Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (3)

Josh Chen – Global Citizen

 

Hiasan peti ini mulai dari yang sederhana sampai yang cukup mewah dan indah sekali. Semua tergantung dari keluarga mendiang apakah secara finansial sanggup membiayai itu semua. Terkadang banyak juga para sahabat mendiang yang ingin berkontribusi memberikan penghormatan terakhir mereka menyumbang hiasan segala macam di atas peti.

Artikel sebelumnya:

Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (1)

Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (2)

bersambung…

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

39 Comments to "Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (3)"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  29 November, 2012 at 15:15

    Saya lupa, sebar uangnya dibagian mana ya? Dulu waktu ikut tetangga Tionghoa meninggal, saya hanya mengharapkan dapat duit, yaitu denominasi Rp. 5 (Gotun), Ro. 10 (Captun).

  2. Angela Januarti  29 November, 2012 at 15:12

    Tradisi menggunakan kain goni sudah jarang terlihat. Tapi dulu waktu kecil masih bisa kusaksikan.

  3. Handoko Widagdo  11 June, 2012 at 16:01

    Beberapa cara sudah di-kristen-kan karena sudah banyak warga keturunan tionghwa yang memeluk agama kristen/katholik. Misalnya hiasan bunga di bawah peti mati, yang saya amati di Solo sudah banyak yang memakai ornamen salib.

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  8 June, 2012 at 22:54

    Lepas dari kultur Tionghoa peranakan, apakah dimungkinkan adanya Green Funeral? Harus ada alternatif penggunaan kayu untuk peti mati, mengingat kayu semakin langka dan berhubungan dengan deforestrattion.

  5. J C  8 June, 2012 at 22:13

    Lani: orangtua selalu berpesan, kalau meninggal mereka minta kremasi dan abunya dilarung di laut saja…alasannya ya itu, supaya tidak merepotkan dan mau mendoakan atau sembahyang arwah mereka bisa di mana saja, tidak perlu harus ke kuburan…

    Linda: Tana Toraja aku belum pernah tahu sih…

    dedy risanto: pak Dedy, wah cai ma aku kudu cari info lebih lengkap dulu… bukan Katholik/Protestan, justru yang dalam artikel berseri ini adalah yang Buddha/Tao/Khonghucu atau Sam Kau (gabungan ketiganya). Walaupun sebagian yang Katholik masih ada yang upacara seperti ini…

    Hennie: memang sekarang sepertinya sudah tidak umum/jarang atau malah tidak ada lagi yang pakai seperti itu…dan aku cukup yakin, mungkin di China sendiri sudah sangat jarang yang memegang tradisi dan melaksanakannya. Tapi yang aku tahu di kota kecil, desa mungkin masih cukup kuat dengan bentuk yang berbeda dengan yang ada di Indonesia…

  6. HennieTriana Oberst  8 June, 2012 at 18:12

    JC, aku masih ingat sekali di Medan orang-orang yang aku kenal dalam masa berkabung sering ada sematan perca berwarna di lengan atas. Sekarang ini apa mereka masih memakainya atau generasi baru sudah nggak lagi, aku kurang tahu.
    Tapi selama di Jakarta teman-temanku di kantor sepertinya nggak ada yang memakai perca itu. Paling mereka pantangannya nggak boleh pergi jauh atau ke tempat-tempat tertentu seperti menghadiri pesta jika sedang berkabung. Benar begitu ya?

  7. dedy risanto  8 June, 2012 at 08:56

    om buto, bisa dilanjut dengan artikel ttg Cai ma, sampai dengan tulisan ke tiga ini yang saya perhatikan bahwa ini adalah pemakaman WNI keturunan dengan cara kristen/Khatolik ya!

  8. Linda Cheang  8 June, 2012 at 07:02

    upacara kematian paling meriah? Bukan di Batak, tapi di Tana Toraja. Itu seperti pesta adanya…

  9. Lani  8 June, 2012 at 06:39

    AKI BUTO : mmg klu sekedar melihat, membaca, dan tdk/belum pernah, tdk punya kenalan org cina dgn sgl tetek bengek perayaan kematiannya…….mrk pasti gumun, lengkap banget dgn sgl tetek bengeknya……

    utk sebagian org cina, yg msh menganut dan menjalankan budaya leluhur mrk, plg tdk tdk keheranan……wlu dr mrk mungkin cara merayakan ada perbedaan disana sini, disesuaikan dgn biaya masing2, akan ttp utk hal2 yg wajib tentunya sama/pakem.

    krn aku ngalami dewe, papa dgn terbello cengkeh yg abote rak jamak…….trs hiasan kembang, dibawah peti mati, kembang bouquette diatas peti mati, dihias renda2 disekeliling peti, ada jg perlengkapan mandi, air dibaskom dst……

    anak, sodara, kakak adik yg meninggal jg pakai baju putih, klu lilin aku lupa merah/putih……aku lupa pd hari, tahun keberapa setelah meninggal trs bakar2 aneka barang2 terbuat dr kertas…..uang kertas…..dst…….

    mmg banyak banget pernak perniknya, tp satu yg aku tdk lupa aku tanya apakah boleh krn setelah meninggal aku ndak ingin sembahyang2 lagi? yg dijawab: boleh saja, abu di dupa dikumpulkan kmd ikut dikubur……..

    dgn alasan krn aku ndak ingin ribet, dan sulit ngeling2 hr sembahyangan, drpd telat……..malah nanti salah lagi, iso kualat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.