The Story from the Top End (6): Tiwi Islands – Day 2

Nyai EQ yang sedang menikmati hidangan dewa

 

Day 2 : Milikapiti, pengalaman unik bersama orang-orang unik

Haloo Baltyrans……di jilid sebelumnya kita berjalan-jalan di Bathrust Island, tepatnya di ibukotanya, Nguiu. Setelah puas mengunjungi 2 museum, melihat gereja tua, dan mengakhiri perjalanan dengan makan siang yang heboh dan sangat menyenangkan, tiba saatnya untuk menyeberang ke Melville Island, menuju Milikapiti, ibu kota Melville Island. Di ujung penyeberangan kami telah ditunggu pasangan suami istri Bes dan Cher, direktur Jilamara Arts & Crafts Association.

Untuk menyeberang kami menggunakan sebuah kapal mesin kecil yang dikemudikan oleh seorang Aborigin. Tentu saja sebelumnya harus memesan lebih dahulu. Kami masih punya waktu sekitar setengah jam sebelum pengemudi kapalnya selesai makan siang. Jadi saya berjalan-jalan di sekitar tempat kapal ditambatkan.

Di dekat tempat itu saya “menemukan” patung Bunda Maria. Menurut cerita, di bawah patung tersebut dikuburkan seorang misionaris. Salah satu misionaris wanita yang sangat berjasa bagi pulau Bathrust.

Tentu saja saya menyempatkan diri untuk berdoa sejenak di depan patung Bunda Maria. Ini sebuah momentum yang tak kan terlupakan. Karena tidak sempat berdoa di dalam gereja tua, maka Tuhan memberikan gantinya. Terbukti bahwa kita bisa berdoa di manapun, dengan cara seperti apapun, sebab Tuhan ada di mana saja.

Setelah berdoa, yang tak lupa lainnya adalah berfoto :D

Patung Bunda Maria dan kuburan Misionaris

Baik patung maupun lingkungan sekitarnya terlihat bersih dan terawat. Tidak ada yang rusak maupun dicorat-coret. Patung tersebut hanya dilindungi dengan batu-batu putih yang ditata melingkar. Namun sangat aman dari tangan-tangan jahil dan sampah.

Sepertinya memang tidak ada orang-orang iseng atau jahil yang merusak atau mengotori semua situs dan peninggalan maupun fasilitas umum. Bahkan juga tidak terlihat adanya sampah tersebar di mana-mana. Semua jalan tampak bersih. Halaman rumah juga tampak bersih dari sampah. Beberapa rumah tampak “dicorat-coret” dengan selera artistik yang indah, menjadi semacam mural. Meski sederhana namun terawat dan bersih di mana-mana. Burung-burung bebas berkeliaran tanpa ada yang mengusik, menembak atau mengurungnya.

Rumah-rumah di Nguiu

Setengah jam kemudian, perahu siap. Kami meloncat ke atas perahu dan berangkat menuju pulau Melville untuk petualangan berikutnya. Yihaaaaiii !!!

Dari kejauhan tampak dermaga, bangunan di sana itu adalah bangunan untuk menyimpan perahu jika sedang tidak dipakai, sekaligus juga sebagai bengkelnya. Seluruh temboknya penuh mural yang cantik.

Perjalanan menyeberang pulau

Perjalanan tidak memakan waktu yang lama, kira-kira 30 menit, kami sudah sampai di dermaga pulau Melville. Bes, Cher dan teman lama kami, Tim Cook menyambut kami dengan pelukan selamat datang dan senyum yang cerah.

Kami mengendarai sebuah mobil besar menyusuri jalan bertanah merah yang sangat kering dan berdebu. Persis seperti dalam filem-filem. Debu mengepul dari belakang mobil kami. Selama dalam perjalanan, kami hanya berpapasan dengan 2 mobil lain yang berjalan berlawanan arah dengan kami.  Sepanjang perjalanan, kanan kiri jalan penuh dengan pepohonan besar, seperti hutan-hutan lindung. Dan sekali lagi, bersih dari sampah.

Karena udara sangat panas, kami kemudian menyempatkan diri mampir menikmati pemandangan sebuah mata air yang dalam bahasa Tiwi disebut Billabong, atau dalam bahasa Inggrisnya di sebut Spring.

Sebuah sungai mengalir tenang, penuh dengan air yang sejuk dan bersih sekali. Bening dan berkilau. Dikelilingi batu-batuan dan pepohonan besar yang membuat suasana jadi begitu adem dan nyaman. Rasanya tak ingin beranjak dari tempat yang begitu damai dan segar itu. Merendam kaki sambil bercakap-cakap dengan teman.

Saya dan Tim Cook, saya dan Cher, dan pemandangan yang sejuk

Setelah sejenak mendinginkan diri, kami melanjutkan perjalanan. Mula-mula kami mampir dulu di kantor Jilamara, karena Bes dan Cher harus kembali bekerja. Jam kerja mereka sampai jam 4 sore. Dan saat itu baru jam 3 sore. Perjalanan dari dermaga Melville ke Milikapiti ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam dengan mobil. Tentu saja tidak ada jalan macet dan trafic lihgt.

Dengan dipandu Tim Cook, kami berjalan berkeliling area Jilamara. Di sana ada bangunan utama, sebagai kantornya, kemudian ada beberapa ruang besar yang digunakan sebagai ruang studio lukis dan patung. Saya juga sempat bertemu dengan pelukis Aborigin lainnya, yaitu Conrad, dan seorang pematung Aborigin terkenal bernama Janice. Conrad adalah pelukis Aborigin bertaraf internasional. Tidak seperti Tim Cook yang pemalu dan pendiam, Conrad banyak omong, suka ngobrol, meskipun tidak terlalu jelas omongannya, karena dia juga menderita cacat mental, hampir mirip seperti tim Cook. Meskipun demikian, karya keduanya sudah terkenal di banyak negara. Conrad tinggal bersama adik perempuannya dan 2 orang keponakan yang berumur 8 dan 14 tahun. Keduanya laki-laki.

Janice tinggal bersama keluarganya, dan 2 orang anaknya, tapi tanpa suami. Sedangkan Tim Cook tinggal sendirian. Konon ceritanya dia pernah punya tunangan, namun kemudian meninggal dunia, sejak saat itu Tim Cook memilih untuk hidup sendiri.

Jilamara juga memiliki sebuah gallery tempat memajang dan menjual karya seni para seniman Aborigin yang tergabung di dalamnya. Dan juga, lagi-lagi, mempunyai bangunan museum. Saat itu museumnya sedang dalam tahap pembangunan perluasan. Di bagian belakang ada sebuah halaman luas. Di situ terdapat beberapa tottem.

Ketika jam kerja selesai, kami beranjak pulang menuju rumah Bes dan Cher, di mana kami akan menginap selama 2 malam. Sebelumnya, kami berjanji untuk bertemu lagi dengan Tim, Conrad, Janice dan beberapa teman Aborigin lainnya di sebuah “night club” sore itu juga.

Begitu sampai rumah, kami mendapat sebuah kamar ukuran 3 x 4 meter yang nyaman di bagian bawah rumah utama. Kami segera melepas lelah sejenak, lalu bersiap untuk pergi ke “night club” yang buka sore hari. Tempat tersebut adalah satu-satunya tempat untuk berkumpul, nongkrong, bertemu kawan sambil minum dan ngobrol segala macam. Yang boleh masuk adalah orang-orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Namun yang saya lihat, kebanyakan dari mereka justru adalah orang-orang tua. Saya hampir tidak melihat anak-anak muda nongkrong di situ. Kata Bes, anak-anak muda suku Tiwi berada di kota untuk sekolah atau bekerja. Jadi jarang ada anak muda yang tinggal di kepulauan Tiwi. Yang ada hanyalah orang-orang tua dan anak-anak, serta perempuan.

Rumah tempat kami tinggal selama 2 hari di Milikapiti

Pemandangan di depan rumah : jalan, pohon dan laut lepas

Tempat nongkrong tersebut berjudul sport & sosial club, jadi bukan kafe atau night club, meski pada kenyataannya bukan tempat untuk berolah raga. Bangunannya berpagar tinggi, dengan pintu gerbang tertutup, seperti bangunan khusus dalam filem-filem gangster atau filem detektif. Dari luar tampak seperti bangunan biasa, tapi di dalamnya mirip kafe. Buka dari jam 4.30 sore hingga jam 7.30 malam. Ada bar, beberapa kursi. Orang-orang duduk berkelompok dengan botol atau kaleng bir. Beberapa chips dan “klethikan” lain di meja-meja kayu.

Sembilanpuluh persen pengunjung adalah orang-orang Aborigin. Ada laki-laki tua dengan topi koboi tua, memakai tongkat penopang jalan, rambutnya di kepang dua, tangan kirinya memegang sebotol bir. Orang lainnya cacat mata sebelah, mengenakan rompi kulit warna coklat di atas baju hem kotak-kotak biru tua, jeans lusuh dan tertawa keras bersama kawannya yang juga tak kalah absurd penampilannya. Kelompok kami terdiri dari saya, Cher, Bes, mantan saya, Tim Cook, Conrad, Janice dan sesorang perempuan tua yang saya lupa namanya, tapi sangat menyukai saya karena saya datang dari Indonesia. Menurut ceritanya, kakek dari suami perempuan tua itu adalah pedagang Maccasan yang mendarat di Melville bersama orang-orang Belanda.

Bangku dan meja di sana terbuat dari kayu atau batu, beberapa diantaranya digambari dengan lukisan khas gaya Aborigin. Seni ada di setiap sudut wilayah ini. Bukan corat-coret kotor, tapi karya seni lukis yang indah dan memperindah. Tempat sampah cukup besar juga tersedia di setiap sudut, jadi tidak ada sampah plastik, puntung rokok, abu rokok ataupun tutup botol dan kaleng bekas yang berserakan.

Meskipun saya sangu air mineral, tapi tidak asyik kalau tidak memesan bir dingin. Juga beberapa bungkus kentang goreng sebagai cemilan.

Kami tidak lama berada di sana, karena sudah capek dan harus beristirahat. Besok kami kami akan diajak mengikuti sebuah petualangan seru yang di sebut hunting. Atau mencari kura-kura, kerang rawa dan kerang laut untuk persediaan bahan makanan mereka. Kegiatan ini dilakukan secara berkala, 2 kali dalam sebulan. Dan kali ini saya sangat beruntung, karena tepat pada waktunya.

Tidur saya sangat nyenyak. Kamar yang kecil itu dilengkapi dengan AC, sehingga udara panas tidak terasa.

Saya terbangun ketika pagi masih cukup gelap. Saatnya melihat matahari terbit dari laut. Tapi karena sudah dipesan jangan mendekati pantai jika hari gelap, karena sering ada buaya berkeliaran, saya memilih memotret suasana fajar baru dari halaman rumah saja, ketimbang harus bertegur sapa dengan para buaya yang konon katanya tidak begitu ramah. Saya juga tidak tergoda untuk memotret buaya liar Australia.

Matahari terbit di Milikapiti, Melville Island

Setelah matahari naik agak lebih tinggi, saya melakukan penjelajahan kecil sendirian, di kebun belakang yang penuh pohon besar dan rerumputan tinggi. Saya juga menemukan rumah semut yang menempel di beberapa pohon. Rumah semut itu seperti gundukan tanah berwarna coklat dan agak tinggi. Kelak, saya akan menyaksikan rumah semut yang tingginya sepuluh kali lipat saya dalam perjalanan ke taman safari Australia.

Gundukan rumah semut dan totem yang saya temukan di halaman belakang rumah

Setelah cukup puas menjelajahi halaman belakang yang luas dan berpagar kawat berduri, saya masuk ke rumah utama untuk mandi. Ternyata semua sudah bangun dan bahkan sudah mandi. Jadi saya yang terakhir.

Sarapan paginya adalah sandwich isi salami dan keju tebal, salad sayur dan segelas besar susu segar. Rotinya adalah roti tawar berwarna coklat dari gandum yang masih berkulit, jadi terasa agak kasar namun padat dan gurih sekali.  Selesai sarapan kami bersiap-siap untuk pergi hunting. Saya dan Cher mempersiapkam bekal makanan yang terdiri dari beberapa potong roti isi ham, telur, keju dan beberapa lagi lainnya berisi selai kacang, selai marmelaide dan selai coklat. Juga ada beberapa botol air jeruk, beberapa kaleng bir dan air mineral. Para lelaki menyiapkan alat pancing lengkap dengan umpan.

Mula-mula kami menjemput Tim Cook, kemudian menjemput Janice, Rhonda, si kecil Toddy dan kakak perempuannya, yang dipanggil dengan nama Billy. Toddy dan Billy adalah keponakan Janice.

Rombongan kami berangkat dengan mobil Jilamara. Menyusuri jalanan berdebu menuju daerah pedalaman yang tidak mulus jalannya. Saya tidak tahu bagaimana caranya Janice dan Rhonda mengetahui dengan pasti di mana kami harus berhenti dan turun untuk melanjutkan perjalanan ke daerah berawa-rawa yang tidak mungkin dilalui oleh mobil. Mereka seperti menandainya dengan pohon atau bentuk jalan kecil. Entahlah, bahkan Bes pun tidak tahu. Tapi kami, para wanita plus Toddy, segera turun, membawa tas-tas plastik besar, sementara para lelaki meneruskan perjalanan ke arah pantai untuk memancing ikan.   

Mula-mula kami menyusuri jalan kecil berbatu dan berumput pendek. Seperti jalan setapak di tepi hutan. Kemudian kami masuk dalam hutan bakau yang berlumpur. Tujuannya adalah mencari kerang yang di sebut dengan nama longbottom, karena bentuknya memanjang, warnya hijau tua. Selain itu juga mencari sejenis kerang rawa yang bentuknya mirip kerang laut. Ukuran sedang, kulitnya berwarna coklat muda sampai kehitaman. Sangat sulit mencari di dalam lumpur rawa diantara akar-akar pohon bakau yang tajam. Tapi benar-benar asyik.

Hunting

Udara panas menyengat tidak terlalu saya rasakan karena asyiknya berpetualang mencari kerang. Longbottom tidak terlalu sulit ditemukan, tetapi kerang rawa jenis yang satunya sangat sulit. Kata Janice, karena saat itu adalah musim kering, jadi rawanya agak mengering, sehingga keran-kerangnya pun menjadi sangat jarang ada. Saya diberi tips oleh Billy, cara “mudah” mendapatkan kerang rawa. Yaitu dengan memperhatikan lumpur baik-baik, jika di situ muncul gelembung-gelembung udara kecil, berarti dibawah lumpur akan ada kerang rawa. Kebanyakan kerang rawa bisa ditemukan di genangan lumpur berair. Saya mencoba menajamkan mata, mengamati setiap genangan lumpur berair. Tentu saja sulit sekali. Billy menemukan kerang pertamanya dan sekitar setengah jam kemudian saya menemukan kerang rawa saya yang pertama, dan yang terakhir. Mereka menepuk pundak saya sambil tertawa, katanya saya adalah pemburu kerang rawa yang baik. Senangnya!

Billy, Toddy, saya dan kerang rawa yang berhasil saya temukan

Setelah mengitari hutan bakau yang cukup luas dan menemukan hanya sedikit kerang rawa ( tapi banyak longbottoms), kami beranjak ke hutan bakau yang lainnya. Kali ini rute kami harus menempuh padang lumpur yang cukup luas, lembek dan panas. Tapi tetap penuh semangat dan ceria, meskipun tampang sudah acak adut tidak karuan, tapi masih bergairah. Petualangan ini benar-benar seru buat saya. Dan buat mereka juga seru, karena mengajak orang asing pergi hunting adalah hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.

Padang lumpur di antara hutan-hutan bakau

Menginjakkan kaki lumpur yang lembab memberikan sensasi yang aneh. Lucu dan sangat menyenangkan.

Tetapi karena di hutan bakau ke dua tidak juga ditemukan kerang rawa, maka kami memutuskan untuk berjalan menuju ke pantai dan bergabung dengan para pria. Melihat apakah mereka lebih berhasil dari kami, mengumpulkan ikan!

Perjalanan ini pun merupakan perjalanan yang mengasyikkan. Saya ingin melihat kangguru liar, tapi kata Rhonda, kangguru adalah binatang pemalu, jadi hampir tidak mungkin kami bisa berjumpa dengannya. Meskipun demikian, kami mencoba melacaknya. Perjalanan melintasi lapangan luas, tanah berlumpur, tanah berumput dan pepohonan besar. Saya sempat menemukan jejak kangguru. Hanya jejaknya saja.

Toddy menemukan buah kering, entah buah apa, yang dipakainya bermain-main sepanjang perjalanan menuju pantai.

Toddy dan “bola”nya dan jejak kangguru liar di lumpur

Akhrinya sampailah kami di pantai yang begitu indah dan bersih, dengan air laut yang biru kehijauan. Pantainya sepi dan nyaman sekali. Saya merasa seperti putri duyung yang pulang ke rumah. Lega rasanya.

Pantai yang cantik dengan warna-warnanya

Cher segera mencari tempat teduh dan nyaman di bawah pepohonan besar, menggelar sarung pantai, mengambil keranjang bekal dari dalam mobil, membuka segala macam bekal yang kami bawa, memang sebentar lagi sudah jam makan siang.

Namun kami tidak langsung beristirahat di bawah pepohonan, meskipun sudah seharian menjelajahi tempat-tempat yang bagi saya ajaib dan unik.

Setelah meneguk air jeruk yang dingin, karena disimpan di dalam kotak es, saya dan yang lainnya bermain-main air di pantai. Janice dan Rhonda mencari kerang laut. Toddy menemukan pohon kering yang terjepit diantara bebatuan dan menari-nari di dekatnya, anak itu memang lucu dan menyenangkan. Saya dan Billy bermain-main air sampai basah kuyup.

Ikan kecil satu-satunya, hasil tangkapan Tim Cook hari itu

Rupanya para pria pun tidak terlalu sukses. Hanya satu ikan yang berhasil ditangkap oleh pancing Tim Cook. Dan itupun ikan ukuran kecil.

Tarian Toddy

Ketika saatnya makan siang tiba, Cher memanggil kami semua untuk duduk di bawah keteduhan pohon. Kami segera berkumpul dan menyantap makan siang kami. Rupanya Janice mempunyai kejutan untuk saya. Dia dan Rhonda berhasil mengumpulkan cukup banyak kerang laut yang diambil dari balik karang-karang besar. Dan karena cukup banyak, maka dia hendak membaginya dengan saya. Tentu saja saya sangat senang. Saat itu juga Janice mengeluarkan sebuah kerang besar, mencucinya dengan air laut, lalu membukanya dengan pisau dan memberikannya pada saya. Dengan lahap saya menelan kerang tersebut mentah-mentah. Rasanya ? yuuuuumy !! enak sekali. Gurih, manis, sedikit asin dan sempurna! Cita rasa yang tidak bisa di dapatkan di restoran termahal sekalipun. Benar-benar kerang segar yang masih alami dan lezat. Dagingnya lembut dan kenyal, putih dengan jusnya yang sedikit bercampur air laut, membuat rasanya semakin mantap. Seperti meleleh di mulut.

Hidangan dewa laut dan Kerang laut dibakar di atas batu

Sekali lagi Janice mengeluarkan kerang laut dari tas kantongnya, kali ini hendak dipanggang di atas batu, bersama beberapa longbottom. Kerang lautnya untuk saya, tentu saja. Wuaaaah..makanan surga. Seperti hidangan dari dewa laut. Saya tidak akan pernah lagi bisa menikmati makanan selezat ini. Dengan suasana yang khas bersama dengan teman-teman yang juga khas. Mereka senang karena saya menyukai hidangan mereka. Dan saya memang benar-benar menyukainya Bahkan kalau boleh minta lagi, saya pasti akan minta lagi, tapi saya tahu bahwa kerang-kerang tersebut akan dibawa pulang untuk persediaan lauk di rumah. Ikan tangkapan Tim Cook juga akan di bawa pulang. Saya juga mendengar kabar bahwa kelompok lain yang pergi hari itu di sisi lain berhasil mendapatkan dua ekor kura-kura laut yang ukurannya cukup besar. Kura-kura tersebut adalah persediaan makan yang menyenangkan bagi keluarga-keluarga Aborigin di Melville Island. Mereka akan membagi hasil perburuan.

Suasana makan siang dan istirahat

Setelah puas, kami istirahat sejenak, lalu bersiap menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan. Pulang.

Benar-benar pengalaman yang sangat langka dan menyenangkan.

Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan emas seperti ini. Bahkan bagi orang Australia sendiri, pengalaman seperti ini juga tidak bisa didapatkan dengan mudah. Saya sangat bersyukur, bahwa saya diberkahi dengan petualangan yang sangat mengesankan. Membuat saya menghargai setiap harkat manusia, semakin menghargai kebesaran semesta dan karunia. Dan satu hal lagi, bahwa semua manusia itu pada dasarnya sama, selama kita bisa saling menghargai, menghormati dan menerima semua perbedaan yang ada dengan tulus.

Pengalaman unik dengan teman-teman yang unik

Ketika sampai di rumah hari sudah menjelang sore. Kami segera pulang ke rumah masing-masing. Dan saya pun segera mandi. Setelah semua bersih, segar dan nyaman, kami naik ke teras atas, menikmati sore yang indah dengan segelas red wine. Makan malam kali ini adalah sosis panggang, salad dan ikan tuna bakar yang dimasak dengan minyak wijen.

Besok kami harus kembali ke Darwin. Petualangan sudah selesai untuk kali ini, semoga lain kali bisa berkunjung lagi.

 

Catatan :

Pictures by : Cher dan Sekar.

 

9 Comments to "The Story from the Top End (6): Tiwi Islands – Day 2"

  1. eq  13 June, 2012 at 09:22

    berpetualang seperti itu menyenangkan….saya sih suka bgt..tp traveling yg muahal jg sukaaaa…ada yg mau mensponsori saya? hehehe….
    kerang laut dan rawa enak semua….yg mentah berasa manis…enyaaak bgt…dan ya…alam lautnya cantik sekali

  2. Bagong Julianto  12 June, 2012 at 22:11

    Nyai EQ>>>

    Asyik tenan ‘lan-jalannya…. Sekian dasawarsa yang lalu, jalan-jalan di pedalaman Australia, banyak creek, buaya dan adat-istiadat, kisah tanah larangan/tanah suci Aborigin sudah saya nikmati…….lewat novel. Masa itu adalah masa ABC, Walzing Mathilda, Dancing Queen ABBA, Sailing Rod Steward, Rhinestone Cowboy Glenn Campbell… Salut untuk Nyai EQ!
    Kalau hidangan dewa, kami di PKU punya idiom: makanan dewa…. Ini menu wajib adik sepengambilan kami…. SOP dan kecap daging kalangan terbatas….. hehehe…..

    Suwunnnn…
    Sabar Nunggu Kisah berikut…..

  3. Dewi Aichi  12 June, 2012 at 01:48

    EQ uedyannnn…jalan-jalannya ciamik…..begini aku suka, dekat dengan alam…yang masih natural….hidangan dewa? Mau dongg..!

  4. Silvia  11 June, 2012 at 20:43

    Rumah2 penduduknya nampak sederhana sekali. Lautnya begitu indah.

  5. Lani  11 June, 2012 at 15:38

    EQ : wuiiiiih…….makan kerang mentah? Hadoooooh, jd ingat ktk mencoba makan tiram mentah, dikucur dgn air jeruk lemon, mak klenyerrrr…….njur keluar lagi mutah2 aku…….jiaan memalukan! Tp klu di grilled kmd dikucur air jeruk lemon+Tabasco enak…..krn matang.
    Ktk mencari kerang, dgn kaki telanjang, jalan dilendut/rawa??? Ndak takut to?
    Dikau mmg travel petualang, klu aku ndak bs sampai mblusuk2.

  6. Linda Cheang  11 June, 2012 at 14:23

    asyik, jalan-jalan lagi…

  7. J C  11 June, 2012 at 13:51

    Rumah panggungnya kelihatan asik buanget…

  8. [email protected]  11 June, 2012 at 12:25

    Nice……..

  9. Alvina VB  11 June, 2012 at 11:17

    Sekar, kamu suka berpetualang ke P. Tiwi yg blm disentuh banyak org ya???
    Btw, lebih enak lagi kl kerang lautnya dicampur dgn blue cheese trus dibakar….emmmm….yummy….
    Kerang rawa bisa dimakan/ gak? Kl bisa, lebih enakan mana: kerang laut/ kerang rawa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.