Drona

Chandra Sasadara

 

Senapati tua itu tubuhnya menggigil, hatinya terasa ngilu mengingat kematian Abhimanyu. Bukan hanya martabatnya sebagai senapati agung Hastinapura yang terkoyok, tapi jiwanya sebagai manusia juga telah hancur. Perlakukan terhadap Abhimanyu sungguh biadab, meskipun dilakukan di medan perang sekalipun. Apa yang dilakukan sangat melanggar dharma kesatria di medan perang. Bagaimana bisa dirinya, Kripa, Karno, Aswathama, Sakuni, Duhsasana dan Salya mengeroyok dan membantai beramai-ramai putra Partha tersebut. Di medan perang sekalipun tidak diperkenankan menyerang prajurit yang sudah tidak berdaya, apalagi dilakukan dengan cara mengeroyok.

Tidak mungkin ia lupa terhadap ajaran suci yang sering disampaikan kepada Pandawa dan Kaurawa pada saat putra-putra wangsa Bharata tersebut masih menjadi muridnya. Bahwa dalam perang tidak diperkenankan mengeroyok musuh, melakukan kecurangan dan kelicikan apalagi memperlakukan secara kejam musuh yang telah tidak berdaya.  Tapi di padang Kurushetra, ketika dirinya dipercaya menjadi senapati agung justru telah melanggar dharma kesatria tersebut. Guru macam apa aku ini. Keluhnya dengan hati yang hancur.

Senapati tua itu masih memeluk lututnya. Dari tubuhnya mengalir keringat dingin dengan mulut yang tidak berhenti meracau, mengeluarkan kalimat yang tidak jelas. Di mana ajaran-ajaran suci yang aku sampaikan kepada para muridku. Di mana Drona yang bijaksana, yang selalu memuja kedamaian. Di mana Drona yang tidak haus kekuasaan, yang melepaskan sebagian Negeri Panchala agar tetap bisa bersaudara dengan Prabu Drupada. Oh Dewa, Apakah aku masih berhak menggunakan gelar brahmana. Senapati tua itu bercucuran air mata.

Aku bukan brahmana di Kurushetra, aku tidak lebih dari kesatria lainya yang harus membunuh sebanyak mungkin musuh. Senapati tua itu tidak bisa menolak kenyataan bahwa tanganya masih berlumuran darah para raja, kesatria dan prajurit dari pihak Pandawa. Ia mulai meragukan bahwa dirinya adalah seorang brahmana, yang seharusnya menjadikan ahimsa sebagai dasar hidupnya. Mengapa sekarang aku justru belepotan darah dan masuk dalam kubangan kekerasan. Apa kepentinganku dalam perebutan kekuasaan antara Pandawa dan Kaurawa ini. Tubuh senapati tua itu semakin menggigil.

Sebagai Brahmana harusnya aku bisa memilih untuk menghindari kekuasaan, menjauhi gemerlapnya kehidupan kaum kesatria. Aku bisa hidup dengan mengasah dharma sebagai brahmana, memuja kesetiaan terhadap jalan damai, mendalami Weda dan Wedangga kemudian muksha di sanggar pamujan. Namun apa yang telah aku perbuat sekarang. Aku seorang senapati dengan tanggung jawab melibas nyawa manusia, nyawa orang-orang yang belum tentu punya kepentingan terhadap perang ini. Di tengah kecamuk hatinya, ia memeluk lututnya lebih keras.

Oh Dewa, mengapa aku terjebak dalam kemelut kekuasaan yang sejak semula justru aku hindari. Kalau mau, di masa mudaku aku bisa merebut Negeri Panchala dengan mudah. Namun kekerasan bukan jalan yang aku pilih. Aku lebih memilih menyerahkan hak untuk berkuasa kepada orang yang telah mengkhianatiku, yaitu Prabu Drupada. Senapati tua yang di masa mudanya bernama Khumbayana itu sedang memutar kembali ingatan masa lalunya.

*****

Sejak sama-sama belajar olah senjata dan ilmu perang di padepokan Brahmana Bharadwaja dua pemuda tampan itu telah menjalin persahabatan, bahkan saling berjanji mengangkat diri sebagai saudara. Pemuda yang berkain brahmana itu bernama Khumbayana, anak Brahmana Bharadwaja guru mereka sendiri. Sedangkan pemuda dengan pakaian sutra itu adalah seorang Yuwaraja Negeri Panchala bernama Drupada.

Namun waktu dan perbedaan asal-usul harus memisahkan mereka. Yuwaraja Panchala itu harus pulang ke negerinya karena telah menyelesaikan pelajarannya di padepokan Bharadwaja. Khumbayana tidak bisa menolak kenyataan bahwa dirinya harus berpisah dengan saudara angkatnya itu. Begitu juga Drupada yang telah menganggap Khumbayana sebagai sigaraning nyawa. Keinginan yang kuat untuk bertemu membuat mereka saling berjanji untuk saling berbagi kebahagiaan. Drupada berjanji, kelak kalau dirinya diangkat menjadi Raja Panchala akan membagi kekuasaan negeri itu menjadi dua. Sebagian untuk dirinya dan sebagian lagi untuk saudara angkatnya, Khumbayana.

Putra Brahmana Baradwaja itu akhirnya tidak tahan menahan sepi hatinya setelah ditinggal saudara angkatnya. Dengan restu ayahnya ia bermaksud belajar kepada Parasurama, seorang ahli siasat perang dan senjata berat. Lagi pula tersiar kabar bahwa Parasurama berniat menjalani hidup sunyasa di hutan dan membagikan semua harta yang dimilikinya kepada semua orang yang datang kepadanya.  Selain berniat belajar senjata berat yang tidak ia dapat dari ayahnya, Khumbayana juga berharap masih kebagian harta Parasurama.

Namun ia harus kecewa, semua harta kekayaan Parasurama telah habis dibagikan kepada semua orang. Sebagai anak brahmana yang hidup serba sederhana dan tidak mengenal harta benda,  untuk pertama kalinya Khumbayana kecewa menyangkut kekayaan. Kecewa karena tidak kebagian harta orang lain. Rasanya sakit sekali, dalam hati ia berjanji akan berusaha untuk mendapatkan kekayaan, kehormatan dan nama besar. Untuk mengobati sakit hati anak Brahmana Baradwaja, Parasurama mengajari semua ilmu keprajuritan yang dimilikinya.

Khumbayana memusatkan hati dan perhatianya pada semua yang diajarkan oleh Parasurama, sehingga dalam waktu singkat anak Bharadwaja itu telah menguasai semua ilmu olah senjata, siasat perang maupun berbagai mantra sakti. Kalau mau dibandingkan kesaktian dan kehebatan dalam ilmu perang, mungkin hanya Bhisma yang bisa menandinginya. Namun hati Khumbayana masih belum sembuh dari kekecewaan akibat tidak kebagian harta Parasurama meskipun telah menjadi brahmana-kesatria yang sulit ditandingi.

Hatinya semakin sakit mengingat sekarang dirinya telah menikahi adik Kripa dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Aswathama. Ia memiliki tanggung jawab untuk memulyakan dan mensejahterkan keluarganya. Dirinya tidak mungkin membawa pulang keluarganya di padepokan ayahnya. Satu-satunya cara untuk mewujudkan tujuanya menjadi laki-laki kaya, terhormat dengan nama besar adalah menagih janji Drupada untuk membagi kekuasaan Negeri Panchala menjadi dua. Drupada bukan orang lain, ia adalah bekas murid ayahnya, sahabat dekatnya bahkan penguasa Negeri Panchala itu telah mengangkat dirinya sebagai saudara. Dengan latar belakanng itu ia yakin Drupada akan menyambutnya dengan hangat.

Namun untuk kedua kalinya Khumbayana kecewa, sambutan Raja Panchala itu sangat dingin. Drupada nampak tidak senang melihat kehadiran saudara angkatnya, bahkan penguasa Panchala itu berpura-pura tidak mengenalnya. Khumbayana masih berusaha untuk meyakinkan bahwa dirinya adalah anak Brahmana Baradwaja yang telah diangkatnya menjadi saudara dan telah dijanjikan untuk mendapat bagian kekuasaan Negeri Panchala. Namun jawaban Prabu Drupada justru menyakitkan.

“Hai bramana gembel, persahabatan macam apa antara seorang raja dengan pengemis pengembara seperti dirimu.” Drupada menghardik. Khumbayana bukan hanya kehilangan muka dan harga diri, tapi nyawanya seperti telah mengapung di udara karena tidak tahan menghadapi malu di depan pejabat Negeri Panchala. Dengan mengeraskan gigi, Khumbayana berusaha untuk menahan diri.

“Tidak mungkin aku yang seorang raja kaya raya, bersabahat dengan pengemis yang tidak jelas asal usulnya.” Raja Panchala seperti sengaja meneruskan kalimatnya agar sahabatnya itu cepat pergi dari hadapanya.  Khumbayana yang masih duduk bersimpuh dihadapanya itu akhirnya diusir dengan kasar oleh Drupada. Dengan hati hancur bercampur marah dan dendam, Khumbayana meninggalkan Negeri Panchala. Ia bersumpah akan membalas semua penghinaan dan keangkuhan Drupada.

Satu-satunya tujuan Khumbayana adalah negara besar bernama Hastinapura di mana kakak iparnya Kripa menjadi pejabat. Tekadnya hanya satu menawarkan diri menjadi guru ilmu perang pada para kesatria muda wangsa Bharata yang dikenal dengan sebutan Kurawa dan Pandawa. Dengan menjadi guru para calon penguasa negeri besar seperti Hastinapura dirinya bisa membalas sakit hati kepada Raja Panchala.

Khumbayana diterima dengan tangan terbuka oleh Bhisma sebagai tetua wangsa Bharata untuk menjadi guru para kesatria Hastinapura. Sejak menjadi guru ilmu perang Pendawa dan Kaurawa, Khumbayana mendapat sebutan Mahaguru Drona. Ketekunan dan disiplin yang keras membuat murid-murid Drona menjadi kesatria yang sulit ditandingi. Di antara murid-murid yang menonjol dalam oleh senjata adalah Karno, Duryodhana dan Partha.

Drona yang hatinya masih diselimuti dendam kepada Drupada itu memanfaatkan kehebatan muridnya untuk menaklukkan Negeri Panchala. Ia mengutus Karno dan Doryudhana untuk menangkap penguasa Panchala itu hidup-hidup, namun keduanya gagal. Drona masih belum putus harapan, ia kembali mengutus Partha untuk menculik Drupada. Partha berhasil membawa Raja Panchala di hadadan Drona.

“Drupada sahabatku, jangan khawatir akan keselamatanmu.” Drona berkata dengan lembut kepada penguasa Panchala itu.

“Aku tidak akan merampas nyawamu meskipun kau telah menghinaku, mencaci dan mempermalukan dengan keji.”

“Aku memaafkan semua perlakuanmu, aku hanya mau mengambil setengah Negeri Panchala seperti yang telah kau janjikan.” Drona mengakhiri kalimatnya.

*****

Senapati tua itu menghapus air matanya. Menyekah keringat dingin yang membanjiri tubuhnya. Melepas baju perangnya, membasuh muka dan tangan yang masih belepotan darah parjurit Pendawa. Hatinya masih diselimuti kabut duka dan  penyesalan. Namun ia tidak bisa lagi menarik diri dari tanggung jawab yang terlanjur dipikulnya. Tanggung jawab sebagai senapati agung Hastinapura.

Baginya Padang Kurusetra besok akan lebih berat, jauh lebih berat dari pertempuran siang tadi. Senapati tua itu membayangkan bahwa Pandawa akan berperang dengan penuh semangat. Arjuna akan melipatgandakan kemampuan perangnya untuk membalas kematian Abhimanyu. Bimasena akan menerjang siapa saja untuk menumpahkan marahnya atas kematian keponakanya. Sedangkan dirinya harus mengatur pasukan Hastinapura dengan wajah ditekuk. Tidak mungkin mengahdapi Arjuna dengan rasa bersalah yang begitu besar atas perlakukanya terhadap Abhimanyu.

Setelah merasa bersih tubuhnya, senapati tua itu meraih aksamala. Menyalakan dupa, duduk dengan posisi ardha padmasana dengan tangan anjali. Senapati tua itu berusaha memusatkan kesadarnya di titik ajna agar bisa melebur dalam kuasa Dewata. Dari mulutnya keluar puja mantra “Hong sembah ning anatha. Tinghalana de triloka sarana. Wahya dyatmika sembahing hulun ijeng ta nan hana waneh. Sang lwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadhi kita. Sang saksat metu yan hana wwang hamuter tutur pinahayu”.

Tangan senapati tua itu tiba-tiba membentuk amusthikarana. Tidak ada suara, kecuali nafasnya. Akhirnya suara nafasnya juga hilang. Antara sadar dan tidak senapati tua itu memasuki alam yang tidak berwarna. Tidak ada apapun, kecuali Dirinya Sendiri yang tidak lagi bertubuh Drona atau Khumbayana.

“Mengapa kau menyesal Drona, bukankah kau seorang mahaguru.” Sosok Dirinya itu tiba-tiba bertanya.

“Bukankah mahaguru harusnya bisa menjawab semuanya?” Suara itu sangat lembut, tapi sungguh menghujam ulu hatinya.

“Jawablah pertanyaanku, agar kau bisa menerima kenyataan”

“Kalau kamu tidak mencintai Drupada secara berlebihan, apakah kamu akan merasa kesepihan hidup di pandepokan ayahmu?”

“Kalau kamu tidak menginginkan kekayaan Parasurama, apakah kamu akan kecewa karena tidak mendapat bagian?”

“Kalau kamu tidak menginginkan setengah Negeri Panchala, apakah harga dirimu akan diinjak-injak oleh Drupadi?”

“Kalau kamu tidak mendendam kepada Drupada, apakah kamu akan menjadi guru para kesatria Hastinapura?”

“Kalau kamu tidak menjadi guru para kesatria Hastinapura, apakah kamu akan menjadi senapati dalam Bharatayuda?”

“Kalau kamu tidak menjadi senapati Hastinapura, apakah kamu akan sanggup membunuh manusia sebanyak itu dan membantai Abhimanyu secara kejam?”

Senapati tua itu tidak bisa bernafas dihujani pertanyaan oleh Dirinya Sendiri. Namun hati dan pikiranya yang mampat mulai lega. Bahwa kenyataan yang sekarang sedang diahadapi adalah bagian dari kharma yang harus dipukul akibat pilihan-pilihan masa lalunya. Di tengah kesadaran dirinya yang mulai bisa menerima kenyataan. Tiba-tiba ia melihat dirinya ditebas pedang oleh Dristadyumna di tengah perang yang sedang berkecamuk. Dristadyumna adalah kesatria Negeri Panchala, anak laki-laki Prabu Drupadi, sahabatnya di masa muda. Segera ia tersadar dari samadinya.

 

Daftar Kata :

Muksha : Bebasnya jiwa dari spiral reingkarnasi

Sanggar pamujan : Tempat bersamadi

Yuwaraja : Putra mahkota

Sigaraning nyawa : Belahan jiwa

Sunyasa : Hidup menyendiri, melepaskan kenikmatan dunia

Aksamala : Tasbih

Ardha padmasana : Duduk bersila dengan menumpangkan kaki kiri di atas paha kanan atau sebaliknya

Anjali : Tangan di atas ubun-ubun dengan telapak tangan saling menempel 

Ajna : Titik konsentrasi di antara dua alis  mata

Amusthikarana : Telapak tangan menghadap ke atas dengan dua ibu jari saling bertemu

Kharma : Lingkaran sebab akibat dalam hidup manusia

 

Hong sembah ning anatha. Tinghalana de triloka sarana. Wahya dyatmika sembahing hulun ijeng ta nan hana waneh. Sang lwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadhi kita. Sang saksat metu yan hana wwang hamuter tutur pinahayu. (Hong hamba persembahkan sembah sujud hambah yang tiada terkatakan, semoga Engkau berkenan menerimanya. Lahir batin sembah hamba ditelapak Kaki-Mu. Engkau bagai api yang tersenbunyi dalam pepohonan. Engkau bagai minyak yang tersembunyi dalam santan. Nyala Kebenaran-Mu akan muncul manakala manusia menempuh jalan kebenaran)

 

37 Comments to "Drona"

  1. Dewi Aichi  4 June, 2012 at 20:23

    wow..terima kasih penjelasannya pak Chandra…senang sekali saya…saya akan coba cari2 tentang itu..kebetulan bapak punya beberapa bukunya

  2. Chadra Sasadara  1 June, 2012 at 22:04

    Kang JC : pripun yen disukani paraban Butoseno mawon..hehehhe

  3. Chadra Sasadara  1 June, 2012 at 21:58

    Mbak Dewi Aichi : dalam Wayang versi jawa timuran hastabratha juga dikuasi oleh Raden Regowo (titisan wisnu/Ramawijaya) diwariskan kepada adiknya Barata (calon raja ayodya) dan kepada Raden Wibisana pernerus kekuasan Alengka setelah Rahwana.

  4. Chadra Sasadara  1 June, 2012 at 21:51

    Mbak Dewi : setahu saya dalam pewayangan Jawa, Hastabratha menjadi bagian dari pagelaran berjudul Wahyu Makhutarama. Hasta Bratha merupakan ilmu perintahan yang diwariskan oleh titisan Wisnu (Krisna, seblmnya Ilmu ini dikuasi oleh Ramawijaya) kepada Arjuna. kelak ilmu ini yg kemudian diwariskan oleh Arjuna kepada Abimanyu dan Parikesit sbg penerus Hastinapura. Hasta Bhrata sendiri ilmu pemerintahan yg diilustrasikan dg kode alam seperti bumi, matahari, bulan, samudra, bintang, angin, api dan air. Baltyran Lain mungkin bisa lebih gamblang menceritakan

  5. Chadra Sasadara  1 June, 2012 at 21:43

    Mas Anoew : biar Mas Hand saja yg jawab pertanyaan sampean

  6. Dewi Aichi  1 June, 2012 at 21:27

    Pak Chandra…aku pengen tau juga tentang Hastabrata, kalau bisa….

  7. anoew  1 June, 2012 at 21:13

    Waduh.., saya gk mudeng wayang jeee kecuali tokoh wayang yang jempolnya diselipkan diantara jari telunjuk sama jari tengah itu thok. Saya kok lupa siapa namanya. Handoko atau Widagdo, gitu.. Lupa-lupa ingat saya..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *