Selubung Hitam Konspirasi (3): Eksekusi

Masopu

 

Seperti yang telah dibicarakan dengan Joni 2 hari yang lalu, hari ini Arya berangkat menuju ke kota Mojokerto. Dengan mengendarai bus umum dia berangkat ke sana. Selang sekitar satu jam dia sudah sampai di tempat tujuan. Berjalan kaki Arya menuju ke tempat yang mereka bicarakan. Waktu masih kurang 1 jam dari jadwal yang telah dijanjikan Joni. Arya memutuskan mencari warung kopi untuk tempatnya menunggu waktu. Setelah berjalan beberapa saat akhirnya dia menemukan warung kopi yang terletak di dekat alun-alun untuk melepas lelah sambil menunggu Joni.

Tak lama kemudian lelaki penjual kopi itu menyajikan kopi pesanan Arya tadi. Sambil menikmati kopi yang ada di depannya, Arya asyik berbincang dengan pemilik warung yang kebetulan berasal dari daerah asal istrinya, Anee. Saking asyiknya obrolan dengan pemilik warung tersebut, Arya tidak begitu memperhatikan jika di sekitar warung tersebut telah bergerombol beberapa orang yang datang secara bergelombang dan berkelompok.

Entah dari mana datangnya mereka, kurang dari setengah jam sejak Arya duduk di warung tersebut, dalam radius 20 meter darinya tampak orang-orang yang datang bergerombol tadi asyik berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah sekitar 10-15 orang. Tak kurang ada sekitar 20-25 kelompok kecil di sana. Mereka membawa lembaran-lembaran kertas yang penuh dengan coretan dalam keadaan tergulung.

Arya terus saja asyik berbincang dengan pemilik warung tersebut. Sesekali bibirnya asyik mengunyah pisang goreng yang tersedia di sana. Di lain waktu tawa kecil berderai di antara mereka. Seakan-akan Arya terlupa jika saat itu dia ke Mojokerto untuk mencari  pekerjaan baru, setelah hampir 3 minggu dia menjadi pengangguran.

Keasyikan Arya berbincang dengan Arpan sang pemilik warung tersebut terhenti, saat bunyi nada dering tanda sms masuk terdengar dari Hpnya.

” Arya, maaf aku gak bisa menemuimu di kantor pemasaranku yang baru. Tiba-tiba bos di Jakarta memintaku untuk melakukan Audit di kantor Surabaya sekarang.” Bunyi sms dari nomor Hp Joni tersebut.

Segera Arya menutup sms yang baru diterimanya tersebut. Tangannya lincah menari mencari nomor HPnya Joni. Tak lama tangannya sudah  menempelkan Hp tersebut ke telinganya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya panggilannya tersambung.

” Halo, selamat siang Joni “

” Selamat siang Ar. Sory ya aku gak bisa menemuimu di kantor pemasaran yang baru buka tersebut. ” kata Joni meminta maaf.

“Gak apa-apa Jon. kamu lanjutkan saja tugasmu di sana. Aku cuma mau tanya kantormu yang sebelah mana?” tanya Arya.

” Ooo itu. Aku hampir lupa. Kantorku yang berada di dekat supermaket di depan alun-alun Ar. Bangunan bercat merah.”

” Bangunan bercat merah Jon? “tanya Arya dengan suara meninggi karena kaget.

” Iya Ar. kenapa? “

” Aku lagi ada di dekatnya sekarang. Di warung kopi di ujung jalan di depan  bangunan tersebut. “

” Di dekat bangunan bercat merah Ar?”

” Yang merah kan? “tanya Arya dengan nada meyakinkan.

Belum sempat Joni menjawab pertanyaan Arya tersebut, Berbarengan dengan kalimat tanya terakhir dari Arya untuk Joni  tersebut, terjadi pergerakan rombongan orang-orang yang tadi berkelompok dalam grup-grup kecil di sekitar warung. Mereka bergerak cepat menuju bangunan bercat merah di ujung jalan tersebut sambil berteriak-teriak seperti orang sedang berdemo. Tak lama rombongan yang tadi terpecah dalam kelompok-kelompok kecil tersebut telah menyatu dalam kelompok besar yang merangsek maju.

Arya terkejut dengan pergerakan tersebut. Tampak di seberang jalan bangunan bercat merah tersebut dijaga oleh sejumlah aparat kepolisian. Sejak tadi Arya tak sempat melihat jika gedung tersebut dijaga oleh aparat kepolisian. Arya baru menyadari kehadiran mereka saat melihat massa bergerak maju.

Semakin lama massa yang berkumpul semakin besar jumlahnya. Jika tadi massa hanya berkisar antara 150 – 200an orang, kini jumlahnya telah mencapai hampir seribu setelah pergerakan tersebut berlangsung hampir 15 menit. Suasana tampak semakin memanas, saat  beberapa orang dalam kerumunan tersebut mulai melemparkan benda-benda keras yang tak tahu dari mana asalnya. Mereka terus berteriak-teriak. Berbagai kata-kata hujatan dan bernada rasis meluncur dari bibir-bibir mereka.

Teriakan-teriakan yang sayup-sayup terdengar dari tempat duduk Arya bersahut-sahutan seperti membakar semangat orang-orang tersebut. Panas matahari yang serasa menusuk kulit tak lagi mereka rasakan. Yang ada hanyalah kata-kata kasar bersahutan yang semakin memanaskan suasana mengiringi lemparan benda-benda keras dan rangsekan maju orang-orang tersebut.

Tiba-tiba teriakan kepanikan muncul dari tengah-tengah massa. Botol-botol yang menyala beterbangan ke sisi-sisi gedung bercat merah tersebut. Sementara itu pergerakan massa semakin tidak teratur. Ayunan kayu dan teriakan mereka seakan berlomba menutupi kebisingan dari suara benda-benda yang beterbangan tersebut.

Petugas polisi yang dari tadi hanya berjaga di sekitar gedung, terdesak oleh rangsekan massa tersebut. Tak mau tinggal diam, komandan polisi yang sedang berjaga tersebut mencoba terus berdialog untuk menenangkan massa yang mulai beringas. Dialog berlangsung dengan cukup alot. Massa terus merangsek maju sambil memaki-maki orang-orang yang terjebak di dalam gedung tersebut. Sedang polisi yang lain sibuk bertahan sambil terus berkoordinasi dengan markas mereka untuk segera mengirimkan tenaga bantuan.

Arya tak tahu harus berbuat apa. Matanya terus mengawasi pergerakan massa tersebut dari depan warung tempat dia minum kopi. Sesekali tangannya yang bingung menggaruk-garuk rambut di kepalanya. Di lain waktu tampak tangannya menutupi mukanya.  Sementara pemilik warung buru-buru menutup warungnya.  Tanpa sepengetahuan Arya yang panik, segera setelah itu dia berlalu menjauh dari kerumunan massa tersebut. Sesekali tampak lemparan bom molotov kembali beterbangan dari tengah-tengah kerumunan massa tersebut menyasar bangunan merah dan bangunan di sekitarnya yang langsung membara terbakar.

Keadaan semakin lama semakin memanas. Saat iring-iringan tenaga bantuan dari markas kepolisian dan tentara datang, polisi yang tadi bertahan dari rangsekan massa mulai bergerak maju sambil menembakkan peluru karet dan juga gas air mata untuk memecah kerumunan massa. Massa tercerai berai sambil terus berusaha melemparkan batu dan kayu ke barisan polisi yang bergerak maju dengan teratur tersebut.

Puing-puing pot dan bebatuan berserakan di jalan raya. Beberapa mobil yang terjebak di tengah kerusuhan tersebut rusak parah. Beberapa mobil lainnya tampak hangus terbakar terkena lemparan bom Molotov. Sementara yang lain rusak parah terkena lemparan batu ataupun kayu. Tak terhitung pula mobil yang sengaja dibalikkan oleh massa.

Berangsur-angsur polisi mampu menguasai keadan yang telah berlangsung cukup lama tersebut. Tampak massa semakin terdesak mundur meninggalkan lokasi yang sempat memanas dengan meninggalkan batu, kayu dan pecahan kaca serta pot berserakan. Sementara beberapa gedung tampak mengalami kerusakan parah baik akibat lemparan batu maupun bom molotov yang dilemparkan dari kerumunan massa.

Arya yang tadi sempat kebingungan melihat kejadian yang begitu cepat, telah lama meninggalkan lokasi sesaat setelah polisi bantuan datang ke lokasi. Dengan berlari-lari dia terus menjauh dari lokasi kejadian. Saat dirasa sudah mencapai lokasi yang aman, Arya berhenti melihat situasi. Arya galau karena tak menyangka bahwa dia akan terjebak di dalam kerumunan kerusuhan tersebut.

Setelah sekian lama berlarian, akhirnya Arya sampai di tempat dimana tadi dia turun dari bus. Tapi dia bingung mau naik bus apa, karena ternyata di situ tidak ada bus yang berhenti. Bus yang biasa lewat situ telah dialihkan arusnya. Setelah bertanya pada seseorang yang ada di situ, akhirnya Arya memutuskan untuk naik ojek  menuju ke terminal yang berada di pinggiran kota. Saat ada bus yang berhenti, Arya Segera naik bus untuk pulang ke Surabaya. Tak dihiraukan lagi niatnya mencari pekerjaan. Yang terpenting baginya, dia cepat sampai rumah dan beristirahat. Tak lama bus pun bergerak menuju Surabaya.

 

+++++

Matahari telah tergelincir dari puncak tertingginya. Perlahan sinarnya semakin kuat menarik bayang-bayang ke arah timur dan makin lama Semakin memanjang. Anee tampak gelisah di rumahnya. Langkah kakinya tak beraturan lagi saat dia mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan lain di rumahnya yang asri.

Sudah sejak 3 jam terakhir ini tak henti-hentinya televisi dan radio terus-menerus mengupdate berita kerusuhan yang terjadi di Mojokerto, kota di mana suaminya tadi pagi berangkat untuk menemui seorang sahabat karibnya yang berjanji untuk membantunya masuk ke kantor cabang perusahaannya yang baru. Dan yang semakin mencemaskan Anee adalah fakta bahwa lokasi kerusuhan dengan alamat yang dituju oleh Arya berdekatan.

Dalam galau hatinya yang tiada tersiram kabar keberadaan suaminya, Anee terus berusaha mencari kabar. Dalam rentang waktu tertentu. dia tak henti berusaha untuk mencoba dan terus mencoba menghubungi nomor Hp suaminya tersebut. Tak terhitung sudah berapa kali Anee melakukan itu, namun hingga kini tak sekalipun ada sahutan dari seberang sana. Padahal dari suara nada sambungnya, bisa dipastikan kalau nomer hp suaminya masih aktif.

Sementara update berita di televisi dan radio sudah cukup menggambarkan bagaimana kacaunya kota yang tengah dilanda kerusuhan selama beberapa jam tersebut. Kerusuhan yang menurut pemberitaan media tersebut berawal dari sengketa bangunan tersebut telah menewaskan belasan orang, mencederai puluhan orang lainnya serta mengakibatkan rusaknya sejumlah bangunan di sekitar lokasi dan juga kendaraan. Hingga kini dampak kerusuhan yang hanya berlangsung beberapa jam tersebut telah menyebabkan kerugian yang belum bisa ditaksir.

Sementara di jalanan tampak puing-puing berserakan. Tentara dan polisi yang diperbantukan untuk menangani peristiwa tersebut telah datang dan memenuhi penjuru-penjuru kota. Tingkah mereka diselingi oleh lalu lalang mobil pemadam kebakaran yang datang untuk mencoba memadamkan sisa-sisa api yang masih terlihat di puing-puing bangunan yang terbakar. Kawat-kawat berduri tampak juga menghiasi jalanan. Beberapa aparat kemanan dengan teliti memeriksa identitas tiap orang yang melintas di sekitar lokasi. Sementara sorot kamera tak henti-hentinya menslide dampak kerusuhan tersebut.

Anee terus mondar-mandir tanpa tahu harus berbuat apa. Mau menghubungi suaminya, tapi tak pernah bisa terhubung. Mau menghubungi Joni sahabat karib suaminya tersebut, tapi dia tak pernah tahu nomor Hpnya. Mau mencari informasi kepada saudara ataupun kenalannya yang di kota tersebut pun, tak ada yang mau mengangkat teleponnya.

Ingin rasanya Anee untuk segera berangkat ke kota tersebut, tapi dia tak tahu harus ke mana mencari suaminya. Tak mungkin baginya untuk menuju ke alamat yang telah diceritakan oleh suaminya, karena di sana keadaannya masih kacau balau. Polisi terus memeriksa orang-orang yang ada di dekat lokasi. Mau berdiam diri di rumah sambil menunggu kabar berita tentang suaminya membuatnya tak bisa tenang dan terus tersaput kegalauan. Kegalauan yang semakin mebuatnya tersiksa.

Saat Anee masih diselimuti kegalauan hatinya tersebut, dia dikejutkan oleh deringan Hp yang berada dalam genggamannya. Keterkejutannya segera berganti dengan senyum bahagia yang mengembang saat nama suaminya terpampang di monitor Hp-nya. Degup jantungnya sedikit lebih tenang. Setelah menarik nafas, segera dia menjawab panggilan telepon tersebut.

” Halo assalamualaikum mas Arya “

” Waalaikum salam Anee. ” jawab suara suaminya di seberang sana.

” Bagimana kabar mas di sana? Apakah mas dalam keadaan baik-baik saja? Kapan nih balik ke rumah? Kenapa mas tidak menjawab teleponku tadi mas? ” berondongan pertanyaan segera terlepas dari bibir Anee, seperi aliran air yang baru dibuka dari tanggulnya.

” Satu-satu dong Anee tanyanya! Mas kan bingung jawabnya. “sergah Arya.

” Maaf mas, Anee masih galau karena mas gak ada kabar beritanya. Bagaimana keadaan mas sekarang? “

” Mas baik-baik saja Anee. Alhamdulillah mas tadi tidak mengalami suatu masalah apapun, meski mas syok banget melihat kerusuhan yang ada di depan mata.”

” Mas sampai syok? “

” Iya An. Saking syoknya mas sampai bingung harus berbuat apa. Mas hanya bisa melihat kerumunan orang yang berlarian ke sana ke mari sambil terus berkata kasar dan melemparkan apa saja yang ada di tangan dan terserak di jalanan. Bahkan mas sampai gak sadar jika warung tempat mas minum kopi telah ditutup dan ditinggal pergi pemiliknya. “

” Hah……. Tapi mas gak terluka kan ?” kata Anee terkaget-kaget.

” Alhamdulillah gak Anee. Mas tersadar, saat iring-iringan mobil bantuan dari kepolisian dan tentara melintas di depan mas berdiri. Saat itu juga mas segera berlari menjauh dari lokasi kerusuhan dan mencoba memperhatikannya dari jarak yang cukup aman An.” terang Arya.

” Terus kenapa mas gak angkat telepon Anee mas? “

” Maaf Anee, mas tadi gak mendengar adanya suara panggilan dari kamu. karena mas masih syok tadi. Lagian suara dering Hp mas kalah nyaring dibanding suara teriakan orang-orang An. ” terang Arya.

” Ehhmm gitu ya mas. terus mas sekarang ada di mana? “

” Aku sekarang sudah berada di atas bus An. Paling sebentar lagi aku sampai di terminal. Sudah ya mas tutup dulu. Nanti mas ceritakan lagi sesampainya mas di rumah. ” kata Arya mengakhiri pembicaraanya tersebut.

” Iya mas. hati-hati ya. “jawab Anee dengan wajah berseri-seri.

” Iya Anee. Wassalamualaikum “

” Waalaikum salam warrahmatullah wabarrakatu. “

Anee tersenyum bahagia. Segera dia melakukan sujud syukur atas berita yang di dengarnya. Meski suaminya tidak jadi mendapatkan pekerjaan, namun kabar keselamatan suaminya yang tidak kurang suatu apapun lebih berarti bagi Anee. Setelah melakukan sujud syukur, tak lupa Anee menengadahkan tangannya tanda syukurnya.

+++++

“ Tok…. Tok…..Tok “ Terdengar bunyi ketukan pintu tiga kali dengan suara yang agak kencang. Anee yang sore itu sedang berada di dapur rumahnya bergegas menuju ke arah pintu depan rumahnya. Matanya segera berbinar-binar saat melihat siapa yang berdiri di depan daun pintu rumahnya tersebut.

“ Assalamualaikum “

“ Waalaikum mas. Syukurlah mas pulang dalam keadaan sehat wal afiat tak kurang suatu apapun “ jawab Anee sambil memeluk sosok suami yang sempat membuatnya khawatir.

“ Alhamdulillah An, mas selamat. “ sahut Arya sambil menyeka keringat yang menghiasi wajah lusuhnya.

Setelah Anee melepaskan pelukannya, Arya segera melangkah menuju kursi di ruang tengah rumah mereka. Anee mengikuti di belakangnya. Begitu suaminya duduk, Anee bergegas mengambilkan segelas air putih yang segera diminum Arya sampai habis tiada bersisa.

Cukup lama mereka berdua terdiam menenangkan diri masing-masing. Arya mencoba mengatur nafasnya sedemikian rupa, hingga hatinya merasakan kedamaian  yang tadi sempat terampas akibat terjebak di dalam kerusuhan.

Sementara di sisi lain, Anee melakukan hal yang sama. Hatinya yang sempat galau kini berangsur-angsur menjadi lebih tenang. Semakin lama mereka semakin bisa menguasai diri dan pikirannya. Anee merasa bersyukur banget karena suaminya berhasil selamat dari kerusuhan tersebut.

Tak berapa lama setelah mereka mampu menguasai keadaan masing-masing, Arya memulai menceritakan bagaimana perjalanannya tadi. Perjalanan yang tadinya penuh dengan harapan akan terbukanya lembaran baru baginya, berubah menjadi petaka saat dirinya terjebak di tengah-tengah kerusuhan.

Anee yang mendengar cerita tersebut ikut merasakan kengerian dan kebingungan yang suaminya rasakan. Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama bagi suaminya terjebak di tengah-tengah kerusuhan berdarah seperti itu. Beruntung baginya Arya selamat dari kerusuhan tersebut.

Ketika Arya selesai menceritakan semuanya dengan detail dan urut, Anee hanya mengangguk-angguk mendengarkannya.

“ Mas tidak mencoba menghubungi Joni ?“ tanya Anee.

“ Aku hanya menghubunginya sesaat sebelum kerusuhan itu An. Mas bingung harus berbuat apa waktu terjebak di dalam kerusuhan tersebut.“ jawab Arya.

“ Sekarang coba mas hubungi Joni. Mas nanti ceritakan apa yang mas alami di sana mas, bagaimanapun dia harus tahu mas.“ lanjut Anee lagi.

“ Iya An. “ Jawab Arya seraya mengambil hp yang masih ditaruh di dalam tasnya. Beberapa kali dia mencoba menghubungi nomer hp-nya Joni, tapi tidak juga bisa terhubung dengan nomernya.

“ An aku gak bisa menghubungi nomernya. “

“ Berapa kali mas mencobanya? “

“ Sudah 3 kali An. “

“ Kalau begitu mas istirahat dulu saja ya. Nanti sekitar satu atau dua jam lagi mas coba telepon lagi dia. Siapa tahu nanti bisa dihubungi mas. Mungkin sekarang lagi dicharge atau apa gitu mas?” Saran Anee

“ Baik An. Mas mau mandi dulu ya.” Kata Arya.

Anee hanya mengangguk kepalanya saja. Ketika suaminya beranjak menuju kamar mandi, Anee kembali melanjutkan aktifitasnya di dapur.

 

++++++

Joni tersenyum puas melihat rencana yang dirancangnya bersama Beni berjalan sesuai skenario yang diinginkannya. Kurang dari 4 jam sejak kerusuhan pecah, Pemberitaan yang beredar di media cetak dan elektronik telah terfokus ke kasus kerusuhan tersebut. Awak media fokus menelisik berbagai hal yang bisa dikupas dari kejadian itu. Mulai dari dugaan bagaimana kerusuhan itu berawal, hal-hal pemicunya sampai dugaan-dugaan siapa dalang di balik semua itu tak lepas mereka kupas.

Kasus kerusuhan tersebut telah membuat mata awak media melupakan kasus besar lainnya yang sempat terendus hidung para pencari berita tersebut. Dalam sekejap kasus tersebut terlupakan oleh media, imbasnya pemberitaan tentang kasus tersebut jauh berkurang. Padahal beberapa hari sebelumnya, beberapa media cetak sedang sibuk melakukan investigasi kasus money laundry yang dilakukan oleh salah satu konglomerasi terbesar di negeri ini.

Joni tersenyum menikmati kemenangan yang diperolehnya dari kasus itu. Berkali-kali dia tersenyum saat melihat update berita di televisi dan juga media online yang terus berseliweran. Tak hanya berita saja yang semakin membuatnya tersenyum, berbagai bunyi status FB dan kicauan di twitter yang berisi keprihatinan atas kasus tersebut telah mengalihkan mata hampir seluruh warga dari kasus perusahaannya yang sempat tercium media.

Saat Joni tertawa-tawa menikmati keberhasilannya tersebut dengan ditemani sebotol wine kesukaannya, tiba-tiba HP-nya berdering. Segera Joni mengangkatnya.

” Selamat sore pak Rudi!” sapa Joni.

” Sore Jon. Selamat ya rencanamu berjalan dengan baik. “

“Hemmm ini kan berkat masukan bapak juga. Saya hanya melaksanakan keinginan dari bapak. “

” Kamu terlalu merendah Jon. Tak salah aku menjadikanmu sebagai salah satu orang kepercayaanku bersama Beni. Sekali lagi terima kasih ya “

” Sudah tugas saya pak sebagai anak buah bapak untuk melakukan tugas sebaik mungkin ” jawab Joni sambil melempar seulas senyum culas dari bibirnya yang menghitam terlalu banyak kena rokok.

” Hahahaha. Terus bagaimana langkah selanjutnya yang akan kamu lakukan saat ini Jon? ” tanya pak Rudi.

” Saya telah menyiapkan beberapa video rekayasa yang merekam gerak-gerik tokoh yang kita jadikan kambing hitam untuk kerusuhan itu pak. Besok siang video itu saya kirim ke beberapa media elektronik yang ada pak.  Media dimana anak buah kita telah bersiap untuk memberitakannya pak”

” Bagus Jon. Jangan lupa untuk sesegera mungkin membereskan skenariomu itu. Aku percayakan masalah itu ke kamu. Tentang kasus yang mulai diendus oleh media, saat ini Beni telah menanganinya dan dalam seminggu ke depan masalah itu akan teratasi. Sehingga saat berita kerusuhan itu sudah mulai surut, media sudah tidak lagi menemukan sumber berita yang memungkinkan mereka menyoroti kita. ” kata pak Rudi.

” Ok Pak. Anak buah saya sekarang sedang memanipulasi video dan foto-foto yang akan saya sebarkan ke awak media pak. “ jawab Joni seraya menjelaskan beberapa orang yang ditugaskannya untuk merekayasa foot dan video yang dibutuhkannya.

“ Bagus Jon.  Hati-hati dalam menangani semuanya Jon. Jangan tinggalkan kota tersebut sampai polisi sudah mulai menangani tokoh rekaanmu tersebut. Kawal terus masalah tersebut sampai masalah kita selesai setidaknya dalam waktu seminggu ini.”

Pak Rudi memberikan instruksi lanjutan.

” Iya Pak “

” Ok. Sekali lagi kerjakan dengan cepat dan cermat. Jangan sampai ada yang mengendus keterlibatan kita di kasus tersebut. Jika sampai terjadi, maka media akan kembali mengaitkan masalah yang kemarin dengan masalah ini. Camkan itu Jon.” kata pak Rudi dengan nada suara yang berat dan tegas.

” Iya Pak. “

” Kutunggu laporanmu tentang perkembangan kasus ini. “

” Iya Pak. “

” Ok. Lanjutkan pekerjaanmu sekarang. ” kata pak Rudi sambil menutup teleponnya.

 

++++++

Seperti yang telah diskenariokan sebelumnya. Tepat sehari setelah kerusuhan yang menggemparkan tersebut, Joni mengirimkan video terjadinya  kerusuhan tersebut. Video yang telah dimanipulasi agar sesuai keinginannya bersama Pak Rudi dikirimkannya ke dua stasiun televisi yang sering menyiarkan berita. Selain itu Joni juga mengirimkannya ke aparat kepolisian dan juga media cetak. Anak buahnya yang tersebar di beberapa media segera menelisik video dan foto-foto tersebut secara mendalam.

Dua video berdurasi sekitar 10 menit dan 5 menit tersebut banyak sekali menshoot wajah Arya  dari berbagai sudut. Tak hanya melalui video, Joni juga mengirimkan beberapa foto Arya di lokasi kerusuhan. Dengan bantuan anak buahnya dalam waktu yang singkat video dan foto-foto tersebut telah beredar luas di masyarkat dan awak media cetak maupun elektronik.

Tak lama setelah menerima video tersebut, pihak televisi segera menyiarkannya. Bak ombak yang bergulung-gulung, sejak penayangan video tersebut media elektronik dan cetak berlomba-lomba mengupas video tersebut dan juga foto-foto yang dikirim bersamanya. Dengan bantuan para pakar media cetak, media online dan juga media elektronik berlomba menafsirkan video tersebut lengkap dengan analisa-analisa yang tajam.

Dengan idiom “bad news is a good news” awak media berlomba-lomba memberitakan segala sisi dari video tersebut. Mencoba menelaah tokoh yang terus-menerus tampil dalam video dan foto kerusuhan itu. Beberapa orang pakar yang memang sengaja dibayar oleh Joni semakin membuat video tersebut seakan-akan suatu bukti aktual kerusuhan tersebut.

Media tidak menyadari jika sebenarnya pemberitaan mereka tersebut telah menjadi corong untuk menutupi suatu kasus kejahatan besar yang berada di balik kerusuhan tersebut. Tak henti-hentinya update berita tersebut berseliweran di berbagai media. Hampir semua media menyoroti hal itu dalam porsi yang cukup besar. Bahkan sebagian lagi sampai menyediakan segmen khusus untuk mengulasnya.

Polisi yang juga menerima kiriman video dan foto-foto tersebut juga tak kalah sigapnya. Mereka segera meneliti dan mencoba merangkainya menjadi sebuah kesimpulan. Ditambah dengan beberapa orang saksi di lapangan dan juga beberapa orang yang terlibat kerusuhan tersebut, makin kuat sudah dugaan keterlibatan Arya.

Kaki tangan Pak Rudi dan Joni yang tersebar di lokasi dan juga di dalam tubuh aparat kepolisian semakin mempermudah pekerjaan Joni untuk menggiring opini publik. Gencarnya pemberitaan tersebut membuat sebagian besar opini mengarah ke Arya sebagai provokator kasus tersebut.

Dalam dua video tersebut terlihat bagaimana massa yang telah terkonsentrasi di sekitar lokasi kejadian, tiba-tiba bergerak saat melihat Arya menggerakkan tangan kanannya yang menunjuk ke satu titik. Gerakan tangan Arya yang dibarengi dengan kata “ merah “ oleh beberapa pakar dianggap sebagai isyarat bagi massa untuk memulai penyerangan dengan target sesuai arah tangan Arya menunjuk.

Dengan senyum kemenangannya Joni menikmati setiap langkah dari skenarionya. Blow up kasus kerusuhan tersebut ditambah dengan kiriman video yang telah disiarkan oleh media semakin membuatnya senang. Masih dengan iringan senyum kemenangannya Joni mencoba menghubungi pak Rudi.

” Selamat sore pak Rudi “

” Sore Jon.Perkembangan apa yang ingin kamu laporkan hari ini Jon?” tanya pak Rudi.

” Kasus tersebut sesuai skenario yang kita rancang pak. Fokus media telah menjauh dari kita. Mungkin selama seminggu ini mereka akan terus fokus ke kerusuhan tersebut pak.” kata Joni dengan nada penuh keyakinan.

” Iya aku sudah bisa merasakannya Jon. Tapi kamu jangan puas dulu ya. Sebelum kasus kita dan kasus tersebut tuntas kamu jangan berpuas diri. Ingat ini hanya pengalihan fokus media. Kamu tentu tahu harus berbuat apa kan?” pak Rudi mengingatkan Joni tentang tugasnya.

” Iya Pak. Saya telah menyiapkan segala sesuatunya untuk terus memblow up kasus tersebut pak. Saya juga telah mengatur orang-orang kita agar bisa membangun opini lewat media pak. Selain itu kasus ini telah ditangani oleh orang-orang kepercayaan kita yang ada di tubuh kepolisian pak.” kata Joni lagi.

” Bagus Jon. Terus kamu jaga dan arahkan opini yang telah terbangun agar tidak melenceng.” tegas pak Rudi.

” Iya pak. “

” Bagus. Usahakan tanpa ada cacat yang bisa terendus. “

” Iya Pak. “

” Ok Jon aku ada meeting. Kamu handle semuanya.”kata pak Rudi mengakhiri sambungan telepon tersebut.

” Ok, Pak. Selamat sore. “

Setelah sambungan telepon ke pak Rudi ditutupnya, Joni segera menghubungi salah satu orang kepercayaannya di tubuh kepolisian. Begitu sambungan telepon tersambung, Joni segera menanyakan semuanya dengan detail. Sementara suara telepon di seberang menjawabnya dengan cukup lugas dan jelas. Joni hanya manggut-manggut saja menerima semua penjelasan tersebut.

Tak lama setelah itu sambungan telepon kembali ditutup oleh Joni. Senyumannya semakin mengembang menikmati semua kemenangannya di tahap awal rencananya tersebut. Dengan keberhasilannya ini, Joni tidak perlu lagi repot-repot menyiapkan rencana cadangannya.  Dia tinggal memfokuskan pikirannya ke rencana selanjutnya termasuk antisipasi jika kelanjutan rencana tersebut tidak sesuai dengan yang diinginkannya.

_ _ _

 

Masopu

 

10 Comments to "Selubung Hitam Konspirasi (3): Eksekusi"

  1. agung "Masopu"  7 June, 2012 at 05:44

    @ HW… ok. SIlahkah ditunggu ya
    @ JC….Karena politik ruwet dan mbundeli rak karoan, Aku pernah menolak ajakan gabung ke Pemuda underbow satu partai. Takut jadi mbulet juga. hehehehe
    @ Paspampres….. Amien. Untuk semoga cepat bisa aku kirimkna, minus endingnya, karena masih ada perubahan di ending ceritanya.
    @ Chandra Sasadara…… Terima kasih telah menikmati.
    @ Linda ….. Semoga tidak buat pusing ceritanya.
    @ Anoew…….. Ke ” polos” an yang membawa bencana, mungkin seperti kisah pak Rohmin dahuri yang polos dan jadi korban politik ya pak.
    @ Dewi aichi… makasih mbak
    @ kornelya…… ok mbak. makasih
    @ Kornelya….. asal tidak jadi slogan si biru ya mbak.

    All
    Maaf baru balas

    Regards

  2. Alvina VB  4 June, 2012 at 06:56

    Lanjoet….

  3. Kornelya  2 June, 2012 at 03:24

    Wow, fiksi tentang realita . Ditunggu sambungannya. Salam.

  4. Dewi Aichi  1 June, 2012 at 21:25

    Keren banget…aku suka alur ceritanya..

  5. anoew  1 June, 2012 at 20:45

    Serasa ikut berada di alam si tokoh Arya. Begitu hidup, begitu dekat. Dalam hal ini saya malah ‘membenci’ tokoh Arya yang, demikian lugu dan polos dalam bertindak. Trims atas bacaan indah ini.

  6. Linda Cheang  1 June, 2012 at 15:04

    makin sulit, deh.

  7. Chadra Sasadara  1 June, 2012 at 10:49

    sedang menikmati novel ni

  8. [email protected]  1 June, 2012 at 10:39

    Semoga lanjutannya segera…..

  9. J C  1 June, 2012 at 10:15

    Alur ceritanya LUAR BIASA!! Aku merasa bahwa yang diceritakan di sini tidak jauh berbeda dengan keadaan sebenarnya ruwet-mbundet’nya politik di negeri ini…

  10. Handoko Widagdo  1 June, 2012 at 10:11

    Ditunggu lanjutannya. Semoga sekain sulit ditebak.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.