Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Umur dan Nama

Thursday, 7 June 2012

Viewed 2136 times, 2 times today | 81 Comments |

Probo Harjanti

 

Sering kita temui, seseorang yang terlihat lebih tua atau pun lebih muda ketimbang usia sebenarnya.  Yang terlihat lebih muda kita sebut ‘awet enom’ atau ‘ngemut umur’, sedangkan yang terlihat lebih tua sering disebut ‘boros umur’.  Itu, mungkin dikarenakan  perjalanan hidup, atau,  mungkin juga karena tahun kelahirannya  ‘dimudakan’ / ‘dituakan’, karena sesuatu. Sampai saat ini,  untuk mencari SIM, tetap saja ada yang merasa perlu ‘menuakan’ usia setahun. Nampaknya si pencari SIM mau pun orangtuanya sama-sama tidak sabar, untuk mendapatkan SIM. Selain dalam rangka SIM, kadang orang merasa perlu menuakan umur, untuk memenuhi persyaratan tertentu, dalam rangka mengikuti sesuatu (hahaha, ribet amat bahasanya), menikah misalnya, atau ikut kontes.

Beberapa hari lalu, seorang teman bercerita, adiknya tidak naik kelas beberapa kali saat di SD. Jaman dulu, sebelum tahun 1980an, anak tidak naik kelas (ora munggah), mau pun tidak lulus adalah hal biasa, dan tidak jadi panjang urusannya. Tidak naik atau tidak lulus ya mengulang, gitu saja. Tidak seperti sekarang, tidak naik atau tidak lulus menjadi berita heboh luar biasa , dibesar-besarkan. Semua orang membicarakan. Tidak lulus atau tidak naik kelas, seolah membuat dunianya runtuh.

Berapa  SD masih memiliki idealisme, kalau anak belum bisa membaca dengan lancar menjelang kenaikan, tidak akan naik kelas, harus mengulang di kelas I, sampai dia lancar membaca. Sekolah lain, dengan cuek menaikkan seluruh peserta didik, tanpa pertimbangan anak tersebut akan mengalami kesulitan di kelas II, atau akan  menyulitkan guru, dan  mengambat teman-temannya. Beberapa orangtua siswa, kadang dengan enaknya marah2 kepada guru dan kepala sekolah, kalau anaknya tidak naik kelas, sementara di rumah orangtua tidak mau menemani si anak belajar.

Terkait dengan bolak-balik tinggal kelas di SD, akhirnya saat lulus usianya sudah ‘lumayan’. Oleh gurunya usia si anak dimudakan beberapa tahun, biar tidak malu atau minder nantinya. Tentu sepengetahuan orangtuanya, yang mungkin justru berterima kasih. Yang menjadi masalah, ketika memudakan usia, tidak memperhitungkan usia adiknya. Jadi, ibu teman saya ‘melahirkan’ dua kali, hanya selisih 2 bulan. Sebab, yang dimudakan lahir bulan Maret, sementara dia punya  adik yang  lahir di bulan Mei, tapi  tidak dimudakan. Kalau dalam tahun yang sama, apa mungkin melahirkan dua anak, selisih waktunya hanya  2 bulan?

Teman saya yang lain, umurnya justru dituakan beberapa tahun, akhirnya dia terpaksa pensiun di usia yang mestinya masih produktif berkarya, sementara anaknya masih membutuhkan beaya untuk pendidikannya. Selain anak, teman saya masih punya tanggungan dua yatim-piatu usia SD dan SMP, orangtuanya adalah korban gempa 2006 lalu. Usianya dituakan terjadi  biasanya  karena guru SD (SR)-nya lupa tahun kelahiran siswa, karena belum tertibnya administrasi, atau malah orangtuanya yang lupa. Jaman dulu kan anaknya banyak, jadi kadang untuk tanggal dan tahun lahir bisa keliru dengan anaknya yang lain.

Saya jadi ingat, beberapa hari lalu (tanggal 29 Mei 2012) teman saya memperlihaakan foto kopi KK (kartu Keluarga) milik siswa, dia anak ke 8 dari 11 berssaudara. Adik bungsunya usia 3 tahun, umur ibunya seumur saya, wah……Pasti kalau memanggil anak-anaknya pakai acara bingung, belum lagi ngisi form tempat tanggal lahir harus melihat contekan dulu, kalau tidak bisa terjadi seperti kasus teman saya di atas. Selain itu, anatar kakak sulung dengan adik bungsu selisihnya terpaut banyak, seperti anak dengan orangtua.

Selain umur, dulu acap terjadi saat kelulusan SD, guru kelas VI ‘nari’(ditanyai dan ditawari), mau ganti nama apa tidak. Maksudnya yang akhir namanya berbunyi EM dan AH diganti dengan  TI, atau ATI supaya terdengar lebih manis, dan anaknya tidak minder. Misalnya Ponirah menjadi Poniati, Ponirahayu, Wagiyem menjadi Wagiyati,  Wagini, dan lain-lain. Meski kadang orangtua terkaget-kaget karenanya, tetapi kalau  sudah kadung tertulis di ijazah…mau apa lagi.

Perkara nama ini, banyak juga kelucuan yang terjadi. Sering terjadi, saat mencari teman kerja di rumah asal/ orangtuanya, yang menemui orang yang berbeda, bisa kakak atau adiknya, atau justru orang lain sama sekali, tak ada kaitan darah. Jaman dulu, memang bisa terjadi ijasah dipinjam-pinjam buat cari kerja, dan banyak pula yang mendapat pekerjaan dengan ijazah pinjaman tersebut. Yang menggelikan ketika ternyata si peminjam buta huruf, ini pernah terjadi. akhirnya hanya jadi pesuruh, tukang kebon, karena tidak bisa baca tulis. Parah ya?

Pinjam-meminjam ijazah ini jaman dulu tidak sampai ke ranah hukum, meski tetangga-tetangga tahu, pemilik asli tahu (meski tidak ikut menikmati  gaji). Akhirnya  terjadi nama sama, tempat tgl  lahir sama, alamat sama, tetapi orangnya  berbeda sama sekali. Jadi ijazahnya asli, orangnya yang aspal.

 

Share This Post

Posted by Thursday, 7 June 2012 on 07:13.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

81 Responses to “Umur dan Nama”

Pages: [9] 8 7 6 5 4 3 2 1 »

  1. 81
    probo Says:

    Nek Sudrunmu ilang warga Baltra esskabeh Mbak Lani…..nulis lempeng dhiluk wae wsi dha mbanyakai hehehehe…..
    komenmu 79 wah….berarti 69 rung waras ya?

Pages: [9] 8 7 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)