Membumikan Masa Lalu Melalui Museum

Djenar Lonthang Sumirang

 

” Setinggi-tinggi Ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat ”

HOS Tjokroaminoto

 

A. Menimbang Dimensi “Atas Perut”

Paradigma pembangunan pada masa Orde Baru yang sangat menekankan pertumbuhan ekonomi menyebabkan pola pikir pragmatis tumbuh subur di tengah masyarakat. Akibatnya, penghargaan terhadap ilmu humaniora pun memudar. Ilmu teknik dan ekonomi yang kapitalistik lebih mendapat tempat di hati orang Indonesia, ketimbang Ilmu Sejarah. Gelar seperti Ir atau SE dinilai jauh lebih bergengsi daripada SS, misalnya. Bila boleh berpendapat, hampir semua kegagalan atau rendahnya kinerja elemen bangsa disebabkan oleh adanya berbagai sikap arogansi. Misalnya arogansi kekuasaan, arogansi lembaga, arogansi ilmu, arogansi disiplin, arogansi agama, arogansi etnis, dan lainnya. Maka pantaslah bahwa masa kini disebut sebagai era arogansi. Padahal semua orang yang benar terdidik dapat memahami bahwa semua kerja dan kinerja manusia yang menyangkut orang banyak hanya akan berhasil bila semua potensi yang ada di segala bidang dan sektor kerja sempat dan disempatkan untuk bersinergi secara terpadu.

B. Maaf, Penyakit Itu Bernama Sejarah

Apakah yang terlintas di benak kita setiap mendengar kata sejarah? Umumnya orang kerap menghubungkan kata sejarah dengan suatu ingatan kejadian, tanggal, dan nama orang-orang. Sementara yang lain menghubungkan dengan sesuatu yang “antik” dan usang. Ada pula yang menghubungkan dengan sesuatu yang membosankan, sesuatu yang tidak hidup, dan kepingan suatu peninggalan.

Tentu saja, ada yang memandang sejarah dengan sudut pandang lain. Mereka mempertimbangkan sejarah sebagai sesuatu yang patut dihargai. Lalu di tanah air? Ironisnya, masa lampau, atau kebudayaan masa lampau, sama sekali tidak menarik perhatian kita. Sejarah tidak mampu bicara apa-apa sekarang ini. Semua produk seni nenek moyang ratusan ribu tahun yang lalu tidak pernah menggerakkan rasa haru kita, sehingga dengan demikian tidak sayang jika harta budaya itu hilang begitu saja ditelan waktu. Kita tidak pernah merasa peduli atau khawatir terhadap buku-buku kuno yang dimakan serangga; anak-anak tidak bisa main petak-umpet dan tidak bisa lagi dolanan tradisional kecuali “game-game“-an koboi-koboian. Kita tidak pernah prihatin kalau dalang wayang  jemblungsudah mulai beranjak tua menjadi aki-aki. Kita tidak pernah cemas kalau sebuah bangunan bernilai historis diruntuhkan atau dibiarkan runtuh.

Kita selalu beranggapan segala yang telah lampau biarlah berlalu bersama bergulirnya waktu, berdebu, mati, dan hanya patut dikuburkan tanpa tanda-tanda. Kita barangkali lupa atau tidak mau belajar dari pengalaman negara-negara Barat yang kini telah arif dalam memperlakukan sejarah. Mungkin banyak di antara kita yang terheran-heran mengetahui mengapa rakyat Amerika, misalnya, tak bosan-bosan mengunjungi gubuk Lincoln, mengunjungi bekas-bekas medan pertempuran Gettysburg, atau melihat rumah dan tulisan tangan penyair Emily Dickinson. Mengapa pula orang-orang Prancis berduyun-duyun tiap liburan mengunjungi rumah-rumah di mana Napoleon pernah hidup. Mengapa orang-orang Inggris memelihara baik bekas rumah Shakespere, rumah Dickens. Dan pula mengapa orang-orang Jerman selalu mengunjungi bekas rumah yang ditinggali Goethe atau Beethoven. Kita patut bertanya mengapa orang-orang dari bangsa-bangsa besar ini menjunjung tinggi terhadap sejarah dan kebudayaan-kebudayaan masa lampau.

 

C. Museum dan Membumikan Sejarah

Suatu malam, saya terlibat perbincangan hangat dengan seorang wanita, seorang praktisi perhotelan. Waktu itu kami berbincang mengenai hotel yang “menjual” arsitektur dan nuansa kolonial yang tak lain dan tak bukan adalah Hotel Phoenix di Yogyakarta. Bekas bangunan tua yang dibangun pada tahun 1918 ini bahkan mampu meraih penghargaan “Heritage Award” dari Yayasan Warisan Budaya, September 1997. Kawan saya ini mengatakan bahwa mungkin hotel kami tidak menarik bagi tamu-tamu domestik namun tamu-tamu asing memandang citarasa paduan gaya art noveauart deco dan indisch landhuis yang melekat dengan elegan di bangunan tua ini menjadi daya tarik yang membuat mereka selalu ingin kembali ke Hotel Phoenix.

Kawan saya ini menjelaskan untuk menghidupkan suasana, Hotel Phoenix juga mencoba menambahkan sejumlah barang-barang antik, semisal piano kuno dan foto-foto Yogyakarta jadul. Tak hanya itu, Hotel Phoenix juga sering menggelar kegiatan seni, mulai dari pameran lukisan, patung, foto, hingga musik klasik dan pementasan drama. Lalu kemarin, terpetik kabar bahwa terminal bis Tirtonadi Solo akan direnovasi menjadi empat lantai, dan yang menarik bahwa desainnnya akan memadukan gaya arsitektur Jawa-Kolonial.[1] Kedua contoh diatas adalah contoh kecil bagaimana usaha cerdas memandang sebuah warisan kolonial akan dapat bernilai ekonomis apabila dirawat dan difungsikan dengan baik.

Pada tulisan ini sebenarnya hendak memberi masukan kepada segenap civitas akademika di Universitas Diponegoro-Semarang bahwa ada satu hal yang terlupa atau tercecer dalam usahanya menuju sebuah universitas riset, hal yang terlupa adalah mengembangkan sisi Humaniora. Salah satu wujud yang mungkin adalah mendirikan sebuah museum, sebuah museum universitas. Keberadaan museum ini akan membuat UNDIP tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Jika mendengar kata “mendirikan” atau “membangun”, maka pemikiran kita akan langsung tertuju pada bangunan baru, namun UNDIP sudah memiliki aset berupa gedung bernilai historis yang terbengkalai, yaitu Eks Gedung Fakultas Sastra yang berada di Jalan Hayamwuruk, wilayah kampus lama Pleburan-Semarang. Gedung inilah yang menurut saya representatif untuk dijadikan sebuah museum.

Mungkin, akan ada yang berpendapat bahwa pemikiran ini adalah ngayawara, pola pikir megalomaniadan omong kosong berbuih, namun jika kita mau berpikir lebih jauh akan bernilai sebaliknya.

Tentu saja menjadikan Gedung Eks Fakultas Sastra-UNDIP menjadi sebuah museum tidak dilakukan dengan grusa-grusu dan asal jadi namun melalui riset nyata dan komprehensif supaya bakal museum ini lumintu pada masa yang akan datang. Ada beberapa tahapan yang perlu dilalui seperti:[2]

  1. Tahap Perencanaan, meliputi konsolidasi dengan para ahli, identifikasi bangunan bangunan bakal museum, penentuan jenis museum, dan uji coba kecil/pameran kecil;
  2. Tahap Persiapan, meliputi kerjasama sponsor untuk menekan cost, publikasi, mencari kurator museum;
  3. Tahap Promosi, meliputi menyusun materi promosi, jalin hubungan dengan media;
  4. Tahap Eksekusi, meliputi pagelaran event tetap.

 

D. UNDIP-Museum Universitas-Sisi Humaniora

Gedung Eks Fakultas Sastra-Undip ini  menurut pandangan saya sangat cocok untuk dikelola sebagai sebuah museum universitas. Dari segi bangunan sendiri, sudah memiliki kekuatan tersendiri, lalu dari daya dukung budaya intelektual sebagai sebuah universitas. Sebagai sebuah langkah awal, adalah tahap konsolidasi dengan para ahli mengenai museum universitas, lalu meng-agendakan pre event dan melakukan beberapa even awal sebagai upaya trial and error. Kemudian masuk ke tahap perencanaan, disinilah diperlukan pihak ketiga atau sponsor untuk mengurangi beban keuangan lalu menunjuk kurator. Tahap ketiga adalah promosi, dalam hal pengelolaan isu bahwa Gedung Eks Fakultas Sastra-UNDIP sebagai museum universitas terus gencar dilakukan, hal ini diharapkan menjadi sebuah bola salju yang yang tepat sasaran dan efektif. Pembangunan kembali Gedung Eks Fakultas Sastra-UNDIP sebagai museum universitas pada akhirnya memiliki output berupa nilai keuntungan baik yang dapat dinikmati, civitas akademika, masyarakat, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya.

Sebagai penutup, bahwa konsep pengembangan Gedung Eks Fakultas Sastra-UNDIP sebagai sebuah museum universitas tidak boleh tercerabut dari realitas sosialnya. Perencanaan dan perancangan yang bersifat partisipatif menurut saya mutlak diperlukan. Civitas akademika dan masyarakat sebagai penikmat, civitas akademika dan masyarakat sebagai wisatawan, civitas akademika sebagai pelaku, civitas akademika dan masyarakat sebagai pilar daya hidup sebuah museum universitas, tidak boleh dikesampingkan.

 

[email protected]@@+++++++++++++++

Antara Gang Dolly dan Jalan Jarak Surabaya, 16 Mei 2012, 23.26.

 

 

Catatan kaki:

[1] “Berlantai Empat, Padukan Arsitektur Jawa-Kolonial”. Jawa Pos, Selasa 15 Mei 2012.

[2] Aryono, “BENEFIT VALUE OF CONSERVATION FOR REDEVELOPMENT OF THE FORT WILLEM II IN SEMARANG REGENCY”. Makalah dipresentasikan pada Seminar internasional Urban Heritage: Its Contribution to the Present. 30 Maret 2011 yang diselenggarakan Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

 

10 Comments to "Membumikan Masa Lalu Melalui Museum"

  1. DLS  2 June, 2012 at 16:01

    wilujeng kawan2. Museum selalu nampak sepi, kosong, karena ada faktor eksternal dan internal, fak einternal diantaranya (koleksi museum yg stag, tidak ada sistem pinjam-pamer antar museum, atraksi yg kurang) dan faktor eksternal seperti keengganan untuk berkunjung ke museum, kurang greget dalam memandang hasil masa lalu dalam display museum. Saya sepakat untuk mem-Pop kan kunjungan ke museum.

  2. Adhe  2 June, 2012 at 15:39

    mengunjungi museum di Negeri ini walau koleksi benda2 antiknya banyak tapi sisi pemeliharaannya yg kedodoran, walau tiket masuk ke museum sangat murah tetapi tetap saja peminatnya tidak banyak, museum ramai jika ada pihak sekolah yg mengharuskan para siswanya mengunjungi museum utk membuat tugas sekolah, selain itu budaya orang tua untuk mengajak anaknya jjs ke museum juga tidak sebesar semangat jjs ke mall. Museum2 yg dikelola pemerintah banyak terkesan suram dan berdebu, saya suka mengunjungi museum2 yg dikelola oleh pihak pemda, dalam hati suka sedih, berapa sih dana yg dianggarkan oleh pemda utk memelihara suatu museum? seringnya saya malah batuk2 karena melihat tumpukan debu pada benda2 koleksi museum, menyedihkan…… tetapi saya tetap optimis, kedepan budaya mengunjungi museum akan meningkat sejalan dg pola pikir para orang tua untuk mengajarkan nilai2 luhur nenek moyang bangsa ini melalui catatan sejarah dalam museum, tabik. Trims Djenar atas artikelnya.

  3. Bagong Julianto  2 June, 2012 at 13:20

    Djenar LS>>>

    Museum selain dibumikan, juga harus dipopkan…. bagaimanapun cara dan bentuknya!
    Beberapa kali semasa liburan sekolah, ngajak anak dan keponakan ke museum, jarang terserobok dengan banyak anak-anak lain…. Museum selalu jadi tempat sunyi! Walau masa liburan!
    Mengapa?

    Suwunnn…

  4. Itsmi  1 June, 2012 at 22:02

    JC, Museum Sampoerna ini dari perusahaan besar dan mereka pakai museum ini sebagai presentasi perusahaan mereka…. jadi budgetnya besar….

  5. Itsmi  1 June, 2012 at 22:00

    JC, Museum Sampoerna ini dari perusahaan besar dan mereka pakai museum ini sebagai presentasi perusahaan…. jadi budgetnya besar….

  6. Linda Cheang  1 June, 2012 at 14:31

    ya, begitulah…

  7. Chadra Sasadara  1 June, 2012 at 10:52

    tentu saja tidak bisa mengatakan “bahwa swasta lebih baik dari negeri” tapi memang susah klo kenyataanya swasta memang lebih baik..hehehe

  8. [email protected]  1 June, 2012 at 10:47

    Masa lalu harus ditutupi supaya saya bisa berkuasa…..

  9. J C  1 June, 2012 at 10:14

    Di Indonesia kesadaran akan pentingnya keberadaan museum dan mengunjungi museum masih jauh dari harapan. Walaupun koleksi museum di Indonesia sebenarnya cukup lumayan, tapi namanya yang mengelola PEMERINTAH/NEGARA yaaahhh gitu lah. Coba bandingkan dengan museum yang dikelola swasta…jauuuuhhh banget bedanya. Museum Sampoerna salah satu contohnya…LUAR BIASAAAAAA….dan GRATIS lagi…

  10. Handoko Widagdo  1 June, 2012 at 10:01

    Masa lalu untuk dikenang dan untuk landasan bagi masa depan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.