Teruntuk Wanita-wanita Hebat 5.2

Yang Mulia Enief Adhara

 

Akhirnya aku mudik juga, walau berat meninggalkan Dago Pakar namun hatiku tetap gembira, aku dapat kembali berjumpa Nenek, Mbak Wiwin dan Bu Lily. Aku rindu rumah Nenek, aku rindu semak melati di pojok halaman yang tumbuh subur dan selalu menyuguhkan bunga-bunga putihnya nan harum, aku rindu duduk di tepi pusara Ibu sambil mengirimkan do’a, aku rindu Jogjakarta.

Nenek menyambutku dengan airmata haru, di meja telah terhidang sarapan. Lalu ada 3 stoples antik dari beling yang berisi bapia, geplak aneka warna dan yangko yang juga berwarna warni , jajanan khas daerahku yang aku nyaris lupa rasanya. Lama sekali aku sudah tidak lagi menikmatinya.

Rumah Nenek terlihat rapi, ku masuki kamar tidurku, oh aku rindu sekali. Sebuah tempat tidur besi dengan kelambu warna putih, kasur kapuk beralas sprei batik, meja rias antik jaman Nenek-ku belia, lemari pakaian dengan kaca oval di pintunya khas gaya 60an, sungguh nuansa masa lampau yang tak ingin ku lupakan. Kubuka dua bingkai jendela dengan panel kayu dan krepyak, hmm segarnya. Di kasurku nampak bertumpuk beberapa belas boneka yang kubawa dari Hongkong, lalu di rak kayu juga terdapat radio tape dan beberapa keping CD lagu-lagu favoritku. Semua yang ada di kamar ini seolah dapat membawaku menjelajahi lorong waktu untuk mengenang orang-orang terkasih.

Ku rebahkan tubuhku di ranjang, lelah sekali tubuhku. Dan aku terlelap begitu saja. Aku bermimpi bertemu Ibu, lalu aku bertemu Mak Ben, lalu ada Alvino, A Nana, Entin, lalu ada Nenek yang tengah menjahit baju batik. Mimpi yang campur aduk itu harus diakhiri sekitar jam 11 siang yaitu saat kudengar suara Mbak Wiwin berbicara dengan Nenek di ruang tengah. Aku buru-buru bangun, kurapihkan daster batikku lalu kusisir rambutku. Ku poles sedikit bedak seperti yang Entin ajarkan padaku.

Aku keluar dari kamar, ku lihat Mbak Wiwin tengah duduk di sofa, ia memakai kerudung warna biru muda dengan baju muslim dari batik katun warna senada, cantik sekali. Kami langsung berisik lantaran saling memekik. Nenek pun tertawa geli melihat ulah kami. “Masyaallah Ci, makin ayu aja sih kamu ?”, Jerit Mbak Win penuh ceria, diputarnya tubuhku.

Aku tak mau kalah, “Nih lihat ada Ibu muda cantik dengan nuansa biru, asli Mbak keliatan cerah lho”, Aku kagum menatap busana muslim bahan batik yang dikenakan Mbak Win. Yang terlihat nyaman dan modelnya simpel.

“Duh kamu ini gimana ? Ini kan jahitan Nenek, masa’ ndak tahu sih ?”, Ujar Mbak Win membuatku terkejut.

“Hah, beneran Nek ? Uhhh koq ndak jahitin aku juga sih ? Aku mau pesen ahh buat Mak Ben dan yang lain lain, jahitan Nenek bagus banget”, Aku menatap Nenek.

Nenek tertawa lalu berkata, “Heh kamu ini masih muda kok udah pikun, lha itu dastermu siapa yang buat ? Yaa Nenek donk”.

“Hah ?? Masyaallah aku kirain Nenek beli, abis tau-tau ada di lemariku, yaa udah aku pake langsung”, Aku tertawa sambil mematut diri, wah Nenekku mirip sekali dengan disainer, jahitannya bagus dan enak dipakainya.

******

Nenek pamit hendak ke tempat juragan batik, ingin mengambil beberapa macam batik katun untuk dibuat busana muslim. Nenek rupanya menanggapi celotehanku dengan serius, ia ingin segera membuat baju muslim untuk Mak Ben dan Entin, sedangkan untuk Pak Effendi, A Nana dan Alvino akan dibuatkan kemeja tangan pendek.

Kini hanya aku dan Mbak Win, duduk santai sambil sibuk menikmati kue mochi, keripik oncom, sale pisang dan banyak lagi camilan khas Bandung yang kubawa. Segelas limun dingin melengkapi suasana siang yang agak gerah. Aku melihat wajah Mbak Win yang nampak selalu penuh tersenyum. Wajah yang cantik juga ramah.

“Gimana Mbak kabar anak-anak ? Sehat semuakan ?”. Tanyaku sambil memasukan sale pisang ke dalam toples.

Mbak Win meneguk limun dingin, lalu bicara, “Oh anak-anak Alhamdulillah sehat, cuma si kecil kemarin jatuh dari sepeda, untung ndak apa-apa walau lututnya berdarah”.

“Wah anak segitu ndak bisa ditinggal meleng Mbak, ada saja tingkah polahnya. Ngomong-ngomong gimana bisnis di pasar Beringharjo Mbak ?”, Aku mencoba membuka pembicaraan. Maklumlah jarang jarang aku bisa santai seharian sambil ngobrol.

Mbak Win tersenyum, “Usaha sembako masih jalan, yaa walau ndak besar tapi cukup cepat perputarannya. Aku juga nyewain kontrakan, tanah warisan Bapak aku bikin kontrakan 4 pintu, dengan sistim bulanan, hasilnya bagus lho Ci, lumayan buat tambah-tambah duit sekolah anak-anak”, Ujar Mbak Win.

“Maaf yaa Mbak, memangnya Bapaknya bocah-bocah ndak ngasih tunjangan bulanan? Apapun kan masih jadi tanggung jawab dia ya ?”, Ujarku.

Mbak Win diam sesaat, wajah cantik itu seperti lelah harus mengingat laki-laki yang pernah menjadi sandaran hidupnya. Wanita berusia 28 tahun dengan 2 anak yang masih kecil. Namun di sisi lain Mbak Win adalah wanita tabah, dia jalani hidup ini dengan rasa optimis. Baginya kedua buah hatinya yang masih kecil adalah nafas kehidupannya.

“Tau sendirilah Ci, suamiku cintanya udah memudar, aku sendiri ndak mikirin lagi kok Ci, dulu saja waktu awal dia selingkuh aku malah ndak curiga lho. Suamiku kan bekerja sebagai kontraktor. Pergi pagi pulang malam adalah hal biasa, aku sebagai istri hanya bisa menunggu di rumah dengan penuh pengertian. Siapa kira Ci, selama itu aku pikir dia tidak pulang karena ada di lokasi proyek, eh ndak taunya dia punya wanita lain”.

“Wanita itu seorang figuran, alias artis kacangan, tapi entahlah Ci, suamiku tertuju pada perempuan itu. Aku melihat dengan mata kepala sendiri dia duduk mesra naik becak di Malioboro. Sungguh hatiku sakit banget, wanita mana Ci yang rela cintanya dibagi ? Wanita mana yang bisa menerima suaminya direbut wanita lain ? Dan wanita mana yang tak terluka saat pengabdiannya hanya sia-sia belaka ? Tapi aku toh tidak menegor Mas Her, namun dia kian begitu dingin padaku. Saat usia perkawinan kami masuk tahun ke 4, aku sudah tak lagi disentuhnya, bagai aku ini barang usang saja”.

“Tidur di satu ranjang namun rasanya dingin bagai dalam sel penjara, tinggal satu rumah namun bagai tak saling kenal. Sejujurnya aku mengalah demi anak-anak, apalagi si sulung yang dekat dengan Ayahnya. Tapi makin lama aku makin tak kuasa hidup dalam sandiwara, maka akhirnya semua yang aku tutup rapat-rapat, aku beberkan, bagai gunung Merapi yang akhirnya meletus”.

“Awalnya dia tidak mengaku, berargumen seolah aku ini main tuduh, hingga saat ku tunjukan fakta berupa noda lipstik di kerah baju, aroma minyak wangi perempuan yang menempel di bajunya, lalu sikapnya yang kian dingin, dia akhirnya diam. Diam bukan karena menyesal, namun justru makin membiarkanku di dalam sepi. Mas Her makin terang-terangan menunjukan sikap bahwa ia tak lagi mencintaiku”, Mbak Win diam sejenak, diteguknya limun dingin secara perlahan, lalu ia melanjutkan kisahnya.

“Tau nggak Ci, Mas Her bahkan akhirnya bicara dengan keji bahwa cintanya untukku sudah tamat. Sungguh aku ini hanya wanita biasa, tidak mengira demikian besarnya cobaan yang harus ku hadapi seorang diri. Keluarga besar tidak ada yang tahu, aku malu andai mereka tahu”.

“Waktu itu si kecil belum genap 2 tahun Ci, si sulung pun baru berusia 4 tahun. Aku menikah muda karena hanya cinta yang ku cari dalam hidupku, aku tidak butuh gelar S1 atau menjadi wanita karier. Dan saat berjumpa Mas Her yang waktu itu usianya 24 tahun, aku segera saja menyandarkan hidupku padanya. Usiaku baru 19 tahun dan akhirnya menikah di usia 20 tahun. Aku langsung hamil si Dinda, dan saat usiaku 23 tahun aku melahirkan Dani. Namun kehadiran sepasang bocah lucu itu tak mampu menahan cinta Mas Her, dia pun akhirnya selingkuh dan mencampakkanku berikut anak-anak kami”.

“Tepat usiaku 24 tahun aku harus terkatung-katung, tidak seperti suami istri namun belum juga dapat untuk disebut janda. Dan saat usia perkawinan kami mulai menginjak masa 6 tahun, Mas Her memilih keluar rumah dan tinggal dengan wanita keji itu. Uang belanjapun mulai tak jelas rimbanya. Aku mulai mencoba berdagang. Dan itulah awal keluarga besarku tahu bahwa rumah tanggaku sudah hancur lebur”.

“Hingga baru 6 bulan lalu aku resmi menjadi janda, aku lah yang menggugat cerai. Alhamdulillah prosesnya cepat, dasarku kuat untuk menggugat cerai. Dan sejak kami resmi bercerai, Mas Her makin lepas tanggung jawab akan anak-anak”. Mbak Win menghela nafas, pastinya sangat berat hidup dengan laki laki yang tak lagi sama seperti saat awal bertemu. Mungkin dengan menjadi janda justru menghadirkan harapan harapan baru.

“Saat awal aku merasa hancur, di situlah aku mengenal Ibumu Ci, dari beliau aku belajar artinya tegar. Apa yang dialaminya lebih berat, namun bagi Ibumu dikhianati cinta bukan akhir dunia, anak-anak yang terlanjur hadir di dunia ini tetap membutuhkan kasih sayang”.

“Ibumu selalu menomer satukan kebutuhanmu, aku pun demikian Ci terhadap Dinda dan Dani. Merekalah alasan kenapa aku harus tetap hidup. Setelah mengenal Ibumu aku juga bertemu Ibu Lily, yang kebetulan bernasib sama. Kami 3 sahabat yang senasib, sama sama ditinggalkan laki-laki yang seharusnya memenuhi janjinya saat pertama meminang kami. Namun kami adalah tiga wanita tegar yang menjalani hidup dalam kesendirian demi buah hati yang menyandarkan hidupnya pada kami.

“Aku sekarang sadar Ci, cinta tak harus pergi, biarlah si pelakunya yang pergi. Dan cinta tak mesti untuk urusan kita dengan laki-laki, dengan anakpun aku tetap hidup dalam cinta. Cintaku pada mereka tak pernah padam, karena aku tahu saat harus bertaruh nyawa melahirkan mereka. Kalau laki kan tau enaknya aja Ci”, Tutur Mbak Win dengan tegar, aku justru sudah larut dalam haru juga kepedihan. Aku teringat almarhum Ibu yang begitu besar pengorbanannya. Saat aku asyik makan mie rebus dengan nasi, Ibu justru menahan lapar karena semua hanya pas untuk diriku. Saat itu kadang kala rejeki tak berpihak pada kami. Kini saat aku dapat memanjakan Ibu dengan apapun yang terbaik, Ibu keburu pergi dan tak lagi kembali.

*****

Setelah emosiku akan kenangan Ibu terkendali, aku pun kembali membuka percakapan, “Mbak Win ndak ada rencana menikah lagi ? Mbak kan masih muda ?”.

Mbak Win tersenyum, “Andai Allah mengirimkan jodoh untukku, tentu Mbak mau menikah lagi. Dulu sempat sih Mbak dekat dengan seorang lelaki, namun selama kita deket Mbak sadar dia cuma sayang sama Mbak, sedang kalaupun Mbak harus menikah lagi, laki-laki itu juga wajib mencintai anak-anak Mbak. Dan akhirnya Mbak memilih mundur, bagi Mbak kebahagiaan anak-anak adalah paling utama. Toh menjadi janda bagi Mbak bukan aib, toh jadi janda bukan harapan Mbak namun takdir Ci”, Papar Mbak Win dengan bijak.

Aku diam membeku, kutatap sosok di hadapanku, begitu tegar menghadapi cobaan berat dalam hidupnya. Begitu percaya diri dan yakin akan hari hari yang dilaluinya. Aku kagum, aku harus bisa percaya diri di setiap langkahku, bukan masalah andai aku serba biasa biasa saja, yang menjadi masalah saat aku justru tidak mampu menerima keberadaan diriku sendiri, kalau orang lain tidak dapat menerima bagiku itu hal yang wajar, mereka punya pilihan untuk dekat dengan siapapun sesuai yang mereka mau, sedang aku tidak bisa memilih raga, semua sudah begini adanya, hanya Syukur yang bisa ku lakukan.

Seorang lagi wanita hebat yang ku kenal, sekali lagi aku dihadapkan pada kenyataan, Ibuku tidak sendirian, aku juga tidak sendirian, banyak wanita yang senasib dengan kami dan itu sebuah inspirasi bukannya sebuah duka tanpa akhir.

 

9 Comments to "Teruntuk Wanita-wanita Hebat 5.2"

  1. Dewi Aichi  4 June, 2012 at 23:18

    Lhaaaa…JC maunya tegangan tinggi terus…

  2. J C  4 June, 2012 at 09:38

    Ini ‘tegangan’ ceritanya menurun…

  3. [email protected]  4 June, 2012 at 07:35

    Jgn lupa lanjut…..

  4. Alvina VB  4 June, 2012 at 06:30

    Lanjoet….

  5. Dewi Aichi  4 June, 2012 at 01:16

    Ceritanya sampai di sini masih datar…belum bergejolak lagi, wah….pengen lanjutannya segera yaaaa…!

  6. Dewi Aichi  3 June, 2012 at 21:08

    Mo nyuci piring dulu…baru baca….setting nya di Jogja nih …asik asik….bentar ya Uci….aku beres beres dulu, nanti aku baca sampe tuntas….?

  7. Dj.  3 June, 2012 at 15:28

    Dj. juga eindu Jogya, rindu suasana di Malioboro, terutama pemusik jalanan nya.
    Terimakasih….

  8. esti kristiyaningsih  3 June, 2012 at 12:56

    lanjut….

  9. James  3 June, 2012 at 11:29

    SATOE …hebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.