Di Bawah Hujan

El Hida

 

“Ma’afkan aku, Zuka…”

“Tak ada yang perlu dima’afkan, Hildan, semua sudah ada yang mengatur. Engkau tak perlu menyesali apa yang telah kau perbuat kepadaku. Namun cukup satu aku pinta. Sudah, cukup. Jangan dekati aku lagi…”

Sore itu, Aku memang tak tahu, kenapa tiba-tiba Zuka yang telah sangat dalam aku kenal, menjadi marah dan benci kepadaku. Aku hanya melihat dia sangat membenciku. Padahal selama ini yang aku tahu dia begitu mencintaiku, dia bahkan tak perduli akan segala kekuranganku, walaupun aku kadang terlihat kekanak-kanakan, dia selalu bersikap dewasa membijakiku. Namun saat ini semua terasa begitu tidak biasa. Dia yang selama ini selalu memahamiku, mengerti segala keadaanku, dan merindukanku dengan segala ketulusan yang ada dikedalaman hatinya, kini seperti hilang.

Mungkin, kesalahan demi kesalahan yang aku lakukan, dan kesilafan kesilafan yang aku perbuat, telah mampu menghapus rasa cinta kekasihku. Sehingga segala kesalahan dan kehilafan menjadi bara yang membakar cinta dan meleburkan rasa rindu menjadi abu.

“Biarkan aku menangis sepuasku, jangan pernah usik aku lagi, untuk hari ini, besok, lusa dan selamanya. Sebab aku hanya ingin sendiri seumur hidupku…” Lirihnya.

Kulihat hujan di matanya begitu lebat, sehingga ada satu tetesan membawa gemuruh di dadaku. Aku tak kuasa menahan rasa bersalahku, yang aku sendiri belum mengerti apa sebenarnya yang telah aku lakukan sehingga membuat Zuka, kekasih yang telah aku ikrarkan menjadi pendamping dunia akhiratku ini bisa semarah itu. Aku hanya duduk di depannya, melihat setiap tetesan yang jatuh begitu menusuk jantungku.

“Izinkan aku memelukmu, Oi…” Aku mencoba membujuknya, sehingga bisa aku redupkan api di pelataran hatinya yang semakin membuncah.

“Tidak, kau peluk saja keinginanmu menjadikanku perempuanmu…” suaranya semakin berat, aku semakin sadar. Saat ini Zuka memang sedang tak ingin aku ganggu. Tapi aku begitu merindukannya. Aku hanya ingin dapat melihat wajahnya saat kerinduanku kian menggebu. Aku coba tenangkan hatiku, agar emosiku tetap terjaga dan aku tak menyakiti Zuka, kekasih impianku

.

“Tapi apa sebenarnya kesalahanku, Oi, izinkan aku tahu sehingga bisa kujelaskan padamu…?” tanyaku.

 

Zuka mengusap wajahnya dengan jilbab ungu yang dipakainya saat pertama kali aku mengenalnya. Namun Zuka tak berbicara, hanya airmatanya turun semakin deras, mengguyur sisa-sisa lamunanku. Aku membiarkannya menangis, sembari membaca diri.

“Itulah salahmu, Hildan!” bentaknya, “kau selalu ingin tahu apa yang sedang aku lakukan, selalu ingin tahu keadaanku. Apa tidak boleh aku mempunyai satu saja, ruang privacy untuk aku bersenang-senang dengan keadaanku, dengan suasana hatiku…?” Sambungnya pelan.

Aku merenung, mengingat-ingat salah apa yang telah aku lakukan.

“Apa aku salah, Oi…?”

“Jelas kau salah. Kau tak menghormatiku. Kau tak menghargaiku. Kau egois. Kau mementingkan keinginanmu. Kau hanya…”

“Aku hanya takut kehilanganmu, oi, takut…” potongku.

“Kalau kau ketakutan begitu, berarti kau tak mempercayaiku.” tuduhnya

“Aku percaya, Oi..” belaku

Zuka menatapku tajam, “Lalu, kenapa kau takut?! Aku tak akan mencintai selainmu, kau tahu kan? Tapi sekarang kau sudah keterlaluan. Kau seperti telah menjadikanku robot yang bisa kau remot kapan saja!.” sambungnya dengan nada tinggi.

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku takut menyakiti hatinya. Sebab aku sadar, ini memang salahku yang belum juga bisa memahami inginnya, aku terlalu sibuk dengan kerinduanku yang kian hari kian tak mampu aku kontrol, sehingga aku lupa akan kebiasaan Zuka yang sedikit saja terusik maka dia akan murka.

“Ma’afkan aku, Oi…” airmataku tak dapat aku tahan lagi, menderas menyusuri kesedihanku.

Aku tak ingin berpisah dengan kekasihku.

“Sudah cukup sampai di sini, Hildan…!” ucapnya tegas, langit mendung. Aku bersimpuh di kaki kekasihku. Memohon, agar dia tak meninggalkanku. Langit telihat begitu mendung, tak sama dengan saat pertama aku menyapanya.

Di taman ini. Di tempat duduk ini. Di bawah pohon ini. Pohon ceremai, yang setiap aku dan kekasihku datang ke sini, selalu kutulis nama kami di batangnya.

Entah telah berapa banyak nama kami tertulis di pohon itu. Dan aku selalu bahagia saat membacanya kembali.

Tapi tidak senja ini. Mataku berlinang. Airmata kekasihku membanjiri setiap relung jiwaku, palung sukmaku.

“Jangan tinggalkan aku, Oi, aku mohon… Izinkan aku memperbaiki kesalahanku. Demi Tuhan aku tak ingin berpisah denganmu.”

“Aku capek, Hildan, capek. Ini bukan pertamakali kau membuatku menangis seperti ini. Lalu mau sampai kapan?” Zuka merunduk, aku tak dapat melihat matanya. Aku masih bersimpuh, memohon ma’af.

“Ma’afkan aku…” aku menangis, sujud di kaki kekasihku.

Tak ada yang tahu, betapa aku mencintainya. Jangankan cuma bersujud untuk meminta ma’af. Mencium kakinyapun, akan aku lakukan agar dia tidak meninggalkanku. Aku tak takut dibilang orang pengemis cinta. Aku lebih takut kehilangan kekasihku. Kehilangannya berarti kehilangan nyawaku. Karena Zuka, kekasih terindahku, telah menjadi bagian dari setiap helaan nafasku.

Hujan turun semakin deras. Aku kuyup, kekasihku juga. Untuk sesaat kami membisu, hanya suara huj yang menemani kebisuan kami, aku masih tetap dengan posisiku bersujud dikaki kekasihku, tak akan ku angkat tubuh ini sebelum Zuka kekasihku memaafkanku

“Hildan…” Aku mendengar kekasihku memanggil dengan suara berat dan isak. Aku tetap sujud di kakinya.

“Ma’afkan aku, Oi…” Kujawab dengan isak juga.

“Hildan…” Kekasihku memanggil lagi. “Angkat tubuhmu, sayang, lihat aku…” kurasakan kekasihku memegang pundakku, sebagai isyarat agar aku bangun dari sujudku.

“Iya, Oi…” Aku bangun dari sujudku, seperti ‘itidal.

“Hapus airmatamu, sayang, ma’afkan aku. Jangan menangis…” Zuka mengusap wajahku dengan tangannya. Bergetar hatiku, getarannya hampir sama ketika pertama aku melihatnya duduk di kursi ini, di taman ini. Di bawah pohon ini.

“Jangan tinggalkan aku, Oi…” aku kembali memohon masih dengan ketakutan yang tak berkurang

“Iya, sayang, demi Tuhan aku tak akan meninggalkanmu. Maafkan aku juga yang tak bisa mengontrol emosiku…” Ungkapnya lirih, ku temukan ketulusan dibinar matanya yang mampu menerangi sisi gelap kesedihanku.

“Engkau serius, Oi?”

“Iya, sayang, aku serius.” Zuka senyum. Lalu memelukku, kemudian mencium bibirku. Terasa begitu hangat di hatiku. Dan kami sama-sama menangis. Di bawah hujan.

“Ngo oi lei…” Aku mencintaimu, katanya.

“Ngo tu hai, Oi…” Aku juga, Cinta, jawabku. Lalu kami menuliskan nama kami di pohon ceremai. Dengan hati bahagia. Dengan hati penuh cinta.

 

*cinta itu adalah perihal menerima kekurangan, bukan membangga banggakan kelebihan*

 

(Dimuat di tabloid dwimingguan Apakabar Indonesia di Hongkong)

Elhida

050512

 

4 Comments to "Di Bawah Hujan"

  1. Dewi Aichi  11 June, 2012 at 23:49

    El Hida, aku suka tulisan tulisanmu, kadang menyejukkan, dan kali ini cerita yang amat menarik…hmm…kerudung ungu masih berkibar ni yeeee

  2. J C  10 June, 2012 at 17:51

    Hhhmmm…apik…

    Mas BagJul, itu dialek Cantonese, setting cerita sepertinya di Hong Kong (ditegaskan lagi bahwa tulisan ini dimuat di dwimingguan Hong Kong)…

  3. Bagong Julianto  9 June, 2012 at 13:28

    El Hida>>>>

    Happy ending…..

    Suwunnn..
    (Ngo itu bahasa mana?)
    Nga bahasa Sekayu untuk kamu, anda (akrab)…

  4. James  9 June, 2012 at 09:53

    SATOE DINGIN DIBAWAH HUJAN

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.