Teruntuk Wanita-wanita Hebat 6.1

Yang Mulia Enief Adhara

 

Siang itu kami asyik menikmati makan siang yang lezat, sayur bening, ikan lele goreng yang dipenyet dengan sambal terasi, ditambah tempe goreng berikut lalapan. Sepertinya kami lupa dengan yang namanya timbangan ataupun bentuk badan.

Dalam hati aku bahagia melihat wajah-wajah di hadapanku begitu lahap menikmati setiap suapan. Aku teringat kata-kata Ibu saat beliau memasak, bahwa memasak adalah petualangan, kita bisa memadu aneka bahan dan bumbu untuk menemukan hasil yang berbeda-beda. Sebelum bicara bahan dan proses, kita harus memiliki cinta, memasak dengan cinta membuat masakan menjadi lebih nikmat. Melihat hasil masakan kita begitu dinikmati, itu tandanya kita berhasil menomor satukan cinta sebagai bahan sekaligus bumbu dasar.

Entin sebagai gadis belia yang selalu dipusingkan dengan penampilan tubuh dan timbangan buktinya begitu asyik menikmati hidangan yang ada. Lalu A Nana yang takut otot-ototnya rusak oleh lemak, ku lihat ia juga sudah 2x menambah nasi, Alvino yang jelas jelas tipe pria metro sexual nampak lupa diri dengan piring ke 3. Kalau Bapak dan Emak sepertinya sudah tidak perduli dengan bentuk tubuh juga timbangan, paling aku mengingatkan agar tak berlebih dalam makan demi kesehatan.

Apapun, aku bahagia melihat wajah-wajah di hadapanku yang begitu ceria bersantap bersama. Entah sampai kapan aku bisa merasakan suasana seperti ini, bagiku ini saat-saat yang tak terbeli dengan uang.

Alvino akhirnya mencuci tangan, lalu menikmati es kelapa muda sambil merokok. Jendela dan pintu dapur yang terbuka mengalirkan udara sejuk siang itu. Alvino nampak bersemangat, ternyata dia ingin kita merayakan pesta tahun baru di dekat kolam, tepatnya di area sarapan yang terdapat tungku penghangat badan.

“Lho A Vino mau buat apa emangnya ?”, Tanya Entin dengan mata berbinar binar, naluri ABG begitu kuat menggodanya untuk turut serta di acara itu.

“Hmmm kita bakar steak, buat aneka minuman dan kue, kita hias seindah mungkin, kita foto-foto, trus kita nyanyi-nyanyi pokoknya yang seru gitu deh”, Ujar Alvino penuh semangat.

A Nana menyahut, “ohhh Alvin mau masak steak? Buat kue dan minuman juga ? Hebat atuh”.

“Heh yang buat Uci, aku bikin kopi aja kacau kok, yakin mau makan hasil masakanku ?”, Ujar Alvino sambil tertawa.

Aku buru-buru menyahut, “Jangan Alvin yang masak ! Tau nggak, kapan hari jam 1 malam aku kebangun, bau sangit nah aku kira ada yang kebakaran, pas aku ke dapur, Vino lagi masak mie instan sampe airnya abis, udah gitu muka dia panik lho”.

Suara tawa langsung berderai, Alvin melemparku dengan daun selada dengan wajah memerah. Selanjutnya kami sepakat urusan memasak adalah aku dan Emak. Dekorasi Entin dan Alvin. Urusan peralatan memanggang Bapak dan A Nana. Mak Entin bahkan meminta kami semua wajib memakai busana batik buatan Nenek-ku. Kebetulan semua disain Nenek dibuat fleksibel yaitu semi formal jadi rasanya sangat pas, dan akan bagus terlihat di foto.

*****

Alvino benar-benar niat, dia memborong aneka hiasan indah sebagai ornamen pesta. Yang di gudangpun dibuka kemudian dipasang. Area sarapan yang terbuat dari pergola kayu mendadak terlihat mewah. Alvin memiliki selera yang sangat bagus, dia nampak berbakat untuk urusan dekorasi. Waktu aku pertama memasuki kamar tidurnya, di sana terlihat selera yang tak biasa, kamar yang indah sekaligus unik. Semua hasil pemikiran Alvino.

Kami sangat kagum melihat hasilnya, tak terbayang saat lampu-lampu dinyalakan, pasti lebih indah lagi. Setelah aku melihat hasil dekorasi yang begitu mewah dan gemerlap, aku langsung yakin peralatan makan serba putih akan membuat nuansa di meja lebih menonjol. Meja kayu akan indah dengan perangkat serba putih. Urusan menata meja menjadi kekuasaanku, maka kusiapkan piring bulat besar, cawan untuk saos daging, mangkok untuk salad juga perangkat lainnya.

Aku sudah mantab memilih menu steak, kentang tumbuk dengan saos daging, sayuran kukus, salad buah dengan udang, cheese cake, kue kering rasa jahe dan kayu manis, juga satu jenis minuman yang disebut shirley temple campuran sirop grenadine dan soda dengan sedikit jeruk nipis. Pasti meriah sekali besok malam.Hidangan nuansa Eropa pas untuk malam tahun baru.

Panggangan sudah tertata, Nyonya Gun membuat satu sudut area sarapan sebagai tempat memanggang permanen menyatu sebagai rangkaian dengan tungku pemanas. Pak Effendi hanya meletakkan batok kelapa sebagai media pemanas. Kami semua begitu bersemangat sekali, baru kali ini kami merayakan tahun baru bersama dengan suasana pesta sungguhan, yang benar-benar untuk kami.

*****

Jam 22.00 esok harinya semua sudah siap. Kami sudah berdandan dengan maksimal. Entin membantuku untuk memakai riasan, walau dipoles tipis aku merasa wajahku lebih segar. Baju batik karya Nenek menjadi busana yang memiliki nilai tersendiri. Aku baru pertama melihat karya Nenek dikenakan oleh Mak Ben dan yang lainnya padahal sudah lebih 3 bulan berada di lemari masing-masing. Mak Ben tampil cantik dengan baju kurung batik nuansa hijau yang dilengkapi rok panjang polos dengan kerudung senada. Lalu Entin mengenakan terusan mirip seperti seragam pramugari, sangat cantik dengan nuansa merah. Lalu Pak Effendi dengan kemeja tangan panjang nuansa biru, terlihat sangat gagah. A Nana dengan kemeja tangan panjang dan disain pas badan bernuansa kecoklatan sangat keren. Alvino mengenakan batik nuansa jingga dengan model pas badan membuatnya makin tampan. Aku sendiri dengan nuansa hitam semodel dengan yang dikenakan Entin. Ahh Nenek pandai betul mencocokkan gaya. Hanya dengan melihat foto, Nenek langsung tahu gaya yang pas untuk kami.

Hidangan sudah tertata, di meja jamuan, sebuah vas isi rangkaian bunga lily putih berada di tengah meja. Kami pun mulai sibuk berfoto foto, kamera milik Alvin sepertinya canggih, hasilnya begitu indah. Suasana pesta begitu jelas terekam dalam gambar.

*****

Dan pestapun dimulai, kami menikmati hidangan pesta tentu saja sambil tetap bergaya untuk diabadikan oleh Alvin. Kamera Alvin juga dipasangi tripod hingga kami ber 6 dapat selalu berfoto bersama. Saat melihat jam, aku baru menyadari waktu menunjukan pukul 22.35. Tanpa diduga Mak Ben mengusulkan sesi curhat. Renungan yang harus diucapkan agar yang lain turut mendengar. Walau ada rasa malu namun aku menyetujui. Ini malam tahun baru pertama kami sebagai keluarga. Sebenarnya tahun lalu aku sudah merasakan tahun baru di Dago Pakar, tapi kami masih belum dekat dengan Alvino. Jadi tahun lalu kami lewati pergantian tahun dengan biasa saja.

Supaya adil Entin memasukan 6 nama kami dalam gelas, mirip arisan. Lalu satu persatu nama yang keluar dari kocokan adalah sesuai urutan untuk curhat, atau lebih ideal disebut renungan selama hidup. Nama A Nana paling awal, lalu Bapak, Entin, Alvino, aku dan Emak. Rasanya cukup mendebarkan, karena dalam hati, kami akan ungkapkan apa yang ada dihati secara jujur tanpa ada yang dibuat buat hingga akhirnya kami menjadi satu keluarga seperti sekarang ini.

*****

A Nana membuka kisah, dia bersyukur sudah 3 tahun ini dapat bekerja di kediaman Tuan Gun. Ibu A Nana telah tiada sejak A Nana masih kecil. Saat usianya 8 tahun Bapak menikah lagi. Ibu tirinya bagai Nenek Sihir yang jahat. Kekerasan sering dialami A Nana. Ditempeleng, ditendang, ditonjok dan banyak lagi. Bapakpun nampak pasrah tak mampu membelanya. Dari Ibu Tirinya, Aa memiliki 1 adik yang hidup dalam kemanjaan. Menurut A Nana, dirinya Cinderella versi pria.

Bapak A Nana meninggal saat A Nana berusia 14 tahun dan sejak itu hidupnya makin susah. Biaya sekolah didapat dari Bibi-nya yang berada di Cirebon. A Nana bermaksud ikut Bibinya, namun untuk pindah sekolah sangat tanggung, rencananya lulus SMP ia akan pindah ke Cirebon.

Tragedi yang menyakitkan adalah Ibu Tirinya gemar sekali bermain cinta, ada saja lelaki yang datang menginap. Dan di suatu siang saat A Nana pulang sekolah, Ibu dan Adik tirinya tidak berada di rumah. Yang mengejutkan dalam rumah itu ada Darwin kekasih terbaru Ibu Tirinya.

A Nana mengerjakan tugas hariannya yaitu mencuci baju milik Ibu dan Adik tirinya. Tanpa diduga Darwin yang saat itu berusia 31 tahun sudah berada di dekatnya. Dan tanpa diduga Darwin menarik A Nana ke ruang tengah dan langsung menghempaskannya ke kasur yang berada di depan TV. Ternyata Darwin adalah seorang bisex dan berniat memperkosa A Nana. Seragam A Nana dirobeknya dan juga berusaha menelanjangi A Nana. Bahkan Darwin sudah sempat menindih A Nana dan menciumi bagian leher.

A Nana menyepak sekuat tenaga dan berhasil meraih papan catur yang tergeletak di tepi kasur dan segera menghantam kepala Darwin. Dengan panik A Nana lari keluar rumah dan tepat saat Ibu tirinya datang. Dengan pilu ia melaporkan kelakuan Darwin. Sungguh remuk hati A Nana, ternyata Ibu Tirinya sudah tahu bahwa Darwin seorang bisex, dan dialah yang mengatur kenapa siang itu Darwin ada di rumah.

Akhirnya A Nana pindah ke Cirebon. Paman dan Bibinya mengupayakan jalur hukum dan akhirnya Ibu Tiri bersama Darwin harus meringkuk dipenjara. Dan bagi A Nana satu tahun terakhir adalah tahun terbaiknya, yaitu merasakan lagi hidup dalam keluarga yang saling mencintai. Bapak dan Emak memeluk A Nana dengan penuh cinta, dan baru kali ini aku melihat A Nana menangis, sikapnya yang kocak benar-benar tidak terlihat.

*****

Bapak mendapat giliran berikut, dengan suara rendah Bapak menuturkan kisahnya. Istri Bapak sudah meninggal 10 tahun lalu. Dua tahun kemudian Bapak mendapatkan lagi cobaan, ia di PHK lantaran perusahaan tempatnya bekerja terlilit hutang. Enam bulan kemudian ia mendengar kabar tengah dicari seorang SATPAM untuk hunian milik pribadi. Bapak nekad melamar dan Bapak langsung diterima pasangan Gunawan. Dari bekerja di kediaman Keluarga Gunawan-lah, Bapak mampu membiayai pendidikan putra putrinya yang kini sudah bekerja di kantoran. Berulang kali kedua anak Pak Effendi meminta agar Bapaknya berhenti bekerja, namun bagi Bapak kalau bukan karena kebaikan hati Tuan Gun, mungkin saja anak-anaknya hanya menjadi lulusan SMU, untuk membalas kebaikan Tuan Gun yang menerimanya bekerja maka ia tak ingin berhenti bekerja dikediaman Tuan Gun. Junjungan seperti Tuan Gun bisa dihitung jari.

“Bapak tidak mau melihat saat sekarang, dimana anak anak Bapak sudah mapan bekerja di kantoran dengan gaji yang besar. Kalau hanya melihat itu maka Bapak tidak akan berada di sini lagi, anak-anak Bapak dapat merawat Bapak dengan lebih dari cukup. Bapak lebih melihat saat Bapak pertama datang kepada Tuan Gun, tanpa punya pekerjaan dan tabungan yang kian menipis, lengkap pula dengan sepasang anak yang harus terus menuntut ilmu. Andai Bapak tak diterima Tuan Gun mungkin saja hidup Bapak tidak seperti sekarang, mungkin anak-anak Bapak tidak dapat mencicipi bangku kuliah”, Ujar Bapak dengan penuh rasa syukur.

“Jangan tinggalkan orang yang menolongmu, itulah yang disebut tahu membalas budi”, Lanjut Bapak memberi nasehat. Kami semua mengangguk setuju.

*****

Selanjutnya Entin mulai berkisah, bahwa di tahun ini dia sempat risau karena Ayahnya memintanya pulang untuk dijodohkan dengan seorang pengusaha toko bangunan di kampung. Ia menolak keras usulan itu dan membuat Ayahnya marah. Namun Entin tak bergeming, dia merasa dirinya cukup berharga hingga tidak butuh dijodohkan dengan orang yang usianya 18 tahun lebih tua darinya. Sejak tiga tahun terakhir Ayahnya tak bosan memaksa Entin agar mau dinikahkan dengan si pengusaha.

“Aku menikmati pekerjaanku di sini, aku puas dengan gaji dan jaminan yang aku terima, rasanya dijodohkan bagi aku adalah pembunuhan karakter. Aku bukan tidak laku namun aku memang belum mau terikat”, Ujar Entin sambil mengusap ujung matanya karena ada airmata di sana.

“Tak satu orangpun berhak merenggut hidupku apapun alasannya, hanya Tuhan yang bisa. Sejak itu Bapak terus mendiamkanku, namun aku tetap menitip salam lewat Ibu dan kakakku. Aku tidak mau dijadikan simpanan walau laki laki itu bisa melumuriku dengan harta”, Lanjut Entin bijak. Alvino memeluk Entin. Aku terdiam, baru hari ini ku lihat Entin bicara serius, begitu rapi dia menutupi apa yang telah menimpanya, sungguh gadis yang tabah.

 

9 Comments to "Teruntuk Wanita-wanita Hebat 6.1"

  1. Alvina VB  10 June, 2012 at 05:43

    Curhatnya kok panjang2 amat sich….
    se7 katanya mbakyu Lani, makanannya bikin ngiler aza….

  2. Lani  9 June, 2012 at 04:00

    sayur bening, lele penyet………sambel trasi mentah, tempe goreng…….wadooooh ngocor iki ilerku……..

  3. Dj.  9 June, 2012 at 00:48

    Hhhhhmmmmm…..
    Untung sudah mau makan malam….
    Baca saayur bening dan pecel lele…..???
    Waaaaaw…pasti lupa timbangan ya…
    Salam,

  4. HennieTriana Oberst  8 June, 2012 at 23:17

    Makin asik nih.

  5. Dewi Aichi  8 June, 2012 at 22:52

    komen 4. …kok tensi he he..diukur pake apa? Pokoknya aku nunggu kisah Alvino aja yang cowo metrosexual he he…

  6. J C  8 June, 2012 at 22:15

    Lhaaaaa…tensi cerita naik lagi…

  7. Linda Cheang  8 June, 2012 at 15:09

    panjang banget…

  8. [email protected]  8 June, 2012 at 10:53

    abis ini alvino….. tralalalalalalalala…. panjang nih ceritanya….

  9. Dewi Aichi  8 June, 2012 at 10:43

    Sudah mulai detik detik menegangkan….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.