Monday, 28 May 2012
Angela Januarti Kwee
Pagi hari rutinitas masih terlihat sepi. Tak banyak orang berlalu lalang di sekitar tempat ini. Sebuah desa berjarak 19 KM dari kota kabupaten. Desa Rawak yang terbagi dalam lingkungan pasar, hulu dan hilir. Rawak hulu dan hilir, begitu kami menyebutnya dihuni masyarakat melayu dan dayak yang kebanyakan bekerja sebagai petani, penoreh dan PNS. Ciri khas yang membedakan lingkungan pasar (pasar Rawak) dengan hulu, hilir adalah penghuninya. Selain sebagai pusat perdagangan, kebanyakan yang tinggal di pasar adalah masyarakat keturunan Tionghoa.
Pedagang yang tokonya sudah termasuk besar, biasanya membuka toko lebih lambat dari pedagang biasa. Maklum saja, pagi hari memang belum terlalu banyak orang berbelanja. Lain halnya dengan pedagang yang juga menjual daging, sayuran maupun usaha rumah makan. Mereka sudah mulai bekerja dan membuka toko di pagi buta.
Keluargaku sendiri masuk kriteria pedagang kedua. Seperti kebiasaan yang sudah lama dilakukan sejak aku kecil, orangtuaku bangun pukul 4.30 pagi. Bagi sebagian orang mungkin masih jam mengantuk, tapi bagi kami sudah dimulai waktunya bekerja. Saat kecil, aku terbiasa membantu papa mengatur barang di toko. Mengangkat barang-barang berat seperti satu keranjang ikan asin sudah menjadi kebiasaanku. Aku senang membantu orangtuaku. Alhasil, aku terbiasa bekerja keras dan dapat kurasakan dampak positifnya dalam kehidupanku setelah dewasa.
Aku menikmati pagi seraya memperhatikan rutinitas beberapa orang. Sebuah mobil yang membawa ayam berhenti di depan toko kami. Mobil salah satu langganan papa untuk membeli ayam dan dijual kembali. Mereka terlihat sibuk menimbang ayam yang akan dibeli. Di tempatku berdiri, aku masih terus mencari obyek yang bisa mengajakku untuk berpikir.
Aku tertarik untuk melihat rumah-rumah yang sudah lama dibangun. Ciri khas rumah jaman dulu, antara tanah dan lantai rumah berjarak kurang lebih satu sampai dua meter. Rumahnya tinggi semua, dikarenakan pasar berada di dekat sungai dan banjir setiap tahun selalu siap menggenangi bangunan yang lebih rendah. Sekarang rumah tinggi sudah jarang, bisa jadi karena rumah sudah disatukan dengan tempat usaha. Toko dan tempat tinggal menjadi satu, lantai toko kadang hanya beberapa cm dari tanah, sedangkan untuk bagian dapur dibuat lebih tinggi.
Tak banyak perubahan dari tahun ke tahun. Baik keadaan pasar dan rumah-rumah penduduk selalu sama. Kesederhanaan tempat ini tak sirna dimakan waktu. Bahkan rumah para pedagang yang sudah kaya sekalipun tidak dibangun megah. Kalau versi papaku: “Bangun rumah yang lebih bagus di lokasi lain saja. Kalau rumah bagus dan bersih orang tidak berani belanja ke rumah/toko.” Jujur terkadang aku merasa aneh, tapi setelah dipikir-pikir masuk akal juga. Maklumlah kami hidup di desa, pembeli biasa datang berbelanja dari berbagai kampung dan kebanyakan jalannya rusak. Kalau terlalu “wah” rasanya mereka akan sungkan masuk ke toko dengan sandal/kaki yang kotor.
Meski sederhana, aku mencintai desaku ini beserta keluarga, masyarakat dan kebiasaannya. Apalagi ketika pagi hari, saat kokok ayam terdengar, suara adzan menggema dan mentari hendak menyinari bumi. Kesibukan orang rumah dan pedagang lain berpadu menjadi satu dalam keselarasan pagi yang indah. Bila sekarang usaha perdagangan mulai berkembang di wilayah perlintasan yang sering kami sebut jalan Nanga Taman. Pedagang di sini masih terus bertahan, karena pembelinya terbiasa dan tetap mengenal pasar Rawak menjadi tempat perdagangan sejak dulu.
Suasana pagi dalam menikmati desa, menghadirkan sepenggal kisah yang bisa kubagikan untuk teman-teman semua. Desaku, jiwaku … di saat kujauh, aku akan terus merindukanmu.
Rawak, 29 April 2012
September 6th, 2012 at 09:24
BT : aok am. Dikorah orang tih. Mau belajar lok. Nulis sikit-sikit ^_^
tri rubertus igo : Makasih bah …
September 5th, 2012 at 19:46
Angela. Anak Pak Atong. Ngapai tau sosat dituk tih?
May 30th, 2012 at 10:32
saja sedap kisah e yak,,,