Selubung Hitam Konspirasi (4): Opini Sesat

Masopu

 

Siang itu Arya duduk berbincang-bincang dengan Anee istrinya. Sesampainya di rumah kemarin sore dari Mojokerto, Arya baru bercerita sebagian kecil saja peristiwa kerusuhan yang terjadi di sana dan tidak sampai mendetail. Setelah bercerita sebentar dan mencoba menghubungi Joni, tapi tidak bisa akhirnya Arya memutuskan beristirahat. Setelah beristirahat sampai malamnya, baru hari ini Arya bisa bercerita kepada istrinya tentang kejadian kemarin. Mulai dari keberangkatannya sampai kepulangannya dari Mojokerto semua diceritakan dengan detail kepada istrinya.

Anee hanya takzim mendengarkan barisan kata dari suara serak sang suami itu terus membanjiri gendang telinganya. Sesekali Anee bertanya jika ada bagian cerita dari suaminya yang dirasanya tidak nyambung. Setelah bercerita cukup lama, akhirnya Arya sampai pada bagian akhir ceritanya tepat ketika matahari hampir mencapai puncaknya. Saat itu sayup-sayup terdengar breaking news dari sebuah stasiun televisi khusus berita yang terdengar dari pesawat televisi tetangganya.

Anee yang penasaran dengan berita tersebut segera menghidupkan televisi yang dari tadi teronggok diam di depan mereka berdua. Sesaat setelah memindah-mindahkan chanel, akhirnya Anee menemukan saluran televisi yang dimaksud. Tampak sebuah video amatir sedang diputar. Kalimat-kalimat pengantar dari news presenter tersebut begitu tajam menohok.

Anee dan Arya sangat terkejut saat melihat wajah Arya berseliweran di video berdurasi sekitar 10 menit tersebut. Beberapa kali terlihat gerakan badan Arya yang seperti orang memberi komando tengah berdiri di antara para demonstran yang berbuat anarkhis tersebut. Anee dan Arya hanya saling berpandangan saja selama beberapa saat.

Saat breaking news berakhir, Anee dan Arya masih termangu dalam bait-bait tanya yang antri di benak masing-masing. Anee tak habis pikir kenapa gerakan suaminya di video tersebut seperti orang yang memberikan komando? Padahal dari cerita yang disampaikannya kemarin dan hari ini, jelas sekali Arya sangat kebingungan selama terjebak di tengah-tengah kerusuhan tersebut. Sedangkan Arya tidak habis pikir kenapa dia yang waktu kejadian tampak panik dan kebingungan, tetapi di video itu terlihat seperti orang yang memberi komando.

“Mas kenapa di video itu mas terlihat seperti orang yang memberi komando kepada demonstran?” Pertanyaan Anee membuyarkan keheningan yang ada di antara mereka berdua. Tampak Arya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kerutan di dahinya menebal saat pertanyaan Anee menghampirinya.

“Aku gak tahu kok bisa begini An. Seperti yang aku ceritakan tadi, aku di sana malah kebingungan. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tapi di video ini kok aku seperti orang yang memberi komando lewat gerakan?” jawab Arya kebingungan. Tangan kanannya memegangi rambutnya yang agak panjang. Digaruknya kepalanya bagian kanan meski tidak ada rasa gatal yang bersemayam di sana.

“Terus apa arti dari semua ini Mas?” tanya Anee lagi.

“Aku benar-benar gak tahu An. Aku sangat panik saat itu An” jawab Arya sambil terus menggaruk-garuk kepalanya.

Ketika Anee akan melanjutkan pertanyaannya, Kembali chanel televisi tersebut menayangkan sebuah video amatir yang berbeda dengan yang pertama. Durasi video ini lebih pendek dari video pertama. Kembali terlihat wajah Arya berseliweran beberapa kali di sana dengan angle yang berbeda dari video pertama. Dalam breaking news tersebut juga ditampilkan beberapa foto ekspresi dan gerakan tubuh Arya. Narasi yang dibacakan oleh news announcer begitu menohok, menggiring opini masyarakat yang baru mengetahui video tersebut seakan-akan orang yang terlihat dalam video tersebut sudah ditetapkan sebagai tersangka penggerak kerusuhan.

“Mas apa arti semua ini?” kembali  pertanyaan  Anee yang penuh nada  kebingungan menyapa telinga Arya. Anee memandang lurus ke arah wajah suaminya yang semakin kebingungan. Update berita itu begitu mempengaruhi pikirannya.

“Aku gak bisa ngomong An. Aku di sana tidak seperti yang terlihat di video dan foto tersebut An. Aku kebingungan waktu itu. Aku ketakutan saat itu” Jawab Arya dengan nada penuh keheranan.

“Terus ceritanya bagaimana bisa seperti ini mas?” tanya Anee meminta penjelasan dari Arya. Sorot matanya semakin tajam mengawasi gerak-gerik suaminya yang semakin kebingungan.

“Aku gak tahu An. Aku bingung.” Jawab Arya dengan mimik yang semakin kebingungan. Matanya terus berputar-putar seakan-akan hendak mencari jawaban atas semua opini yang berkembang dari berita-berita tersebut.

Anee percaya dengan kata-kata suaminya. Tapi barisan tanya itu tak serta merta terhenti di satu titik. Demi tidak membuat suaminya semakin kebingungan, Anee lebih memilih untuk diam dan tidak melanjutkan pertanyaan-pertanyaannya tersebut. Anee beranjak ke dapur untuk membuatkan suaminya teh manis hangat. Agar suaminya bisa kembali tenang dan berpikir normal.

+++++

Sore baru saja berlalu dengan kesenduan yang masih menyelimuti Arya dan Anee istrinya. Sejak breaking news tadi siang, Arya lebih banyak terdiam dalam angannya. Entah sudah berapa lama dia terpaku seperti itu. Anee hanya bisa melihat Arya yang biasanya ceria dan humoris kini berubah jadi pendiam dan cenderung menyendiri. The hangat yang tadi siang dibuatkannya, sampai kini masih utuh tergeletak di mejanya. Tiada tersentuh.

Tak terhitung sudah berapa kali ini Anee memperhatikan suami tercintanya tersebut terpekur. Seringkali Anee melihat tiba-tiba suaminya menarik dan menghela nafasnya panjang-panjang. Terlihat beban berat sedang menggelayuti pikirannya saat ini. Sesekali dia juga menggaruk-garuk kepala bermahkota rambut keriting tersebut. Entahlah kebingungan itu harus diakhiri dimana? Anee sendiri juga terlarut dalam kebingungan. Dan sejak matahari terbenam tadi Arya tafakkur diam dalam munajah kerinduannya terhadap sang pencipta. Diadukan semua masalah yang menimpanya kepada sang Khalik.

Satu yang Anee coba mengerti dari suaminya saat ini adalah dia sedang diliputi kegalauan. Galau karena sudah memasuki minggu ke-empat sejak pemecatannya sampai hari ini dia belum memperoleh pekerjaan. Masalah makin pelik saat Arya mencoba mendapatkan pekerjaan baru, ternyata dia malah terjebak di tengah-tengah kerusuhan. Bahkan kini wajahnya berseliweran di berbagai media seolah-olah dialah penggerak kerusuhan tersebut. Dan opini yang berkembang dari berita yang beredar tadi adalah Arya telah menjadi terdakwa utama penggerak kerusuhan tersebut.

Anee yang bingung dan tak tahu harus berbuat apa, mencoba menghibur diri dengan menghidupkan televisi di depannya. Berkali-kali dia memindahkan chanel televisinya demi mencari acara yang dapat menghibur dirinya. Namun hingga beberapa kali pindah chanel, kegalauan hatinya tetap tak terusik untuk pergi dari hatinya.Saat  memindah-mindahkan channel tersebut, tak sengaja Anee melihat breaking news mengenai kerusuhan tempo hari.

Dalam narasi yang dibacakan sang presenter cantik tersebut diberitakan jika polisi telah berhasil mengidentifikasi orang yang diduga terlibat sebagai penggerak kerusuhan tersebut. Menurut kepala kepolisian sang pelaku berhasil diidentifikasi berdasarkan bukti-bukti yang didapat di lapangan. Ditambah dengan keterangan para saksi serta terdakwa yang telah berhasil ditangkap dan juga bukti rekaman video amatir serta foto-foto yang ada. Dalam breaking news tersebut tak lupa sang presenter mewawancarai kepala kepolisian via telepon.

“Selamat malam pak kapolres!” sapa presenter tersebut mengawali wawancarnya.

“Selamat malam mbak.” jawab kapolres dengan raut muka serius. Di samping kiri dan kanannya tampak beberapa petugas kepolisian sedang mengawalnya. Wajah-wajah tegang menghiasi tatapan mata mereka.

“Apa benar berita yang beredar, jika saat ini aparat kepolisian telah berhasil mengidentifikasi otak penggerak kerusuhan tersebut pak?” tanya news announcer tersebut dengan wajah yang tak kalah seriusnya.

“Berdasarkan bukti-bukti yang telah kami peroleh dari lokasi kerusuhan, keterangan para saksi dan pelaku penyerangan yang tertangkap serta ditambah bukti foto-foto dan rekaman beberapa video yang kami dapatkan dari warga sekitar, pihak kepolisian telah berhasil mengidentifikasi pelaku penggerak kerusuhan tersebut. Dan dalam waktu dekat ini kami akan segera menangkap terduga penggerak kerusuhan tersebut.” ungkap kepala kepolisian dengan raut muka penuh keyakinan.

“Menurut bapak apa motif pelaku pak?”

“Setelah kami pelajari pelaku kemungkinan mempunyai dendam pribadi terhadap salah satu pihak yang terlibat sengketa kepemilikan gedung tersebut.”

“Lengkapnya bagaimana pak kasus ini?”

“Pelaku merupakan salah seorang mantan karyawan  dari pemilik gedung yang baru. Beberapa waktu yang lalu pelaku dipecat dari tempat kerjanya karena diduga terlibat pemalsuan laporan keuangan perusahaan. Sedangkan pelaku tahu jika grup usaha sang bos berencana membuka kantor pemasaran baru di kota ini. Dengan memanfaatkan kasus jual beli bangunan yang beberapa waktu lalu masih bersengketa tersebut, pelaku ingin membalas dendam kepada mantan bosnya dengan membonceng isu SARA yang beredar dalam kasus sengketa bangunan tersebut. Padahal menurut pihak yang bersengketa, sebenarnya masalah jual beli bangunan tersebut telah selesai sekitar seminggu yang lalu. Serta tidak adanya relevansi antara isu SARA yang berhembus di masyarakat dengan kerusuhan tersebut. Pelaku hanya memanfaatkan situasi saja untuk mempengaruhi opini masyarakat.” Kepala kepolisian mencoba menjelaskan.

“Apakah polisi saat ini sudah menangkap terduga otak kerusuhan tersebut pak?” tanya presenter berita tersebut mengorek keterangan dari Kapolres.

“Saat ini anggota kami sudah bergerak ke arah tempat  tinggal pelaku dan dalam waktu tidak lama lagi akan membawa pelaku ke kantor polisi.”

“Terima kasih pak untuk wawancaranya. Ditunggu perkembangan penanganan kasus ini pak. Selamat malam.”kata presenter tersebut menutup sesi wawancara via telepon tersebut.

“Selamat malam mbak”

Anee terhenyak menyaksikan breaking news berisi wawancara dengan kepala kepolisian setempat. Dari kata-kata tersebut terindikasi pelaku mengarah kepada suaminya. Anee bingung mau memberitahukan hal ini kepada suaminya atau tidak. Sementara suaminya masih terus menyendiri di mushola rumahnya. Kebingungan semakin menguasai hatinya.

“Tok…..tok…..tok……”

Anee terkejut saat mendengar pintu depan diketok dari luar. Dengan suasana hati yang masih dikuasai kebingungan, Anee berjalan melangkah menuju ke pintu depan rumahnya. Belum lagi dia membuka pintu tersebut, ekor matanya menangkap beberapa orang berseragam tengah berdiri di teras rumahnya dengan posisi siaga memegang senjata.

“Selamat malam pak, Ada yang bisa saya bantu?” sapa Anee saat membuka pintu.

“Selamat malam Bu. Apa benar ini rumah bapak Dimas Arya?”tanya salah seorang dari polisi tersebut yang bertindak selaku komandan mereka. Matanya tajam memperhatikan gerak-gerik Anee. Sementara polisi yang mengiringinya terus memperhatikan suasana di dalam rumah yang berhias temaram lampu.

“Iya benar pak. Ada apa ya?” tanya Anee dengan wajah semakin keheranan melihat tingkah laku polisi-polisi yang terus mengawasi dirinya dan juga ruangan dalam rumahnya.

“Kami dari kepolisian Bu. kami di sini diperintahkan untuk menjemput bapak Arya untuk dimintai keterangan di kantor polisi bu.” jawab polisi yang Anee duga sebagai pemimpin mereka.

“Atas tuduhan apa Pak?”

“Atas tuduhan keterlibatan Pak Arya pada kerusuhan di Mojokerto 3 hari yang lalu bu. Ibu ini siapa ya? Apa hubungan ibu dengan tersangka? Bapak Arya-nya dimana?” Kembali pertanyaan dari polisi tersebut menghampiri telinga Anee.

“Saya Aneeva  Desy Antari istrinya Dimas Arya pak. Beliau masih sholat Isya’. Bisa saya lihat surat penugasan Bapak?” tanya Anee.

“Bisa Bu. Silahkan dilihat.” kata komandan pasukan tersebut sambil menyerakan surat penugasannya.

“Ok pak. Silahkan bapak tunggu dulu di sini biar saya panggilkan suami saya” jawab Anee mempersilahkan polisi tersebut menunggu.

“Ok Bu. Tetapi ijinkanlah salah seorang anak buah saya ikut mendampingi ibu memanggil suami ibu” sela komandan polisi tersebut sambil member isyarat kepada salah seorang anak buahnya untuk mengikuti Anee masuk memanggil Arya.

“Tidak usah pak. Suami saya tak akan melarikan diri.” kata Anee keberatan.

Anee segera berlalu masuk ke ruangan yang dijadikan mushola di rumah tersebut. Saat masuk dia melihat suaminya sudah selesai sholat dan sedang melipat sarungnya. Setelah berbicara sebentar yang diiringi anggukan tanda mengerti dari suaminya, Anee mengajak suaminya untuk keluar menemui aparat yang ternyata telah mengepung rumah tersebut di beberapa titik. Posisi mereka siaga dengan moncong senjata terus menghadap ke rumahnya.

“Selamat malam pak” tegur komandan polisi itu.

“Selamat malam pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Arya.

Segera komandan polisi tersebut menjelaskan maksud kedatangannya tersebut sambil menyerahkan surat penugasannya. Penjelasan yang sama seperti saat dia menjelaskannya hal itu pada Anee tadi. Dengan raut muka terkejut, Arya mendengarkan semua penjelasan yang disampaikan kepadanya. Sesekali dia menjawab dan bertanya tentang hal yang tidak dimengertinya. Kemudian komandan polisi tersebut menjawab semua pertanyaan Arya dengan ekspresi datar.

“Bagaimana Pak penjelasan kami tadi. Sudah jelas belum? Jika belum nanti kami jelaskan lagi di kantor.” tanya Komandan polisi tersebut mengakhiri penjelasannya.

“Sebenarnya masih belum jelas pak. Tapi tidak apalah nanti saya tanyakan lagi di kantor Bapak.” jawab Arya dengan raut muka yang masih dipenuhi rasa bingung.

“Jadi Bapak bersedia kami bawa ke kantor polisi sekarang?”

“Bersedia Pak. Mungkin dengan ini saya bisa menjelaskan posisi saya yang sebenarnya pak. Sekaligus membersihkan nama baik saya dari berita yang simpang siur.” jawab Arya dengan raut muka penuh harapan.

“Terima kasih pak atas kerja samanya.” kata komandan polisi tersebut sambil memberi tanda ke anak buahnya untuk memborgol tangan Arya.

“Maaf ! Bapak tidak perlu memborgol tangan saya. Saya akan kooperatif dengan pihak kepolisian. Saya tidak akan melarikan diri.” Kata Arya menghentikan langkah sang polisi yang hendak memborgolnya.

“Bagaimana komandan?” Tanya sang polisi yang ditugaskan untuk memborgol Arya tadi.

“Ok kalau begitu. Bapak Arya tidak usah diborgol.”

“Mari Pak silahkan ikut kami naik ke mobil.”

“Apakah istri saya juga akan dibawa ke kantor polisi Pak?”

“Tidak Pak. Kenapa?”

“Kalau begitu ijinkan saya untuk berbicara sebentar dengan istri saya Pak!”

“Ok Pak. Silahkan 5 menit saja waktu yang kami berikan.”

Segera Arya mengajak istrinya berbicara untuk menenangkan kegalauan istrinya. Dengan tutur kata yang halus Arya mencoba meyakinkan kembali Anee istrinya bahwa dia tidak terlibat masalah tersebut. Arya juga menceritakan jika seharian ini dia telah mencoba menghubungi Joni, tapi tidak terhubung. Nomor hp-nya tidak pernah aktif.

“Mari pak kita ke kantor polisi” Kata Arya sesaat setelah selesai bericara dengan istrinya.

Aparat kepolisian yang menjemputnya tidak menjawab. Mereka hanya segera bergerak berjajar mengapit jalannya Arya. Sementara di luar rumah di mulut jalan kecil menuju rumahnya,  di antara 4 mobil yang digunakan oleh aparat untuk menjemput Arya, tampak kerumunan warga di sekitar rumah Arya yang datang untuk melihatnya. Tampak tatap mata mereka penuh makna. Tapi lebih banyak tatap mata yang tidak percaya dengan kabar yang beredar. Warga sekitar yang tahu kesehariannya Arya, tak bisa percaya begitu saja dengan berita yang telah beredar.

Dengan tatap mata yang tertunduk, Arya terus berjalan melewati kerumunan warga dengan kawalan dua polisi bersenjata laras panjang. Sementara Anee tak kuasa menahan tangis melihat suaminya digelandang polisi seperti tersangka teroris. Hanya petuah sang suamilah yang membuatnya terus mencoba bertahan untuk tidak menitikkan air mata. Dengan tubuh yang disandarkannya di pilar teras rumah, Anee terus melihat sampai iring-iringan mobil yang membawa suaminya berlalu meninggalkan tempat di mana tadi mereka parkir.

Selepas kepergian mobil kepolisian tadi, Anee segera masuk ke rumahnya. Beberapa orang warga yang mengenal baik keseharian mereka berdua, segera datang menghampiri Anee. Mereka mencoba menghiburnya. Barisan kata-kata hiburan itu bagai tetes embun yang menyejukkan jiwa Anee. Perlahan-lahan dia mampu menguasai diri dan emosinya. Setelah dirasa cukup, warga segera berpamitan meninggalkan rumah Anee.

 

_ _ _

Masopu

 

9 Comments to "Selubung Hitam Konspirasi (4): Opini Sesat"

  1. elnino  7 June, 2012 at 07:52

    Cerbungnya keren! Ditunggu lanjutannya…

  2. agung "Masopu"  7 June, 2012 at 05:57

    @ Alvina Vb ….benar mbak. banyak banget dan bikin kita suka malu melihat bangsa ini

  3. Alvina VB  7 June, 2012 at 05:29

    Banyak nich kasus kaya gini di Indonesia sebetulnya….

  4. agung "Masopu"  7 June, 2012 at 05:21

    @ Esti …. sabar ya mbak. Saat ini lagi aku edit. Semoga bisa cepat kelar
    @ Sumonggo ….. Wah penikmat bola yang beredebar-debar menunggu kabar sanksi ya. Hehehehe
    @ J C …… makasih
    @ Paspampres ……..Lanjutkan si Biru atau gimana nih?
    @ DJ ….. silahkan ditunggu kelanjutannya, biar rasa penasarannya semakin nikmat. hehehehe

    @ All
    Maaf tidak bisa langsung balas komentar teman2 teman di sini. Masih mengerjakan ajakan kolaborasi seorang teman sambil mengedit cerita ini. Karena di bagian Endingnya ada beberapa hal yang kurang pas.

    Salam

  5. Dj.  6 June, 2012 at 20:11

    Mas opu….
    Waaaaw… cerita yang sangat menarik….!!!
    Ditunggu lanjutannya, apa Arya memang yang memelopori kerusuhan atau tidak…???
    Jadi penasaran… Hahahahahaha…!!!
    Salam,

  6. [email protected]  6 June, 2012 at 19:42

    Seru…..Seru….. Lanjut…Lanjut

  7. J C  6 June, 2012 at 14:20

    Ceritanya makin seru. Tapi aku kok malah terbayang ini adalah “Drama Hambalang” ya…

  8. Sumonggo  6 June, 2012 at 13:04

    Wah konspirasi ini pasti untuk mengalihkan perhatian FIFA agar tidak memberi sanksi pada PSSI ….. he he …

  9. Esti Yoeswoadi  6 June, 2012 at 11:49

    Politik memang jahat >!<… Jadi gak sabar nuggu lanjutan nya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.