Munduk, Desa Wisata Pro Petani

Ary Hana

 

Saya ingin mengisahkan orang-orang istimewa yang saya temui dalam beberapa kali perjalanan saya ke Munduk. Munduk adalah sebuah desa adat, terletak di pegunungan Bali Utara. Jadi hawanya cukup menggigilkan tubuh. Munduk memukau saya dalam setiap sambang ke sana. Entah mengapa, Munduk begitu istimewa dalam pandangan saya, dan ternyata juga dalam pandangan teman-teman saya.

Dalam imajinasi saya, Munduk itu mirip sebuah desa yang kerap digambarkan Ktut Tantri dalam buku otobiografinya, ‘Revolt in Paradise’. Bagaimana tidak, di sini saya menyaksikan kehidupan pedesaan Bali yang masih asri, jauh dari nilai komersialisasi.

Pagi sekali berbondong orang menuju pura, sembahyang. Anak-anak pergi ke sekolah mengenakan pakaian adat. Siang hingga sore, anak-anak memadati sanggar untuk belajar menari. Lalu setiap malam menyiram, suara gending Bali mengalun. Suasananya begitu tentram. Pas buat seniman yang sedang bertapa, untuk mencari inspirasi. Atau tepat buat bolang macam saya, memulihkan kegilaan akut. Hehe…

Di Munduk, saya sempatkan bersua seorang pelopor pariwisata di Munduk. Namanya  Nyoman Bagiarta. Jabatannya kini manajer Puri Lumbung. Dari Bagiarta, saya menimba ilmu tentang bagaimana menciptakan kawasan wisata yang tak membuang identitas masyarakat lokal. Kalau di Munduk istilahnya ya wisata pro petani, karena Munduk memang daerah pertanian.

Bagiarta berkisah tentang hal yang menantangnya membangun wisata Munduk dengan cara yang berbeda. “Di awal tahun 1980-an, kala industri pariwisata di Bali sedang booming, berbondong-bondong penduduk Bali Utara hijrah ke Bali Selatan untuk mencari pekerjaan baru. Ekonomi Bali Selatan sedang berkembang pesat pada waktu itu. Hotel-hotel didirikan. Kawasan pantai seperti Kuta, Sanur, bahkan Nusa Dua disulap menjadi kawasan wisata elit untuk menarik turis asing.

Tak segan, katanya, pemerintah membeli tanah penduduk untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata. Misalnya dengan membeli kawasan Sanur yang mayoritas adalah daerah pertanian. Petani pun kehilangan lahan. Mereka tak lagi bisa menggarap sawah, namun juga tak punya akses masuk ke sektor industri.

“Yang paling saya ingat saat itu, kerap petani datang ke lokasi pembangunan kompleks pariwisata sambil membawa sapi-sapinya. Ketika diusir, mereka bilang di situ dulu sapinya biasa merumput. Sedih saya melihatnya.”

Pahit melihat nasib petani di Bali Selatan, Bagiarta pun merancang sistem pariwisata ramah petani di Bali Utara. Kawasan yang dikembangkannya masuk Desa Munduk. Dengan modal 300 juta rupiah yang berasal dari koperasi Sekolah tempatnya mengajar (Sekolah Tinggi Pariwisata), Bagiarta mendirikan Puri Lumbung. Waktu itu 60% modal berasal dari sekolah pariwisata tempatnya bekerja. Sedang sisanya dari penduduk setempat, berupa lahan.

Tak hanya membangun hunian, Bagiarta dengan usaha huniannya juga membina bakat-bakat budaya penduduk sekitar. Misalnya seni tari, gamelan, maupun kerajinan tangan Bahkan, memasarkan hasil pertanian kepada tamu yang menginap.

“Saya ingin meluruskan pandangan yang terlanjur melekat saat itu. Pertama, bahwa pariwisata itu merusak lingkungan dan budaya masyarakat. Kedua, masyarakat Bali yang tanahnya tergusur untuk pembangunan industri pariwisata ternyata tak punya akses masuk sektor industri. Ini sungguh menyakitkan. Yang terakhir, terjadi capital flight. Banyak petani di Bali Utara lari ke Bali Selatan untuk mencari kerja. Jika dibiarkan, siapa yang menggarap lahan pertanian di Bali Utara nantinya,” papar Bagiarta.

Aksi Bagiarta membangun wisata pegunungan awalnya dianggap gila. Di masa itu sedang trend ‘Tourisme is beach’. Wisata itu di pantai, seperti Kuta, Sanur. Tapi lelaki alumnus Fakultas Ekonomi UGM ini tak berkecil hati. Diundangnya para tamu manca negara untuk menginap di Puri Lumbung dan menanyai kesan mereka. “Ternyata wisata pegunungan di Bali itu menarik buat turis. Seorang tamu asal Prancis bahkan menyarankan saya untuk membangun kawasan wisata dengan arsitektur berciri lokal, jangan meniru Bali Utara,” tambahnya.

Maka dipilihlah lumbung sebagai ciri khas masyarakat agraris di Bali Utara. Lumbung di Bali adalah rumah-rumahan dari kayu mirip rumah panggung, yang berfungsi untuk menyimpan padi. Mulanya, Bagiarta membeli lumbung-lumbung milik petani yang nyaris dihancurkan dan dibuat kayubakar. Puri Lumbung berawal dari 5 lumbung yang kini berkembang menjadi 33 lumbung.

Mayoritas wisatawan yang datang ke Munduk adalah orang Eropa, angkanya mencapai 90%. Dan mayoritas orang Eropa ini berasal dari Prancis. Saya mirip jadi bule di negeri orang kalau sedang di Munduk. Satu-satunya wisatawan lokal di antara para turis asing. Hehehe.. Krisis ekonomi yang melanda Eropa belakangan ini, tak banyak berpengaruh pada tingkat hunian hotel mirip Puri Lumbung, Taman Puri, atau penginapan lain di Munduk.

Lain lagi dengan kawan saya, Putu Ardhana. Saya mengenalnya saat menjadi mahasiswa UGM. Pada dasarnya Putu orangnya cerdas, terbukti dua kali pindah jurusan, dari arsitektur ke ekonomi. Semasa jadi mahasiswa, bandel banget si Putu ini. Tak pernah mau pulang ke kampungnya di Munduk. Sekali pulang kampung (saat dipanggil karena ayahnya sakit), Putu tak balik lagi. Entah lulus atau tidak, saya kurang tahu (pura-puranya begitu).

Setelah belasan tahun tak jumpa, saya ketemu dia di Munduk. Sudah hidup mapan, memiliki Taman Puri yang konsep pembangunannya mirip Puri Lumbung. Namun Putu lebih suka disebut petani. Kebun kopi, cengkeh, pala, dan coklatnya banyak. Ada juga sawahnya, juga kebun buah naga. Dalam mengelola kebun dan hotelnya, Putu berprinsip pada kembali ke alam. Jadi dia memaksimalkan bahan alami untuk mengelola kebunnya. Misalnya memanfaatkan tahi babi dan limbah hotel untuk pupuk. Pokoknya semacam itulah.

Kata Putu, “Susah mengajari anak muda di sini untuk menjadi petani. Mereka terlanjur tergiur dengan lapangan kerja lain. Bertani kerap dianggap tak bisa membuat kaya, hidup cukup.”

Anggapan ini yang coba ditepis Putu. Kesuksesannya mengelola Taman Puri, kebun, dan sawah, membuat beberapa generasi muda Munduk mulai terbuka matanya. Eee.. mata saya juga ikut terbuka, apalagi saat pulang dapat oleh-oleh kopi asli Munduk. Bagaimana kehidupan Munduk yang sebenarnya? Lihat saja foto-foto yang saya jepret ini.

Satu hal yang saya pelajari dari Bagiarta atau Putu. Pembangunan kawasan wisata tidak selayaknya memusnahkan budaya atau mengubah mental masyarakatnya, tapi justru menguatkan. Entah apa maksudnya. Hehehe…

 

48 Comments to "Munduk, Desa Wisata Pro Petani"

  1. AH  8 June, 2012 at 17:41

    lani : sing bolong wetenge, akeh obrasane gara2 kantong kering. untunge mlaku ra butuh weteng, butuh sikil

  2. Lani  8 June, 2012 at 03:24

    AH : hahaha…..kankernya ndak bikin kantongmu bolong to?????? buktine tetep iso jalan terussssssssssss

  3. AH  8 June, 2012 at 03:06

    lani : badanku habis dimakan kanker.. makanya mesti banyak jalan hahaha… kata che guevera, lawan!

    elvina : amiiin, semoga begitu. jangan ampe 10 tahun lagi sudah menjelma jadi pasar klewer :p

    AY : kayaknya mesti cari kumcernya. senang dibaca bu tani

  4. Lani  8 June, 2012 at 03:01

    42 AH : se7777777……..mumpung msh bis ya digunakan………nanti klu udah tuek mana bisa????? enjoy aja…….lanjooooot jalan2nya

  5. Alvina VB  8 June, 2012 at 02:45

    Terima kasih buat tulisannya, Ary Hana. Munduk memang indah ya..masih asri dan tidak komersil spt Bali Selatan. Semoga tetep terjaga spt itu….

  6. Anastasia Yuliantari  7 June, 2012 at 18:27

    Saya tahu Munduk dari buku kumpulan cerpen Bre Redana, “Sarabande” Ternyata tempatnya juga sangat indah, ya seperti dalam salah satu kisah dalam kumpulan cerpen itu.

    Saya setuju dengan kata2 Mas Putu, banyak anak muda yg ga mau jd petani krn menjadi petani butuh kerja ekstra keras tapi selama ini hasilnya tak mencukupi kebutuhan, sehingga banyak yg memilih bekerja di sektor lain. Tapi bila berusaha sungguh2, pasti bisa menjadi petani yg memiliki kehidupan yg lumayan. kebetulan saya dan suami menghayati dan mengalami kehidupan sebagai petani. Puji Tuhan kami bisa hidup cukup dan bisa berbagi kisah dalam beberapa artikel di media ini.

    Tulisan yang inspiratif , terima kasih.

  7. AH  7 June, 2012 at 17:28

    lani : mumpung masih bisa jalaaan.. ya jalanlah

    mas bagong : soalnya pemerintahnya sendiri jarang pro dengan kaum marjinal, ya akar rumput mesti membangun kemandirian, kalo bisa ga tergantung pemerintah (kecuali kalo nguru ktp) :p

  8. Bagong Julianto  7 June, 2012 at 16:03

    Ary H>>>>

    Setuju banget wisata pro petani, pro nelayan, pro pemilik lahan yang asli…..
    Maka istilah “masyarakat terbelakang” versi pemerintah kudu dihapuskan…
    Nyambung nggak ini ‘yaa?!

    Suwunnn..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.