Prosesi Seni Ruwatan Pasar Gedhe Rejowinangung Magelang

Mbilung Sarawita (Condro Bawono)

 

Pukul 10.30 WIB, suasana Pasar Stress, Pasar Ikan dan Pasar Penampungan Rejowinangun Magelang tidak seperti biasanya. Ada kegaduhan-meriah menghibur para pedagang tanpa mereka duga sebelumnya. Tiga kelompok paguyuban seniman Magelang menampilkan arak-arakan dalam format seni-pertunjukan kontemporer.

Komunitas Seni Lagrangan menjadi cucuk-lampah dengan alat-peraga Bola Uang berdiameter 175 cm, yang kerangkanya (Bhs. Jawa : lagrangan) dibuat dari bilah-bilah bambu, ditutup rapat dengan kertas semen, ditempeli banyak lembaran uang-mainan mirip uang-asli sebagai hiasannya. Diiringi musik perkusi-Jimbe, Bola Uang digelindingkan sepanjang jalan, berulang-kali menabrak dan menggilas seniman-penari di depannya. Ini merupakan simbolisasi kesengsaraan para pedagang Rejowinangun di Pasar Penampungan. Ekspresi kesakitan, kesengsaraan dan putus-asa ditampilkan oleh seniman Andri Topo bersama lima personil Lagrangan.

Sepuluh meter kemudian adalah Komunitas Wonoseni pimpinan Ipang, mengusung replika bangunan baru Pasar Rejowinangun ala seniman. Sembari menabur-naburkan bunga mawar merah-putih, kelompok ini berjalan tenang, serius, diringi musik kentongan dan bende. Suasana spiritual dibangun oleh Ipang bersama delapan anggotanya, sebagai simbolisasi perlunya meruwat Pasar Rejowinangun yang terbakar 2½ lalu.

Komunitas Seni Warangan berada di barisan terakhir arak-arakan. Handoko Sudro bersama duapuluh seniman Trunthung Topeng Ireng menyajikan bunyi-bunyian eksotis meriah khas seni trunthung. Ditambah gerak-kompak para pemain, kesenian ini hendak menjadi simbol kegembiraan para pedagang kelak entah kapan setelah Pasar Rejowinangun dibangun-kembali.

Prosesi dari lokasi Pasar Penampungan bergerak terus melewati kampung Magersari, tembus ke ujung utara Jalan Ikhlas, hujan turun lumayan deras, namun para seniman tetap penuh semangat, menuju pertigaan depan Pasar Rejowinangun. Di situ mereka menyajikan performance-art “menjelang ruwatan”. Tak berapa lama kemudian satu-demi satu kelompok seniman menyusup masuk ke area bekas-pasar-terbakar, melakukan inti prosesi ruwatan di situ. Gerak-tari teatrikal, musik eksotik, taburan bunga dan doa-doa saling melengkapi keseriusan para seniman tersebut.

Keluar dari area-bekas-pasar-terbakar yang kini sudah ditumbuhi rerumputan tinggi, para seniman menyeberang jalan raya dengan teatrikal merangkak, merayap, sebagian bergulingan, simbolisasi penderitaan-panjang susah-payah para pedagang yang sebagian besar orang-kecil bermodal-kecil. Performance-art dilanjutkan beberapa menit di sekitar bundaran perbatasan Jl. Pemuda – Jl. Sudirman, sementara beberapa seniman mengambil peran sebagai pengedar kotak-kardus Koin Peduli Pembangunan Pasar Rejowinangun, tetap dengan sikap-sajian-teatrikal khas seniman.

Pukul 12.00, prosesi seni Ruwatan Pasar Gedhe Rejowinangun tersebut selesai.

Magelang, 24 Oktober 2010 PETANG

Sinopsis ini ditulis oleh mBilung Sarawita alias Toekang Potrek “Pak Ndong” alias Condro Bawono dengan beberapa masukan dari Bambang Bro Matra.

Berikut ini adalah isi selebaran yang dibagikan kepada para penonton di sepanjang prosesi seni-ruwatan tersebut (sekaligus berfungsi sebagai press-release) :

RUWATAN  PASAR  GEDHE  REJOWINANGUN  MAGELANG

Minggu Kliwon 24 Oktober 2010   /   16 Dulkaidah 1943 Dal

Ruwatan, secara umum diartikan melepas atau membebaskan. Ruwatan merupakan tradisi ritual Jawa dalam rangka membebaskan nasib atau masa depan manusia dari kesulitan dan marabahaya. Kesadaran tentang adanya faktor kesulitan atau bahaya itu datang dari proses pemikiran yang abstrak dan ketajaman intuisi manusia. Karenanya, pengertian tentang ruwatan akan lebih mudah didekati dari aspek falsafah sebagai suatu unsur kebudayaan. Demikian pula para seniman Magelang memaknai persoalan yang membelit Pasar Rejowinangun yang terbakar 2½ tahun lalu dan hingga kini belum juga dibangun. Ketidakjelasan pembangunan-kembali pasar yang menjadi urat-nadi ekonomi sekaligus ikon-budaya Magelang itu telah membuat sengsara ribuan warga Magelang, khususnya para pedagang, keluarga mereka, serta para pelaku ekonomi yang menjadi matarantainya.

Berlarutnya ketidakjelasan mengenai kapan pasar akan mulai dibangun-kembali, oleh para seniman dipahami sebagai pertanda adanya ketidakberesan. Secara kebudayaan, para seniman merasakan adanya anasir-anasir negatif dalam berbagai proses selama 2½ tahun ini. Melalui ritual ruwatan diharapkan anasir-anasir negatif itu bisa dihilangkan, sehingga proses pembangunan bisa dilakukan SEGERA, supaya para pedagang pun bisa melakukan-kembali aktivitas ekonomi yang normal, sehingga kehidupan mereka bisa pulih seperti sedia kala.

Ritual-seni-budaya Ruwatan Pasar Gedhe Rejowinangun Magelang ini dilakukan dengan seni-pertunjukan berjudul “NAFAS  SESAK  REJOWINANGUN” oleh para seniman Magelang yaitu Andre Topo, Aning Purwa, Komunitas Seni-Pertunjukan LAGRANGAN, Handoko Sudro Cs, TOPENG IRENG Warangan, dan Ipang Wonolelo dengan Ritual-Art Sanggar WONOSENI. Selain itu, ikut serta para perupa yang tergabung di KSBI (Komunitas Seniman Borobudur Indonesia), dan para fotografer dari Komunitas GuFi (Guyub Fotografi). Mereka akan melukis dan memotret berbagai aktifitas ruwatan, serta geliat pedagang sehari-hari. Diharapkan karya-karya mereka nantinya akan dipamerkan dan hasilnya akan disumbangkan kepada para pedagang.

Sajian kesenian ini murni dari lubuk-hati para seniman, yang secara formalitas (khusus dalam kegiatan hari ini) diwadahi melalui Grup Facebook “RAKYAT PEDULI PEMBANGUNAN PASAR REJOWINANGUN MAGELANG” yang didirikan oleh Mualim M. Sukethi yang sekaligus merupakan Penanggungjawab Kegiatan ini.

Salam Budaya !  …….

 

==================================================

Sebagian besar materi selebaran tersebut merupakan buah-pikiran Mualim M. Sukethi (dan sudah diupload sendiri oleh penulisnya), dengan ada sedikit tambahan materi dan editing-bahasa oleh mBilung Sarawita, Andri Topo dan Aning Purwa.

==================================================

 

7 Comments to "Prosesi Seni Ruwatan Pasar Gedhe Rejowinangung Magelang"

  1. mBilung Sarawita  28 July, 2012 at 21:58

    matur nuwun kawigatosanipun para kadang BALTYRA

  2. Dewi Aichi  11 June, 2012 at 23:36

    di negara besar seperti Brasilpun, masih menyelanggarakan prosesi prosesi/ruwatan seperti ini, yang paling kuat adalah di wilayah Bahia

  3. Dewi Aichi  11 June, 2012 at 23:26

    Wah…mas Mbilung, terima kasih , tulisan ini menambah pengetahuan saya, beberapa kesenian yang sebelumnya ngga aku kenal, padahal kita tetanggaan, Sleman dan Magelang, cuma lurusssss…..ke utara.

  4. J C  10 June, 2012 at 17:53

    Yah, sepertinya negeri ini perlu diruwat besar-besaran. Angkara murka sudah menguasai hampir seluruh aspek kehidupan bernegara (korupsi dan intoleransi yang semakin menggila).

  5. AH  10 June, 2012 at 04:03

    mas bagong : anasir negatif itu syetan2 tampak mata

  6. Bagong Julianto  9 June, 2012 at 13:14

    mBilung S>>>

    Anasir negatif=pemodal besar yg tak peduli pedagang kecil?
    Haruskah Pak JOKOWI dan AHOK ke Magelang?

    Suwunnnn..

  7. James  9 June, 2012 at 09:52

    SATOE PROSESI SENI

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.