The Story from the Top End (5): Tiwi Islands

Nyai EQ di dalam museum


Day 1 : Nguiu, pengalaman unik bersama orang-orang unik

Kalau kemarin kita masih berjalan-jalan mengubek-ubek kota Darwin, maka sekarang saya akan mengajak Baltyrans untuk menyeberang ke arah utara Darwin, yaitu ke Kepulauan Tiwi. Ada 2 pulau yang akan kami kunjungi, yaitu Pulau Bathurst dan Pulau Melville. Tapi kami akan menginap selama 3 hari 2 malam di Pulau Melville yang lebih besar dibanding pulau satunya.

Lokasi Kepulauan Tiwi

Kepulauan Tiwi terletak kira-kira 80 Km arah utara Australia, dan termasuk dalam wilayah Northen Teritory, berada di Laut Arafura.

Pulau Bathurst adalah pulau terbesar ke lima di Australia, sedangkan pulau Melville adalah pulau terbesar ke dua (setelah Tasmania).

Di kepulauan Tiwi itulah penduduk asli Australia bermukim dan dilindungi oleh pemerintah Australia. Mereka adalah suku Tiwi atau lebih dikenal dengan sebutan suku Aborigin Tiwi.

Ibukota Pulau Bathrust adalah Nguiu, sedang ibukota Pulau Melville adalah Milikapiti. Di Pulau Melville ada 2 kota yang “besar” . Selain Milikapiti, “kota besar” lainnya adalah Pirlangimpi.

Pada sensus tahun 2006, diperoleh data jumlah penduduk di kepulauan Tiwi adalah 2129 orang, dengan perbandingan 91,3% adalah penduduk asli suku Tiwi.

Suku ini bicara dalam bahasa Tiwi. Sebagian juga sudah menguasai bahasa Inggris. Mereka sangat percaya, bahwa nenek moyang mereka mempunyai hubungan yang erat dengan para pedagang Maccasan yang datang dari Indonesia pada waktu penjajahan Belanda.

Purrampunarli di pulau Melville (bukan di Nguiu/Pulau Bathrust)

Purrampunarli adalah sebuah tempat yang dipercaya sebagai salah satu tempat pendaratan orang-orang Belanda yang dipimpin oleh Maarten Van Delft yang datang dari Maccasan (Indonesia). Di tempat ini banyak didirikan patung-patung seperti tottem sebagai peringatan pendaratan pertama mereka. Saat sekarang ini, tempat tersebut menjadi salah satu “tujuan wisata” bagi keluarga-keluarga suku Tiwi. Menjadi semacam museum alam (terbuka). Purrampunarli terletak di Pulau Melville, dekat Milikapiti, jadi tidak berada di wilayah Nguiu, Pulau Bathrust. Untuk petualangan di pulau Melville, akan saya ceritakan nanti.

Para misionaris banyak berdatangan ke pulau Bathrust, salah satunya adalah Francis Xavier Gsell pada tahun 1911. Kepulauan ini di sahkan sebagai reservasi penduduk asli Aborigin pada tahun 1912.

Pada tahun 1930 didirikan sebuah gereja Katolik di Nguiu, yang sampai sekarang masih berdiri dan terawat dengan baik, meskipun sangat jarang dipakai untuk misa.

Penduduk Tiwi tidak punya pekerjaan tetap. Sebagian dari mereka bertanam, berdagang, dan menjadi seniman-seniman yang hebat. Selain membuat patung, melukis, sebagian dari mereka juga bekerja dengan membuat aneka macam kain tenun yang kemudian di beri motif dengan cara cetak printing. Disain kain mereka terkenal dengan sebutan “kain Bima” dan disain-disain bajunya yang khas, terkenal dengan nama “Bima Wear”. Kebetulan mantan saya adalah salah seorang pengajar yang bekerja dengan para perajin Bima Wear ini, sehingga saya punya akses mudah untuk mencapai mereka.

Para perempuan Tiwi bergaya dengan pakaian Bima Wear

Tidak semua orang bisa datang dan menetap di Kepulauan Tiwi. Para turis harus datang secara berombongan dan mengikuti prosedur tour keliling yang dikelola oleh pemerintah Australia wilayah Northern teritory. Mereka juga tidak diperkenankan untuk tinggal di kepulauan Tiwi, jika tujuannya hanya untuk berlibur dan menjadi turis saja. Jadi hanya ada 1 day trip ke kepulauan Tiwi. Saya sangat beruntung karena mantan saya adalah orang punya akses kuat dan hubungan dekat dengan orang-orang di kepulauan Tiwi. Diantaranya adalah direktur Jilamara, yang merupakan teman dekatnya.

Jilamara adalah sebuah yayasan yang mengelola para seniman dan hasil karyanya di kepulauan Tiwi. Kantor Jilamara berada di Milikapiti. Jilamara bertugas mengatur semua kebutuhan para seniman di kepulauan Tiwi, termasuk mengatur keuangan dan dana-dana untuk kebutuhan para seniman tersebut. Jilamara juga memberikan semacam gaji berkala dan mengadakan berbagai macam workshop. Mereka juga mengatur penjualan hasil karya para seniman yang tergabung dalam komunitas Jilamara. Direkturnya waktu itu ( tahun 2010) adalah suami istri Bes dan Cher (saya tidak tahu nama asli mereka). Kami tinggal di rumah mereka selama berada di Milikapiti.

Untuk mencapai kepulauan Tiwi, bisa menggunakan pesawat berbaling-baling satu, dari maskapai mini Fly Tiwi, atau menggunakan kapal ferry.

Pada waktu berangkat, kami menumpang kapal ferry. Berangkat pada pukul 8 pagi, dengan harga tiket AUD$ 75/ orang dewasa. Perjalanan selama kira-kira 2 jam bersama dengan sebagian besar orang-orang Tiwi, merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Antara sangat menarik sedikit takut dan exciting !!

Pulangnya kami menggunakan pesawat terbang, dengan harga tiket AUD$ 140/ orang dewasa, dengan durasi perjalanan kira-kira 30 menit, termasuk berhenti sebentar di Pirlangimpi untuk “menjemput” menumpang.

Bandara Fly Tiwi berada di Pulau Melville.

Perhentian pesawat di Pirlangimpi, semacam terminal kecil

Di sini pesawat yang kami tumpangi menjemput 2 penumpang dan barang/ paket.

Kami sampai di Nguiu kira-kira pukul 10 pagi. Udara sangat panas, tapi tidak menyurutkan semangat berjalan-jalan menyusuri kepulauan yang bertanah merah.

Jalan Raya utama di Nguiu, meski tidak diaspal tapi tetap mulus

Mula-mula kami mengunjungi sebuah museum.  Namanya Museum Patakijiyali. Di sini kita bisa melihat sejarah tentang pulau Tiwi. Masa-masa di mana para pioner dan misionaris datang. Juga cerita-cerita rakyat Aborigin. Ada banyak sekali foto-foto para misionaris bersama penduduk Aborigin. Ada juga patung-patung kayu kuno yang menceritakan kisah rakyat tentang nenek moyang dan asal-usul suku Aborigin.

Bangunan museum dibuat dari bahan seng bergelombang. Dan dilapis semacam kayu di dalamnya. Dilengkapi dengan AC. Terdiri atas beberapa ruangan. Masing-masing ruangan memiliki kisah yang berbeda. Sayang sekali saya tidak diperkenankan memotret dalam museum. Sungguh elok, bahkan di daerah yang dianggap masih “primitif”, memiliki sebuah museum yang cukup lengkap dan menjadi tujuan kunjungan para turis. Di depan area museum ada sebuah sekolah, setingkat dengan SD dan SMP di Indonesia. Waktu itu keadaan lumayan sepi, anak-anak sekolah ada di dalam ruangan dan belajar.

Bangunan museum tampak depan & Teras Museum

Traktor tua karatan dan lokomotif tua yang sengaja di pasang di halaman museum menjadi sebuah karya seni yang unik

Setelah puas berkeliling museum, kami beranjak. Kembali menyusuri jalan tanah merah yang panas dan berdebu. Kami menuju ke sebuah gereja tua yang masih utuh dan bagus. Bahkan kadang-kadang masih dipakai untuk mengadakan misa, meskipun sangat jarang.

Gereja tersebut dibangun oleh para misionaris. Tidak banyak kisah yang berhasil saya rangkum, karena ketika tiba di sana suasananya sangat sepi dan gerejanya terkunci. Jadi saya hanya bisa mengelilinginya dari luar dan memotretnya. Gereja tersebut memiliki halaman tanpa pagar, sangat luas dan banyak pepohonan di sekitarnya. Beberapa diantaranya adalah pohon-pohon besar yang sudah sangat tua umurnya. Mungkin sama tuanya dengan bangunan gereja.

Meskipun sudah tua, tapi masih terlihat bagus dan terawat dengan baik. Tak jauh dari bangunan gereja, saya menemukan bangunan menara lonceng yang seperti masih berfungsi dengan cukup baik.

Gereja tua di Nguiu, Bathrust Island

Menara lonceng di dekat gereja tua

Karena tidak banyak yang saya dapatkan, maka kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah peninggalan “militer”. Di sana terdapat sebuah gedung satu ruang dan (bekas) baling-baling pesawat terbang kecil yang merupakan peninggalan penyerangan ke pulau tersebut. Di sana juga terdapat sebuah prasasti batu. Saya tidak tahu banyak mengenai hal tersebut. Rasanya harus menggali lebih dalam lagi.

Baling-baling bersejarah dan batu prasasti di depannya

Menurut informasi yang saya dapat, baling-baling dan prasasti itu sudah berada di sana sejak lama sekali, dan tetap terlihat bersih, tanpa karat dan cling. Tidak pernah ada yang mengambil dan meletakkan di kamar kost-kost’an sebagai hiasan dinding, tidak ada yang mengambil untuk dijual kiloan di pasar klithikan. Dan batu prasastinya pun tampak bersih dari corat-coret dan bersih dari lumut, pertanda kalau peninggalan ini juga dirawat dengan baik.

Setelah berfoto-foto sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju ke museum yang lain. Kami diundang makan siang oleh kepala museumnya, dengan menu barbekyu sosis kerbau (buffalo  sausagge), steak kerbau dan pork rib. Menu yang cukup berat, karena masih ditambah sandwich, beberapa macam buah, biscuit dan tentu saja bir dingin.

Dalam perjalanan menuju museum tersebut, kami melewati sebuah studio keramik. Hari itu tidak ada yang bekerja, tapi studio tidak tutup, jadi saya bisa menjelajah masuk dan mengambil beberapa foto. Saya sempat berpikir, kalau di Indonesia, studio-studio seperti ini pasti tidak akan ditinggalkan tanpa ditutup dan dikunci. Tapi di Nguiu, seperti tak ada seorang pun yang khawatir akan ada barang yang hilang.

Bangunan studio keramik yang unik.  Dalam studio dengan kiln

Salah satu kiln pembakaran keramik yang moderen

Beberapa hasil karya keramik para seniman Aborigin

Saya melihat betapa besarnya pernghargaan dan apresiasi penduduk Aborigin terhadap sebuah karya seni dan kebudayaan. Keramik tidak hanya sekedar gerabah yang dibuat sebagai barang dagangan yang bisa di beli secara eceran. Semua karya adalah karya seni bernilai ekslusive dan khas. Saya kemudian membandingkan dengan keramik Kasongan, karena kebetulan saya tinggal dekat dengan desa wisata Kasongan, pusat kerajinan keramik yang paling terkenal di Jogja. Di Kasongan, keramik sudah menjadi industri. Melacurkan diri dengan cat-cat tembok yang diberi warna dengan pigmen sandy. Dijual eceran dan set-set’an dengan harga yang kadang-kadang “tidak masuk akal”. Sementara di sisi lain, para pengrajin tradisionalnya masih berkutat dengan gerabah tanah, membuat guci, pot dan tempayan dengan teknik pembakaran yang sangat tradisional, dibakar dengan oven berbahan bakar kayu, bahkan juga sampah. Di satu pihak para industrialis menjual keramik dengan kontainer, sementara di sela-sela toko, terselip bapak-bapak tua menuntun sepeda yang sarat dengan pot dan guci yang berat.

Tapi hal tersebut tidak terlihat di Nguiu. Studionya mempunyai oven (kiln) yang cukup moderen dengan bahan bakar gas. Tidak terlihat adanya bahan pewarna dari cat. Semua keramik diberi warna-warna alami dengan menggunakan batu-batuan (ochre). Begitu juga karya lukisan mereka. Suku Aborigin adalah seniman-seniman murni yang jujur. Tidak ada istilah “artisan”, yaitu para pelukis pembantu, artinya orang-orang yang membantu para pelukis “besar” di dalam mengerjakan karya lukis, sebut saja nama Joko Pekik, Nasirun, dan beberapa pelukis lainnya yang menggaji artisan untuk membantu mereka melukis. Bagi saya ini adalah ketidakjujuran yang dianggap legal dan umum, di Indonesia. Menyedihkan.

Semua hasil karya para seniman Aborijin dijual oleh yayasan pengelola. Dikelola dengan baik, adil, jujur, bersih dan benar. Salah satu yayasannya adalah Jilamara.

Menurut Bes dan Cher (direktur Jilamara), kebanyakan orang-orang Aborigin tidak bisa memegang uang dengan baik. Artinya, ketika mereka diberi uang AUD $300, mereka akan segera menghabiskannya untuk minum dan belanja apa saja. Jadi Jilamara akan memberikan semacam gaji kepada para senimannya secara berkala, sesuai dengan kebutuhan. Tanpa potongan pajak 15%, tanpa potongan ini itu sekian persen. Gaji diberikan dengan ketentuan yang berlaku secara utuh.

Di Nguiu ada sebuah toko serba ada yang cukup lengkap dan menjual berbagai jenis kebutuhan. Mulai dengan kebutuhan pokok seperti sembako, kebutuhan rumah tangga, kebutuhan lain seperti toko besi (paku, alat-alat pertukangan ringan, semen), peralatan listrik. Es batu juga dijual disitu. Kami sempat mampir untuk beli jus jeruk dingin dalam botol, sebelum melanjutkan perjalanan ke museum seni untuk makan siang. Pulau sekecil ini memiliki 2 museum! Satu museum sejarah, satunya adalah museum seni. Luar biasa!

Sangat disesalkan saya tidak sempat memotret suasana museum seni dan makan siangnya yang menyenangkan, karena pada saat saya sampai di sana, suasana museum sangat sibuk. Sedang ada pemindahan beberapa barang. Penataan ulang ditambah dengan beberapa barang baru yang datang beberapa hari sebelumnya.

Kami duduk dan ngobrol sejenak dengan kepala museumnya, yang orang Australia putih. Seorang teman baik, yang katanya mempunyai pacar cewek Bali. Aha !

Kami asyik ngobrol macam-macam. Mulai dari seni, kultur, politik sampai pada kuliner, hingga saatnya makan siang tiba. Ruangan belakang yang setengah terbuka disulap menjadi tempat pesta kebun yang menyenangkan. Lengkap dengan 2 alat pemanggangan yang besar dan berat. Sosis-sosis besar dibakar bersama dengan potongan-potongan daging ham dan bacon yang mengeluarkan suara mendesis dan bau yang sedap. Roti tawar berwarna coklat diolesi mentega berwarna kuning keemasan lembut. Ada juga saos tomat, mayonaise dan saos sambal. Piring-piring kertas diedarkan bersama garpu. Peti es dibuka. Bir dingin diteguk. Ada soda water dan air putih juga.

Pendek kata : kenyang dan puas!

Perjalanan berikutnya adalah menyeberang ke Pulau Melville. Untuk itu kita menuju ke jilid berikutnya.

Mariiiiiiii……………………………………………!!

 

13 Comments to "The Story from the Top End (5): Tiwi Islands"

  1. Bagong Julianto  7 June, 2012 at 06:22

    Nyai EQ>>>>

    Siiippp! Apik!
    Lho ono ‘to: “artisan”e Joko Pekik, Nasirun…embuh sopo meneh?!
    nJut opo bedane karo: Jilamara sing nggaji poro seniman tradisional Aborigin?

    Jaman (ora) aneh! : Seniman nggaji “artisan” di Indonesia, Jilamara nggaji seniman di Tiwi Island!

    Hayo?
    What do you say Nyai?

    Suwunnnn..

  2. Alvina VB  5 June, 2012 at 20:57

    EQ, Thanks sudah diajak jjs ke P. Tiwi…asri banget ya…. ada banyak kangguru atau koala ndak di P. ini.
    Jangan2 mereka makan daging kangguru atau koala juga, he..he…..

  3. EQ  4 June, 2012 at 16:10

    Cie Lani : iya masih milik Ostrali, dan diabiarkan asli seperti aslinya…tapi juga sudah dibangun, ada rumah sakit ( sepert puskesmas gitu), ada pusat pertokoan kecil, ada sekolah….tapi memang dibiarkan seperti aslinya…tapi justru di situlah asyiknya….sepi iya, tapi gak seperti pedesaan di Indonesia, ambience-nya jauh beda….
    Om DJ : hahaha…iya…pulau itu puanaaaas byanget !
    Aduuh…ini kang Anoew dan kanjengen Buto pada ngapain lho…mbok sana nek berani dolan dan kluyuran di P. Tiwi sendirian…..SENDIRI lho ya…aman kok…..amaaaaaaan…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.