Scheveningen yang Penuh Sesak

Nunuk Pulandari

 

Lain lagi cerita musim semi di Scheveningen hari Minggu kemarin. Maksud saya weekend dalam Pinkster vakantie.  Seperti biasa setelah sarapan kami bersepakat untuk pergi bersepeda. Kali ini judulnya, lagi-lagi  ke Scheveningen. Entah untuk yang ke berapa kalinya kami pergi ke sana. Mungkin teman-teman heran membaca betapa tiada bosannya kami bersepedaan ke Scheveningen dan ke daerah lainnya. Kalau teman-teman ikut bersepedaan bersama kami, pasti akan merasakan hal yang sama dengan kami. Tidak ada bosannya. Bagaimana bisa bosan kalau setiap kali lewat selalu  akan bisa melihat sesuatu yang berbeda dalam perjalanan yang ada. Belum lagi kalau kita melewati route lain untuk tujuan yang sama… Kadang sampai bertanya-tanya,  seperti:”Berapa lama sih kita nggak lewat sini kok tiba-tiba sudah ada kandang burung baru” . Atau seperti kali ini kami akan melihat Jazz festival..

Hari Minggu kemarin, begitu kami sampai di Den Haag setelah melewati Station Pusat dan mendekati area Pasar Malam Tong-tong, Pasar Malam terbesar di Eropa, nampak hal yang luar biasa. Di depan pintu masuk pasar Malam TIDAK  terlihat adanya antrian pengunjung yang mengular seperti tahun-tahun yang lalu.  Rupanya cuaca yang cukup panas dan cerah telah mengundang banyak penduduk Belanda untuk pergi mencari ruang terbuka dan memilih dengan mengunjungi pantai yang ada. Tidak hanya pantai Scheveningen yang penuh sesak.. Juga pantai seperti Zandvoort dan Edgmond aan de Zee atau Bergen aan de Zee.

Semua dipenuhi para pencinta pantai. Atau mungkin juga karena adanya pengetatan ikat pinggang sehingga  dana untuk membayar karcis masuk Pasar malam Tong-tong  sudah terpotong untuk hal yang lainnya. Memang harga karcis  masuk Tong-tong untuk banyak orang  termasuk cukup mahal. Juga termasuk untuk kantong saya. Lagi pula Pasar Malam Tong Tong, akhir-akhir ini sudah lebih mengarah ke segi komersialisasi. Fungsi dan suasana Pasar Malam seperti yang kita kenal sudah tertinggal jauh dan hampir punah.. Banyaknya  stand-stand baru yang besar dan terletak di bagian depan yang lebih didominasi oleh pedagang-pedagang dari negeri Asean lainnya, setidaknya turut mengubah citra Pasar Malam seperti yang kita kenal di Indonesia.

Tapi teman-teman, itu bukan hal yang ingin saya tuliskan di sini. Saya akan bercerita lainnya.

Melaju menyusuri jalan sepeda di sepanjang Koningskade, menuju Scheveningen segera di sebelah kiri, sejajar dengan jalan sepeda,  nampak trem yang penuh sesak. Belum di jalan raya yang searah dengan jalan sepeda… Antrian mobil dari berbagai merk yang dipenuhi penumpang mengular meliuk mengikuti jalur jalan yang ada.  ..Semua hendak menuju ke pantai Scheveningen.

Wouuuuww, melihat panjangnya file yang terjadi saya membatin:”Beruntung kami bersepeda sehingga tidak perlu berlama dan berpanas ria berada di dalam mobil yang sedang antri”. Melihat meliuknya antrian mobil menuju Scheveningen, kadang saya heran menyaksikan orang tetap memilih bermobil ria menuju ke tempat rekreasi yang jelas-jelas akan dipenuhi oleh manusia. Mengapa orang tidak segera mengambil jalan alternative lainnya begitu melihat antrian yang panjang. Misalnya dengan memarkir mobil di salah satu jalanan yang ada di sekitar obyek rekreasi yang ditujunya dan melanjutkan perjalanan dengan naik trem. Kalau saya perhatikan hanya untuk dua atau tiga halte dari jarak ke Scheveningen nampak masih banyak tempat parkir gratisan yang kosong. Atau kalau tidak ya meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Mendekati pantai Scheveningen, nampak di kejauhan lautan manusia yang mulai memenuhi area pantai dan pertokoan/ restaurant yang ada di sekitarnya.

Foto 1. Casino di seberang Hotel Kürhuis

Foto 2. Hotel Kürhuis dan para pengunjungnya; bersama Mbakyu Clara dan mas Indi.

Foto 3. Band wanita memainkan musik berirama Jazz, di depan Kürhuis

Teman-teman dari foto berikut ini semoga tampak betapa penuhnya pantai Scheveningen di hari yang panas dan ceria ini. Mulai dari Casino, lalu di depan hotel Kürhuis, di Boulevard, di pantai Scheveningen dimanapun mata memandang kita akan melihat lautan manusia dalam  keramaian.

Foto 4. Pengunjung yang memenuhi boulevard;

 foto 5. Sambil berjalan di boulevard kita bisa menyaksikan band memainkan lagu-lagu berirama Jazz

Foto 6. Salah satu band yang memainkan lagi-lagu lama beriama Jazz yang ringan.

Foto 7. Orkestra dari Den Haag

Rombongan orkesta di atas berasal dari Roosendal. Mereka bermain di Scheveningen bergantian dengan orkesta Residence Big Band dari Den Haag. Irama Jazz dengan lagu-lagu seperti, The girl from Ipanema, The foggy day, dan lagu Jazz lainnya yang biasanya sudah begitu bersahabat terdengar di telinga pendengarnya. Yang jelas bukan irama heavy jazz…

Foto 8. Kereta turis melaju mengitari daerah di sekitar Scheveningen;

Foto 9. Hampir semua restaurant di sepanjang boulevard dipenuhi oleh para pengunjungnya

Teman-teman, berjalan membelakangi boulevard dengan para pengunjung yang sedang duduk menikmati pesanannya, anda akan segera melihat pantai Scheveningen yang dipadati pengunjungnya dari mulai Pier menuju  ke arah Pelabuhan Scheveningen. Pada hari itu di Scheveningen dan sekitarnya diadakan kegiatan sehubungan dengan perayaan Pinksteren (Pantekosta?) yang bernama:  North Sea Regatta Markt 2012. Suatu kegiatan yang penuh keramaian, hiburan  dan “gezelligheid “ .

Foto 10. Berlayar bersama di Scheveningen

Pada saat yang bersamaan di atas laut Scheveningen terlihat berbagai perahu sedang berlayar bersama. Suatu kegiatan yang diorganisasi bersamaan dengan kegiatan di hari libur untuk merayakan Pinkster.

Entah sampai dimana orang masih menghubungkan hari Pinkster ini dengan “sejarah”  yang berhubungan dengan agama Kristen yang ada. Untuk saya yang masih jelas terlihat adalah kenyataan bahwa  orang sangat mendambakan datangnya hari Pinkster yang biasanya disertai dengan tibanya hari-hari libur yang “lama” yang dipenuhi dengan sinarnya sang Matahari.

Pada hari libur di  akhir minggu yang lama ini orang masih mengenal bahwa Pinksteren dirayakan sepuluh hari setelah hari Hemelvaart.  Kali ini Pinksteren jatuh pada hari Minggu  tanggal 27 Mei (pinksterdag yang pertama) en hari Senen tanggal 28 mei (pinksterdag kedua). Pada awalnya Pinksteren memang merupakan suatu pesta yang berhubungan dengan agama Kristen. Dalam perkembangannya di kemudian hari Pinksteren terutama dikenal sebagai suatu hari libur di akhir minggu yang panjang. Pada hari libur akhir minggu panjang ini dimunculkan  berbagai kegiatan yang menggambarkan “gezelligheid” (kebersamaan dan kenyamanan) yang diisi dengan berbagai sajian pertunjukan musik dan diadakan berbagai aktivitas yang bersifat menghibur pengunjungnya. Dalam foto-foto berikut terlihat betapa penuhnya pantai Scheveningen akhir minggu  Pinksteren lalu.

Foto 11. Pantai yang dipenuhi para pencari sinar matahari

Foto 12.  Di laut tampak sedang ada latihan berlayar bersama.

Foto 13. Sampai siang hari orang berdatangan untuk mencoba mencari sejengkal ruang kosong untuk berjemur matahari.

Foto 14. Sampai saat ni belum terlihat yang memamerkan seluruh tubuhnya tanpa sehelai benangpun

Foto 15. Berpakaianpun bisa dilakukan di tempat, di hadapan yang lainnya.

Foto 16. Saling menikmati pemandangan yang ada.

Foto 17. Semakin menjauhi boulevard, semakin banyak ruang kosong untuk berjemur.

Mengingat banyaknya anak-anak ABG yang juga mengunjungi Scheveningen, pihak organisasi juga menyediakan berbagai kegiatan yang disenangi para ABG itu.

Foto 18. Permainan untuk anak-anakpun tersedia

Juga tersedia sebuah tenda dengan ikan Haring yang menjadi favorit penduduk Belanda. Entah berapa ratus ikan Haring telah dikonsumsi oleh para penggemarnya.

Foto 19. Mencicipi haring baru, hmmm..

Juga tampak dalam etalage beberapa contoh menu kesayangan banyak orang di restaurant di sepanjang pantai dan boulevardnya. Teman-teman kalau ada di restaurant ini pasti akan menyantapnya dengan lahap..

Foto 20. Salah satu menu yang bisa diperoleh di Restaurant Simonis (khusus ikan)

Berjalan menyusuri boulevard  selain terdengar nada-nada berirama Jazz yang sangat bersahabat  di telinga juga nampak beberapa bentuk “patung perunggu” yang menggambarkan kehidupan sehari-hari (jaman dulu)  di pantai Scheveningen.

Di ujung boulevard nampak misalnya patung yang menggambarkan seseorang sedang menikmati ikan Haring. Suatu kegiatan sehari-hari yang menjadi ciri khas Scheveningen. Di dekatnya ada patung yang menggambarkan seseorang raksasa sedang menangis. Suatu hal yang sesungguhnya sangat tidak masuk akal. Tetapi justru dengan penyajian patung yang sedang penuh emosi ini tersirat pesan bahwa bukanlah hal yang aneh bahwa seseorang kadang bersedih hati dan menangis. Juga seorang raksasa yang “serba”besar….

Foto 21. Penampilan patung-patung perunggu dengan beberapa tema spt (makan haring)

Foto 22. Jonas en de vis, menggambarkan sebuah fragment dari kitab suci Bijbel.

Tentunya teman-teman bertanya: ”Mengapa anak gadis ini ada di sini”. Ceritanya, saya sedang menunggu konco ngajeng  membeli sesuatu. Ketika menunggu si gadis tersenyum ramah pada saya .. Lalu tanbpa disadari kami sudah terlibat percakapan yang cukup menarik.  Dia mengatakan bahwa dia sengaja pergi sendirian ke Scheveningen pertama  karena rumahnya dekat, dan kedua dia akan membeli “sesuatu” (gelang) untuk ibunya.. Zo maar, hanya untuk mengatakan bahwa dia sangat menyayangi dan mencintai bundanya… Sayang ya saya lupa menanyakan namanya… Wel dia bercerita kalau ibunya dari Thailand dan ayahnya (Belanda) yang memang sudah pernah ke Indonesia…

Foto 23. Seorang gadis yang membeli hadiah untuk ibunya..”Voor zo maar ”: Begitu gadis kecil itu mengatakan  dan hanya untuk menunjukkan kasih sayangnya pada sang bunda….

Teman-teman, kalau anda di hari-hari ini  kebetulan berada di Belanda pasti tidak akan kekurangan acara untuk mengunjunginya. Selain Jazz Regatta di Scheveningen di hari Pinksteren lalu, di ahir minggu ini di Zoetermeer diadakan pertunjukan musiek Blues. Tentang hal ini akan saya ceritakan lain kali. Sebentar lagi ada North Sea Jazz.

Salam dari Belanda yang mulai dingin lagi… Matahari ngumpet di belakang awan dan angin berhembus dengan dinginnya…Brrrrrr… Ditambah dengan turunnya hujan. Seperti di malam itu, pulang bersepeda rasa dingin tetap masih terasa menembus jacket  dan menyengat kulit di dalamnya..    Salam en kus, kus, kus, Nu2k

 

112 Comments to "Scheveningen yang Penuh Sesak"

  1. nu2k  14 June, 2012 at 04:52

    Jeng sudah saya baca dan juga saya jawab lagi.. Sekarang sudah mendarat di pulau kapuk.. Tinggal menunggu kapan waktu mendaratnya… ha, ha, haaa… Tot morgen dan sudah jogging toch….. Doe doei, nu2k

  2. Lani  14 June, 2012 at 00:01

    MBAK NUK : japri udah aku balas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.