Mengenang Bulan Purnama Semalam

Kurnia Effendi

 

BERCINTA DI BAWAH BULAN

Inilah ritual yang kuangankan sejak usia dua belas tahun: bercinta di bawah bulan!

Di bawah leleh cahayanya yang melumuri langit dan tergenang di atas laut, seperti emas cair yang selalu bergelombang mengikuti tarian ombak. Seperti itu pula tubuhku meliuk mengelilingi tubuhmu, ditumbuhi gairah yang menggelegak setelah bertahun-tahun kuhimpun dengan sabar hingga terlampau sulit dibendung. Mengingatkan peristiwa desakan air dalam dam raksasa yang hanya dibatasi tanggul rapuh dan meruntuhkannya. Menyebabkan jutaan kubik air tumpah, lalu mengalir dengan kecepatan tak terduga. Merobohkan seluruh benda yang dilintasi, nyaris tanpa peduli. Sebagaimana percintaan yang berlangsung tanpa mempertimbangkan sekitarnya, karena seluruh pori tubuh kita mekar menguapkan aroma syahwat. Mengaduk-aduk darah yang berlalu-lalang amat gegas, dari jantung ke seluruh tubuh. Melewati jaringan aorta menuju jemari yang meregang Dari lorong arteri memasuki bagian-bagian tersembunyi. Dan sebaliknya, dari akar-akar rambut kembali ke pusat pembuluh. Seperti Audi Sporty yang meluncur kencang di jalan tol, membuat nafas kita tersengal oleh perebutan antara hasrat dan kesabaran.

Oh, mana mungkin ada kesabaran dalam sebuah percintaan yang bergelora? Tentu tiada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni,  bagi  percumbuan yang mirip geliat hiu mengitari mangsanya, sebelum mencabik-cabik korban dengan taringnya, sampai menjadi sayatan-sayatan penuh hamburan warna merah. Hanya bedanya, saat ini warna bulan yang menyiram rambutmu menjadi kelebatan-kelebatan cahaya kuning sewaktu kaugoyangkan kepalamu mengikuti irama tubuhku. Menyerupai tarian Boi G Sakti yang lentur sekaligus kejang. Sementara gemuruh laut menirukan ribuan tambur basah yang ditabuh tangan kanak-kanak pada sebuah karnaval lepas senja.

Kita berdua semakin bersemangat bercinta di bawah bulan. Di hamparan pasir putih yang dari butirannya membersit kerlip kilau lantaran mengandung serbuk kaca. Dan kadang-kadang dua pasang kaki kita saling menjalin, menelikung, menyebabkan tubuh kita terguling dalam dekapan erat. Menggelepar memasuki air pantai. Dijilat-jilat lidah ombak dengan mesra, dan perlahan-lahan terisap pusaran pasir lembut di bawah air yang tergerus riak gelombang. Seperti diajak kembali ke tengah laut, mungkin menuju palung, dan tentu saja: suara decap kecupan bibirmu yang mematuk setiap inci leherku terdengar bagai kicau camar, yang demikian riang menemukan beribu-ribu ikan kecil mengambang, berenang dalam suatu koloni ketika air pasang. Sebab bulan tengah mencapai purnama.

Seperti juga api cinta dalam dada kita yang mencapai puncak bara. Dan geliat nyala itulah tubuh kita, yang berputar saling menjepit mirip anyaman rotan. Bergantian dilahap tatapan bulan, punggungmu dan punggungku yang telanjang. Di antara siluet masif dua badan saling dekap. Sementara sesekali butir keringat pada busung indah payudaramu memantulkan kilatan warna tembaga, campuran rona kulit duku pada tubuhmu dengan sorot cahaya bulan. Ah, seandainya tak banyak lubang pada tubuh kita, tentu kita berdua akan terapung seraya terus menggeliat dan tertiup angin ke tengah samudra. Sebagaimana pelampung yang terombang-ambing ombak, dan hanya sesekali disambar bidikan sinar lampu menara mercu yang berdiri angkuh di sisi pelabuhan.

Tapi kita tak terapung! Sungguh. Karena selain air laut belum mencapai lutut, gelombang cinta yang memadukan pancaindra ke pusat syaraf, membuat kita terus menari. Menyusun jejak demi jejak kenikmatan, untuk kita kekalkan dalam erangan panjang yang suaranya akan memantul menjadi gema tak putus di langit. Menyentuh paras bulan bening, sampai ia tersipu karena tak berkedip menyaksikan adegan percintaan kita yang demikian panas.Tampak melalui uap yang terbang dari pori-pori serupa kabut melayang, sebagai pengorbanan embun malam kepada terik surya pagi. Serupa asap hangat kepundan yang membubung sehabis sibuk melebur belerang. Ya, itulah hawa yang mengalir atas nama gelora cinta. Alangkah nikmatnya!

Apalagi hasrat itu telah menjadi impian yang pernah bergulung dari malam ke malam sejak usiaku dua belas tahun, ketika gambar perempuan telanjang menjadi awal pacu darahku. Dan setiap suara perempuan menebar getaran yang meniup bulu-bulu halus di relung telingaku. Wangi keringat perempuan menjadi aroma yang mengirimkan ilusi tentang harum tubuh bidadari. Sebuah usia yang mengubah sentuhan tangan perempuan menjadi semacam demam, dan membuat jantungku luluh dalam debar. Ketika itu, seluruh imaji tentang perempuan adalah titisan Ken Dedes dan Dewi Aphrodite.

Ya! Usia lelaki perawan yang kemudian berjanji kepada diri sendiri untuk menjaga kesucian hingga tiba saatnya bercinta pertama kali dengan seorang perempuan perawan. Yang secara lahir dan batin dicintai baik siang maupun malam, dalam kubangan duka maupun gembira. Saat jauh di seberang pulau atau ketika berimpit dalam persetubuhan yang syahdu.

Ternyata, engkaulah perempuan yang akan kucintai sepanjang hidup. Sampai-sampai tanganku tak hendak menyentuh batang zakarku sendiri jika semata bermaksud melakukan masturbasi. Bahkan selintas keinginan untuk mencobanya diam-diam di sebuah kamar sunyi pun kusingkirkan demi menjaga keperawanan, meskipun godaan untuk sekadar membelainya sejak lunglai hingga tegak berdiri itu datang demikian bertubi-tubi. Mirip bujukan ular yang menyamar peri agar kupetik buah khuldi, sementara barang berharga itu kulindungi dengan segala daya dan pengorbanan demi cintaku padamu. Karena kita akan melakukan ritual percintaan paling hangat pada kesempatan yang sangat ditunggu-tunggu. Di tepi pantai saat bulan purnama terbit dari rahim lautan, yang seolah mendidih setelah merendam tubuh apinya. Sebagai kesempatan terindah untuk menyerahkan – tidak  hanya jiwaku akan tetapi juga – badanku  yang perawan. Yang akan membuat tubuh perawanmu juga gemetar dalam puncak ngilu keterharuan, mengingat betapa aku laki-laki yang pandai menghargai sebuah percintaan tulus.

Diawali sebuah rayuan dari lubuk hati yang memukau, di antara kepingan-kepingan nafsu yang telah dibuat membeku selama bertahun-tahun dalam perjalanan mencapai hari ini. Hari yang mungkin diberkahi. Hari yang memiliki malam amat cerah dan hangat, karena paras ayu bulan purnama senantiasa memamerkan senyum. Dan secara diam-diam mengalirkan pengaruh sihirnya kepada kita berdua.

Itulah yang menyebabkan kita masing-masing rela saling berpagut bibir. Tangan kita bagai mengandung sengat halus, saling meraba dengan getar vibrasi yang lembut. Menyusup ke dalam pakaian, memasuki ketiak dan celah-celah yang lain. Meremas bahu dan tonjolan-tonjolan lainnya. Membelai rambut yang terurai di kepala kita dan bulu-bulu yang lain. Mencubit paha dan bagian-bagian tubuh di sekitarnya. Lihatlah: jemari kita bermain dengan kecepatan jemari Indra Lesmana pada bilah-bilah piano saat tenggelam dalam jam session. Gesekan tangan kita di pipi dan leher mengingatkan atraksi biola Vanessa Mae yang menghanyutkan. Sementara cengkeraman kukumu ke kulit punggungku setegang pemanjat tebing yang menggantungkan harapan kepada kekuatan ruas jari paling ujung. Desah nafas kita meniru seorang pelari. Erangan erotik yang terdengar dari mulutmu melampaui rasa sakit seorang ibu yang melahirkan bayi pertamanya. Lalu kita pun melempar pakaian yang lolos lembar demi lembar ke udara, disambut angin yang berhembus mendorong perahu nelayan ke tengah laut. Sejenak busana kita  melayang tak beraturan dan jatuh ke permukaan laut, yang menyerupai agar-agar biru kelam pada setiap pahatan ombak, dan menguning pada gigir lunaknya.

Sampai akhirnya tubuh kita bugil, bercahaya karena mata bulan yang rakus segera menerkamnya. Sungguh membuatku cemburu, karena terasa tak adil caranya memandang. Dan tak kutunggu waktu lagi: segera kudekap erat tubuh hangatmu yang meronta manja. Menggelinjang liar namun pintar menghisap sejak bagian atas sampai paling bawah. Meluluhkan sendi-sendi di satu sisi dan membangkitkan seluruh sel birahi di sisi lain. Maka terjadilah adonan yang saling lekat dan saling rekat, berputar bagai gasing pada sumbu yang berpindah-pindah. Beribu denyar berlomba menuju ubun-ubun, lalu kurasakan asin yang aneh pada lidahku, yang kupastikan bukan cipratan air laut, melainkan darah dari bibirmu yang kugigit lantaran kelewat gemas. Sebaliknya leherku bagai melepuh oleh hirupan panjang yang membuat kesadaranku tercerabut sejenak oleh kepayang. Seperti vertigoyang singgah, sungguh tak terbayangkan sejak awal, karena kita berdua adalah perjaka dan perawan yang sangat diberkati.

Bercinta di bawah bulan! Menggelepar dalam pangkuan ombak laut di tepi pantai yang dihiasi pohon-pohon nyiur. Di bawahnya berserak pasir kuarsa, dan serbuk kulit lokan yang tak terkuburkan. Membuat seluruh syaraf di telapak kaki mengalami sensasi. Terlebih ketika sepasang tanganmu terangkat ke udara dan tatapan matamu menyala pantulan bulan. Membuatku terpesona, seolah menyaksikan Dewi Yemanja yang kasmaran.

Sampai tak kusadari perubahan mulai terjadi menjelang puncak ekstase paling bersejarah dalam hidupku. Juga hidupmu, kukira. Meskipun kemudian muncul perasaan cemas, sewaktu gerakanmu semakin liar. Urai rambutmu berkibaran mirip lidah api keemasan berlatar langit dengan desiran angin garam. Desahmu mengandung nada tinggi,  mengingatkan erang Sharon Stone dalam film Basic Instinct. Dan tentu mengingatkan segala kemungkinan yang terjadi ketika engkau mulai dekat dengan orgasme.

Ya! Sesuatu yang tiba-tiba membuatku takut, namun terlambat. Dari ujung jari-jari tanganmu tumbuh kuku yang runcing, berkilau di bawah sinar bulan. Dengan kecepatan yang tak sanggup kuikuti: terayun ke arah wajahku. Kepalaku bergerak menghindar, namun tak sepenuhnya berhasil karena bagian bawah badan kita sedang menjadi satu. Ini merupakan perasaan yang amat sulit dijelaskan. Ketika puncak gelora sedang kugapai, secara bersamaan keliaranmu menunjukkan tanda-tanda yang menakjubkan. Nikmat bercampur rasa sakit, atau sebaliknya, kepedihan berlumur nikmat.

Ah, lihatlah darah yang kemudian terciprat dari luka di wajahku. Engkau tampak sangat menikmati. Melalui senyuman yang begitu memesona. Senyum yang menyimpan kepuasan tiada tara. Membuatku merasa rela, bahkan sewaktu cabikan tanganmu beralih ke dadaku setelah terjadi jarak dengan ujung payudaramu. Terasa bagai cakaran yang indah, yang melukis langit malam dengan darah. Sebagian menabur wajahmu yang kian cantik, kian membuatku tergila-gila bercinta di bawah bulan. Di antara kecipak air laut, di tengah hembusan angin yang lengket oleh garam, di atas pasir pada sebuah pantai yang landai. Di musim birahi yang kutunggu sejak usia dua belas tahun.

Kesabaran menunggumu, tentu. Menunggu peristiwa ini terjadi, dan ternyata sungguh luar biasa! Tak pernah sebersit pun kubayangkan: kelopak bibirmu yang ranum bergantian mengulum mulutku, di sela cabikan tanganmu yang bergerak mirip baling-baling pada sebuah kincir angin. Aku mengerang tak habis-habis, karena pemandangan selanjutnya sungguh menggairahkan. Ketika bagian perutku mulai terbuka, dan aku demikian bahagia memandangi ususku perlahan-lahan lolos dari rongga.

Tentu memerlukan  waktu yang lama untuk mengatur kembali untaian usus di antara lambung dan tulang iga setelah percintaan ini selesai. Meskipun tak kupikirkan benar, karena kemudian kulihat bulan bergetar di atap langit. Cahayanya semakin bening menyala, bagai benar-benar leleh ke rambut kita yang berkeramas keringat dan air laut.

Betapa tubuh kita mirip sepasang hiu yang bertarung. Sesekali engkau menggigit leherku, dan kubalas dengan gigitan yang lebih bertenaga. Lalu engkau memekik tertahan, sebelum mengulang cabikan dengan kuku-kuku runcingmu. Beberapa luka baru terbentuk di atas pusar. Bahkan di dinding usus yang mulai tersayat. Mengingatkan aku pada kisah Aryo Penangsang, walau peristiwa ini jauh lebih indah dan menarik.

Sungguh peristiwa yang tak mungkin terlupakan. Kecuali satu hal: apakah sepasang matamu yang menyala kuning akan disertai ketajaman telingamu menangkap lolong serigala di bukit hutan yang jauh? Seperti Michelle Pfeiffer di akhir film Wolf? Sedikit demi sedikit tumbuh taring pada kedua sisi mulutmu, bulu coklat di punggung-tanganmu, atau perubahan yang lebih  menakjubkan lainnya. Meskipun itu tak kupikirkan benar, karena hasratku telah sampai. Dan aku perlu berterimakasih kepadamu, cintaku. Sebagai perempuan, engkau telah memenuhi segala impianku.

Ya, inilah ritual yang kuangankan sejak usia dua belas tahun: bercinta di bawah bulan!

 

***

Jakarta, 2 Maret 2002

 

Keterangan:

–          tiada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni; salah satu baris pada puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul

“Hujan Bulan Juni”.

–          Dewi Yemanja;  nama dewi laut di Bahia – Brazilia, yang dipercaya sebagai pembawa berkah bagi para nelayan,

dalam film “Woman on Top”.

–          Dewi Aphrodite; nama dewi kecantikan bangsa Yunani Kuno

–          Ken Dedes; perempuan yang dianggap tercantik dari Tumapel, istri Tunggul Ametung yang kemudian menjadi istri

Ken Arok setelah Tunggul Ametung dibunuh dengan keris Empu Gandring

 

(Ini versi kedua, yang dimuat di Media Indonesia Minggu, 4 Agustus 2002)

 

13 Comments to "Mengenang Bulan Purnama Semalam"

  1. Bagong Julianto  12 June, 2012 at 17:41

    Kurnia E>>>>

    Hanyut tenan!
    Gara-gara Vanessa Mae, nggak usah pakai Stradivarius!
    Tangannya saja melambai ke arah Kurnia E, jamin….hanyut tenan!
    Lho?!….

    Suwunnn….

  2. Joko Prayitno  12 June, 2012 at 09:33

    Saya suka lolongannya…

  3. Linda Cheang  12 June, 2012 at 07:54

    lha, malah horor jadinya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.