Warung Hik atau Angkringan – Mengenang Masa Lampau

Joko Prayitno

 

Mari sejenak kita bernostalgia, menghadirkan kembali kenangan-kenangan akan masa-masa silam yang mungkin remeh tetapi memiliki sebuah keunikan. Bukankah keunikan itu sering dicari dan ingin dimiliki oleh banyak orang karena ia memang berbeda dari kebanyakan yang ada. Bukan sesuatu yang umum yang didasarkan pada selera-selera yang dibangun oleh industri makanan besar yang menginginkan sebuah keseragaman modernitas, tetapi sebuah selera yang memang telah berakar dari kebudayaan kuliner lokal.

Dua sedang menikmati hidangan di warung Hik atau Angkringan di Jawa 1935 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Banyak tempat untuk bernostalgia, dimana tempat itu memiliki kenangan yang berharga bagi diri kita. Tetapi ada tempat yang mungkin menjadi tempat alternatif yang unik dan bisa bercerita tentang masa lalu, bahkan bukan kenangan masa lalu saja tetapi semua topik pembicaraan dapat dilakukan di sini. Pembicaraan yang mengalir tanpa dibatasi oleh sekat-sekat stratifikasi dalam masyarakat dalam kata lain tempat ini adalah tempat yang begitu cair untuk berkumpul. Sebuah warung yang memiliki kata khas dengan cahaya temaram lampu teplok dan keramahan penjual bak seorang sahabat yang setia menampung keluh-kesah kita.

Di Solo sebutannya “Hik”. Ada yang mengatakan itu kepanjangan dari “hidangan istimewa kampung”. Sedangkan angkringan berasal dari kata bahasa Jawa “angkring” yang artinya duduk santai, biasanya dengan melipat satu kaki ke kursi. Mungkin di daerah lain sebutan untuk warung-warung ini beragam. Hidangan yang disajikan di warung “Hik” ini pun beragam dari nasi bungkus, berbagai macam gorengan, berbagai macam sate, tentunya dengan minuman yang beraneka ragam bahkan terkadang khas suatu daerah. Makanan yang disajikan di warung “Hik” pun memiliki sebutan khusus terutama untuk nasi bungkusnya yang disebut sega kucing. Sega kucing memang nasi putih yang berisi lauk sepotong kecil ikan bandeng dengan sambal, terkadang sambel teri.

Warung “Hik” atau Angkringan bukan saat ini saja ada, warung tersebut merupakan sebuah budaya kuliner yang telah berkembang lama bila kita melihat pada foto-foto masa kolonial yang ada. Warung-warung ini berkembang di pinggir-pinggir jalan dan juga di beberapa pasar dengan hidangan yang merupakan produk lokal masyarakat setempat. Dalam foto kolonial tahun 1935 terlihat dua orang sedang asyik menikmati hidangan disebuah warung yang mirip dengan Hik atau angkringan masa sekarang. Terlihat lampu teplok, pisang yang tergantung dan hidangan lain dalam piring-piring. Foto kolonial lainnya pada tahun 1910 menunjukkan beberapa orang sedang menikmati hidangan disebuah warung yang juga menyerupai Hik atau angkringan. Data-data visual tersebut menunjukkan bahwa warung Hik atau Angkringan telah berkembang sejak lama dan merupakan warung kaki lima karena warung tersebut biasanya menggunakan gerobak bahkan ada yang dipikul.

Menikmati Hidangan Hik atau Angkringan di Jawa 1910 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Di tengah semakin membanjirnya hidangan selera modern dengan cara saji yang cepat (fast food), keberadaan warung Hik atau Angkringan mampu mengobati hubungan komunikasi masyarakat yang semakin mampat akibat individualisme yang berkembang. Warung Hik atau Angkringan menjadi tempat mengobrol yang bebas baik untuk berbagi informasi maupun untuk berdiskusi kecil. Dan ia juga mampu memberikan kekuatan ekonomi bagi masyarakat kecil yang semakin tergusur oleh berbagai warung-warung makan modern semacam franchise. Tak pelak lagi menikmati hidangan di warung Hik atau Angkringan mampu memberikan nostalgia masa lampau kita akan budaya dan masyarakat kita.

Dan karena kekhasannya warung Hik atau pun Akringan tetap survive dan berkembang……..

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2012/06/06/warung-hik-atau-angkringan-mengenang-masa-lampau/

 

37 Comments to "Warung Hik atau Angkringan – Mengenang Masa Lampau"

  1. Joko Prayitno  8 June, 2012 at 14:56

    Pak DJ, ya kalo bisa memang jangan yang pedas karena masih ada nasi oseng yang tidak begitu pedas…heeeehe, Mbak Kornelya: memang diwarung hiks karena sifat kekrabatannya jadi bisa hutang wakakkakakaka

  2. Meitasari S  8 June, 2012 at 12:06

    Budus kuwi sak jan e ana sing potone Buto, tapi ora gelem di munculke…. soal e ketok entek e akeh dhewe.wkwkwkwk

    Linda, ha ha ha…… sweet memory of confession kie…. ha ha ha ha ha

  3. Meitasari S  8 June, 2012 at 11:59

    Lahhhhhhhhhhhhhhhhh jebul e ana fotoku nang angkringan….waaaaaaaa

  4. Kornelya  8 June, 2012 at 06:11

    Dulu masih kuliah, duit pas-pasan makan diangkringan, pesan nasi sama tempe tetapi minta bonus kuah opor ayam. Bu De pemiliknya maha pengertian.

  5. Dj.  7 June, 2012 at 23:33

    Mas Joko….
    Matur Nuwun mas….
    Jujur saja, Dj. selalu ingin menikmati hal ya demikian.
    Tapi …..
    Pertama kalau mudik sendiri.
    Kedua, harus adaptasi dulu sekitar 1 minggu, baru berani.
    Karena kalau sakit perut, bukan orang lain yang merasakan, tapi diri sendiri.
    Hanya saja,, bikin orang lain jadi ikutan repot.
    Hahahahahahaha….!!!
    Kalau dengan Susi dan anak-anak, ya tidak mungkin.
    Kejadian 2010 sudah cukup, 3 minggu hanya keluar masuk hotel dan rumah sakit.

    Hanya saja, banyak makanan yang saat Dj. kecil terasa sangat enak, tapi saat diulangi kok
    rasanya sangat lain….
    Puji TUHAN….!!!
    banyak saudara di Indonesia yang tau kesukaan Dj. jadi mereka bikinkan dan ditanggung bersih.
    Seperti kalau di Surabaya kaka selalu bikinkan pecel lele, atau di semarang kaka yang lainbikinkan
    mangut dari belut asap.
    Tapi kalau ke Solo, kota mas Joko, ya pergi saja ke Diamond Restaurant, cocok dengan lidah Dj.
    Salam manis dari Mainz, untuk mas Joko sekeluarga dirumah ya…

  6. probo  7 June, 2012 at 18:38

    melu ngleseh ah….

  7. Joko Prayitno  7 June, 2012 at 18:25

    Wah kok nasi kucing segane neolib gimana bisa ya??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.