkan bagaimana reaksi Tamara?? Yang jelas wajahnya bak pelangi dari merah hingga ungu.

Bagai hujan turun di permukaan Gurun Sahara, yang berarti hampir mustahil terjadi, siang ini Tamara mendatangiku saat aku sedang bercanda ria dengan beberapa teman di dunia antah berantah kita. Setelah say hello yang palsu, dia mulai mengomentari apa yang dilihatnya dalam halamanku. “Aduh, kamu ini down to earth sekali, ya Drey. Masa engga gengsi pasang foto-foto kegiatan di kampung, gitu?”

Aku melengak. Lho, apa yang salah dengan foto di kampung? Memang, sih kehidupan kampung selalu menjadi ejekan bagi sebagian orang karena dianggap identik dengan terbelakang, kotor, tak berbudaya secanggih kota.  Tapi kehidupan di kampung, kan tak kongruen dengan memalukan atau dungu. Jadi apa masalahnya?

“Tak setiap orang mau terlihat tak rapih begitu, ya maksudku kamu keluyuran ke sawah, nongkrong di depan kandang kambing, pakai sandal jepit, tanpa bedak, dan kadang belum mandi, kan?”

Yah, memang dia betul seratus persen tentang fakta-fakta yang ada. Tak ada yang bisa aku debat dari pernyataannya karena memang demikianlah adanya. Hanya persepsi yang membuatnya berbeda. Aku merasa safe and secure dengan eksistensiku sehingga tak merasa perlu menutupi apapun. I am what I am. Di kandang kambing atau mengajar di depan kelas, mencari keong atau hang out di mall paling luxurious, mandi di kali atau spa di salon terkemuka, it’s only a matter of time and need. Bukan hal yang perlu dibesar-besarkan atau digarisbawahi, apalagi menjadi pilihan gaya hidup. Menurut istilah teman karibku, “Jadi manusia bebas sajalah. Terbebas dari label-label yang sebenarnya ditempelkan oleh diri sendiri.”

Sementara aku masih anteng menyimak laptopku, mendadak tangannya meluncur ke depan mukaku dan merebut mouse yang kugenggam. Klak-klik ke sana-ke mari, lalu menunjuk fotoku di tengah sawah. “Ih, seharusnya kamu jangan berfoto sedekat ini, maksudku jangan sampai mengekspose wajahmu seperti ini.”

Aku mengerutkan kening. Apa yang salah dengan wajahku? Kelihatannya biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa namun juga tak ada yang abnormal sehingga tak layak diperlihatkan.

“Aku kasih tahu sesuatu, ya.” Ujarnya dengan nada berbaik hati. “Tapi kamu jangan jadi minder atau salah paham.”

Baru kali ini aku melongo di hadapannya. Bukan karena takjub akan omongannya, namun aku benar-benar tak menyangka dia akan mengatai aku minder. Setelah tiga detik tercengang, tenggorokanku terasa gatal karena berusaha keras menahan tawa yang mengkili-kili rongga leherku. Gosh! Tampangku pasti merah biru saat itu.

“Coba lihat,” Ditunjuknya pipiku, yang ada di layar tentu saja, karena aku akan langsung menampar tangan siapa saja yang berniat mendekati wajahku tanpa ijin. “Bagaimana mungkin kamu berfoto tanpa riasan sementara wajahmu berminyak dan berjerawat?”

Dia menggerak-gerakkan kursor dengan intensif seakan diriku melakukan perbuatan fatal yang bisa mengancam nyawa, misalnya lupa bernapas atau sengaja menenggelamkan diri ke kali.

“Seandainya pun kamu tetap nekat melakukannya, “Aku merasa matanya diputar di atas kepalaku,namun  aku tak sudi mendongak menatapnya untuk meyakinkan dugaanku setelah apa yang dikatakannya. “Buatlah dengan teknik penghalusan yang ada di computer ini.” Nasehatnya.

Aku memang memiliki program permak foto di computer ini, tapi apa gunanya? Toh banyak orang yang telah mengenalku secara langsung dan mereka telah tahu penampilan asliku. Menjadikanku semulus Rachel Weisz malah akan sangat menertawakan.

Melihatku terdiam dia berdecak sebelum melanjutkan, “Atau aku harus mengajarimu untuk menggunakan fondation dan concealer?”

Oh my God! Cukup sudah! Aku tak mau mendengar omong kosongnya. Dengan wajah kubuat tenang dan senyum manis tersungging di bibir, kujawab omongannya. “Well, aku tak perlu menimbuni wajahku dengan foundation, concealer, atau bedak tebal. Bagiku segala sesuatu yang alami lebih indah.” Dan tidak menipu, batinku menambahkan.

Dia berusaha meredam reaksinya dengan mengerutkan bibir dan menyipitkan mata. Tak sengaja pandanganku tertuju pada garis-garis halus yang terbentuk karena gerakannya. Lalu kutemui diriku sedang menghitung retakan-retakan tak kentara pada bedak yang dikenakannya akibat garis-garis itu. Mungkin tak lama lagi dia akan menyuntikkan botox demi membuat tampangnya kembali kinclong bila kukatakan apa yang kuketahui tentang wajahnya.

Melihatku tersenyum-senyum membuat rasa percaya dirinya goyah. Setelah mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja beberapa lama, dia membalikkan diri untuk menemukan wajah Andre yang baru saja memasuki ruangan.

“Andre,” pekiknya penuh perasaan. “Aku sudah menunggumu sejak tadi. Ada hal penting yang ingin aku konsultasikan denganmu.”

Andre, teman satu ruanganku, yang pengasih namun kurang pengalaman bila menghadapi aksi perempuan, langsung meresponnya dengan meletakkan tas ke kursi dan mempersilahkannya duduk.

“Aduh, Andreku yang baik, aku ini sungguh malang. Setelah suamiku berkata-kata kasar minggu lalu, kali ini mertuaku yang berulah. Aku sudah bercerita padamu betapa mereka menyakiti perasaanku, kan? Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar kuat menghadapi mereka.” Kata-katanya membanjir, wajahnya berubah sendu penuh kesengsaraan, dan matanya yang semula tajam mematukiku berubah sendu kelabu.

Kau tahu Sweetie, mendadak perutku mulas. Aku hanya celangap menyaksikan pertunjukan drama di hadapanku. Bagaimana mungkin seseorang bisa merubah peran secepat itu? Dari seorang pemangsa yang berkeliaran mengintimidasi sasarannya menjadi makhluk lemah tak berdaya yang akan dijadikan kurban.

Bila dunia memang panggung sandiwara, Tamara Ramia Something memainkan peranannya dengan lihai. Dia menggerusi hati kami dengan cara yang berbeda, demi tujuan yang tak sama, namun keduanya jelas untuk kepentingannya.

Saat Andre semakin terpukau oleh duka nestapa yang dilantunkan Tamara, terjerat dan takluk akan penderitaannya, aku melenggang pergi.

Ada hal-hal dalam hidup yang tak bisa ditolelir, bukan Sayangku?

 

13 Comments to "Audrey (5): Tamara Ramia Something"

  1. anoew  30 May, 2012 at 20:54

    Saya lebih suka Tamara Blezinky Something Bening Kempling

  2. Anastasia Yuliantari  30 May, 2012 at 19:22

    Yu Lani, matur nuwun…hehehe. Buto ki selalu aman terkendali tonggo teparone. Dadi sing rada aneh2 ki ora tau nemoni….hehehe.

  3. Lani  30 May, 2012 at 05:31

    3 AKI BUTO : hebatttttttt rung pernah ketemu model ginian…………trs model yg gimana yg udah sering ketemu????? Ay……aku lanjut komentarmu buat aki……….biar dia tambah mumet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.