Saya (Mantan) Anak Kolong Juga

Bagong Julianto, Sekayu-Muba, Sumsel

 

Sekayu, 28 Mei 2012

Saya baru turun dari Lt. 3 ke Lt. 2 komplek Kantor Bupati ketika seorang tentara muda Raider dengan perangkat HT di tangan kirinya perintahkan saya untuk naik lagi. Ada apa? Saya segera menuju undak-undakan lantai, tiba-tiba: “Duar, duar, duar…teteteret…tetetereeettt”, terdengar rentetan senjata api. Si tentara teriak-teriak nggak jelas, seperti memberi perintah. Terdengar lagi suara rentetan senjata api. Saya jongkok dan kemudian nggelongsor. Satu selongsong peluru jatuh terpelanting, mendenting dekat saya. Nurani jawaisme saya bilang: “Untung nggak kena batok kepala botak saya…” Dua orang bersenjata api laras panjang/bedil dengan pakaian bukan tentara bertopi, berteriak-teriak nggak jelas juga, bergema, entah apa yang diteriakkannya. Sementara itu belasan pegawai negeri laki-perempuan serentak pada berusaha menuruni undak-undakan. Sama seperti saya. Bingung. Heran.Kaget. Ingin tahu. Ada apa gerangan?

Gbr.1. Peluru Hampa Memekakan Telinga dan Gbr.2. Pendopo Muba Serasan Sekate

 

Srondol-Semarang, seputar 1966…

Bagi kami, televisi adalah benda ajaib Tentu saja! Namanya juga anak-anak. Anak asrama lagi! Banteng Raiders! Seingat saya, TVRI hitam-putih saat itu siaran hanya sekian jam. Tak berapa lama setelah sore menjelang gelap malam, siaran habis. Selesai. Mulailah kegaduhan baru. Tiap malam! Sekian belas anak-anak ingin jadi pahlawan yang menekan tombol off untuk matikan TV. Banyak yang nangis untuk jadi yang pertama menekan tombol off. Ada yang mau dibujuk orang tuanya untuk mengalah dan langsung pulang. Yang lebih banyak lagi adalah yang mau antri nunggu giliran: matikan-hidupkan untuk matikan lagi oleh yang berikut….Namanya juga anak-anak. Anak asrama. Anak kolong, gitu lhoh!.

 

Bandung, Liburan 1976…

Kami gratis nonton Sirkus Oriental. Rombongan anak-anak dan remaja sebanyak 3 mobil dan 1 truk dari asrama landasan udara. Namanya juga anak asrama. Anak kolong. Belakangan saya tahu, sirkus ini ada hubungan dengan Yayasan AURI. Kami sedang liburan yang pertama kali ke Bandung, asrama tempat dinas dan tinggal Pakde sekeluarga. Kalau Bapak (pensiunan) tentara Banteng Raiders, Pakde kami adalah tentara AURI. Saat itu Danlanudnya bernama Gaspar Billy Weru. Nama yang eksotis di telinga saya. Nama yang selalu saya ingat. Padahal sekalipun saya belum pernah jumpa beliau. Yang sering terjumpai terserobok saat main adalah anak gadisnya yang manis cantik bersepeda mini setang tinggi. Namanya? Ana, Betty, Cindy, Donna, Evy?! Lupakan namanya, yang diingat hanya kinyis-kinyisnya!! Namanya juga (mantan) anak kolong yang mulai akil baliq! Mulai melirik yang kempling dan kinyis-kinyis…….

Gbr. 3 s/d 6. Kinyis-kinyis. Dilihat dan Melihat.

 

Kandis-Pekanbaru, Riau. Buruh Kebon Sawit Seputar 1990….

Beberapa kawan sekerja, saat perjalanan dinas ke Riau Selatan pulang-balik mesti lewati Komplek Baterry P, Q dan R seputar Pekanbaru. Komplek dan asrama! Komplek/asrama itu pas benar di pinggir jalan raya. Bagi yang pertama kali melintas dan tidak membaca peringatan: Awas Anda Melewati Komplek Militer. Kecepatan Maksimum 20 KM/jam, akan jalan melajukan kendaraan senormal 40-60 KM/jam. Petakapun menghadang. Mobil digiring petugas! Masuk ke Pos. Proses saat itu juga. Sanksi diberikan: hitung jumlah tiang pagar asrama sepanjang ratusan meter itu. Belasan menit berlalu tengah malam itu. “Lapor! 62 tiang Pak!” “Salah! Ngawur! Dasar sopir sontoloyo! Hitung lagi!”, perintah si tentara. Belasan menit berlalu lagi. Tengah malam menjelang dinihari. “Lapor! Benar 62 tiang Pak!”. “Salah! Nih, kertas dan pena. Buat sketnya, hitung lagi. Sekarang kau hitung dari sini ke ujung sana.” Dinihari menjelang pagi. Semburat merah-kuning di langit timur. Sang sopir setiap hitungan 5 tiang, buat tally. Buat gambar. Buat skets. Akhirnya selesai lagi. Untuk yang ketiga kali. Jam 05. 00. Pagi. “Lapor, 62 Pak! Betul 62 Pak.” Memang 62 tiang. “Baik! Sekarang sudah pagi. Supaya segar kau, mandilah! Ini sabun, mesti kau habiskan sabun ini!” Saya nggak tahu, haruskah saya bangga mendengar cerita kesaksian  seperti ini……

Gbr. 7 s/d 9. Tentara, Pemerintah, Memerintah…..

 

Meulaboh. Balap Liar Anak SMP, Seputar Tengah Tahun 1995.      

Mess kami nggak sampai seratusan meter dari pantai. Setiap malam saat sunyi, deburan ombak yang ritmis menghantar lelap kami. Lain kejadian setiap Sabtu. Setiap malam minggu, derungan riuh knalpot belasan sepeda motor yang pasti sekian desibel memekakkan telinga manusia normal. Dari malam hingga tengah malam dan bahkan dini hari!  Balapan liar di jalan lintas. Jalan raya Meulaboh-Banda Acheh hotmix asphalt. Memang sepi. Jalan lurus sekitar 4000 meter, bagi anak-anak penggila balap sepeda motor tentu jadi arena aktualisasi diri. Tapi salah sarana. Balapan liar. Ada yang bertaruhan. Ada yang unjuk kebolehan-ketrampilan bertengkurap di sadel. Ngebut. Tanpa helm. Selalu kucing-kucingan dengan polisi. Tak bisa ditindak. Tak bisa ditangkap-proses. Tak bisa “diamankan”. Kebal peringatan, kebal hukum. Kebanyakan anak-anak SMP. Hampir seluruhnya anak asrama ternyata! Anak kolong juga! Satu petaka terjadi. Musibah. Kecelakaan. Dua anak-anak SMP, tewas sia-sia saat unjuk ketrampilan ngebut. Tanpa helm. Sabtu malampun kembali sunyi-sepi……

 

Sampit-Barak Kayu Asrama Tentara, Seputar Tahun 2002.

Tragedi etnis kemanusiaan Sampit telah setahun berlalu. Efeknya masih terasa bagi kami di kebun. Ratusan pekerja pulang, dipulangkan, lari, dilarikan karena merasa dan berperasaan sebagai masih ada hubungan darah dengan etnis kurban. Pada sisi lain, tak selalu mudah mendatangkan pekerja pengganti. Saling bajak pekerja terjadi. Kebun tak normal terawat. Semak belukar tumbuh tak terkendali mengotori lahan. Sepinya lahan menjadi peluang bagi aksi pembalakan liar. Termasuk juga pencurian sisa kayu balok yang masih malang melintang di antara barisan tanaman kelapa sawit. Mandor dan Assistant sudah pada angkat tangan. Nggak berani hadapi personil pembalak liar. “Tentara, Pak”, lapor mereka. Bersama satu staff, saya berinisiatif jumpai Pak M, tentara personil pengamanan kami. Ke asrama kami pergi. Asrama dan barak ternyata! Sinis dan sarkastik jika kami katakan barak itu tak lebih baik dari kandang ayam. Jangan kata melebihi mutu barak karyawan kebon. “Tahun berapa barak ini dibangun Pak?”, ini pula kalimat tanya yang saya ucapkan. Pak M senyum pahit. “Payah Pak! Dulu, jaman republik, komandan cari duit untuk anggota! Sekarang jaman rekiplik, anggota cari duit untuk komandan, Pak!”. Saya ingin juga ucapakan: anggota sekedar cari sesuap nasi, komandan memburu segenggam berlian……

 

Sekayu, 29 Mei 2012, Tentara Raider Gulung Gerakan Pengacau Keamanan….

Headline Harian Musi Banyuasin, Selasa 29 Mei 2012: Gulung Gerakan Pengacau Keamanan, sub headlinenya: Batalyon Infantri 200 Raider. Beritanya: “Bupati dan Ketua DPR disandera bahkan perkantoran pemerintah, kemarin Senin (28/5) pagi diduduki oleh sekelompok Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), tujuannya ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada halaman tiga lembar Advertorial Permata Muba 2017 dituliskan: Bupati dan Ketua DPRD Muba disandera GPK.

Gbr. 10 s/d 13. Penumpasan Aksi GPK oleh Pasukan Elite Raider.

Ternyata adalah unjuk  demonstrasi pasukan Gultor (Penanggulangan Teroris) Yonif 200 Raider. Dengan mengerahkan helikopter, rantis (kendaraan taktis) dan pasukan yang terlatih menyergap turun dari helikopter, akhirnya Pengacau Keamanan (Teroris) berhasil dilumpuhkan, tidak sekedar “diamankan” saja.

Gbr. 14 s/d 17. Serang Kilat, Evakuasi Cepat…

Saya sempat bertegur sapa dengan beberapa pelakon teroris dan juga pasukan Raider yeng bercoreng muka seragam hitam pasukan elit. Rona bangga-haru saya tangkap dari sorot mata dan tutur kata mereka.

Gbr. 18 s/d 21. Pelakon Teroris dan Pasukan Elite Raider.

Saya nyatakan bahwa saya juga mantan anak kolong Banteng Raider Srondol-Semarang.  Saya ikut bangga bahwa mendiang Bapak kami dulu juga pernah ikut berperang di Sumatera Barat dan Papua (IRIAN =Ikut Republik Indonesia Anti Netherland)……

Semestinya saya lebih bangga jika Tentara juga ambil peran dalam mencerdaskan dirinya sendiri sehingga tidak ada lagi kisah anak kolong jadi jagoan tengik, tentara jadi jagoan gratisan, sekedar jadi centeng disco-cafe, atau jadi agen penampung kelapa sawit……

HIDUP RAIDERS!

  

Sampunnnn…Suwunnnn.. (BgJ, 062012)…

21 Comments to "Saya (Mantan) Anak Kolong Juga"

  1. bejo  30 October, 2013 at 11:05

    please tulis juga Kompi Reiders yang dari Kartasura/gembongan,,,Keren perjalanan tempurnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.