Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Ada Apa Sih?

Monday, 4 June 2012

Viewed 1714 times, 2 times today | 22 Comments |

Anwari Doel Arnowo

 

Kita ribut terus. Masyarakat terikut kaum elite yang tidak pandai memilih issue, menjadi ikut ribut.

Oleh karena pusat pembuat issue itu amat dekat dengan kekuasaan pemerintahan, yang dilengkapi dengan kekuatan mafia bisnis, mafia hukum dan perundang-undangan, mafia kepercayaan dan rekayasa beragama dan kejahatan korupsi, semua muaranya menyatu menjadi keributan di dalam masyarakat. Pusat pembuat issue ini terbukti tidak ahli dalam mengelola tingkah laku dan keinginan masyarakat yang majemuk seperti yang ada. Issue yang diciptakannya biasanya kelas rendah dan sering kelas “kambing”. Terpaksa saya harus meminta maaf kepada Yang Terhormat binatang bernama Kambing.

Issue itu semua dimakan habis dan rakus oleh media, kurang disaring dan diteliti yang sesungguhnya akan bisa diprediksi mengakibatkan kondisi seperti apa. Karena tidak bermutunya pusat pembuat issue ini, yang dikendalikan oleh manusia yang kurang kecerdasannya dan kemampuan intelektualnya, maka ya beginilah hasilnya. Mereka kurang cerdas dan kurang cergas (enterprising, active, energetic) dan bernas (pithy, spirited, terse). Mereka ini hanya pandai mengabdi kepada penguasa dan ideologi serta kemafiaan yang semuanya tidak berpihak kepada rakyat jelata. Mereka ini sering menipu dengan angka-angka survey serta angka yang dipelintir sehingga kita terpesona. Angka pertumbuhan ekonomi, IHSG siapa percaya?? Yang main di bursa kan hanya orang beruang saja? Bukannya Investor! Pemilik uang itu kalau melihat yang tidak disukainya, langsung bisa menarik uangnya seketika itu dan memindahkannya ke lantai bursa yang lain di negara lain. Kalau investor akan terikat dengan barang investasinya berupa pabrik dan asset lain, jadi tidak gampang untuk “melarikan diri”.

Orang miskin jumlahnya menurun dalam persen (percentage)?? Bagaimana dengan jumlah penduduk? Jumlah penduduk kan naik drastis? Bukankah sejak Proklamasi yang jumlah penduduk hanya 70 jutaan sekarang, setelah 67 tahun, sudah menjadi 245 jutaan?? Bukankah ini naik enam setengah kali atau 650%?? Negara-negara makmur seperti USA dan Jepang dan lain-lainnya, itu tidak bertambah terlalu banyak, bahkan ada tabf hanya tiga puluhan persen saja. Kita kan rajin sekali, seperti kelinci saja!! Itulah sebabnya jangan menghitung dengan persen!!! Ini adalah salah sebuah penyebab kebohongan yang harus ditutupkan kepada gerakan untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi yang mana dan ekonominya siapa?

Kami, rakyat jelata ini, amat terkejut bahwa korupsi itu salah satu penyebab utamanya adalah justru dipraktekkan oleh Partai Politik !! Kadernya berebut-rebutan menjadi pejabat dan penyelenggara Negara yang digaji oleh pajak dan keringat Rakyat. Mereka membayar kepada Partai Politiknya masing-masing karena berutang budi telah dipilih menjadi kader terpilih, bisa menjadi Gubernur dan Menteri. Orang Jawa menyebut mereka ini seperti KERE MUNGGAH BALE ! Maaf saya kurang mampu menterjemahkan dengan tepat. Contohnya seperti ada cerita yang saya dengar, seorang anggota dpr yang sebelum diangkat, berumah kontrakan dan kemampuan ekonominya rendah, tetapi beberapa tahun kemudian, ketika masih menjabat, sudah bisa beli Alphard. Tiba-tiba saja kita diberi sajian berupa berita penggerogotan dana untuk proyek-proyek yang belum dibuat/dibangun, akan tetapi sudah dirampok dananya sejak masih di Badan Anggaran dpr bersama-sama dan bekerja sama dengan aparat pemerintahan yang ada kaitannya.

Cuma sedikit yang seperti Machfud MD, Dahlan Iskan, Jokowi dan Ahok atau Faisal Basri. Kalau nanti tiba saatnya dan , tidak seperti selama ini, saya mau menggunakan hak pilih saya, tentu akan memilih mereka agar bisa duduk membantu pemulihan luka-luka NKRI yang mulai infeksi ini!! Yang lain, para kere munggah bale tadi, hampir semuanya mengharapkan gaji Pegawai Negeri, Gubernur atau apapun yang entah berapa jumlahnya berikut uang untuk belanja berupa  pakaian dan fasilitas lainnya,  untuk kurun waktu satu tahun yang sekian banyaknya (ratusan juta RP. ?). Naik mobil sedan yang mewah yang voice instruction mobil baru dinasnya yang diimport utuhitu saja masih berbahasa Jepang. Hehhh …. Saya memejamkan mata dan terbayang bagaimana para nelayan tidak sanggup pergi ke laut karena kemelaratan mereka yang amat dalam, karena peralatan mereka tidak mencukupi bagi keselamatannya.

Kata Soedjiwo Tedjo (julukan dia adalah Presiden Jancukan): “Soal tidak ada jaminan kesehatan, Okay lah! Tidak cukup makanan, okay lah. Tetapi kalau rasa aman saja tidak ada ini kan keterlaluan” Dia mengucapkan hal ini di depan para pendusta di Indonesia Lawyer (LIAR)’s Club di mana banyak hadir para Ulama, petinggi Polisi, petinggi Jaksa dan juga para Jaksa dan hakim pensiunan serta para Liar tadi!! Kita tidak mampu menggunakan mereka yang menikmati kehidupan yang tingkat kekayaannya jutaan kali bilamana dibandingkan dengan para nelayan miskin. Ini negara Kelautan, Bung ….  Orang miskin menurut standard PBB adalah yang penghasilannya di bawah dua USDollar sehari atau dibawah sembilan belas ribu Rupiah, senilai sekitar empat liter bensin Premium. Bandingkan dengan pemandangan biasa sekarang yang saya temui berupa mobil Ferrari dan Lamborgini yang berkeliaran di Ibukota Negara,  DKI Jakarta.

Di pandangan mata awam saya, angka kemiskinan yang katanya menurun, itu barangkali sesuai kalau kita hanya berkeliaran di Mall Grand Indonesia atau di Pacific Mall serta di daerah Pondok Indah, Jakarta. Pernahkah kita memerhati kondisi rakyat di lingkar luar kepulauan Nusantara ini?? Di Jakarta biasa mata kita melihat gedung yang tingkat atasnya tidak lagi saya kunjungi. Duluu sekali saya sering makan di Sky Garden di gedung Wisma Nusantara. Di dalam gedung ini banyak perusahaan milik kaum asal dan bangsa Jepang. Yang naik dan turun dari mobil merek serta bikinan Jepang, adalah manusia Jepang. Orang Indonesia hanya pengemudi mobil, doorman, serta SatPam. Sambil makan shabu-shabu saya melihat ke arah Tanah Abang, daerah yang masih amat kumuh. Biar saya menikmati makanan saya melalui mulut dan serta  tenggorokan, mata saya menjadi sedikit “lelah” melihat nasib mereka yang tinggal di daerah Tanah Abang tadi.

Apa yang saya gambarkan di atas adalah masalah kuno yang tiada putus-putusnya berlangsung di sekeliling kita. Di kota besar dan di desa-desa juga tentunya. Ada tiga golongan di Negara kita: Golongan Kaya, Golongan Tengah dan Golongan Miskin. Akhir-akhir ini ada kenaikan angka jumlah yang menduduki Golongan Tengah ini. Wah beritanya diulang-ulang seakan Indonesia itu sebuah Negara yang amat kuat kondisi ekonominya dan telah patut menerima investasi yang sekian sekian sekian miliar US Dollar. Lupa sudah kita bagaimana uang semacam itu,  yang telah mengalir waktu itu, telah dikorupsi oleh keluarga dekat Presiden Suharto dan konco-konconya sampai ke angka (khusus Presiden saja) mencapai sekitar lebih dari 30 miliar USDollar. Itu bukan saya yang mengatakannya. Itu adalah data yang ditulis dan sedang di”kejar” oleh StAR (Stolen Assets Recovery) yang diketuai oleh Ban Ki Moon, sang Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Meskipun praktek yang sama mungkin sekali sedang berlangsung juga di Indonesia sekarang ini, di segala lini pemerintahan, judikatif dan legislatif, saya sudah jengah (embarassed, reluctant) dan segan terpaksa ikut melihat di Kompas atau di Jakarta Post,  di Metro TV serta TV-TV rubbish station lainnya. Para pendiri bangsa di masa lalu pasti kecewa berat terhadap kondisi NKRI ini, kalau saja mereka bisa melihat dan menyaksikan, karena jauh dari harapan seperti bayangan mereka, terhadap istilah masyarakat adil dan makmur untuk NKRI?

Adil saja tidak, bagaimana mau makmur?

Saya anjurkan para pembaca juga melakukan pembuangan uneg-uneg seperti saya lakukan di atas, agar lebih tenang kita menghadapi kondisi-kondisi Negara Kesatuan Indonesia yang telah dirusak oleh mereka yang rendah moralnya di kalangan elite dan golongan tengah juga. Bukannya tidak ada yang berasal dari kalangan miskin tetapi mereka melakukannya o9leh karena: BY NEED (butuh) BUKAN BY GREED (rakus).

Anwari Doel Arnowo

2012/05/28

 

Share This Post

Posted by Monday, 4 June 2012 on 09:24.

Categories: Opini. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

22 Responses to “Ada Apa Sih?”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 22
    Bagong Julianto Says:

    Pak Doel>>>

    Jadi, setuju dengan kata Permadi?………. “REVOLUSI….”
    Atau ungkapan Prof. JE Sahetapy?:……. “Yang paling busuk saat ini adalah POLRI! Ganti itu Kapolri…..”

    Suwunnnnn…

  2. 21
    Adhe Says:

    thanks pakdhe ADA, tulisan yg bagus, saya setuju bahwa memperbaiki NKRI dari lingkungan terkecil disekitar kita dahulu.

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)