Bersepeda Menengok “Cucu” yang Baru Menetas

Nunuk Pulandari

 

Teman-teman, melanjutkan acara persepedaan dengan route (1) Zoetermeer ke Rotterdam via Bergschenhoek (Pijnacker, Berkel en Rodenrijs, Rotterdam) dan route (2) Zoetermeer ke Scheveningen dengan jalan agak memutar lewat Leidschendam. Sengaja kami menjalani route ini dengan missi menengok “cucu-cucu” angsa yang baru menetas, meminjam istilah jeng Lani. Sedikit menayangkan betapa lenturnya dan panjangnya leher sang angsa..Serta betapa indahnya sang angsa berpose ria.. Kalau sedang berkenan, seperti yang tampak dalam foto-foto berikut ini.

Jeng Lani dalam salah satu e-mailnya menuliskan: “Mbak Nuk, selamat menengok cucu2 baru ya”, ketika tahu bahwa saya akan bersepedaan. Kemarin dulu, konco ngajeng dari kantornya  mengirim sms menuliskan: ”Wel gefeliciteerd met je nieuwe kindjes (selamat dengan anak-anak baru kamu)”. Begitu dia bercerita setelah pagi harinya melihat anak-anak angsa melongokkan kepalanya dari bawah sayap induknya… Lalu dia masih menambahkan:” Leuk,  dan kunnen wij zaterdag even op kraambezoek.. ha, ha, haa..Je krijgt beschuit met muisjes gemaakt van zwanenpoep.. Mmmmm (menyenangkan, jadi hari Sabtu kita bisa menengok angsa yang baru melahirkan. Kamu akan dapat beschuit dengan muisjes dibuat dari poepnya angsa). Saya hanya membalas dengan: “Ok, tapi kamu yang ngicipi poep angsanya dulu ya”. Dan kami hanya saling menuliskan ha, ha, haaa dan hmmm lekker…

Foto 1. Patung di Bergschenhoek

Route hari Sabtu kemarin dulu, kami bersepeda melalui  Pijnacker, Berkel en Rodenrijs terus ke Bergschenhoek dan Rotterdam. Route bersepeda yang terdiri dari gabungan melewati indahnya daerah natuur dan perkotaan. Di salah satu sudut  perempatan Pijnacker di gemeente Bergschenhoek, dari jauh sudah terlihat ada sebuah patung besar yang sedang dalam posisi “njengking”. Tentu kesempatan ini tidak saya lewatkan dengan begitu saja. Melihat posisi patung jadi ingat commentaar guyonan dari dimas JC, nyai Loro van Kona dan mbakyu Nyai Loro kidhul Perancis tentang de billen, tampah, mobil, oven alias sang achterste dll.  Achhh, berbagai guyonan yang hanya dapat terungkapkan kalau kita sudah saling mempercayai dan merasa akrab satu dengan lainnya.

Foto 2. Beberapa “tampah yang sempat mampir di lensa kamera”

Melengkapi “pertampahan” yang ada, saya jepretkan beberapa jenis “tampah” yang sempat menyalip saya. Dan kalau teman-teman masih mau melihat lebih banyak lagi… Sekaranglah saatnya untuk melihatinya.. Di sepanjang pantai yang ada di Belanda… ha, ha, haaa

Foto 3. Bijenkorf Rotterdam dan foto 4. La Place (V &D baca, vee en dee) Rotterdam

Dua dari sekian banyak tempat persinggahan kami kalau sedang kehausan atau ingin makan sesuatu. Beda dari keduanya: di La Place, kita bisa menggunakan coupon beli 1 dapat 2. Dan melihat rekening yang kita terima terlihat bahwa di V & D, harganya lebih miring dari Bijenkorf. Kalau tentang mutunya, jelas Bijenkorf lebih tinggi… Ada harga ada rasa dan rupa…

Foto 5. Salah satu teras di sekitar Centrum Rotterdam dan foto 6.  Wabah Kota Big Apple mampir ke Rotterdam

Di sekitar Centrum Rotterdam banyak bisa dijumpai terras dimana kita bisa duduk-duduk sambil makan dan minum. Semua serba rileks karena bisa disambi menikmati pemandangan dari berbagai ragam manusia dll, yang berlalu lalang.  Dalam hal ini yang sering kami lakukan adalah memberikan nilai (dr 1 s/d 10)  bagi “sesuatu” hal yang sama,  yang terlihat dari yang berlalu lalang melewati depan terras.  Kadang hasil penilaian kita sangat mengecewakan sekali. Ternyata dalam hal bersolek dan mempercantik diri, para wanita di Brussel, Antwerpen atau  Paris, jauh lebih sadar dari di Belanda. Jammer.

Foto 7. Kebun belakang di sekitar Pijacker                                    

Foto 8. Kebun belakang di sekitar Berkel en Rodenrijs

Beberapa keasrian kebun di belakang atau depan rumah yang bisa kita temukan di sepanjang route persepedaan. Nuansa warna hijau masih bisa dilihat dari tanaman yang ada…Indah…

Teman-teman, sebelum mencapai kota Rotterdam dalam perjalanan kami sempat melihat “cucu-cucu” yang  sedang bermain dengan induk dan pak Angsanya.

Foto 9. Induk dan pak Angsa sedang momong bayinya

Foto 10. Seringkali si bayi lebih dekat ke sang induk.

Foto 11. Berkumpul bersama, menggambarkan kekompakan dan kerukunan keluarga angsa.

Bulu-bulu para “cucu “ nampak sangat halus dan berwarna agak coklat ke abu-abuan. Kalau diperhatikan mereka hampir selalu berkumpul. Tidak ada satupun yang berenang jauh dari kedua ortunya.

Foto 12. Bersama membesarkan dan membagi tugas mengasuh anak

Foto 13. Posisi kaki angsa yang nampak aneh

Teman-teman, selama mengamati tingkah laku  angsa-angsa yang ada, terlihat bahwa angsa-angsa itu cukup cakap dan lemas/ lentur  (lemah gemulai) dalam menggerakan dan memainkan  terutama lehernya yang panjang .  Leher jenjangnya yang panjang bisa digunakan untuk menunjang patuknya selama membersihkan tubuh sampai ke ujung ekornya dan mencari makan di dalam air/ lumpur. Dalam beberapa foto berikut ini terlihat beberapa posisi angsa yang cukup menarik.

Foto 14. Leher yang muler-muler di bawah sayap dengan mata yang tetap awas melihat ke kamera yang ada.

Foto 15. Lehernya yang terlipat dengan mata yang tetap awas.

Foto 16. Posisi leher yang ditarik terbalik ke belakang , entah sedang mengintip apa.

Foto17. Posisi leher yang disemelehkan di sayapnya

Foto 18. Bantalnya cukup di atas badan sendiri

Foto 19. Kadang terbangun dan mengubah posisi leher/ kepala sambil nglirik anak-anaknya

Foto 20. Terbangun dari tidur segera mengusir bebek yang akan mendekat (di luar jangkauan lensa)

Foto 21. Entah dikemanakan kepalanya.

Foto 22. Posisi sedang mengusir bebek yang mendekat dilihat dari belakang

Foto 23. Indahnya pose sang pak angsa dilihat dari depan.

Sambil membentuk pola tertentu dengan sayapnya, sang angsa berjalan mondar mandir di sekitar kerumunan sang istri dan anak-anaknya. Menjaga keamanan istri dan anak-anaknya rupanya menjadi tugas utama pak Angsa.

Foto 24. Induknya tetap bersama anak-anak

Foto 25. Berenang dengan sebelah kakipun jadi.

Foto 26. Betapa nurutnya sang anak angsa

Foto 27. Ancang-ancang terbang

Foto 28. Indahnya pose pak Angsa

Foto 29. Induk angsa sedang menasihati salah satu anaknya untuk selalu bersama

Foto 30. Bersama mereka menjalani kehidupan kesehariannya.

Kalau teman-teman perhatikan, dari warna air kita bisa melihat kelompok angsa yang saling berbeda. Rata-rata dari angsa yang kami temukan, masing-masing kelompok mempunyai antara 5 sampai 6 anak angsa. Hanya salah satu dari kelompok, menurut beberapa penduduk yang ada di sekitarnya, asal mulanya memiliki 8 anak.  Sayangnya seminggu kemudian anak angsa yang tertinggal hanya 5. Menurut penuturan dari salah satu penduduk , 3 anak angsa yang hilang kemungkinan besar entah dimakan TIKUS besar atau disantap  Ikan Snoekbaars yang banyak hidup di perairan di Belanda.

Foto 31. Di bawah badannya ada beberapa anak yang baru menetas.

Di dekat daerah Leidschendam, nampak sang induk yang sudah menetaskan telurnya tetapi masih belum mau memperlihatkan bayinya. Mungkin dianggap masih belum cukup besar untuk bisa berenang dan belajar mencari makan dan hidup di atas pengairan yang ada. Sang induk masih ngeloni anak-anaknya di bawah badannya yang terlihat menggelembung. (lihat foto 30).

Teman-teman, kalau kita perhatikan kelompok angsa sangat memperhatikan kebersihan dirinya sendiri. Sering mereka terlihat setelah berenang kesana kemari bersama keluarganya, sedang membersihkan bulu-bulunya sendiri atau  sedang beristirahat sambil tiduran…

Foto 32. Induk angsa dan kel. sedang  beristirahat sambil membersihkan diri.

Foto 33. Tetap waspada akan sekelilingnya

Foto 34. Kadang mereka saling bantu merawat bulu-bulu yang ada

Foto 35. Bersolekpun butuh waktu

Foto 36. Matanya yang tajam menatap setiap gerak yang ada di dekatnya

Foto 37. Lehernya yang jejang memudahkan untuk mencapai bagian belakang tubuhnya

Foto 38. Selesai sudah acara membersihkan badan dan bulu

Teman-teman, itu sedikit cerita tentang para angsa yang sempat saya lihat selama bersepedaan.

Cerita tentang festival JAZZ di Scheveningen selama dua hari berturut-turut akan saya tuliskan dalam kesempatan yang lainnya.

Vriendelijke groeten en 3 kusjes van het verre westen. Doe doei, nu2k

 

84 Comments to "Bersepeda Menengok “Cucu” yang Baru Menetas"

  1. nu2k  20 June, 2012 at 10:38

    Mbak Juwita dear, long time ago…. H.r.y.. doing. Lumayanlah, tidak mengecewakan… ha, ha, haaaa… Bedankt en doe doei, nu2k

  2. Juwii  20 June, 2012 at 05:28

    Beautiful photographs. Awesome! Thanks for sharing…

  3. nu2k  7 June, 2012 at 04:43

    Whalah, whalah… Nyai Loro NGGEMBLUNG van Kidhul Paris iku lhooo… Dari mula juga sudah jadi saudaranya MBEK dan MBAK… Kok baru sekarang sih protesnya… Nggak aci… Salah siapa jadi ayng paling keras NGEMBEKnya… Jadi yo Mbak, Mbakyuuuuuu Cleo…. Kus, kus, kus, Nu2k

  4. nu2k  7 June, 2012 at 04:40

    Jeng Lani, kok njur balik neng cerito lama iku lhoooo.. Waaaahhh, yo wis piyé maneh… Lhawong kancané yo wong sing podo NGGEMBLUNG.. bukan gemblung lho yo.. Tapi NGGEMBLUNG.. Ya sudah pasrah….Pasrah… Neh NGGEMBLUNGe teko yo tak neng ké aé….Ha, ha, haaa..

    Jeng, lha mbayar 100 euronya sama siapa.. Siapa yang memanage uangnya? AQ toch???? Ha, ha, haaaa…. NGGEMBLUNG meneh… Doe doei, nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.