Guru kok malas belajar

Ida Cholisa

 

Jika saya menulis begini, ini artinya saya pun tengah mengritik diri saya sendiri. Maka jika ada di antara pembaca ada yang berprofesi sebagai guru, maka Anda jangan gerah atau marah terlebih dulu. Mari kita sedikit merenung, ada apakah dengan judul yang tertera di atas itu? Benarkah ada guru yang malas belajar? Atau banyak di antara guru yang malas belajar? Atau bahkan sama sekali tak mau belajar?

Belajar sepanjang hayat. Dari buaian hingga menuju liang lahat. Belajar tak mengenal waktu dan tempat. Belajar untuk menimba ilmu dan meraih kemajuan diri. Jika seorang murid begitu giatnya mencari ilmu sampai dibarengi mengambil berbagai macam les di tempat kursus, maka bagaimana dengan sang guru? Apakah kita juga berisnisiatif untuk lebih mengasah dan memperkaya ilmu dengan minimal banyak membaca dari berbagai sumber?

Tak ada waktu, sibuk mengurus rumah tangga, sibuk mengurus karier, sibuk mencari uang, sibuk segala macam, itu yang menjadi momok bagi seorang guru hingga menghambatnya untuk meraih kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Tidak seharusnya seorang guru berhenti belajar hanya karena ia telah menjadi seorang guru. Seiring perkembangan jaman di mana kita dituntut untuk bisa mengimbangi laju percepatan kemajuan, mau tak mau kita mesti berpacu dengan waktu untuk mengasah diri dan mempertajam ilmu. Jika seorang guru hanya bergerak di tempat tanpa berusaha mengasah diri dengan ilmu yang relevan dengan perkembangan jaman, maka ia akan tergilas roda jaman. Bisa jadi ia akan menjadi guru dengan predikat ‘guru jadul’.

Diakui atau tidak, adakalanya seorang murid memiliki kecerdasan dalam bidang tertentu dibandingkan seorang guru. Okelah seorang guru ilmu bahasa menguasai bidang yang diampunya, menguasai teori-teori yang berkenaan dengan pelajaran yang menjadi makanan kesehariannya. Tetapi siapa menjamin bahwa seorang murid lebih menguasai aplikasi daripada teori-teori yang diajarkannya? Kemajuan ilmu teknologi memungkinkan peserta didik untuk melakukan lompatan pencapaian atau penguasaan teknologi yang terkadang justru mengalahkan para guru.

Di sinilah letak permasalahannya. Mengapa guru harus terus belajar adalah dalam rangka  mengimbangi kemajuan teknologi yang mau tak mau harus ia kuasai. Bagaimana mungkin ia mengajarkan ilmu kepada murid sementara ilmu yang dimilikinya  hanya sepotong-sepotong saja? Ia menyampaikan ilmu berdasarkan buku pegangan yang dimilikinya, sementara murid menyalipnya dengan mempelajari materi melalui media lain yang lebih luas jangkauannya, semacam internet misalnya. Informasi terbatas yang ia peroleh di sekolah karena minimnya pengetahuan sang guru membuatnya mencari informasi tambahan melalui akses lainnya. Tidak dipungkiri bahwa di era digital ini masih ada guru yang gaptek teknologi. Bukan karena tak ada akses bagnya untuk mempelajari teknologi informasi tersebut, tetapi lebih pada kemauan yang tak dimaksimalkan. Merasa ‘cukup’ dengan ilmu yang dimilikinya, padahal dengan ‘cukup’-nya itu maka ia akan ‘secukupnya’ saja dalam  mentransfer ilmu pada murid-muridnya.

Guru yang memiliki kemauan belajar tinggi akan terus berusaha mencari terobosan atau inovasi bagi perkembangan dunia pendidikan. Ia tak lelah menyusuri tempat demi tempat demi terpuaskan hasrat belajar. Bahkan bukan hanya kepada seseorang yang lebih tinggi ilmunya atau pada media yang tersebar di sekitar yang menjadi tempat belajarnya, seorang murid yang memiliki kemampuan lebih pun menjadi tempatnya pula dalam berdiskusi tentang suatu hal. Seorang guru yang merasa memiliki keterbatasan dalam teknologi informasi misalnya, maka dengan tanpa sungkan ia bisa bertanya pada siswa yang memiliki pengetahuan lebih tentangnya.

Guru bukan segalanya, dan guru bukan manusia yang serba bisa. Sebagai sosok yang ‘digugu dan ditiru’, adalah wajib bagi seorang guru untuk terus menuntut ilmu. Ia tak boleh menutup mata terhadap isu-isu pendidikan atau isu sosial yang bertebaran di sekelilingnya. Ia tak boleh menjadi manusia pasif yang menutup telinga terhadap kemajuan di sekitarnya, sehingga ketika siswa menanyakan sebuah persoalan ia tidak bisa memberi jawaban memuaskan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Guru sebagai ujung tombak pendidikan memegang peranan penting dalam kemajuan pendidkan khususnya dan kemajuan bangsa pada umunya. Jika ada program wajib belajar bagi siswa, mengapa ini tak berlaku juga bagi seorang guru? Jika semua guru memilliki kesadaran untuk terus belajar, maka tidak akan terdengar lagi dunia pendidikan kita yang mengenaskan. Beberapa kompetensi yang dipersyaratkan pada diri seorang guru seyogyanya bisa membuat guru melakukan perubahan pada diri peserta dirik. Perubahan dari tidak baik menjadi baik, dari tidak tahu menjadi tahu. Guru dengan kemampuan lebih yang dimilikinya, ditunjang dengan semangat belajar yang tinggi akan lebih mampu mencetak peserta didik menjadi lebih berprestasi daripada guru dengan kemampuan biasa atau minim.

Apa pun alasannya, seorang guru sebenarnya memiliki banyak waktu luang untuk terus belajar. Kalau toh ia tak memiliki waktu khusus untuk belajar di jalur pendidikan formal, maka setidaknya ia bisa mengembangkan diri melalui beragam jalur yang bisa ia lakukan. Belajar bukan berarti harus di tempat tertentu. Di mana saja, belajar bisa dilakukan. Di sela mengajar, di sela ‘break’ mengajar, di luar sekolah, di mana saja, seorang guru akan memiliki waktu untuk belajar. Guru yang kreatif akan memanfaatkan waktu yang ia miliki untuk mengasah dan mempertajam ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Bahkan ia tak segan untuk belajar mengasah ketajaman berpikirnya dengan cara berlatih menulis tema apa pun yang bisa ia tuangkan di atas kertas. Dengan berlatih menulis seorang guru telah belajar berpikir secara kritis, logis, inovatif dan sistematis. Melalui pengamatan dan pemunculan gagasan demi gagasan, seorang guru pada akhirnya akan mewarnai jagat pendidikan dengan ide-ide kreatif yang mampu dituangkan dalam bahasa tulis yang membawa kebermanfaatan dalam banyak hal.

Maka, meluangkan waktu untuk belajar adalah hal yang mesti dilakukan oleh seorang guru. Minimal meluangkan waktu untuk membaca dan mengkaji permasalahan apa pun apalagi  yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Pembiasaan berpikir kreatif akan menjadikan guru sebagai sosok mumpuni yang diperhitungkan karena kapasitas ilmu yang dimilikinya. Sudah saatnya menggantikan budaya ‘gosip’ di lingkungan kerja menjadi budaya berpikir kreatif, sistematis dan ilmiah dengan cara menyalurkan pemikiran-pemikiran dalam bahasa tulisan. Dan sudah saatnya pula menggebrak keterkungkungan guru dengan melesatkannya menuju alam kemajuan melalui dunia belajar.***

 

9 Comments to "Guru kok malas belajar"

  1. Apriyanti Arifin  21 June, 2012 at 22:02

    wow… saya guru … no ..no … itu oknum , tentu saja setiap saat belajar… kasihan banget guru…selalu aja disorot, beda dg pegawai lain… korupsi juga gpp…

  2. ugie  9 June, 2012 at 21:28

    hehe … kena deh aku .. ( tutup muka )
    guru memang kudu terus belajar , karena ia bukan orang super .
    pelatihan2 banyak , tapi kadang tak semua guru mendapat kesempatan .

    tetap mencoba terus belajar ..

  3. probo  9 June, 2012 at 18:54

    Bu Ida, terus terang saja…kan banyak guru yang jarloni, isa ngajar ra isa nglakoni…….selalu meminta siswa untuk gemar membaca, tapi beliaunya blas…nggak pernah baca, langganan koran saja ‘owel’….apalagi beli buku hehehe

  4. Bagong Julianto  9 June, 2012 at 06:40

    Ida C>>>

    Satu sisi profesi guru adalah mulia, sisi lain harus diakui profesi guru tidak selalu menjanjikan……
    Beberapa kali media tampilkan guru yang terpaksa nyambi: jadi pemulung, tukang ojek dlsb…..
    Harus ada semacam sertifikasi (??) guna tingkatkan kompetensi plus renumerasi bagi ybs….
    Maka guru yang malas belajar pasti tidak mendapat gaji yang lebih……

    Suwunnnn…

  5. Dj.  9 June, 2012 at 00:56

    Dj. rasa tidak ada bedanya, nbaik di Indonesia, maupun di Jerman ya….
    Dj. hanya tau, baik Susi, maupun Dewi, seiap tahunnya mengikuti beberapa seminar 1-2 minggu.
    Untuk bisa mengikuti apa yang diharapkan oleh kementrian pendidikan untuk tahun pengajaran.
    Jjadi ya tidak bisa dikata mallas juga sih…
    Biasanya dalam seminar 1 – 2 minggu, semua biaya baik penginapan pun makan minum dan uang saku sudah ditanggung oleh pemerintah. dan itu sudah harus bisa diterapkan disekolah, bila seminar selesai.

    Selamat menunaikan tugas, tapi Dj. rasa tidak ada salahnya kalau sekali-kali malas….
    Hahahahahahaha…!!!
    Salam,

  6. J C  8 June, 2012 at 22:15

    Setuju buanget! Aku sendiri sudah tidak mengajar lagi juga terus meng’update diri sendiri dengan segala macam hal…

  7. [email protected]  8 June, 2012 at 11:05

    Guru kencing berdiri….
    murid kencing berlari…..

    lha…(bener gak ya???)

  8. Silvia  8 June, 2012 at 10:57

    Kalau kesejahteraan guru sudah dijamin dengan sangat baik dan tidak ditambahi dengan tugas2 berlebihan yg tidak ada kaitannya dengan mengajar, akan lebih baik lagi.

  9. Dewi Aichi  8 June, 2012 at 10:45

    Saya akan belajar banyak hal dari BU Ida…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.