Thursday, 31 May 2012
Mpek Dul
Bernadette dilahirkan di kincir de Boly, pada tanggal 7 Januari 1844 sebagai anak pertama dari François Soubirous (lahir pada tanggal 7 Juli 1807, meninggal pada tanggal 4 Maret 1871) dan Louise Casterot (lahir tanggal 28 September 1825, meninggal tanggal 8 December 1866, tepatnya 5 bulan dan 4 hari sesudah keberangkatan Bernadette ke Nevers pada tanggal 4 Juli 1866.
Nama lengkap yang sebenarnya adalah Marie Bernarde Soubirous. Waktu mencatatkan didaftar paroki, Pastormembuat kesalahan dengan mencatat nama Bernadette dengan terbalik yaitu Bernarde Marie.
Keluarga Soubirous ini sebenarnya mempunyai 9 orang anak, tetapi 4 diantara mereka meninggal akibat sakit dan kemiskinan. Hanya lima anak yang akirnya masih hidup: Bernadette Antoinette Jean-Marie (Johannes Maria), Justin (Justinus), Pierre (Petrus).
Pekerjaan ayah Bernadette semasa bujangan adalah sebagai tukang giling kincir di Latoure, sedangkan keluarga Casterot sendiri tinggal di kinciran Boly, dimana ayah Louise yang sebetulnya menguasai perusahaan tsb, dan meninggal dengan tiba-tiba pada tahun 1841. Dengan adanya pernikahan antara François dengan Louise, berarti bahwa penggilingan gandum itu mempunyai pengganti pimpinan perusahaan laki-laki, sesuatu hal yang umum sekali di waktu itu, sehingga dengan demikian penggilingan itu akirnya dapat berjalan lagi.
Jika ada orang-orang yang membutuhkan gandum untuk membuat roti demi memenuhi kehidupan harian mereka, tetapi tidak mampu membayarnya, seringkali gandum itu diberikan dengan cuma-cuma atau dengan harga pokok. Meskipun keluarga ini sendiri bukan orang yang mampu tetapi masih berjiwa sosial dan pada hakekatnya masih bersedia memberikan “semua” yang dimilikinya, seperti kisah janda yang miskin di dalam Injil Lukas 21: 01-04.
Oleh karena terlalu sosialnya, usahanya itu akirnya bangkrut. Ayah Bernadette kemudian bekerja sebagai kuli penggilingan harian untuk dapat memberi makan pada keluarganya.
Untuk sedikit menggambarkan betapa beratnya kehidupan di Lourdes yang terletak di pegunungan Pyrennée ini, ingin saya berikan memberikan uraian kehidupan diwaktu itu.
Jika seorang mempunyai kuda, dia mempunyai pendapatan yang lebih tinggi daripada jika dia bekerja, karena dia dapat menyewakan kuda itu dan seharinya menerima uang sekitar FF. 1,55, sedangkan seorang kuli hanya menerima upahan FF1,20. Mengapa? Karena kuda lebih kuat dan daya produksi lebih besar dari seorang kuli yang di pegunungan biasanya sangat kurus-kurus karena begitu miskinnya, di samping itu orang lebih mudah sakit.
Karena tidak dapat membayar sewa rumah yang waktu itu kira-kira FF (French Franc) 250 setahunnya itu sehingga keluarga Soubirous harus meninggalkan penggilingan itu pada tahun 1854.
Saat itu mereka mempunyai 5 orang anak dan Bernadette adalah anak yang tertua dan sering sakit (astma), bahkan pada tahun 1855 terkena penyakit kolera. Keadaan keluarga itu begitu miskinnya, dan pendapatan ayahnya tidak selalu dapat mencukupi kehidupan harian keluarganya, apalagi untuk membeayai ongkos-ongkos sekolah Bernadette, bahkan sampai dia pernah dipenjara, karena difitnah dan dituduh mencuri gandum dari perusahaan roti Maison grosse.
Seorang keponakannya akirnya memenukan Cachot (penjara) yang kosong dan disewanya untuk keluarga Soubirous ini.
Le Cachot= bekas penjara, yang tidak terpakai lagi berhubung dengan keadaan sanitair yang tidak memenuhi syarat diwaktu itu, disamping karena keadaan yang sangat lembab, dijalan Rue des petits Fosses. Setelah mereka berpindah dari suatu tempat ketempat lain akirnya mereka tiba di Cachot ini di bulan nopember 1856.
Oleh karena itulah Bernadette tidak dapat menulis ataupun membaca.
Rumah ini didiami oleh kel. Soubirous dengan 4 orang anaknya. Dari sini dapat anda lihat betapa miskinnya kehidupan kel. Soubirous pada saat itu. Sesudah gua, Cachot ini merupakan monument yang sangat penting dan mengharukan sekali di Lourdes.
Baru pada tahun 1858 ketika menerima komuni pertama, untuk pertama kalinya didalam usia 14 th, dia memperoleh kesempatan untuk bersekolah di sekelohan zusteran.
Meskipun keadaan kesehatannya yang jelek sekali, dia sangat cerdik, ramah serta ringan tangan, selalu bersedia untuk membantu siapa sajapun yang membutuhkan pertolongannya. Salah satu sifat jelek Bernadette sendiri adalah terkadang sangat keras kepala, seperti juga ibunya.
Maison Paternelle, yang artinya “rumah orang tua” atau Moulin de Lacade” yang berarti “Kincir Lacade” di Rue de Bernadette 4, semula adalah milik walikota Lourdes Mr.Lacade, yang disewa oleh pastoor Peyramale untuk menolong orang tua Bernadette dari Cachot, dan pada tanggal 20 Augustus 1867 dibeli oleh Mgr Laurence, uskup dari Tarbe yang juga Lourdes termasuk wilayahnya, dan disumbangkan pada fam Soubirous. Sejak itu mereka mendiami kembali rumah ini yang dikenal dengen nama Maison Paternelle.
Bernadette sendiri dilahirkan dilahirkan di Moulin de Boly, yang hampir berdampingan dengan Maison Patternelle terletak di rue Bernadette 14, salah satu dari grup kincir di samping sungai Lapaca, yang sangat deras arusnya.
Milik dari Anna de Candebotte yang didapat sebagai emas kawin dari Dr David Boly, dokter Inggris. Rumah ini disewakan kepada Augustin Casterot, ayah dari Louis Casterot, jadi kakeknya Bernadette.
KEAJAIBAN-KEAJAIBAN YANG TERJADI DENGAN BERNADETTE DAN LOURDES:
** Penampakkan pertama adalah 11 Februari 1858.
** 11 Februari 1858 sampai 16 Juli 1858 = 18 penampakkan.
** 25 Maret 1858 penampakkan yang ke 16: Que soy era immaculada councepciou
** Periode Komuni pertama 3 Juni 1858.
** 15 Juli 1860 dirawat dirumah perawatan berhubung dengan astma sd 4 Juli 1866.
** 07 Juli 1866 tiba di biara Saint-Gildard.
** 16 April 1879 pukul 15.00 meninggal.
Sejak mereka tinggal di Cachot ini baru mulai terjadinya penampakan Bunda Maria kepada Bernadette pada tanggal 11 Februari 1858 di gua Massabielle di Lourdes.
Bernadette sendiri memberikan komentarnya waktu patung Maria yang ditempatkan dimana Bunda Maria sendiri pernah menampakkan diri kepadanya, bahwa wajah tidak sama dan kurang cantik.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa Bernadette meninggal pada tanggal 16 April 1879. Sesudah menerima ijin dari pemerintah setempat, jenazah itu dimakamkan pada tanggal 30 April 1879 dimakamkan di ruangan bawah tanah di kapel St Jozef.
Pada tanggal 22 September 1909 peti mati itu dibongkar, di bawah pengawasan keuskupan Nevers (Mgr. Gauthey) dan jenazah itu diselidiki oleh dua orang ahli bedah yang masing-masing telah disumpah terpisah oleh gereja yaitu Dr. David dan Dr. Jourdan. Kedua ahli bedah ini tidak saling mengenal satu sama lain.
Ahli-ahli ini menulis di dalam raport mereka masing-masing bahwa, ketika peti itu dibuka tidak mencium bau busuk, meski jubahnya yang agak lembab, semua masih utuh, tangan lengkap dengan kuku-kukunya, maupun matanya. Hanya setelah beberapa jam berada di luar, jenazah itu menjadi agak hitam, karena bereaksi dengan udara.
Karena adanya Perang Dunia I yang baru berakir pada tahun 1918, maka baru ada kemungkinan untuk kedua kalinya, peti mati itu dibuka lagi pada tanggal 03 April 1919, hal ini dikarenakan oleh persiapan yang harus diambil dalam rencana persiapan pengakuan dan pengangkatan Bernadette sebagai santa, seperti yang telah diijinkan oleh Paus Pius X, pada tanggal 13 Augustus 1913. Di bawah pengawasan Mgr.Chatelus Uskup dari Nevers waktu itu, komisaris dari polisi, wakil-wakil dari kotapraja dan anggauta dari dewan hukum gereja. Ahli-ahli bedah yang diberi perintah untuk menyelidiki jenazah itu adalah Dr Talon dan Dr. Comte. Seperti juga dengan yang pertama, kedua ahli bedah ini tidak saling mengenal satu sama lain.
Untuk menjamin kebenaran hasil-hasil penyelidikan bahwa laporan yang mereka buat tidak tergantung satu sama lain atau disepakatkan serta tanpa memungkinkan adanya komplotan, kedua dokter itu diberi kesempatan untuk memberikan hasil penyelidikan mereka sendiri, dengan terpisah. Kedua ahli ini menulis laporan yang garis besarnya sesuai dengan laporan yang telah diberikan oleh kedua dokter yang menyelidiki jenazah Bernadette pada. tahun 1909. Kesimpulan mereka adalah bahwa jenazah itu sama sekali tidak berbau, juga pembesar yang hadlir di situ untuk menyaksikan autentik tidaknya, tidak mencium bau jenazah, meskipun jenazah itu sudah sedikit agak berkeriput seperti mummie dan nampak agak berjamur seperti dilapisi oleh garam, yang tidak lain adalah calcium.
Pukul 17.00 di hari itu juga jenazah itu dimakamkan kembali untuk kedua kalinya di kapel St Jozef dari biara St Gildard di Nevers (baca: Ne- fair).
Pada tanggal 18 Nopember 1923 Paus Pius XI mengakui kebenaran penyelidikan-penyelidikan yang telah dilakukan dua kali sebelumnya, dan untuk ketiga kalinya peti itu dibuka lagi pada tanggal 15 April 1925. Jenazah itu diselidiki oleh kedua ahli bedah yang 4 tahun sebelumnya juga telah menyelidikinya, selain relikwi-relikwi yang harus diambil untuk dikirim ke Rome, Lourdes, untuk persiapan ter- akir sebelum peresmian pengakuan sebagai santa oleh Roma. Ahli-ahli bedah itu membuat laporan bahwa jenazah itu masih dalam keadaan yang bagus sekali, bahkan hatinya masih utuh sepenuhnya, otot-ototnya masih supel dan normal, meskipun sudah 46 th meninggal dan biasanya sudah menjadi debu atau tinggal tengkoraknya, tetapi ternyata tidak demikian keadaannya. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa kejadian ini bukan sesuatu kejadian alamiah, melainkan satu keajaiban, tanpa seorang dokter ataupun seorang ahli dapat memberikan keterangan.
Oleh karena jenazah itu sudah agak hitam karena bereaksi dengan udara, berhubung sudah beberapa kali digali dan dikubur, maka wajah St. Bernadette dibalsam dengan berwarna sesuai dengan warna kulitnya dan akirnya diletakkan digelas kaca. Jenazah yang berada di Nevers situ bukan dari lilin seperti apa yang disiarkan di beberapa media, melainkan adalah jenazah asli Bernadette sendiri seperti yang saya saksikan sendiri ketika di biara St Gildard Nevers.
Empat puluh enam tahun sesudah meninggalnya, Paus Pius XI menyatakan Bernadette sebagai santa atau seorang suci pada tanggal 14 Juni 1925. Sejak 03 Agustus 1925 peti itu diletakkan di kapel St.Gildard, Nevers dan selama 3 hari berikutnya diadakan upacara Tridüm, kata dari bahasa Latin yang terjemahannya adalah “Masa tiga hari”. Tri = tiga Dum= Diem=Dies atau hari.
Kita sering mendengar kata-kata Dum anima est, spes est (Lt) = Where there is life there is hope (Eng) = Là où il ya la vie il ya de l’espoir (Fr) = Dove c’è vita c’è speranza (It) = Wo es Leben gibt es Hoffnung (Ger) = Donde hay vida hay esperanza (Sp)= Waar er leven is, is er hoop (NL) = Dimana ada kehidupan di situ juga ada harapan.
Air mandi di Lourdes juga sampai sekarang merupakan suatu keajaiban, karena meskipun ratusan orang yang harian masuk kolam air mandi semacam bathup, sampai sekarang belum pernah ada orang yang sakit atau ketularan penyakit. Juga belum pernah terjadi epidemi sampai sekarang ini.
Tentu saja air ini juga di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan dari pemerintah Perancis dan dua kali sehari air dikolam ini diganti . Perlu saya tambahkan air ini setiap hari diganti diambil dari sumber yang pada awal mulanya digali oleh Bernadette dan mengeluarkan air berlumpur, yang kemudian sangat jernih sekali dan masih tetap menyumber sampai detik ini, tanpa pernah ditangani oleh manusia dengan pelbagai alat modern sekalipun. Hal ini mungkin dikarenakan ada hubungannya dengan perintah yang pernah diberikan oleh Bunda Maria pada Bernadette pada penampakan ke 9: ” Minumlah dari sumber itu dan cucilah dirimu”.
Kata-kata yang pernah diucapkan oleh Bernadette : ” Orang yang miskin adalah teman dari Tuhan. Semoga saja sanak saudaraku tidak ada yang kaya harta”
Kata-kata ini diucapkan oleh Bernadette ketika dia memasuki biara Sint Gildard di Nevers, 800 km di sebelah utara Lourdes dan ditanya apakah dia tidak merasa kehilangan Lourdes?
Dia menjawab: “Perawan suci (= Maria) telah mempergunakanku sebagai sapu. Apakah yang kita perbuat dengan sapu sesudah kita selesai mempergunakannya? Bukankah harus disimpan dibelakang pintu? Begitupun juga denganku, karena tugasku di Lourdes sudah selesai”.
Sejak itu dia tidak pernah kembali ke Lourdes lagi sampai meninggalnya.
Lourdes, a place to be, tidak saja karena begitu mengesankan dan mengharukan, tetapi juga dikelilingi oleh pemandangan yang begitu indah sekali, terutama Cirque de Gavarnie yang sangat terkenal sekali, dimana juga menjadi rute yang dilewati oleh balapan sepeda tahunan di bulan Juli Tour de France dan di musim dingin merupakan tempat untuk ski.
Chapelle Espace Bernadette Soubirous-Nevers.
http://www.sainte-bernadette-nevers.com
34 rue Saint-Gildard F-58000 Nevers
Tel : 03 86 71 99 50 Fax : 03 86 71 99 51

Traduit et compilé par Mr.rdlt Dcn
Littérature: Histoire de la vie de Ste Bernadette.
Lourdes – un lieu d’inspiration et de vie spirituelle
Sur le chemin de Lourdes
May 31st, 2012 at 15:05
Linda Cheang Says: May 31st, 2012 at 09:12
Mpek Doel, kirimi kartu posnya dong, untukku
Selamat pagi kepada teman2 di Eropa dan selamat siang untuk di Asia.
Lha ini namanya membuat orang bingung. Minta dikirimi kartu, tetapi alamat nya nggak dikasih? Kalau di kirim lewat e-mail itu namanya bukan kartu lagi, tetapi kirim gambaran.
May 31st, 2012 at 13:58
MPEK DUL : tdk bs dipungkiri semuanya indah…..pemandangannya…..critanya yg super duper lengkap…….yg utama adl keajaiban dgn penampakkan bunda Maria…….
hayuuuuuuuuk……tarik lagi, lanjoooooot jalan2nya
May 31st, 2012 at 13:14
Sorry, St. Bernadette mksdnya……
May 31st, 2012 at 13:04
Mpek Dul…..
Terimakkasih untuk cerita / informasi yang begitu lengkap dan bagus….
Walau kami belum pernah keksana, tapi dengan cerita ini, benar-benar sangat terkesan.
Dan, kata-kata ini sangat meyakinkan….
**** Kata-kata yang pernah diucapkan oleh Bernadette : ” Orang yang miskin adalah teman dari Tuhan. Semoga saja sanak saudaraku tidak ada yang kaya harta” ****
Dj. baca kata-kata ini sampai mbrambang…!!!
Dan keajaiban-keajaiban itu adalah kuasa TUHAN yang melebihi akal manusia….!!!
Jelas, karena hanya TUHAN lah yang membikin otak manusia, masakan akan lebih pinter dari yang membikinnya.
Salam Kasih dalam nama TUHAN JESUS KRISTUS…!!!
May 31st, 2012 at 13:01
Pertama sy membc kisah Bernadette dahulu sekali, sy kagum sekali.
May 31st, 2012 at 12:58
Tuhan pasti tidak merelahkan tubuh org-org baik di makan atau hancur oleh alam. cerita yg sangat menginspirasi. terima kasih
May 31st, 2012 at 10:19
Berdiri di depan St Bernadette, menatap wajah lembutnya dibalik kaca, damainya meresap sampai ke hati.Puji Tuhan pernah dikasih kesempatan ke sini. Ingin pergi lagi…
May 31st, 2012 at 10:12
Mpek Doel, travelling ala backpacker yaak? xixixii..
Loh kok photo avatarnya Om Jos Cluni ? yeaay..
Terimakasih sudah bercerita dan berbagi photo di artikel ini..gambarnya indah, ceritanya enak dibaca.
Di tunggu artikel selanjutnya.
May 31st, 2012 at 09:46
Lourdes… Luar biasa indahnya
May 31st, 2012 at 09:12
Mpek Doel, kirimi kartu posnya dong, untukku!
