Silvia Utama – Bumi
Sudah beberapa tahun lamanya Papa saya kembali kepada sang Pencipta, tapi rasa kangennya sama Papa masih saja sama.
Saya ingat betul di hari pemakaman Papa. Ketika saya melihat Papa yang saya kasihi terbujur kaku di peti mati. Saya elus pipinya Papa.
Saat saya elus pipinya dan kemudian saya cium pipi Papa, saya teringat di saat-saat biasa saya pulang ke rumah orang-tua saya akan minta Papa berbaring di sofa atau di tempat tidur dan saya bersihkan mukanya dan saya pakaikan masker. Saya bilang sama Papa agar mau saya rawat wajahnya soalnya Papa kan tidak mau ke salon, sedangkan mama itu awet muda. Bukan hanya dikarenakan usia mama yang memang sebenarnya jauh lebih muda juga dari Papa. Saya juga biasa sengaja manicure dan pedicure Papa (Kalau adik saya ada juga di rumah, dia yang kerjakan ini buat Papa karena dia lebih jago dalam manicure dan pedicure).
Saya teringat Papa yang ketika saya hamil saya ini sering pusing kepalanya dan Papa selalu siap pijitin kepala saya.
Begitu banyak kenangan saya bersama Papa.
Papa yang rela mendatangi sekolah-sekolah dasar agar mau menerima saya walaupun usia saya belum cukup masuk SD karena saya tidak suka duduk di bangku TK yang (menurut saya waktu itu) kerjanya hanya bermain dan makan melulu. Papa yang rela meluangkan waktunya untuk mengajari saya menulis dan membaca walaupun saat itu beliau belum lama memulai usahanya sendiri.
Papa yang menularkan hobi membaca dan memanjakan saya dengan mengijinkan saya berlangganan majalah Bobo, Kawanku dan Old Shatterhand. Papa yang menularkan hobi nonton film koboi, perang dan laga kepada saya.
Papa yang tahu saya senang memanjat pohon, tapi karena awalnya saya tidak bisa memanjat, Papa sengaja membuat undakan-undakan di batang pohon agar saya bisa memanjat pohon tersebut. Papa yang mau meluangkan waktu mengajari saya berenang setelah sebelumnya saya sempat takut renang karena hampir mati tenggelam (dan Papa pula yang menyelamatkan saya. Beliau dengar ribut-ribut ketika beliau sedang berenang bahwa ada anak kecil tenggelam dan cepat-cepat berusaha menolong. Eh tidak tahunya anaknya sendiri yang dia tolong) Papa yang mengajari saya mengendarai motor dan menyetir mobil.
Papa yang selalu membanggakan saya walaupun saya merasa saya ini masih belum seperti yang saya inginkan. Papa yang selalu menyemangati saya ketika karena sesuatu hal dalam kehidupan saya, saya sampai malas sekali sekolah. Papa yang selalu bilang bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah menjadi yang terbaik yang saya bisa lakukan di dalam segala hal. Kalaupun hasilnya tidak sesempurna yang saya inginkan, tidak mengapa.
Sebagaimana kurang sempurnanya saya, saya adalah anaknya dan dia akan selalu mengasihi saya. Papa yang menekankan bahwa tidak ada salahnya saya ingin menjadi wanita yang berkarir di luar rumah (dari sejak usia 5 tahun saya sudah bilang saya ingin punya karir sendiri) tapi belajar masak itu kelak akan berguna buat melayani suami dan anak-anak saya kelak. Walaupun saya menjawab Papa saat itu,”Kalau ada cowo yang pengen istri yang pintar masak, suruh aja nikah sama koki. Lagian saya tidak mau punya anak koq.”
Papa yang mengajarkan saya untuk memperhitungkan harga atas keputusan yang saya buat dan konsekuen atas keputusan yang saya buat. Papa yang mengajarkan kepada saya jika suatu hari saya diberkati dengan apapun dan ada orang yang meminta pertolongan saya agar saya jangan menunda-nunda apa yang saya bisa lakukan untuk orang itu dengan segera. Papa yang mengajarkan agar ketika menghadapi orang yang sedang kesusahan secara ekonomi, saya harus lebih ekstra hati-hati dalam berbicara dan memperhatikan bahasa tubuh saya. Karena mereka biasanya perasaannya lebih sensitif. Papa yang mengajarkan kepada saya kalau hendak melakukan kebaikan untuk seseorang, hendaklah lakukan dengan tulus dan tidak usah pamer agar disanjung-sanjung. Papa yang mengajarkan jika suatu hari saya diberi kesuksesan seperti apapun di luar rumah, ketika kembali ke rumah saya harus mau melayani keluarga dengan tulus.
Mungkin karena kedekatan saya dengan Papa ini makanya ketika Papa sedang menghembuskan nafasnya yang terakhir di saat itu saya sedang berdoa saya merasakan sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan. Saya pikir ini hanya keletihan mengurus anak saja. Tapi ketika pukul 2.30 pagi saya terbangun karena adik saya mengabarkan bahwa dia baru dikabari Papa masuk I.C.U saya merasa Papa bukan hanya di I.C.U, tapi sudah berpulang.
Saya mencoba menghubungi telpon genggam mama saya, tapi tidak diangkat-angkat. Saya coba terus dan ketika saya bicara dengan mama, saya tanya,”Ma, Papa itu sebetulnya masuk ruang I.C.U apa sudah pulang?” Mama menjawab,” Kamu doa saja.”
Ketika di boarding room airport dimana saya berdomisili dan saya mendapatkan Roh Tuhan bicara dengan begitu jelas,”Mulai hari ini Aku akan jadi Papa mu ….. Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Di situ saya tahu Papa sudah pulang.
Kalau bukan RohNya yang menguatkan saya, mana bisa saya tenang mencium Papa dan bisa menyampaikan eulogy.
Kakak sepupu terdekat saya yang menemui saya malam itu sebelum berkata-kata, saya sudah mengerti ketika dia menatap saya lama. Dia tahu betul betapa saya mengasihi Papa saya. Saya bilang, “Tidak usah kuatir. Saya akan baik-baik saja.”
Teman-teman baik saya ngomel-ngomel kenapa saya tidak memberitahu mereka tentang kematian Papa saya. Lah pesan Papa saya adalah tidak usah buat pengumuman kalau beliau meninggal dan tidak usah disimpan lama-lama. Langsung kubur saja. Papa tidak mau jadi tontonan. Jadi memang hanya keluarga terdekat dan sahabat terbaik Papa saja yang kami beritahu.
Buat yang melayat, setelah mengucapkan bela sungkawa bisa pulang dan meneruskan kehidupan. Buat kami yang ditinggalkan, kami harus bersandar kepada kekuatan dan penghiburan dari Tuhan untuk bisa melepas kepergian Papa. Otak mengerti bahwa beliau ada di tempat yang lebih baik. Tapi perasaan ini tidak mudah di kelola.
Ketika keesokan paginya tiba dan hari itu adalah hari dimana Papa akan dikebumikan, saya lewat kamar dan melihat kamarnya dengan anjing tertua kami dengan pandangan sedih berbaring di dekat kaki ranjang, (mama menginap di rumah duka bersama adik saya) lalu saya melihat Alkitab Papa, buku catatan Papa yang biasa menemani saat teduhnya teronggok rapi…..hati ini meringis.
Saya tahu betul kebiasaan Papa setelah mandi pagi, Papa akan bersimpuh di lantai untuk berdoa dan membaca Alkitab sebelum beliau makan pagi. Papa saya sudah pulang…..pulang selamanya.
Ketika saya kembali ke kota tempat saya tinggal dan biasa saya lari-lari kecil sambil sms-an dengan Papa, kali ini saya tidak bawa telp genggam saya.
Sudah cukup lama Papa pulang, tapi kangen kepada Papa masih begitu besar saya rasakan.
Belum lama ketika saya ke Lembang saja saya tiba-tiba diliputi kangen luar biasa sama Papa. Ingat saat-saat kami sekeluarga ke Lembang untuk beli tanaman, pergi ke pasar Lembang antar mama belanja sayur-sayuran dan buah-buahan segar, ke Susu Murni Lembang untuk beli roti bakar dan pulangnya beli susu murni, bagaimana Papa suka sekali makan cap cai di restoran Lembang, bagaimana Papa yang mendorong saya untuk menyapa orang-orang asing di dalam bahasa Inggris ketika saya kecil yang dulu banyak mengunjungi daerah Lembang dan Ciater dan begitu banyak kenangan tiba-tiba membanjiri pikiran saya.
Tahun lalu ketika saya sedang berdoa saya mendengar suara Roh Kudus tanya saya apakah saya siap jika mama dibawa pulang. Saat itu mama sedang berada di Indonesia. Saya langsung nangis dan jawab bahwa saya masih sangat membutuhkan mama. Saya memohon kalau boleh agar mama jangan dibawa pulang dulu. Setelah saat teduh saya mencoba menghubungi mama, tapi tidak ada seorangpun yang menjawab telepon. Saya hanya bisa terus berdoa di dalam roh dan memohon kepada Tuhan agar mama jangan dibawa pulang dulu.
Baru setelah mama kembali bersama saya mama cerita bahwa ketika di Indonesia, mama tiba-tiba sakit dan menjadi lemas sekali. Di saat itu Roh Tuhan tanya mama apakah mama sudah mau pulang ke Surga. Mama bilang kalau boleh mama masih ingin mendampingi anak cucu mama dulu
Saya tanya mama hari dan jamnya ketika Roh Tuhan tanya hal tersebut dan ternyata sama dengan di saat RohNya tanya saya. Kami berdua menangis sambil berpelukan. Kami bersyukur bahwa kami masih boleh bersama-sama, bahwa Tuhan masih mengijinkan kami saling berbagi di dalam kehidupan ini.
Hari Minggu ketiga di bulan Juni di tempat saya berada diperingati sebagai Father’s day. Di saat merayakan dan saya melihat orang-orang seumuran saya masih bersama Papa dan mama mereka….ah saya hanya bisa mengucap syukur walaupun saya hanya bisa bersama-sama Papa dalam waktu yang sepertinya sangat singkat saja, tapi saya boleh merasakan kasih Papa yang tulus dan tanpa pamrih kepada saya.
Buat yang masih ada Papa/ayah, sudahkah Anda mempersiapkan sesuatu untuk Papa/ayah Anda?
Ada yang bilang,”Ah itu kebudayaan barat tidak usah diperingati.” Ada juga yang bilang,”Harusnya Father’s day” itu setiap hari. Memang betul bahwa untuk menunjukkan kasih atau penghargaan kepada Papa kita, kita tidak usah menunggu Father’s day.
Buat saya tidak ada pengaruh jelek koq merayakan Father’s day. Jangan hanya karena ini kebudayaan bukan kebudayaan Indonesia dan berasal dari Barat langsung dianggap jelek atau dikait-kaitkan dengan Kristenisasi.
Hari ini bisa dimanfaatkan bagi mereka yang biasanya tidak pernah mengungkapkan apresiasi kepada Papanya di hari-hari biasa. Tidak ada kata terlambat selama orang itu masih hidup. Biar saja dianggap lebay, tapi saya berpendapat kalau mau menunjukkan apresiasi atau sayang kepada seseorang itu tidak usah menunda-nunda terus. Kalau mau meminta maaf itu tidak usah gengsi-gengsian. Jangan sampai kematian memisahkan lalu baru nangis jerit-jeritan dan menyesal belum sempat minta maaf, belum sempat mengutarakan rasa sayang/apresiasi.
Jadi seorang ayah di masa kini itu lebih menantang dibanding dulu. Ayah jaman sekarang dituntut harus bisa multi fungsi. Harus mau meluangkan waktu dengan anak dan istri dan tetap dia harus bekerja keras untuk karirnya.
Ayah yang bekerja kepada orang lain harus bisa tai chi menghadapi kolega yang belum tentu semua tulus. Yang namanya politik di kantor itu menjadi sesuatu yang biasa sekali. Belum lagi menghadapi atasan yang kadang sudah banyak maunya eh ide bagus anak buahnya di sabotase dan diakui sebagai idenya. Belum lagi yang harus menghadapi klien yang sulit.
Yang berbisnis juga sama saja. Persaingan di dunia bisnis yang kadang tidak kalah kotornya dengan dunia politik membutuhkan hikmat yang lebih dan keteguhan hati kalau seseorang ingin berbisnis secara bersih.
Makanya di Father’s day ini tidak ada salahnya meluangkan waktu melakukan yang istimewa untuk menunjukkan apresiasi bagi sosok ayah di keluarga.
Jika Anda seorang ayah, jangan anggap remeh posisi Anda. Bagi anak-anak Anda, Anda adalah sosok yang mereka perlukan untuk melindungi, untuk mengasihi mereka apa adanya dan untuk memimpin mereka memasuki rancangan yang Tuhan sediakan bagi kehidupan mereka.
Happy father’s day untuk semua ayah.
Note:
Father’s Day di Amerika, Kanada dan Inggris dirayakan di hari Minggu ketiga bulan Juni. Tahun ini akan jatuh di tanggal 17 Juni 2012.
June 14th, 2012 at 10:15
dr kmaren2 sy bolak-balik nengok artikel bu SU ini… pengen nulis komentar tp gak bisa2
takut nangis hehehe…
June 13th, 2012 at 21:52
Meita, terima kasih banyak ya……Puji syukur buat papa2 kita yang luar biasa.
June 13th, 2012 at 21:52
Tapi EN waktu saya naksir sama cowo sohib sepupu terdekat saya itu, ga bisa ngomong bener deh kalau sama dia. Langsung jadi gagap. Norak banget. Ketahuan banget sukanya
June 13th, 2012 at 21:50
Hahaha EN, saya barusan balasin komen EN sudah panjang2 hilang pula
Hubungan saya sama papa sempat renggang ketika saya masih di SD tapi sudah agak besaran dan baru saya mengerti bahwa papa sebetulnya tetap sayang sama saya walaupun saya dipukul papa beberapa kali dan dimarahin secara luar biasa gara2 papa bela orang yang tinggal bersama kami.
Papa pikir saya ini sombong dan kurang ajar sekali sama orang ini mentang2 dia numpang tinggal sama kami.
Orang ini salah satu yang molested saya ketika saya kecil.
Org yg saya kasih tahu pertama kali adalah suami saya. Papa sih sampai beliau meninggal tidak pernah saya kasih tahu. Saya ngerti banget papa pasti akan sangat sedih. Keputusan beliau yg tadinya dimintai bantuan oleh salah satu kerabatnya malah membuat anaknya jadi korban.
Mama saya tahunya juga belum lama stl saya punya anak
Saya sendiri dengan orang ini sempat bertemu lagi ketika saya sudah menikah dan sudah menyerahkan diri didalam Tuhan dan dari pembicaraan dengan dia di malam tersebut segala amarah saya lenyap. Setahun sebelum papa meninggal (kalau saya tidak salah ingat) orang ini meninggal.
Kalau soal percaya diri sih ya saya sih kalau sama cowo yang ga saya taksir, ya memang biasa saja bicara sama mereka. Malah setelah saya evaluasi diri saya saat saya masih remaja dulu saya ini terlalu vokal dan terlalu keras kepala dibandingkan temen2 cewe saat tersebut. Mungkin itu juga salah satunya kenapa ga laku2 di tempat sy gede dulu
June 13th, 2012 at 12:27
Silivia, you made me cry remembering my best friend, my Bapak. Surely, he rests in Peace, so does your Papa…… amen
June 13th, 2012 at 11:35
Kemarin udah komen, belum di-send udah ilang duluan

Bersyukur banget punya papa yg punya kasih sayang segunung, Vie. Dengan hubungan yg demikian intens. Gak heran betapa kamu kehilangannya. Tidak semua anak seberuntung kamu. Aku sendiri, dari kecil dekat dengan bapak, tapi seiring bertambahnya umur, hubunganku kok tidak seerat dulu. Meskipun tidak ada konflik sih. Mungkin karena relasi dg teman dan lingkungan lain mulai mengambil porsi komunikasi dg beliau
Banyak banget yg bisa diteladani dari para ayah. Anak2 perempuan yg punya hubungan baik dg ayahnya biasanya lebih percaya diri n lebih bisa membangun hubungan yg sehat dg para pria.
Thanks sudah berbagi kisah yg luar biasa ini
June 13th, 2012 at 09:47
De, terima kasih byk sdh berbagi disini. Smg ibunya De dikasih terus sehat&panjang umur.
June 13th, 2012 at 09:44
Mas Bagong, baru tahu ternyata kita sama2 anak yatim…..
Terima kasih kembali Mas. Terima kasih juga sudah meluangkan mampir sini dan kasih komen.
June 13th, 2012 at 09:42
Tammy: kembali kasih. Terima kasih juga selalu mau meluangkan waktu be tulisan sy & kasih komen.
Tammy juga masih muda sekali ya pas papanya pulang.
June 13th, 2012 at 09:35
Linda:iya semoga dlm waktu dekat kita bisa ketemuan.