Edan-edanan (26): Merdeka! Ya, Merdekakah Kita?

Kang Putu

 

MERDEKA atawa mati! Ah, betapa dahsyat semboyan itu. Betapa ekstrem pilihan yang terkandung dalam kalimat pendek itu: merdeka atawa mati. Betapa genial sang penemu dan pembuat “semboyan 45” itu.

Ya, ya, itulah tekad yang menggetarkan (dan menggentarkan) hati siapa pun lebih dari separo abad silam di negeri ini. Itulah yang terucap siapa pun yang nggak pengin terus-menerus jadi gedibal bangsa lain.

Saat itu, seperti kata Bung Karno, sudah 350 tahun lebih bangsa ini jadi kuli bangsa lain. Segala apa telah diisap sang penjajah, entah Belanda, Inggris, atau Jepang, sehingga tinggal tulang belulang. Indonesia pun menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa.

Maka, ketika muncul momentum untuk memerdekakan diri, siapa pun yang merasa menjadi anak sah negeri ini, baik Jawa, Batak, Papua, Sunda, China, Arab, Keling, maupun blasteran apa pun, dengan lantang menggelorakan tekad: merdeka atawa mati. Karena itulah, hampir setiap orang tentu paham benar apa makna di sebalik ungkapan “Boeng, ajo, Boeng!”. Itulah ajakan untuk berjuang, yang ditorehkan Chairil Anwar pada lukisan untuk poster yang dibuat Affandi.

Kini, ketika kita dengan berbagai cara dan gaya merayakan ulang tahun ke-59 republik tercinta ini, apa pula yang terpikir saat mendengar pekik “Merdeka!”? Merdeka dari apa, dari siapa? Merdeka untuk apa? Jangan-jangan kini ketika dihadapkan pada pilihan merdeka atau mati, kita cenderung memilih atau? Namun, atau apa?

Suatu malam, 4 Agustus lalu, saya nongkrong bersama beberapa kawan di warung kucingan depan Java Supermall. Tiba-tiba terdengar seruan dan lantunan lagu nasional dari megafon di jalanan. Polisi bertruk-truk turun dan bergegas merapatkan barisan di depan bekas gedung bioskop Palace, Metro. Aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang membentuk pagar betis di separo jalan. Apa yang terjadi saat malam kelewat larut, hampir dini hari, itu?

Babahe Widya Leksono, kawan saya, beranjak meninggalkan segelas teh jahe hangat dan menghampiri sumber suara. Namun saya dan kawan lain bertahan: berdiskusi soal “seni rupa mangga-pisang-jambu, kasian deh lu!”. Lima belas menit kemudian Babahe kembali. “Sedulur-sedulurku, pedagang sayur-mayur, demonstrasi. Mereka didampingi kawan-kawan mahasiswa. Aku ingin membaca puisi bersama mereka. Namun aku tak punya puisi. Aku juga tak bisa baca puisi. Terus piye?” ujar dia.

Kami terdiam sejenak. Cuma sejenak. Karena, kemudian Babahe beringsut, kembali ke tengah kerumunan para pedagang dan mahasiswa yang berdemonstrasi. Ya, para pedagang itu ngotot berdagang di sepanjang jalan di depan gedung bioskop sampai hampir di depan Java Supermall. Di sanalah selama ini mereka, yang datang dari berbagai kawasan, mengais rezeki untuk menghidupi seluruh keluarga. Di sanalah selama ini mereka, lelaki dan perempuan perkasa itu, menegaskan diri sebagai manusia merdeka.

Saat itu benak saya tertampar kenyataan getir: di sini, di negeri ini, masih terus berlangsung penggusuran. Para pedagang itu, anak sah negeri ini, tidak bebas merdeka mencari nafkah, bahkan secara halal. Kenapa tiba-tiba kehadiran mereka dinilai mengganggu ketertiban umum? Mengganggu kelancaran arus lalu lintas? Mengganggu kenyamanan publik?

Tiba di rumah menjelang subuh, saya gelisah. Ya, ya, kenapa pemerintah yang seharusnya menjamin (berdasar undang-undang dasar!) setiap warga negara bisa bekerja dan memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan justru masih main gusur sehingga banyak orang kehilangan pekerjaan? Kenapa banyak orang masih nggak merdeka-merdeka juga untuk bekerja?

Menyelip ke tumpukan berkas apakah sesanti pemerintah di kota ini, “membangun tanpa menggusur”? Lupakah pemerintah dan segenap aparaturnya bahwa merdeka gak merdeka, siapa pun harus bekerja?

“Lo, bukankah polisi dan aparat pemerintah yang menggusur pedagang itu juga sedang bekerja? Bukankah salah satu pekerjaan mereka memang menggusur siapa saja yang dianggap mengganggu ketertiban masyarakat, mengganggu keamanan? Mereka tengah menjalankan kewajiban, perintah atasan bukan?” ujar Kluprut di sudut batin saya seraya cengengesan. Benarkah?

Apa sih pengertian “keamanan dan ketertiban masyarakat”? Apakah maknanya bertentangan dengan kemerdekaan bagi warga negara ini, terutama merdeka untuk mencari nafkah secara halal? Apakah kita memang bebas dari penjajahan, tetapi tidak serta merta bebas bekerja, bebas mencari nafkah?

Ya, ya, kita memang telah bebas dari penjajahan Belanda, Inggris, dan Jepang. Namun benarkah kita telah sepenuhnya bebas? Bebas berserikat, bebas berpendapat, bebas berekspresi, bebas berpikir?

Boleh jadi ya kita kini bebas berserikat. Kita juga bebas berpendapat dan berekspresi. Tetapi telah bebas berpikirkah kita?

“Bebas berpikir dan berpikir bebas? Ah, jangan-jangan kita nggak pernah berpikir?” celetuk Kluprut. “Kalaupun berpikir, paling-paling soal pacar, pakaian, atau kapan dan di mana mesti kongko-kongko serta ngajak siapa.”

Bah, sinis amat! Eh, tapi boleh jadi bener juga ya? Bagaimana kita bisa merdeka berpikir dan berpikir merdeka jika sejak kecil selalu didikte: kalian harus begitu, harus begitu, harus begitu. Tidak boleh begini, begini, begini. Jangan macam-macam! Coba, sejak sekolah dasar (atau mungkin taman kanak-kanak) sampai perguruan tinggi kita toh tak pernah diajari bertanya, tetapi menjawab. Itulah yang tercermin saat ulangan, tes semester, ujian bukan?

Celakanya, dalam ulangan, tes, atau ujian pun kita sudah diberi pilihan jawaban (A, B, C, D, dan E). Ya, pilihan berganda atau multiple choice adalah jawaban yang sudah terkemas bagi kita. Jadi jangan sekali-kali memilih di luar jawaban yang tersedia, kalau tak ingin nilai jeblok. Karena, secanggih apa pun jawaban itu jika di luar jawaban yang terkemas pasti salah – lebih tepat: disalahkan!

Bukankah sistem (wuih, sebut saja cara kenapa sih!) pilihan berganda sesungguh benar telah memangkas potensi kecerdasan dan peluang mengembangkan kecerdasan kita? Tak pelak, kita tumbuh menjadi generasi tanpa keliaran imajinasi, fantasi, daya kreasi. Padahal, itulah dasar penciptaan (teori, mesin, aneka karya seni, dan sebagainya, dan seterusnya) bukan?

Jadi, bagaimana sebaiknya mengembangkan diri, lepas dari kerangkeng “sistem pendidikan” yang membonsai daya kreasi? Bagaimana bisa berpikir merdeka dan merdeka berpikir?

Sembari membayang-bayangkan cara yang tepat, dengarlah ucapan seorang pemimpin ini. Ya, “Rakyat kita harus merasa bebas untuk mengungkapkan pandangan, mengejar gagasan yang tidak konvensional, atau bebas untuk sekadar menjadi berbeda. Kita harus memiliki keyakinan untuk terlibat dalam perdebatan sehat guna memahami masalah kita, mendapatkan solusi baru, dan membuka ruang baru.” Wuih! Betapa menyegarkan, betapa memberikan pengharapan.

Sayang, itu bukan ucapan pemimpin, calon presiden sekalipun, di negeri ini. Kalimat cerdas itu, sayang, diucapkan BG Lee ketika dilantik sebagai Perdana Menteri Singapura tiga hari lalu, Kamis, 12 Agustus 2004. Sayang.

 

15 Agustus 2004

 

8 Comments to "Edan-edanan (26): Merdeka! Ya, Merdekakah Kita?"

  1. Bagong Julianto  12 June, 2012 at 18:07

    Kang Putu>>>

    Siippp!!
    Tulisan 8 tahun lalu masih aktual-faktual-kontekstual dengan kekinian kita!
    Panta rei diartikan: segala sesuatu berubah!
    Yang tinggal tetap dan mbhregegek ugek-ugek adalah,…sorry, kebodohan kita sebagai bangsa….

    Suwunnnn…

  2. Dewi Aichi  12 June, 2012 at 00:19

    Aku paling suka gaya kang Putu mengupas tuntas tentang semrawutnya negeri ini he he..sistem…cara aja napa sih he he….

    kang Putu, sungguh pemikiran yang sangat dalam, seperti tentang para pelajar yang hanya disuruh menjawab, bukan bertanya, juga pilihan ABCD, yang tidak ada pilihan lain, meski bisa saja jawaban itu benar, tapi jika tidak memilih pilihan yang tersedia, maka tetap saja akan disalahkan…

  3. Handoko Widagdo  11 June, 2012 at 15:46

    Mumpung masih Juni, masih ada waktu untuk merenung tentang Agustus 17.

  4. Linda Cheang  11 June, 2012 at 14:17

    Merdeka dari penjajahan bangsa asing a la kolonialisme, iya, itu sudah.

    Merdeka dari “penjajahan” bangsa asing dalam bentuk lain? Belum, apalagi merdeka dari kemiskinan dan ketakutan, entah kapan…..

  5. J C  11 June, 2012 at 13:47

    Saat ini kondisi dan situasi Indonesia memang sungguh memprihatinkan. KORUPSI yang semakin menggila dan INTOLERANSI memang sungguh nyata kita BELUM MERDEKA…

  6. [email protected]  11 June, 2012 at 12:27

    oooh… udah merdeka toh? kirain masih di jajah… (sama pemerintah kita sendiri)

  7. AH  11 June, 2012 at 12:25

    negara merdeka yang ‘belum merdeka’ ya kang

  8. Alvina VB  11 June, 2012 at 11:10

    “Rakyat kita harus merasa bebas untuk mengungkapkan pandangan, mengejar gagasan yang tidak konvensional, atau bebas untuk sekadar menjadi berbeda. Kita harus memiliki keyakinan untuk terlibat dalam perdebatan sehat guna memahami masalah kita, mendapatkan solusi baru, dan membuka ruang baru.”

    Mantep, mantep…..ini yg boleh disebut merdeka….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.