[Serial Negara Kapitalis] Bule itu pelit

Dian Nugraheni

 

Siang itu, aku lihat seorang perempuan tua, berkulit putih, jongkok memunguti beberapa uang Penny yang berjatuhan di sekitar bangku dalam halte bus, kemudian dia masukkan uang recehan itu ke dalam tasnya. Penny adalah koin dengan nilai terkecil dalam keluarga dollar Amerika. Satu Penny adalah satu cent. Tak satu barang terkecil pun yang bisa dibeli dengan uang satu Penny alias satu cent. Permen termurah pun harganya satu Dime atau sepuluh Penny, atau sepuluh Cent.

Dengan sangat hati-hati dan sopan, aku bertanya pada perempuan tua berkulit putih itu, “Emmm, do you need a dollar bill or something..? Saya bisa bagi untukmu beberapa dollar kalau anda perlu..?”

Si perempuan tua menatap padaku sambil tersenyum, “Ohh, itu karena kamu melihatku memunguti Penny, yaa..? Sebenarnya aku masih ada cukup uang kok, tapi.., sayang kan, kalau lihat uang berceceran begitu, harus kita pungut. Berapa pun, kurang satu Penny tak akan menjadi sempurna hitungannya…”

Keluarga koin dalam dollar Amerika adalah, Quarter (25 penny atau 25 cent, atau seperempat dollar), Dime (10 penny atau 10 cent), Nickel (5 penny atau 5 cent), dan Penny (1 cent). Ada juga koin berharga 1 dollar dan koin berharga setengah dollar, tapi agak jarang digunakan.

Kali lain, di stasiun kereta bawah tanah, aku melihat seorang perempuan muda yang berteriak-teriak kegirangan, “Ohh my Gosh…, lihatlah, banyak uang terjatuh di sini…” Dan kemudian, perempuan muda berpakaian necis itu segera berjongkok memunguti uang recehan yang terjatuh di dekat tangga berjalan stasiun itu.

Juga di Deli, Kedai tempatku bekerja, seorang lawyer terkenal yang berpraktek di pusat kota Washington DC, Mr. Larry namanya, hampir setiap siang dia mampir di Deli hanya selalu membeli sebotol air bervitamin (Vitamin Water), seharga $1.75,  plus sepuluh persen tax, plus satu tas kertas kecil seharga 5 cent, maka dia akan membayar total $ 1.98. Kalau dia membayar dengan uang $2.00, maka kembaliannya adalah 2 penny atau 2 cent. Dan Mr. Larry tak akan pernah melewatkan 2 penny-nya setiap dia membeli sebotol Vitamin Water ini.

Seorang lelaki yang berusia sekitar empatpuluh tahunan, mestinya dia seorang Army, tentara, karena dia selalu mengenakan baju dorengnya yang kehijauan, dia selalu hanya membeli satu gelas kopi seharga $2.15, maka dia sudah mempersiapkan uangnya tepat $2.15 yang akan diletakkan di meja kasir begitu saja, sambil berkata, “I believe this is $2.15…” dan ketika aku hitung, memang pas $2.15. Dan uang $2.15 itu tidak selalu 2 lembar satu dollaran dan satu koin dime dan satu koin nickel, tapi kadang-kadang adalah campuran yang “complicated” alias campur aduk antara Quarter, Dime, Nickel, dan Penny.

Professor Seven Sixty Eight, itu julukanku untuk salah seorang Pengajar di Universitas George Washington, yang juga pelanggan Deli, karena dia selalu tepat membayar $ 7.68 sebagai pembayar satu buah koran pagi, satu gelas kopi, dan satu buah sandwich kecil buat sarapan. Setiap pagi, itu-itu saja yang dibelinya, maka dia yakin, setiap pagi harus menyiapkan uang tepat sejumlah itu.

“The Old Man”, demikian aku menyebut seorang pegawai Departement of State yang setiap hari hanya membeli satu donat seharga 85 cent yang harus dibayar plus tax 10% maka harganya menjadi 94 cent. Ketika membayar donatnya. Selalu si Old Man ini matanya jelalatan ke lantai, dan sesekali membungkuk memungut koin-koin yang tercecer. Koin-koin yang tercecer itu adalah milik pelanggan-pelanggan sebelumnya yang terjatuh.

Kebanyakan orang-orang akan mengumpulkan “kupon belanja” Kupon belanja ini bisa didapatkan dari koran, brosur dari toko-toko bersangkutan, atau browsing lewat internet. Dari mengumpulkan kupon itu, kalau dihitung-hitung, memang lumayan sekali dibanding kalau kita belanja tanpa kupon. Misalnya, harga deterjen adalah $ 6.29, kalau kita mendapat kupon “$2 Off”, maka harga $ 6.29 itu akan dikurangi $2.00, maka kita cuma harus bayar $4.29. Itu kalau belanja satu item, kalau sepuluh item, masing-masing dapat potongan kupon $2 off, maka belanja hari itu kita akan hemat $20. $20 itu kalau di Amerika bisa buat beli baju, atau jins, atau barang-barang berguna lainnya, lho…

Juga ketika satu pasangan yang berpacaran, meski mereka sudah “deket” banget, berpelukan, atau cium-ciuman di depan umum, tapi kalau sudah perkara membeli sesuatu, bahkan hanya satu buah donat atau segelas kopi, maka hampir bisa dipastikan, mereka akan bayar sendiri-sendiri. Kalau sampai salah satu tiba-tiba mentraktir tanpa rencana, maka pasangannya akan nampak sangat surprise, dan bersenang hati…”Owwwhhh, you’re very niceeee….,” begitu katanya sambil mendaratkan sebuah ciuman mesra…Atau sebaliknya, dia akan berkeras menolak traktiran tanpa rencana oleh pacarnya itu.

Begitulah sekilas tentang “pelitnya” bule yang aku lihat di Amerika. Sebenarnya bukan cuma Bule, karena secara umum, bila kita bilang Bule, maka dia adalah sosok orang berkulit putih, tapi hampir semua penduduk Amerika yang berasal dari peranakan India, China, Arab, kaum Hitam, dan tentu saja Kaum Kulit Putih sendiri, begitulah perangainya terhadap uang.

Setelah agak lama tinggal di Amerika, maka, apa yang aku lihat tentang perangai mereka terhadap uang, akhirnya, aku simpulkan bahwa itu adalah suatu gambaran dari sikap mereka yang sangat cermat, hati-hati, dan menghargai uang, sekecil apa pun jumlahnya. Hal ini bisa dipahami, karena, orang-orang di Amerika, untuk mendapatkan uang, maka mereka harus bekerja dengan keras.

Bekerja keras, itu lah benang merahnya. Dulu, waktu aku bekerja di GE Swalayan, aku sempat terbengong-bengong, karena Manajer tertinggi di Store itu, dengan pakaian necis, berdasi, setiap harinya bukan hanya duduk di ruangannya, tapi dia “berkeliaran” di dalam maupun di luar Store, untuk melihat keadaan yang berlangsung dan mengambil tindakan yang diperlukan. Dia tidak segan-segan menolong pelanggan membawakan tas belanjaannya dan menempatkannya di troli. Atau dia tidak begitu saja menyuruh anak buahnya yang ada di Store itu untuk mengembalikan barang-barang re-shop, atau barang-barang yang batal dibeli pelanggan, maka dia sendiri akan menenteng barang itu, dan mengembalikannya di tempatnya.

Owner, pemilik Deli di mana aku bekerja sekarang ini, dia adalah seorang keturunan Amerika Italia, yang sangat kaya raya, tapi tetap bekerja lebih dari 10 jam sehari di Delinya tersebut, berdiri tanpa duduk, menjadi kasir. Bila ada botol minuman yang terjatuh dan pecah, maka dia bergegas mengambil sapu dan pel, kemudian membersihkan lantai, tanpa menyuruh pekerjanya yang lain.

Tapi di sisi lain, mereka yang nampaknya pelit ini, juga adalah orang-orang yang bersedia mengeluarkan uangnya untuk hal-hal yang “tepat”, misalnya, untuk charity. Mereka tak segan-segan mendonasikan uangnya untuk kelompok-kelompok tertentu, misalnya untuk Rumah Sakit Cancer Anak-anak, untuk rumah perlindungan hewan yang hampir punah, dan tentu saja untuk membayar tip ketika mereka menggunakan jasa profesional orang lain (misalnya ketika makan di restoran, harus bayar tip untuk waiters, atau ketika kita menggunakan jasa Guide ketika berwisata, dan lain-lain. Besarnya tips minimal 15% dari harga yang kita bayar.)

Sekarang, aku juga sudah ketularan “pelit”. Ketika sedang berjalan, aku nggak segan-segan jongkok untuk memungut recehan yang tercecer di jalanan, dan memasukkannya ke tasku. Atau, aku akan mengumpulkan kupon belanja agar dapat potongan harga yang cukup mengejutkan bila dihitung-hitung lebih lanjut.Atau, tidak membelanjakan uang untuk hal-hal yang kurang perlu.

Dan tentu saja, kalau lagi jalan bareng-bareng sama teman lain dan keluarganya, meski kami makan bersama dalam satu meja di restoran, maka kami akan bayar sendiri-sendiri tanpa rasa sungkan. Dan ternyata, setelah aku rasa-rasakan, hal ini sungguh menyenangkan, main bersama dengan teman dan keluarganya, bayar makanan sendiri-sendiri, berarti tak ada lagi beban pikiran, bahwa kalau kali ini kita dibayarin, maka suatu saat nanti kita mestinya gantian bayarin. Yaa, kalau pas saat lain  kita makan bareng teman itu, kita pas punya uang lebih, kalau pas enggak..? Sedih kan…Nggak enak hati kan..?  he..he..he….

Salam ikut-ikutan pelit…..

 

Virginia,

Dian Nugraheni,

Sabtu, 7 April 2012 jam 7.20 sore

(pelit yo ben…hmmm…)

 

36 Comments to "[Serial Negara Kapitalis] Bule itu pelit"

  1. Linda Cheang  12 June, 2012 at 16:03

    Nia, hahaha…. iya, tuh, di SIN, kiasu-nya kebangetan…

  2. Evi Irons  12 June, 2012 at 13:02

    Menurut pen dapat saya pribadi terutama dilingkungan saya, orang Amerika itu royal, suka memberi, kadang boros, rasa keinginan untuk memiliki barang tinggi sekali. Mungkin Karena di tempatmu banyak orang menjadi berhemat Karena krisis yang di alami Amerika.

  3. nia  12 June, 2012 at 12:55

    Linda… sy pernah terjebak di antrian kyk gitu. sy kira krn penuh org jd jalannya cipit2 ternyata org antri to! di deket kos sy ada mall baru. di basementnya ada burger king jejeran ma toko yg jual minuman teh apa itu… kyk buble tea gitulah. nah disitu sering bgt ‘macet’ krn penuh org antri beli minuman teh itu. apesnya sy gak ngerti klo hari itu burger king ada promo nuggets 5pcs $2.95 klo gak salah harga segitu.
    aduh itu yg antriiiiiii… sy suka barang murah tp gak se -kiasu-kiasi kyk gt deh…

  4. Evi Irons  12 June, 2012 at 12:35

    Uang koin spesial Dan langkah bisa dijual Lebih tinggi Dari nilainya di eBay.

  5. HennieTriana Oberst  11 June, 2012 at 22:43

    Lani, hahaha… model yang mau manfaatkan orang lain itu ada di mana-mana. Kalau aku lebih memilih menghindari aja, begitu tahu langsung kabur deh hehehe…

  6. Swan Liong Be  11 June, 2012 at 22:41

    Paling baik yalah kalo pergi makan dengan teman² kita bayar masing² apa yang kita makan ,jadi nggak ada rasa “utang budi” or somethng like that en suasana tetap meriah.
    Kalo saya pergi makan dengan orang jerman dan saya bilang saya akan bayar semuanya mereka bilang “terima kasih” , kalao orang indonesia sok sungkan dan bilang ooh nggak usah!

  7. Lani  11 June, 2012 at 22:31

    HENNIE, LINDA : bayar sendiri2 itu plg enak, tdk ada rasa tdk enak/utang, tp dikembalikan lagi pd person nya masing2……..mau bayar gantian, mau mentraktir/ditraktir………asal jgn ngemplang aja………kan banyak tuh yg model kayak begituan………ya tdk gubyah uyah……..krn everybody is different………

  8. HennieTriana Oberst  11 June, 2012 at 17:07

    Linda, tau aja hahaha….
    Tapi aku sering cuek kok. Oleh-oleh hanya untuk keluarga dan orang yang memang aku pingin oleh-olehin.

  9. Linda Cheang  11 June, 2012 at 17:05

    Hennie, termasuk kebiasaan minta oleh-oleh maksa juga, ya? hehehe… sangat tidak disuka!

    Nah, bayar sama-sama secara bagi rata, itu paling kusuka. Rasanya egaliter, tidak ada yang merasa direndahkan, tidak pula ada yang merasa lebih tinggi.

  10. HennieTriana Oberst  11 June, 2012 at 16:52

    Dian, kebiasaanku juga ngutip duit yang tercecer di manapun, biar nilainya cuma 1 sen. Di Indonesia dulu aku suka diketawain kalau ngutip duit kecil gitu, biarin aja hehehe… Ngumpulin kupon dan ngumpulin stamp juga kebiasaanku. Lumayan hasilnya, belanja lebih hemat.
    Kebiasaan minta traktir maksa di Indonesia itu aku nggak suka banget. Beda lagi kalau dari pertama yang mau traktir bilang sendiri, bukan karena dipaksa. Kalau aku ketemu teman-teman kuliah dulu, mereka para lelakinya rebutan mau traktir, akhirnya kami ambil jalan tengah, bagi rata. Acara ngumpul malah lebih menyenangkan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.