Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
Mengapa Soekarno gemar menemui aktris atau aktor terkenal? Apakah dia memang gemar menonton film-film Hollywood hingga anaknya sakit tak diperhatikan, sampai dokter keluarganya dr. Djuned Pusponegoro marah besar?
Marylin Monroe, Ronald Reagan, Gregory Peck, Jean Simmons, Elvis Presley, Joan Blackman, Gina Lollobrigida, Elizabeth Taylor, Rhonda Flemming semua pernah ditemuinya. Mereka berbincang, kadang berdansa bergurau derai tawa. Apakah ini untuk membalas masa muda Soekarno yang hilang habis digunakan untuk perjuangannya bagi orang lain, bangsanya?
Pages: « 13 … 12 11 10 9 8 [7] 6 5 4 3 2 … 1 »
Pages: « 13 … 12 11 10 9 8 [7] 6 5 4 3 2 … 1 »
June 8th, 2012 at 22:43
Om itsmi selalu memggunakan kalimat “menutup diskusi”. Padahal tidak sesederhana itu maksudnya Tessa.
June 8th, 2012 at 22:42
Hohoho O m JC, soal sisi gelap Soekarno nanti ada tempatnya tidak disini. Lepas dari komentar Itsme yang sering zig zag, saya ingin sekilas bahwa perkelahian Guntur dan bapaknya sangat sengkt, ketika itu Guntur sudah besar dan remaja.
Asal tahu saja, Guntur dan Megawati sangat tahu banyak tentang cerita istri-istri tambahan bapaknya, Mereka menyebutnya “gundul margindul” (kalau saya tak salah ingat saya) dan banyak kisah manusiawi Soekarno tersimpan oleh anak-anaknya.
June 8th, 2012 at 22:37
45 SU : kuwi fotone sopo? ini setan, demit ya SU?
46 ISK : pertanyaan: gmn dgn wanita diatas 40an???? contohnya aku???? wakakakak……..horotoyoh……glagepan……apa msh hangat, terlalu hangat, apa malah terlalu HOT??????
June 8th, 2012 at 22:31
Mas Iwan, jelas fakta tak terbantahkan bahwa Profesor Sejarah Baltyra memang selalu bisa menemukan fakta menarik. Itu salah satu contoh lagi:
Fakta-fakta seperti ini di mana bisa kita baca selain tulisan mas Iwan di Baltyra…
Bisa jadi serial lain tentang Soekarno nih…
Btw, aku tidak membenarkan sepak terjang Soekarno dan contoh lain yang aku tulis di komentar sebelumnya. Faktanya memang benar Itsmi bilang bahwa selain libido yang (mungkin) berlebih, tapi sepertinya lebih ke faktor psikologis KEKUASAAN itu tadi. Mana ada sih seorang pria yang tak ada power/kekuasaan, tak ada finansial berlebih, tak ada muka dengan nilai plus, tak ada kemampuan yang dibanggakan tapi dikerumuni dan dijadikan rebutan oleh para wanita, dan apakah berani pria seperti itu mengadakan pendekatan ke wanita-wanita yang jelas nilai lebih fisiknya menonjol.
Demikian juga sebaliknya dengan contoh CLEOPATRA. Dengan segala kelebihan fisik, paras, kekuasaan, dan konon ‘kemampuan kanuragan’ membuat pria-pria berkuasa di masanya bertekuk lutut juga.
Prinsipnya adalah tergantung dari masing-masing individu, membiarkan godaan dan mengijinkannya untuk menggoda, dan melayani godaan tsb.
Dan yang terparah adalah orang-orang yang mengatasnamakan AGAMA untuk membenarkan urusan arus bawah ini…
June 8th, 2012 at 22:29
Soekarno pemimpin yang memanfa’atkan kekuasaannya secara terbuka, penuh sportifitas. Tak berusaha menyembunyikan fakta dan sejarah. Salute, profesor sejarah Baltyra, dikau memang spesial.
June 8th, 2012 at 22:23
Itsmi pasti membalas komentar: “ah, JC kamu itu neolib” huahahaha…
June 8th, 2012 at 22:22
Ah, pendapat Itsmi itu khas pendapat imperialis dan neo-kolonial…huahahaha…
kabuuuurrrr…
Itsmi, kamu sendiri bilang biasanya pemimpin memiliki nafsu di atas rata-rata. Dari Mobarak, Khadafi, bin Laden, Soekarno, Sarkozy, Berlusconi, Kennedy, Clinton, semuanya sami mawon untuk urusan arus bawah, adakah penjelasan untuk itu?
June 8th, 2012 at 21:28
Sesayu, nobody is perfect itu kalimat yang tak berarti… dengan argumentasi begini itu sebenarnya menutup diskusi….
kaitannya dengan wanita dan mau menjabat untuk seumur itu tentu secara psikologis sangat berkaitan….
June 8th, 2012 at 21:15
54 DA : LOLO? dlm bhs Hawaii artinya GILAAAAAAAAA…………wahahahah…….Gina Lolo=Gina gilaaaaaaaaa
June 8th, 2012 at 20:43
Nobody is perfect, namanya juga manusia. Mau sereligius apapun, segenius apapun, setajir apapun, pasti ada donk kelemahanya. Untuk Soekarno, ya memang dia pemuja kaum hawa, lagipula kaum hawa kan juga suka dipuja2…hohohoho. Untuk urusan poligami, salah tidaknya ya dikembalikan saja ke pelakunya dan korban-korbannya.