[Serial Masa Terus Berganti]: Bakwan

Dian Nugraheni

 

Salah satu hobiku adalah, makan gorengan. Apa saja, dari gembus goreng, mendoan, singkong goreng, geblek, combro, tahu brontak, dan tentu saja, bakwan. Soal si Bakwan ini, aku punya kisah yang sedikit pilu…

Biasanya setelah mengantar anak-anak sekolah, dan setelah mereka masuk kelas, aku tidak langsung pulang, melainkan mampir ke Warung si Mboke. Yaa, demikianlah orang-orang menyebut warung ini, karena yang jualan adalah seorang perempuan usia limapuluhan yang lebih sering dipanggil “Mboke”. Warung ini adanya di dalam lingkungan sekolah SD anak-anakku.

Jajanan yang dijual di tempat Si Mboke macam-macam. Ada jajanan dalam kemasan seperti ciki-cikian, ada minuman soda dalam botol,  teh botol, arem-arem, dan tentu saja gorengan yang ditaruh di sebuah tampah di atas sebuah meja. Selain minuman bersoda atau teh botol, semua dagangan Si Mboke harganya sangat murah, sekitar limaratus rupiah sebuah, atau lebih murah dari itu.

Banyak anak-anak SD yang jajan di Warung si Mboke ini, tapi lebih banyak lagi anak-anak yang memburu jajanan dagangan para penjual di luar pagar sekolah, atau, sebagian lagi anak-anak lebih suka jajan di warung sebelah SD, Warung Jager namanya, alias Warung Jalan Gereja. Warung Jager jualan burger, bakso, roti bakar, dan segala macam aneka minuman jus. Semua dagangan di Warung Jager ini, mahal, minimal seribu limaratus rupiah untuk setangkup roti bakar, tiga ribu untuk semangkok bakso, minimal dua ribu untuk segelas jus, dan tiga ribu rupiah untuk sebuah burger kecil.

Aku pun juga mengijinkan anak-anakku untuk jajan di Warung Jager ini, meski mahal, paling enggak, jajanannya jauh lebih bersih dan terjamin dibanding jajanan yang dibawa banyak pedagang di pinggir jalan di luar SD, atau bahkan jajanan di tempat si Mboke.

Nahh, warung Si Mboke ini, memang tempat yang tepat buat nongkrong Ibu-Ibu. Pagi hari setelah mengantar anak-anak sekolah, tepat setelah bel berbunyi, anak-anak masuk kelas, maka para Ibu akan “ngantor”, alias masuk ke Warung Si Mboke.

Si Mboke tidak mau repot-repot nggoreng dagangannya sendiri, dia hanya menerima pasokan gorengan dari orang-orang yang tinggal di sekitar SD.Maka pagi-pagi, setelah membuka sebuah teh botol, aku menunggu para pemasok gorengan yang datang satu per satu.

Hatiku akan gembira bila Ibu pembuat tahu brontak, tahu isi,  datang.  Maka aku akan comot satu, langsung masuk mulut. Beberapa menit berlalu, akan datang si Ibu pemasok combro, hatiku tambah gembira, satu combro selamat masuk ke perutku. Kemudian, terakhir, biasanya akan datang seorang Ibu Tua yang berjalan sangat pelan sambil menenteng baskom yang ditutupi serbet, ahh, itu Ibu pemasok bakwan datang.

Bakwan si Ibu ini adalah bakwan yang berisi sayuran seperti kobis, cambah, wortel, dan daun loncang. Bakwannya gurih, agak keras, agak gosong, dan berminyak, itu istimewanya. “Nahh, bakwane teko, Mbak.., bakwannya datang,” celetuk mbak Indri seakan memberitahuku. Padahal, sebenarnya, dia tidak bermaksud memberitahuku, aku pikir, kata-katanya itu lebih merupakan ungkapan kegembiraan hatinya ketika akhirnya bakwan kesukaan kami datang.

Aku tersenyum senang, aku ambil sebuah arem-arem yaitu lontong berisi sayur pedas, dan langsung mencomot sebuah bakwan yang keras itu, tak lupa sebuah cabe rawit. Dengan seksama, aku makan silih berganti, satu gigit arem-arem, satu gigit bakwan, dan sedikit gigit cabe rawit. Mbak Indri adalah salah satu kawan setiaku dalam hal melakukan ritual menunggu dan makan bakwan ini. Sehabis itu, barulah dia akan pamit, “Aku berangat ngode dulu yaa, berangkat kerja dulu.., sudah hampir jamnya nih…,” katanya sambil berjalan ke arah motor yang diparkir di depan Warung si Mboke.

Begitulah ritual sehari-hariku, dan beberapa Ibu-ibu teman anakku setelah mengantar dan menunggu sampai anak-anak masuk kelas. Sampai pada suatu hari, jam sudah hampir tiba di angka delapan, tapi si Ibu Tua pemasok bakwan  belum juga datang, “Wahh, aku berangkat kerja dulu yaa, kalau nungguin bakwan, bisa telat nih, iya kalau datang, kalau enggak..?” kata Mbak Indri agak kecewa.

Aku mengangguk, tapi aku tidak beranjak dari Warung Si Mboke, toh aku bukan pegawe, nggak harus jam berapa-berapa ngantor atau harus ke mana, maka aku ngobrol ngalor ngidul saja sama si Mboke, sampai ketika seorang Bapak Tua datang. Jalannya sudah sangat pelan. Dia membawa baskom yang ditutupi serbet, dan masuk ke Warung si Mboke. Ternyata dia memasok bakwan.

Entah kenapa, aku langsung memandang si Bapak Tua dengan kasihan. Aku perhatikan dari ujung kepalanya, pecinya sudah lusuh, kemejanya sudah sangat tipis pertanda itu baju yang sudah tua, dan celana panjangnya yang warnanya sudah pudar,digulung ke atas beberapa tekukan. Karena celana panjangnya digulung beberapa tekukan ke atas ini, maka kemudian pandanganku sampai ke sekitar ujung kakinya yang bersandal jepet lusuh warna oranye.

Sampai di sini, aku terhenyak….

Pada punggung kaki si Bapak Tua, sampai naik ke pergelangan kaki yang tidak tertutup celana panjang, nampak penuh koreng yang menghitam. Dugaanku, sebagian dari korengnya sudah mengering, dan sebagian lagi masih nampak agak memerah. Mungkin si Bapak Tua ini sakit eksim, gatal-gatal di kulit yang memang sering kali susah sembuhnya.

Tapi bukan itu yang menjadi masalah bagiku. Masalahnya adalah, pikiranku jadi kemana-mana. Langsung aku berpikir bahwa si Ibu Tua pemasok bakwan adalah istri si Bapak Tua dengan kaki korengan ini, dan mungkin mereka hidup hanya berdua, miskin, dan bahu mebahu membuat bakwan, dijual, sebagai mata pencaharian utama mereka.

Mau tak mau aku membayangkan, betapa proses pembuatan bakwan ini akan melibatkan keduanya, yaitu Si Ibu Tua, dan Si Bapak Tua. Mereka akan mengiris kobis, wortel, menyediakan cambah, dan juga mengiris loncang. Aku membayangkan si Bapak Tua, habis garuk-garuk korengnya, lalu tanpa cuci tangan, dia meraup sayuran yang baru saja diiris, dan dimasukkan ke dalam baskom untuk mencampur adonan bakwan. Bahkan lebih mendalam lagi, aku membayangkan bahwa cara membuat adonan bakwan yang terdiri dari campuran tepung dan sayuran ini, diulet-ulet dengan tangan, bukan dengan spatula atau sendok. Bagaimana kalau yang mencampur adonan dengan tangan ini adalah si Bapak Tua..? Oooowwhhhh…gawaaat…!!

Atau ketika sedang menggoreng, karena suhu panas di depan kompor, korengnya menjadi tambah gatal, dia garuk-garuk lagi, dan tanpa cuci tangan, dia melanjutkan menggoreng. Atau, habis garuk-garuk koreng, dia akan mengambil bakwan satu demi satu, dihitung, dimasukkan ke baskom untuk disetor ke Warung Si Mboke. Kontan aku merasa merinding, jijik, dan sama sekali hilang selera terhadap bakwan di Warung si Mboke.

“Ibune Cedar, ini lho, bakwane masih anget, biasanya rebutan sama Ibu-ibu.., nanti nggak kebagian lho…, ” kata si Mboke.

“Enggak Mbok, tiba-tiba saya kenyang, je…,” jawabku kalem. Mukaku aku pasang se”cool” mungkin, jangan sampai kelihatan jijik atau kaget setelah melihat koreng si Bapak Tua pemasok bakwan tadi.

“Lhooo…, katanya tadi nggak mau pulang dulu karena mau nungguin bakwan, gimana to…?” tanya si MBoke.

Aku menggeleng, “he..he.., sudah kenyang makan combro sama tahu brontak, Mbok…”

Sejenak aku sempatkan bertanya pada Si Mboke, bagaimanakah kehidupan Si Ibu Tua dan si Bapak Tua pemasok bakwan itu, dan Si Mboke menjawab, “Itu suami istri cuma tinggal berdua saja, wong anak-anaknya sudah pada mentas semua, tapi ya, begitulah, anak-anaknya juga pada hidup susah, ada yang jadi tukang becak, ada yang jadi kenek angkot, satu lagi kerjanya ngangkutin sampah di pasar….”

Besoknya, kontan berita ini aku sampaikan pada Mbak Indri, partnerku makan bakwan di pagi hari, tapi kali ini aku sambil ketawa terbahak-bahak, mentertawakan diriku sendiri dan mbak Indri yang selama ini tidak pernah memikirkan terlalu jauh, apakah bakwan ini dibuat dengan cukup sehat atau tidak.  “Mbak Indri, ngerti nggak, jebule, ternyata, bakwan favorit kita itu, yang bikin si Ibu Tua itu, berkolaborasi dengan si Bapak Tua, pastinya suaminya…dan tau nggak, kedua kakinya penuh dengan koreng…, jadi selama ini, kita makan bakwan gurih karena ketambahan….”

“Wes.., wes…, sudah…, sudah…, nggak usah diterusin…, ha..ha..ha.., Weeehhhh, lhaaa, wahhh, asem ki, kehilangan makanan favorit deh…,” katanya menggeloyor pergi mendapatkan sepeda motornya, siap-siap menuju kantornya, tanpa melongok ke tampah di meja si Mboke, apakah bakwan sudah datang atau belum….

Salam bakwan anget….

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Kamis, 2 Februari 2012

(Aku pikir, winter tahun depan aku nggak usah repot siapin kostum winter, karena toh salju tak juga turun….)

 

Gorengan : geblek, lumpia, dan pisang goreng, …sayang nggak ada bakwannya…

 

38 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti]: Bakwan"

  1. Bagong Julianto  2 June, 2012 at 11:07

    Dian A>>>

    Jadi ingat guyonan jadul: “Ngerti ‘ra kowe? Wong nggawe tempe kuwi, rampung dhelene diidak-idak nyeker, terus diperes. Sing meres tempe nganggo kathok lho?!”……

    Tempenya tetap enak ‘tu?!
    Yang si “saya” lakukan di atas adalah mengasosiasikan dua hal yg belum tentu berhubungan langsung.
    Memang manusiawi, tapi lebih bijak tentunya jika ada “field trip ke TKP”, daripada “ngantor” saja….

    Suwunnnn….

  2. Dj.  1 June, 2012 at 14:27

    dian nugraheni Says:
    May 30th, 2012 at 06:05

    Pak DJ…makasih banyak masukannya yaa…
    Iya benar pak DJ, apa yang bapak sebutkan itu, semua bisa saya terima, tapi waktu itu saya telanjur bereaksi demikian, pikir pendek saja, untuk saya sendiri, dan saya memang kabarin hal ini hanya pada temen saya yang bernama mbak Indri..saya nggak kabar2in secara meluas…

    Dan memang habis itu, Si Ibu dan Bapak Tua tetep jualan bakwan, hanya saya dan mbak Indri memang nggak lagi makan bakwan, sedangkan pelanggan lainnya setau saya tidak berubah, pada makan bakwan juga, karena saya memang ga bilang2 ke semua orang…

    Kalau akhirnya si IBu dan Bapak Tua tadi kehilangan sebagian dari pasokannya, karena akhirnya warung Simboke ditutup oleh sekolah, karena ruangannya akan dipakai oleh pihak sekolah (selama ini bertahun2 siMboke makai ruangan tanpa dipungut sewa oleh sekolah….

    Saya juga memang ngga sempat memikirkan nasib Bapak Tua tadi, apakah akan membantu pengobatan atau apa, karena tidak berapa lama dari kisah itu, saya pindah ke sini…

    Tapi memang…secara pribadi, saya nggak bisa pungkiri, bahwa, sesuatu, ada awal ada akhir, dan ketika berawal atau berakhir, tentunya ada sebabnya, dan kalau pun saya dianggap sebagai “sebab” matinya dagangan Bapak dan Ibu Tua tadi…saya minta maaf, tentu saja saya nggak bermaksud demikian…cuma secara “takdir”, mungkin, saya lah yang akhirnya menjadi “perantara” untuk mengakhiri hal tersebut…

    (Coba nanti saya tanyakan, apakah Bapak Tua dan Ibu Tua masih masokin bakwan..soalnya ada beberapa sekolah di lingkungan ini, 3 SD, satu SMA dan satu SMP)

    Makasih banyak ya Pak DJ…menggugah kesadaran saya untuk berpikir lebih panjang untuk melakukan suatu hal…
    ——————————————————————————-

    Mbak Dian…
    Maaf bila komentar Dj. kedengaran terlalu keras.
    Tapi ini memang Dj. yang sebenarnya, yang tidak hanya mau memuji setiap artikel disini, tapi juga mau
    mengingatkan.
    Bahwa hidup kita ini, ( kalau sudah ada diatas angin ), tidak akan selalu diatas terus.
    Satu saat kita juga bisa jatuh kebawaah dan bahkan lebih cepat dari apa yang kita pikirkan.
    Kalau kita saat ini ada dibawah, juga tidak akan selama ada dibawa, satu saat mungkin juga bisa keatas.
    Jangan pernah berkata ” TIDAK MUNGKIN ”
    TUHAN itu adil mbak.
    Kasihilah anak-anak yatim.
    Kasihilah janda-janda…
    Kasihilah orang miskin.
    Kasihilah orang sakit.
    Kasihilah orang tua
    Kasihilah orang yang dianiaya.

    Ada seorang rabi ( guru agama ) yang berdiri didepan pintu sorga…

    TUHAN berkata,
    Saat aku sakit, kamu tidak menjenguk aku.
    Saat aku lapar / haus, kamun tidak memberi aku makan / minum.
    Saat aku dipenjara, kamu juga tidak menengok aku..

    Dia bertanya, kapan saya melihat TUHAN lapar / haus, atau sakit atau dipenjara…???

    TUHAN berkata::::
    Barang siapa melakukannya untuk orang-orang miskin, orang sakit dan orang yang dalam penjara.
    Dia melakukan nya juga untuk Aku…!!!

    Jadi…
    Mbak Dian, dj. hanya mau mengingatkan…
    Kasihilah, atau hargailah mereka yang miskin, tapi mau berusaha untuk menambuz´ng hidup mereka.
    Kalau tidak bisa menolong mereka, paling tidak bisa, memberi mereka kesempatan untuk tetap berusaha.
    Kalau mungkin, bahkan memberikan kepada mereka perawatan atau ongkos pengobatan.
    Dj. yakin mbak Dian sanggup untuk hal ini.
    Dj. sudah tanya kepada saudara Dj. yang hidup di Purwokerto.
    Dia juga tau warungnya si mboke yang sudah ditutup.
    Semoga banyak orang Purwokerto yang membaca artikel mbak Dian dan tidak menjadi takut makan bakwannya keluarga miskin dan sakit ini.
    Semoga TUHAN memberkati mbak Dian sekeluarga.

  3. Dewi Aichi  31 May, 2012 at 00:39

    Orang-orang yang makan ditempat umum, atau dimana saja…jika menemukan sesuatu yang tidak kita harapkan..kadang dengan spontan kita akan berbicara dengan teman makan kita, atau dengan seorang yang ada dihadapan kita, …saya juga sering melakukan hal itu.

  4. Dewi Aichi  30 May, 2012 at 23:43

    Dian….dalam tulisanmu ini aku bisa menangkap apa yang akan kau sampaikan..saya yakin, seseorang seperti dirimu, tidak bermaksud mematikan rejeki orang…..apalagi kan hanya sekedar obrolan dengan seorang temanmu yaitu mba Indri….terima kasih Dian…sharingmu selalu menarik….!

  5. Lani  30 May, 2012 at 14:30

    DIAN : walah dalah aku tau, kita ini sak-ndeso…….PURWOREJO………aku dl SMAN I dijalanan mau ke KUTOARJO……sekolah ngepit…….tp kmd dibelikan brompit……..SMAN ini zamanku msh spt alas roban………kmd dibabati, spt alun2 didepan gedung buat olahraga……..nah warungnya disamping gedung sekolahnya………..

    aku msh ingat wajah si embok lo sampai skrng………entah gimana nasib warung ini skrng………sejak lulus, dan meninggalkan ndeso aku belum pernah tilik SMAN ku lagi……….mungkin nanti dimasukkan dlm agenda klu mudik……..

    kamu Purworejonya dimana??????????

  6. HennieTriana Oberst  30 May, 2012 at 09:16

    Dian, sepertinya aku kalau ada di posisimu pasti melakukan hal yang sama.
    Manusiawi bersikap begitu. Aku nggak bisa menyelamatkan dunia.

  7. dian nugraheni  30 May, 2012 at 06:21

    Mbak Kornelya…he2..boleeh…kalau goreng2an, sekarang hampir tiap hari saya bikin gorengan sendiri…wahh, iyaaa, dicoel pakai saus asam manis pasti lebih enakn yaa….baagi resepnya bikin saus yaa..makasih banyak mbak Kornelya…

  8. dian nugraheni  30 May, 2012 at 06:16

    JC, thanks banget JC..
    he2..kali ini tulisan saya menuai banyak nasihat…saya sangat terima dengan hati terbuka..
    Saya enggak sakit hati dibilang apa atau bagaimana, memang ini kisah nyata, dan senyatanya memang yang terjadi demikian, dan kalau pun saya dianggap salah bersikap dalam hal ini, saya akui, bahwa saya waktu itu pendek pikir dalam menanggapi masalah ini (atau tepatnya bereaksi secara spontan)…
    Jadi penasaran apakah mereka masih masokin bakwan….(ntar saya tanyain teman2 di sana yaa..),

    Tapi yang jelas.., tak lama kemudian, warung Simboke memang ditutup karena Simboke kan make ruangan di sekolah sudah bertahun2 tanpa ditarik sewa, dan waktu itu pihak sekolah perlu ruangan untuk simpan alat pramuka…

    Dan memang juga sih, dalam hal ini saya nggak sempet “nolong” si Bapak dan Ibu Tua tadi, karena habis itu saya trus pindah ke mari…

    Makasih banyak.yaa…JC….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *