Oleh-oleh dari Masa Lalu (3): Candi Tegowangi

Osa Kurniawan Ilham

 

Artikel sebelumnya:

Oleh-oleh dari Masa Lalu (1): Totok Kerot

Oleh-oleh dari Masa Lalu (2): Petilasan Sri Aji Jayabaya

Selesai dari mengunjungi Petilasan Sri Aji Joyoboyo, kami melanjutkan perjalanan ke arah kota Pare. Ada dua tempat yang kami ingin kunjungi kalau waktu masih memungkinkan. Yang pertama adalah Candi Tegowangi dan berikutnya adalah Candi Surowono. Tapi karena kami sudah diburu waktu untuk segera menjemput adik yang baru saja diopname di RS Baptis Kediri, setelah melihat peta akhirnya kami putuskan untuk mengunjungi candi yang terdekat saja, yaitu Candi Tegowangi.Dalam perjalanan ke arah Pare ternyata ada juga daerah situs baru penemuan purbakala. Awalnya kami pun ingin mampir ke sana. Tapi karena sempitnya waktu kami tetap lurus saja ke Candi Tegowangi. Singkat cerita kalau dari Kediri ke Pare harus belok ke kanan, maka untuk ke Candi Tegowangi, kita harus belok ke kiri. Melewati hamparan asri sawah lalu perkampungan penduduk dengan rumah-rumahnya yang bagus akhirnya kami memasuki jalan kampung beraspal yang akhirnya buntu di kompleks Candi Tegowangi.Kami kira harus membayar tiket masuk untuk ke areal candi. Tapi boro-boro mau membayar, loket masuknya saja tidak ada. Pintu pagar dikunci tapi ketika mobil kami datang ternyata ibu yang tinggal di rumah terdekat dengan candilah yang memegang kuncinya. Dengan ramah dia mempersilakan kami menulis buku tamu lalu membukakan pintu pagar untuk kami masuk. Khas sekali kami rasakan, ibu itu tidak meminta kami membayar apapun. Dengan senyumnya yang ramah dia langsung mempersilakan kami masuk dan menikmati candi sepuasnya.Jadi inilah yang disebut Candi Tegowangi itu. Tidak menampilkan bentuk utuh sebuah candi, tapi masih menyisakan sebuah keindahan desain arsitektur masa purba. Candi ini terletak di Desa Tegowangi Kecamatan Plemahan Pare Kabupaten Kediri.

Kitab Pararaton mencatat bahwa Bhre Metahun meninggal pada Tahun Saka 1310 atau 1388 M lalu didharmakan di Candi Tegowangi ini. Sekedar informasi, menurut Kitab Negarakertagama Bhre Metahun adalah salah seorang anak dari Wijayarajasa; paman Hayam Wuruk; dan Raja Dewi Maharajasa. Dia menikah dengan Rajasaduhi Tendudewi ;adik kandung Hayam Wuruk. Dari pernikahan ini akan melahirkan Nagarawardhani, kelak akan menikah dengan Bhre Wirabumi, anak Hayam Wuruk dari seorang selirnya.

Bhre Wirabumi inilah yang kelak akan terlibat dalam perebutan tahta Majapahit dengan Wikramawardhana, suami dari Kusumawarddhani, anak Hayam Wuruk dari Permaisuri Paduka Sori. Sekedar info, Hayam Wuruk menikahi Paduka Sori karena gadis pujaannya dari Pajajaran yang bernama Dyah Pitaloka tewas bunuh diri saat insiden Perang Bubat.

Kitab Negarakertagama mencatat bahwa Hayam Wuruk memang pernah membuka hutan Tegowangi sementara Bhre Wengker telah berjasa membuka hutan Pasuruan, Surabana dan Pajang. Karena itu tidaklah heran kalau akhirnya Hayam Wuruk menghormati pamannya, Wijayarajasa atau Bhre wengker dengan membuat Candi Surowono.

Sementara itu kemungkinan besar keturunan Hayam Wuruklah yang mendirikan Candi Tegowangi di tahun 1400 M, yaitu 12 tahun setelah sepupu sekaligus besan Hayam Wuruk yang bernama Bhre Matahun meninggal. Kemungkinan besar bukan Hayam Wuruk yang mendirikan candi tersebut karena Hayam Wuruk sudah meninggal pada tahun 1389 M. Menurut kitab Pararaton pula, nama resmi candi ini dulu adalah Kusuma Pura.

Candi Tegowangi berbentuk bujursangkar dengan ukuran kira-kira 11 meter x 11 meter dengan tinggi 4,5 meter serta menghadap ke barat. Pondasinya terbuat dari batu bata sementara kaki dan badan candi terbuat dari batu andesit. Setelah direnovasi, areal candi ini cukup luas dengan tamannya yang sederhana tapi apik. Mungkin karena terpengaruh suasana pedesaan yang asri maka kami merasakan suasana yang tenang dan segar di sini.

Saya membayangkan bahwa pastilah candi ini dulu sangat indah. Ukiran reliefnya sangat halus padahal sudah berumur lebih dari 600 tahun. Reliefnya menceritakan tentang kisah Sudamala dalam 14 panel. Kisah Sudamala adalah kisah mengenai ruwatan (penyucian) Betari Durga oleh Sadewa. Betari Durga yang dulunya berwajah dan berkelakuan seperti raksasa jahat sekarang berubah kembali menjadi Dewi Uma yang baik hati dan cantik parasnya.

Di tiap sisi bagian kaki ada 3 panel berukir raksasa yang tengah jongkok seakan tengah mengusung badan candi.

Sementara di pojok tenggara dari halaman depan ada pula sisa candi dan di sekeliling halaman ada barisan arca maupun bagian candi yang sulit untuk dipersatukan lagi.

Pikiran saya melayang jauh ke masa lalu. Mungkin 600 tahun lalu rombongan pejabat dari Istana Majapahit di Trowulan Mojokerto dengan menaiki gajah dan kereta berkuda banyak mampir ke candi ini untuk menghormati mendiang Bhre Matahun. Mereka pasti akan mengadakan upacara beberapa waktu lamanya dipandu oleh pendeta. Setelah itu mereka akan melanjutkan perjalanan, mungkin ke arah Candi Surowono yang berjarak kira-kira 10 km atau langsung menuju ke bekas istana Raja Jayabaya.

Acara kunjungan singkat pun berakhir sudah. Kami mohon pamit kepada ibu yang memegang kunci pagar candi sambil memberikan tanda terima kasih telah mau merawat bangunan indah ini.

 

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 20 Mei 2012)

19 Comments to "Oleh-oleh dari Masa Lalu (3): Candi Tegowangi"

  1. Handoko Widagdo  6 June, 2012 at 07:05

    OSAKi, ini dia hubungan antara kemben dengan Brawijaya: http://baltyra.com/2010/08/10/revolusi-kutang-di-tanah-jawa/

  2. [email protected]  6 June, 2012 at 06:57

    Mas Osa, dulu pernah tinggal di kediri…. ampir 1 tahun lah, ngerjain proyek RSSS (Rumah Sangat Sederhana Sekali)

  3. Lani  5 June, 2012 at 23:47

    OKI : moga2 ada kesadaran utk merawatnya……..tdk hanya difokuskan pd candi BOROBUDUR saja, krn ini warisan nenek moyang……

    nampaknya Jateng dan Jatim pusat kerajaan zaman dulu…….krn banyak ditemukan benda2, ato candi bertebaran di dua tempat ini…….

    yg pernah kukunjungi selain Borobudur, Prambanan, Boko dan yg di Dien apa ya namanya lupa………

  4. Osa Kurniawan Ilham  5 June, 2012 at 22:44

    Mbak Dewi,
    Saya tertarik untuk mengunjungi candi-candi di negeri sendiri setelah berkesempatan melihat-lihat bangunan2 kuno di negara-negara lain. Malu saya kalau tidak mengenal peninggalan nenek moyang sendiri.
    makanya saya berencana akan mengunjungi sebanyak mungkin candi-candi yang ada.

    Salam,
    Osa KI

  5. Osa Kurniawan Ilham  5 June, 2012 at 22:42

    Alvina,
    Semoga bisa menambah wawasan.

    Salam,
    Osa KI

  6. Osa Kurniawan Ilham  5 June, 2012 at 22:41

    Chadra,
    Benar bahwa Bhre Wirabumi yang kelak digambarkan sebagai Menakjinggo. Bhre Wirabumi memerintah Majapahit bagian timur.

    Salam,
    Osa KI

  7. Osa Kurniawan Ilham  5 June, 2012 at 22:39

    Pak Hand,
    Apa hubungannya kemben dengan Brawijaya? apakah sama-sama ada bra-nya?

    Salam,
    Osa KI

  8. Alvina VB  5 June, 2012 at 20:45

    Kediri memang penuh sejarah. Yg saya bayangkan itu, jaman dulu utk memahat relief Candi dgn peralatan yg minim banget dan hasilnya luar biasa, kl saat ini sich dah mesin semua peralatannya, jaman dulu dah pasti tok2 di atas batu siang dan malam ….Siapa para pemahat Candi gak ada yg pernah tahu ya….cuma pada masa pemerintahan Raja ini dan itu saja.

  9. Dewi Aichi  5 June, 2012 at 20:36

    Wa…situs situs seperti ini sangat layak dikunjung, apalagi ada penjelasan tentang tempat ini…benar..di Indonesia sangat banyak…terima kasih pak Osa..
    Yang dekat dekat tempat tinggal saya aja belum semuanya saya kunjungi…sebelum sampai candi Borobudur, ada buanyakkkkk sekali candi…mungkin lain waktu akan aku sempatkan menelusuri, pake motor aja enak, bisa berhenti disetiap tempat….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.