Haris Purnomo dan Gagasan ‘Roemah 9A’

Ana Mustamin

LAMA tak bertegur sapa, tak melihatnya melukis , serta mengunjungi pamerannya; tiba-tiba Mas Haris berkabar, ingin ketemu. Pesannya disampaikan melalui suami saya. “Kapan?” tanya saya. “Terserah. Kapan punya waktu?” suami saya bertanya balik via BBM. Saya putuskan saja: ntar sore, usai jam kantor! Mumpung saya belum terjebak dinas ke luar kota.

Selewat pukul 19.00, Jumat 4 Mei lalu, kami akhirnya memang ketemu. Dari kejauhan, saya udah menangkap sosoknya: duduk menghadap ke jalan, di sebuah tempat nongkrong beraroma Bandung yang letaknya hanya selemparan batu dari rumah saya: kafe Cisangkuy, Kota Wisata, Cibubur. Semeja dengan Mas Haris, ada teman-temannya sesama seniman: Mas Umbu Tangela, Mas Hendro Pratiknyo, Mas Dirman Saputra, dan…ehm…mantan pacar saya, pasti.

 

Where is My Baby?

Ada dua hal yang membuat saya antusias ketemu dengan Mas Haris – lengkapnya Haris Purnomo. Pertama, tentu karena karya rupa. Dan yang kedua, tentang sebuah gagasan yang akan saya ceritakan belakangan.

Yang pertama dulu:  ihwal karya rupa, lukisan. Tak cuma saya yang makin sulit mengunjungi pamerannya, pasti. Tapi juga sejumlah penikmat yang diam-diam mungkin mengangumi lukisan Mas Haris. Apa pasal? Sederhana saja: pamerannya kini lebih banyak berlangsung di mancanegara, di galeri-galeri dan pameran akbar yang digelar di sejumlah tempat-tempat tersohor. Lukisannya yang sangat khas – bayi  bertato dan/atau dibedong – termasuk banyak diincar kolektor, diburu di balai lelang – termasuk Christie’s, dengan harga yang mengundang decak kagum.

Haris Purnomo kini memang bukan Haris Purnomo yang saya kenal pertama kali dulu. Namanya saat ini melambung menyalip sejumlah perupa terkemuka Indonesia. Beberapa tahun belakangan, seperti yang dikisahkan suami saya, karyanya melanglang buana, mengisi sejumlah pameran di  Hong Kong, New York, Zurich, Milan, hingga Praha. Di tahun 2007, Haris Purnomo bahkan tercatat menerima penghargaan seni: The Schoeni Public Vote Prize, Sovereign Asian Art Award, Hongkong.

Dari sejumlah kisah yang dituturkan sepotong-sepotong oleh suami saya (urusan bercerita, suami saya emang tergolong hemat kata – meski saya tahu ia ikut senang pada pencapaian karibnya itu), bagian paling menarik tentang Mas Haris buat saya adalah saat ia harus ‘perform’ di pembukaan Miami Biennalle. Di depan pengunjung, dia konon menggambar dengan hanya menggunakan kapur tulis. Pengunjung mengira itu bagian performa yang diagendakan panitia.  Padahal, faktanya, sesuatu yang fatal tengah terjadi: lukisan yang seharusnya dipamerkan di seni akbar itu tak kunjung tiba dari Jakarta! Perusahaan ekspedisi yang dipercaya mengangkut, entah kenapa, tak memenuhi komitmen jadwal yang ditentukan.

Alhasil, booth Haris Purnomo kosong melompong saat pameran dibuka. Di situ, ia hanya memamerkan tulisan, “Where is My Baby, DHL Lost My Paintings?”

Meski mungkin pahit, namun pengalaman itu ada hikmahnya. Bukan sekadar memanen simpati pengunjung – termasuk Gloria Estefan dan Enrico Iglesias yang sengaja datang, tapi Haris Purnomo juga ketiban undangan berharga: pameran di Museum Coca di Seattle!

 

Merintis Kantung Budaya

Nah, sekarang ihwal kedua.

Aha, Mas Haris diam-diam menggagas projek idealis. Rumah sekaligus studio lukisnya yang besar dan lapang di kawasan Cibubur akan disulap menjadi kantung budaya. Bangunan yang dikenal sahabat-sahabatnya dengan nama “roemah 9a” itu akan menjadi tempat berekpressi, diharapkan menjadi panggung dan ladang subur bagi tumbuhnya ide-ide baru, ‘gila’, eksperimental, dan jika memungkinkan bukan mainstream. Rumah itu diimpikannya menjadi tempat yang terbuka bagi siapa saja yang ingin berdiskusi dan mengolah gagasan di bidang kesenian dan kebudayaan.

Gagasan ini sontak mengingatkan saya pada perjumpaan dengan sutradara kondang, Riri Riza, tahun lalu. Seperti Riri yang mewujudkan pendirian Rumata’ ArtSpace di Makassar sejak tahun lalu; kini Haris Purnomo pun menggagas idealisme serupa. Sebagai pecinta seni, tentu saja, gagasan itu membuat harapan saya bungah. Bukankah makin banyak kantong budaya, makin banyak peristiwa budaya? Diskusi tentang kesenian, tentu jauh lebih menyenangkan ketimbang membincangkan masyarakat dari negeri yang belakangan ini banyak diberitakan bertikai…

“Roemah 9a” menurut Mas Hendro yang mendampingi, diharapkan menjadi batu loncatan bagi para seniman (debutan), baik individu maupun kelompok, untuk menjalani proses berkeseniannya. “Dan meski sama-sama kantung budaya, kami sangat ingin di rumah itu muncul cara ungkap/ekspressi yang berbeda dengan tempat dan kantung budaya lainnya,” paparnya.

Untuk mewujudkan gagasannya, Haris Purnomo dan kawan-kawan mulai bergerilya mencari para seniman dari berbagai cabang dan genre seni. “Roemah 9a” memungkinkan terjadinya persinggungan atau kolaborasi antar atau lintas kesenian. Bahkan, dari sisi hiburan, dia ingin tetap mengedepankan hal yang bersifat apresiatif. “Kita sangat berharap bahwa tampilan ekspressi dari atau hasil suatu proses berkarya timbul dari subjeknya, dan bukan sebagai objek dari ekspressi seorang atau sekelompok orang,” katanya.

Nah, tertarik untuk terlibat dan memaknai “roemah 9a”? Gak perlu jadi orang hebat dan populer dulu untuk bisa berekpresi di sini…. ***

 

10 Comments to "Haris Purnomo dan Gagasan ‘Roemah 9A’"

  1. Yogi Andika Hendraliza  3 January, 2018 at 10:35

    Saya Yogi Andika H.
    Dari Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.
    Kami berencana membawa rombongan berkunjung ke roemah 9a awal minggu kedua Februari 2018 ini. Bgmn caranya?
    Saya mohon info lebih lanjut.
    Telpn/WA saya;
    0853 52 646484

  2. jayabudayanusa  7 October, 2012 at 19:24

    kalau dibuka untuk penikmat seni dari berbagai kalangan kok gerbangnya rapet ? kesanya lux banget(h..h..)

  3. Gypsy Queen  7 June, 2012 at 15:43

    Bangga karena Indonesia memiliki salah satu seniman yang patut dibangkakan. Semoga sukses dalam berkarya dan berkolaborasi dengan generasi penerus agar Indonesia yang kaya dengan bermacam seni budaya tetap terjaga dan berkembang serta dapat bersaing di dunia Internasional…

  4. ana mustamin  7 June, 2012 at 14:20

    @james: terima kasih.
    @bagong: ya, begitulah. pengunjung pameran memang mengira seperti itu…
    @DJ: yang rambutnya panjang, mas haris. …dan yang jelas, yang paling cantik itu saya, mas… karena cewek satu-satunya. hehehe…
    @handoko: ya, upaya-upaya “memanusiakan manusia” harus terus didukung…
    @dewi: mbak dewi kapan ke jakarta? kabari ya…

  5. Dewi Aichi  4 June, 2012 at 22:24

    Bukan sekadar memanen simpati pengunjung – termasuk Gloria Estefan dan Enrico Iglesias yang sengaja datang, tapi Haris Purnomo juga ketiban undangan berharga: pameran di Museum Coca di Seattle!

    Hebat, benar benar aku berharap, apakah antonio Blanco di kenal di luar Indonesia? Sepertinya hanya dikenal di Indonesia saja ya…

  6. Dewi Aichi  3 June, 2012 at 04:21

    Teman mba Ana TOP..keren…lukisannya seperti nyata, seperti foto, tidak heran jika bisa berpartisipasi di ajang internasional…..

    Deket Cibubur? Wah…nanti sempat-sempatin ahhh…

  7. Handoko Widagdo  2 June, 2012 at 16:55

    Terima kasih untuk sharenya AM. Idealisme semacam ini sangat dibutuhkan bagi Indonesia yang lagi kena kanker.

  8. Dj.  2 June, 2012 at 15:55

    Mbak Ana…
    Terimakasih….
    Jadi tau ada ” Roemah 9A “, siapa tau satu saat bisa berkunjung.
    Hanya sayang tidakk ada informasi, siapa-siapa yang ada dalan photo.
    Karena baik mas Haris atau yang lainnya, belum ada yang kenal…
    Terimakasih dan salam,

  9. Bagong Julianto  2 June, 2012 at 13:46

    Ana M>>>

    Kancah kreativitas seniman memang selalu mengundang decak kagum…
    Itu booth yang kosong (=tragedi), oleh sang seniman ternyata manjadi sajian seni instalasi (?!)…
    Salut!

    Suwunnn…

  10. James  2 June, 2012 at 13:03

    SATOE …Roemah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.