Waterdrager

Joko Prayitno

 

Air merupakan kebutuhan utama bagi manusia. Ia menjadi sangat berharga bahkan memiliki nilai ekonomi yang tinggi sejak jaman dahulu. Sejarah mencatat peradaban-peradaban besar dunia  berada di pinggir-pinggir sungai yang memberikan masyarakat akses baik dalam bidang ekonomi maupun penyediaan bahan makanan dan pertanian. Air juga merupakan faktor utama dari kesehatan sebuah kota. Penyediaan air bersih yang terjangkau luas di kalangan masyarakat membuat sebuah kota nyaman untuk ditinggali.

Pengangkut air di Hindia Belanda 1853-1856 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Indonesia sendiri sebagai negara tropis sebenarnya memiliki air yang melimpah untuk berbagai keperluan kehidupan. Terutama air bersih yang telah diupayakan untuk air minum. Hingga saat ini pun air bersih menjadi problematika kota yang tidak habis untuk dibahas, mulai dari isu privatisasi air, mahalnya air, semakin berkurangnya sumber air bersih hingga pencemaran air bersih. Tentunya isu-isu ini tidak akan saya bahas dalam tulisan ini. Bagi saya yang menarik adalah bahwa sebelum air bersih dialirkan ke rumah-rumah melalui pipa dari pusat pengolahan air yang dikelola oleh perusahaan air baik milik pemerintah maupun swasta, pada awalnya air ditampung di suatu tempat yang dekat dengan masyarakat dengan membangun tempat penampungan air. Tempat ini disebut pangkalan air. Dari sini air diperjualbelikan baik diambil sendiri oleh masyarakat secara langsung maupun diantar ke rumah oleh para pengangkut air dengan gerobak.

Waterdrager di Jawa tahun 1906 dengan alat angkut air yang terbuat dari kaleng (Koleksi: www.kitlv.nl)

Bila melihat ke belakang lagi, pada masa kolonial berbagai foto menunjukkan masyarakat pada masa tersebut mengambil air dari sungai maupun dari sumur bahkan dari waterleiding yang memang telah mulai dibangun sejak akhir abad ke-19 untuk memenuhi kebutuhan air bersih dari kota-kota yang berkembang. Sebagai catatan bahwa PDAM Kota Semarang yang didirikan pada tahun 1911, PDAM Kota Solo didirikan pada tahun 1929, PDAM Kota Salatiga tahun 1921, dan PAM Jaya sudah berdiri sejak tahun 1843.

Waterdrager sedang antri untuk mengisi air di sebuah penampungan air 1900 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Dan air yang diangkut ini biasa dipergunakan baik untuk kepentingan sendiri maupun menjualnya ke masyarakat lain. Aktivitas pekerjaan ini disebut waterdrager (pengangkut air). Pengangkut air ini cukup sederhana dalam mengangkut air, menggunakan pikulan dengan penampung air yang terbuat dari kayu dan ada juga yang telah mengunakan bleg (tempat menampung air dari kaleng). Mereka menjajakan air berkeliling kampung-kampung dan biasanya dengan berjalan kaki. Ada juga waterdrager yang mengangkut air dari sungai untuk menyirami kebun milik tuannya.

Seorang waterdrager sedang mengambil air sungai di Batavia 1905 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Rupanya pada masa kolonial keberadaan waterdrager menjadi penting untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat. Aktivitas waterdrager ini juga merupakan bagian dari penciptaan kesehatan kota selain dari penyediaan tempat mandi, cuci dan kakus di Hindia Belanda. Dengan mengenang kembali eksistensi waterdrager semakin kita mengetahui bahwa ada kesamaan problematika di kota-kota antara masa lalu dan masa sekarang tinggal bagaimana pemerintah mengambil kebijakan untuk memenuhi ketersediaan air bersih yang murah dan tentunya perlindungan terhadap sumber-sumber air bersih untuk keberlangsungan umat manusia.

 

Juga bisa dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2012/05/28/waterdrager/

 

11 Comments to "Waterdrager"

  1. Bagong Julianto  2 June, 2012 at 11:47

    Joko P>>>

    Sekarangpun masih ada waterdrager, tapi naik sepedamotor berkeranjang kiri-kanan. Wadahnya bukan bleg, tapi plastik galonan (PVC/fiber?)……. harganya 3000 rupiah jika ambil sendiri, 5000 rupian jika pesan-antar.
    (Di SEkayu…

    Suwunnnnn..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.