Merayakan Sastra Hanna

Benny Arnas

 

Catatan Sedikit Telat dari Peluncuran Tiga Buku Karya Hanna Fransisca

SAYA sengaja datang ke Jakarta pada Selasa (29/05/05) untuk menghadiri momen membahagiakan malam harinya: peluncuran tiga buku baru karya Hanna Fransisca: Benih Kayu Dewa Dapur (Kumpulan Puisi), Sulaiman Pergi ke Tanjung China (Kumpulan Cerpen), dan Kawan Tidur (Naskah Lakon) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM). Tentu saja, saya memiliki alasan tersendiri hingga harus berada di sana, alasan yang tak ingin saya ceritakan dalam tulisan yang pendek ini.

*

Di meja panitia, saya membeli tiga buku yang satu jam lagi akan diluncurkan itu. Tentu saja, salah satu rencana saya adalah mendapati Hanna Fransisca menandatangani ketiga buku yang diterbitkan Komodo Books itu di akhir acara.

Saya memutuskan mengambil tempat duduk di baris ketiga dari depan. Saya memilih tempat duduk itu karena tidak ada sastrawan yang saya kenal duduk di sekitarnya. Saya benar-benar ingin menyaksikan dari dekat rangkaian acara Malam Sastra—demikian acara itu diberi tajuk—yang sudah heboh di jejaring sosial itu. Bagi saya, duduk berdekatan dengan sesama pengarang dapat saja menganggu konsentrasi saya menikmati pertunjukan. Ya, saya  tidak mungkin mengabaikan pertanyaan atau pancingan tema pembicaraan yang mungkin ditawarkan. Pun sebaliknya, dapat saja saya tergoda untuk langsung membincangkan pertunjukan yang tengah berlangsung. Memang itu tidak salah. Tapi saya pikir, saat itu, saya ingin menikmati Malam Sastra sendiri saja.

Seorang perempuan dengan senyum manis memasuki panggung yang artistik dengan ornamen cabe-cabe merah yang ditempelkan di latarbelakangnya. Ia membacakan susunan acara. Sayangnya ia agak tergeragap ketika membaca biodata Hanna Fransisca. Ia tidak cerkas menyebutkan judul-judul buku yang diluncurkan, beberapa kali salah menyebutkan daftar penghargaan yang diterima Hanna, bahkan belepotan melafalkan beberapa istilah asing (Business Woman, misalnya, yang disebutnya Woman Business). Sebagai pemandu acara, seharusnya ia sudah tahu benar siapa seorang Hanna Fransisca, bukannya selalu kagok saban menyebutkan apa-apa tentang dirinya dari awal hingga jelang akhir acara. Saya pikir, Hanna harus memberikan teguran atas keteledorannya pada hal kecil tapi penting itu.

Acara diawali dengan penampilan musikalisasi puisi dari Komunitas Arus. Namun menurut saya, dari tiga tampilan mereka, hanya tampilan pertama yang layak disebut musikalisasi puisi, dua yang lainnya lebih layak disebut lagu puisi karena tidak ada pembacaan puisi di antara batang lagu yang dimainkan. Terlepas dari itu, saya harus memuji kualitas musik yang mereka mainkan sebelum saya sedikit kecewa mendapati soundsystem yang tidak di-set sebagaimana seharusnya. Ya, saya—dan saya yakin sebagian besar penonton—mendapati bunyi seruling yang terlalu menonjol namun suara vokal tenggelam karena volume mikrofon terlalu kecil. Sebenarnya hal ini dapat disiasati dengan pengaturan jarak mikrofon dengan mulut (micing), namun tampaknya sang vokalis kurang peka padahal ia sudah menggunakan earphone sebagai kendali tatabunyi. Sayang sekali, keindahan (larik-larik) puisi-puisi Hanna tak mampu dinikmati secara musikal dengan baik karena masalah teknis tersebut.

Untunglah pertunjukan berikutnya mampu membuat saya berdecak kagum. Ya, Kungkung, salah satu cerpen dalam Sulaiman Pergi ke Tanjung China dibacakan dengan begitu apik oleh Joni Ariadinata. Joni membacakannya dengan beragam gaya dan dialek yang membuat Kungkung bukan hanya enak disimak, namun juga kaya secara estetika. Langgam Sunda, celetukan dan bahasa tubuh refleks, dan logat Tionghoa, yang kerap diselipkan Joni dalam penampilannya berhasil memecah keseriusan dengan gema tawa di ruang pertunjukan. Dengan kapabilitas Joni, Kungkung bukan hanya kaya makna sebagai cerita, tapi juga kaya tafsir ketika dipentaskan.

Salah satu rangkaian acara yang saya nantikan adalah Pidato Puisi oleh Sapardi Djoko Damono. Saya benar-benar iri kepada Hanna Fransisca yang telah membuat seorang Sapardi menulis dan menyampaikan telaah atas puisi-puisinya di hadapan kami semua. Sapardi memberikan sudut pandang telaah yang menarik. Menurutnya, puisi-puisi Hanna tidak bisa lepas dari dua tema besar yaitu kuliner dan Peristiwa Mei 1998. Tentu saja kedua tema tersebut kental dengan aroma Tionghoa. Dengan cerdas, Sapardi mengumpamakan kuliner sebagai Hanna Fransisca dan peristiwa Mei 1998 sebagai Zhu Yong Xia yang tak lain adalah nama China Hanna. Dalam Benih Kayu Dewa Dapur, Sapardi melihat ada usaha saling gusur antara Hanna dan Zhu. Sudut pandang inilah yang saya pikir sangat menarik. Lebih jauh, Sapardi menyatakan puisi-puisi dalam buku puisi kedua Hanna kali ini lebih matang dalam diksi maupun metafora, tanpa membandingkan Benih Kayu Dewa Dapur dengan Konde Penyair Han, buku puisi pertama Hanna yang ditahbiskan Majalah Tempo sebagai Buku Sastra Terbaik 2010 sekaligus menobatkan Hanna sebagai Tokoh Sastra 2011 oleh majalah yang sama.

Pementasan naskah lakon Kawan Tidur yang menjadi rangkaian pertunjukan selanjutnya, juga menjadi tungguan sebagian besar hadirin. Ya, bila di ruang pertunjukan teater itu teater tak dipentaskan, alangkah timpangnya. Saya sudah membaca Kawan Tidur sebelum ia dibukukan. Saya pikir, naskah—yang menceritakan tentang Patung Naga di Pusat Kota Singkawang yang secara Feng Shui memberikan banyak keuntungan bagi bisnis salah seorang warga, bukan kepada daerah Singkawang sebagaimana seharusnya—itu kaya dialog yang membutuhkan eksplorasi karakter yang kuat dari penutur/pemainnya. Ketika tahu bahwa naskah tersebut akan dipentaskan oleh Teater Garasi, saya merasa tak perlu khawatir karena ingatan saya terhadap pertunjukan ciamik grup teater yang digawangi Gunawan Maryanto itu dalam membawakan lakon Tubuh Ketiga di Salihara pengujung 2010 lalu masih mengiang di kepala saya.

Benarlah, walaupun beberapa pemain tampak masih kaku mengeksplorasi perannya, Kawan Tidurtetap mampu dibawakan dengan dinamika yang terjaga. Sedikit improvisasi pada ending dari versi naskahnya—kedua tokoh mematung dalam adegan bersipandang, justru menciptakan impresi yang sangat membekas di benak saya.

Penampilan pamungkas yang ditunggu-tunggu pun tiba: Hanna Fransisca membacakan puisi-puisinya. Pembacaan puisi yang dibuka dengan penampilan Angeline yang memainkan guzheng, semacam kecapi China, dengan sangat menawan. Kesalahan Pohon Pepaya, Lagu Tionghoa, dan Malam Ghaib, dibawakan Hanna dengan kesan yang beragam. Hanna tampil memukau dalam Kesalahan Pepaya, namun sedikit kelimpungan dalam Lagu Tionghoa. Hanna tampak terlalu lelah hingga puisi yang dinyanyikan dengan iringan guzheng itu, beberapa kali terdengar pitchy.

Pembacaan puisi Malam Gaib yang sekaligus menutup Malam Sastra itu, dibawakan Hanna dengan gaya kontemplatif.

Hanna duduk bersilah seperti tengah bermeditasi di antara lilin-lilin yang dinyalakan di ruang dan panggung teater yang semua tatacahayanya dimatikan. Hanna seperti merapalkan mantera-mantera di malam pertapaan yang ia sebut—sebagaimana judul puisinya—Malam Gaib.

Hanna seperti hendak menutup rangkaian acara dengan pesan yang tersirat: bahwa karya-karyanya lahir dari perenungan yang panjang dan khusyuk, bahwa karya-karyanya harus dinikmati dengan perasaan lapang dan menenangkan, dan bahwa Malam Sastra bukan sekadar euforia, namun juga menegaskan arah kekaryaan, termasuk bagaimana sastra ia rayakan.

*

SAYA memutuskan untuk membaca tiga buku baru Hanna tersebut ketika saya berada di Lubuklinggau saja, ketika kepenatan telah melayang dari tubuh dan ingatan, ketika kekhusyukan telah mungkin saya hadirkan dalam diri. Namun apa hendak dikata, saya harus gigit jari ketika mendapati kenyataan remeh yang menggeramkan. Bukan, bukan karena saya lupa meminta tandatangan Hanna pada lembar pertama ketiga buku barunya, tapi karena buku-buku tersebut justru tertinggal di hotel tempat saya menginap. Ah, maafkan saya, Hanna. O bukan, lebih tepatnya:

Ah, malangnya saya, Hanna! (*)

 

Lubuklinggau, 01 Juni 2012

BENNY ARNAS, lebih banyak mengarang cerpen.

Bukunya antara lain adalah Jatuh dari Cinta (Grafindo, 2011)

 

9 Comments to "Merayakan Sastra Hanna"

  1. ugie  10 June, 2012 at 09:53

    besok kalo beli buku langsung masuk tas ,biar gak ketinggalan .sayang banget kan

  2. Alvina VB  8 June, 2012 at 02:36

    Bung Benny Arnas, apakah Hanna penulis baru di tanah air, sorry, tidak mengikuti perkembangan penulis2 wanita yg bermunculan 30 thnan belakangan ini di tanah air, soalnya terakhir baca penulis wanita itu N.H. Dini, judul: Pada Sebuah Kapal…..taruhan banyak yg blm lahir pas novel ini muncul, he..he……

  3. Dewi Aichi  7 June, 2012 at 22:26

    saya cuma ngiler pengen, ngga bisa menikmati buku buku karya teman teman sendiri huhhhhh……

  4. Linda Cheang  7 June, 2012 at 16:54

    koq, bisa ketinggalan bukunya, tuh?

  5. Bagong Julianto  7 June, 2012 at 16:48

    JC>>>

    Lho, yang hadir yaaaa orang-orang Jakarta……..
    Sebelum acara diadakan, santap siang/sore dengan lalapan temato, rotan muda, kenikir dan lalapan lainnya….
    Nyamleng kuwi….

  6. J C  7 June, 2012 at 16:05

    Sepertinya buku-buku ini menarik… terima kasih Bamby Cahyadi dan Benny Arnas…

    Hahaha…mas BagJul, kalau diadakan di sana, yang mau hadir siapa?

  7. Bagong Julianto  7 June, 2012 at 14:35

    Benny Arnas>>>

    Untuk hal seperti yang dituliskan ini, saya wajib menyumpahserapahi pola Jakartasentris!
    Coba di Sekayu diadakan Malam Sastra, atau di Lubuklinggau?!

    Suwunnn..

  8. Dewi Aichi  7 June, 2012 at 08:06

    Wow…mba Hanna heloooooo….akhirnyaaaaa…tayang juga di baltyra…..cantikkk..!

    Benny Arnas…..thank you yaaaa….atas tulisan ini asik dan meriah lho…

    Bamby…cihui…..kamu…..hmmm……….apa ya he he…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.