Edan-edanan (25): Bilang Miskin Aja Kok Repot

Kang Putu

 

KETIKA kesahihan pendakuan data orang miskin dalam pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono disoal “beberapa” orang, saya teringat Kluprut, sobat saya. Dia menyatakan tak penting benar menyoal jumlah orang miskin karena tak ada orang miskin di negeri ini. Yang lebih penting, menurut pendapat dia, mengetahui batas subsistensi manusia Indonesia. Jadi “kita” pun bisa memperoleh variabel determinan untuk menggencet “mereka” kapan pun mau dan mampu.

Lebih dari sepuluh tahun lampau, Kluprut (dalam Kesaksian Kluprut, Yayasan Sastra Merdeka, Semarang, 1996) mengelompokkan manusia Indonesia menjadi empat tingkatan berdasar kemampuan “konsumtif” masing-masing. Pertama, orang yang senantiasa bertanya-tanya: besok bisa makan atau tidak. Kedua, orang yang selalu digubal pertanyaan: besok makan apa. Ketiga, orang yang tak malu mencari tahu: besok makan di mana. Keempat, orang yang tak henti-henti berpikir: besok makan siapa.

Dia mengemukakan tak gampang mengidentifikasi seseorang masuk level keberapa, jika cuma berdasar gebyar penampilan fisik. Terutama, jika ingin membedakan level ketiga dan keempat. “Ada contoh bagus untuk mengenali mereka,” ujar dia beberapa hari lalu. “Simaklah, misalnya, pelukisan Ahmad Tohari dalam cerita bersambung Jegingger. Ya, dia menulis: ‘Inyong aseng maring ngeneh (Singapura-Gbs) supayane ko weruh kalung sing regane karo tengah juta dolar. Kae barange.’

Lasi nyawang kalung sing wujude pancen maen temenan. Mata intene pating kreleb. Kalung kuwe dekurungi nganggo kothak kaca kandel pisan.

‘Regane kalung kiye kena nggo biaya munggah kaji wong sedesa Karangsoga bareng-bareng. Ning aja gumun, Las. Neng Jakarta akeh nyonya konglomerat wis padha duwe kalung kaya kiye. Lan ko Las, angger karep, mesthi teyeng nduweni. Umpamane Pak Han ora gelem nukokna, inyong teyeng usaha kon sangkane kalung kiye dadi duweke ko. Ngandel apa ora?’

(‘Aku ajak kemari (Singapura – Gbs) agar kau bisa melihat kalung seharga satu setengah juta dolar. Itulah barangnya.’

Lasi melihat kalung yang amat indah itu. Intannya berkerelip. Kalung itu pun dilindungi kotak kaca tebal.

‘Harga kalung itu bisa digunakan sebagai biaya naik haji orang se-Desa Karangsoga bersama-sama. Namun jangan heran, Las. Di Jakarta banyak nyonya konglomerat punya kalung seperti itu. Dan kau Las, asal mau, pasti mampu memiliki. Seumpama Pak Han mau membelikan, aku bisa mengusahakan agar kalung itu bisa jadi milikmu. Percaya atau tidak?’).”

Tolok ukur kuasi-kuantitatif yang disodorkan Kluprut adalah sinisme atas rumus absurd pemerintahan “orde baru”, yang belum benar-benar menjadi masa lalu. Ya, pemerintahan pada ”masa itu” mengintroduksikan istilah keluarga prasejahtera, keluarga sejahtera I, keluarga sejahtera II, keluarga sejahtera III, dan keluarga sejahtera III plus.

“Simaklah, penggunaan lema sejahtera. Itulah eufimisme yang membius kesadaran masyarakat, tetapi menenteramkan sanubari pengambil keputusan, dengan menyodorkan ‘fakta’ bahwa di negeri ini tak ada keluarga miskin. Pula tak ada keluarga kaya, lebih-lebih superkaya. Yang ada keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera.

“Si Badu yang berpenghasilan sehari 5.000 rupiah dan si Polan yang memperoleh insentif 1.000 dolar AS per jam sama-sama (dilekati lema) sejahtera. Bukankah istilah itu mempersempit jarak, bukan cuma psikologis, melainkan juga jarak ‘peradaban’, di antara mereka? Jenial bukan?” ucap Kluprut seraya terkekeh.

“La, kabar soal busung lapar di berbagai daerah itu fiktif? Disinformasi media? Dan, orang-orang yang mati tergencet dalam antrean panjang di kantor pos-kantor pos ketika mengambil subsidi langsung tunai itu kabar bohong?” sergah saya penasaran, karena teringat aforisma dari Luiz Inacio Lula da Silva bahwa “membiarkan kemiskinan adalah suatu kejahatan”.

“Fakta soal penderita busung lapar harus kautelisik berdasar berbagai kemungkinan. Mungkin, karena ketiadaan pengetahuan dan perbendaharaan soal gizi. Jadi tak selalu berarti penderita dari keluarga miskin. Mungkin, karena akses dan arus distribusi pangan terhambat.

“Kenyataan bahwa ada orang mati tergencet justru ketika antre subsidi dari pemerintah juga bisa kaupersepsikan dari sudut lain. Tidak semata-mata sebagai fakta bahwa orang miskin bejibun. Namun, itulah wujud apresiasi pemerintah terhadap nasib sebagian warga negara ini sekaligus manifestasi kebijakan dan kebajikan tunjangan sosial yang diamanatkan undang-undang dasar. Bukankah itu bukti pemerintah tak pernah menutup mata atas realitas sosial terkini?”

Makin lama saya kian judek. Kluprut masih bermain-main di ranah sinisme, dia telah pintar memelintir logika, atau saya telmi, telat mikir? Atau, celaka, dia sudah jadi “agen ideologis” penguasa?

Bah, mengapa mengakui kenyataan bahwa ada orang miskin, bahwa ada sekian juta orang miskin, dan bahwa kita miskin saja sedemikian repot. Dan, melelahkan? Apakah kecenderungan menghilangkan lema miskin dari kamus dan, terutama, percakapan sehari-hari bisa mengubah kenyataan: menjadi sesungguh benar tak ada orang miskin, tak ada kemiskinan? Lalu, “siapa sepi iseng sendiri” bikin ungkapan “Orang miskin dilarang sakit”?

Apakah selalu dan terus-menerus cara berpikir seperti itu yang lebih benar di sini, di negeri ini, saat ini? Penjajahan linguistik? Mengapa pula saat ini amat-sangat banyak orang dengan enteng mengaku miskin agar memperoleh subsidi dan pelayanan gratis? Apakah itu perkara mentalitas atau ada sesuatu yang salah sehingga orang tak ragu lagi mengaku miskin justru ketika pemerintah ingin memungkiri kenyataan dengan menyatakan yang terjadi adalah perkara kesenjangan “tingkat kesejahteraan” belaka? Disparitas tingkat konsumsi? Bukan ketimpangan distribusi? Bukan ketidakadilan soal akses dan kesempatan berusaha dan memperoleh pelayanan?

 

Voice of Human Right News, http://www.vhrmedia.com, Jumat, 22 September 2006

 

13 Comments to "Edan-edanan (25): Bilang Miskin Aja Kok Repot"

  1. Bagong Julianto  2 June, 2012 at 10:43

    Kang Putu>>>

    Penguasa (kita) selalu punya banyak istilah, kaya raya eufisme dan seragam miskin nurani…….

    Suwunnn..

  2. Kornelya  30 May, 2012 at 06:15

    Kemiskinan terus didengungkan, dana untuk memberantasnya lebih banyak dipakai untuk membiayai penganalisa dan pendata kemiskinan dari pada yang digunakan untuk membantu meringankan beban orang miskin itu sendiri. Sudah tahu rumah berlantai tanah, sebagian atap tembus pandang, minus jambang. Masih juga wawancara, penghasilan sebulan berapa?. dll dll. Kemiskinan menjadi komoditi politik dan bisnis kemanusiaan. Sediiih.

  3. Lani  30 May, 2012 at 04:01

    adanya cm mumettttt………ngakak, studi banding kemiskinan sama ke AUSTRALIA?????? ini mah namanya jalan2 duit nyolong………..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.