Djoko Paisan – Mainz, Jerman
HALLO ANDA SEMUA DI BALTYRA …..
Kali ini Dj. ingin sedikit mebikin oret-oretan, tentang Taman Kanak-kanak di Mainz. Tepatnya, dimana istri Dj. bekerja, karena ini yang memungkinkan untuk Dj. ceritakan. Dj. bikin oret-oretan ini, karena tau bahwa di BalTyRa, banyak juga yang berprofesi sebagai guru, entah guru apa saja. Apakah guru Tari, guru taman kanak-kanak, guru SD, SMP, atau bahkan SMA dan yang lainnya.
Dimana Susi bekerja, sebenarnya bukan di Kinder Garten (taman kanak-kanak) lagi, tapi lebih tepat disebut sebagai “KINDER TAGESSTÄTTE “ (Taman kanak-kanak sehari penuh) karena dari Jam 7:00 pagi, sampai jam 16:00 sore. Di taman kanak-kanak di Jerman, pada umumnya dimulai dengan anak yang berumur 3 tahun s/d 6 tahun. Sedang Kinder Tagesstätte, ada juga anak yang berumur 2 tahun, ya bahkan mungkin 1 tahun.
Tapi dari dua-duanya, anak-anak lebih banyak bermain dan tidak belajar menulis, membaca, apalagi berhitung. Yang diutamakan adalah hubungan sosial diantara anak-anak, baik yang besar, pun yang kecil. Di samping itu, mereka lebih banyak belajar tentang kehidupan sehari-hari.
Misalnya :
- Belajar bermain dengan teman yang lebih kecil dan turut mengawasinya.
- Misalnya juga belajar menggunting, atau memegang gunting dengan benar, membedakan warna dan yang lainnya.
- Belajar tentang alat-alat dapur yang boleh mereka gunakan dan mana yang berbahaya, yang mereka harus hati-hati.
- Mereka bersama-sama ke Air Port, untuk mengetahui, apa itu Air Port, apa itu pesawat, Pilot dan apa saja yang ada di Air Port.
Pernah, saat Garuda masih terbang ke Frankfurt, teman Dj. Capt.Pilot Ananda dan Butje, mau berpose dengan anak-anaknya Susi. Jadi Susi tidak perlu bertanya ke Air Port Informasi untuk meminta apa ada pilot yang mau berphoto dengan anak-anak. Anak-anak sangat senang dan bangga, bahkan teman-teman Susi juga, karena Susi sebagai penterjemah, bila ada anak-anak yang bertanya.
- Mereka diajak pergi ke Pemadam kebakaran, agar kalau terjadi kebakaran, dibrumah atau dimana saja, mereka tidak ketakutan dan juga tidak panik. Bahkan mereka diajar untuk menelpon pemadam kebakaran (bagi anak yang sudah berumur 5-6 tahun).
- Tetap tenang dan tidak takut
- Diharap bisa memberi informasi dengan jelas,
- Apa yang terjadi.
- Dimana terjadi kejadiannya (alamat kejadian).
- Memberitahukan namanya.
Jadi tidak hanya telpon ada kebakaran dan telpon lalu ditutup, ini malah bikin repot pemadam kebakaran…. Hahahahaha….!!! Saat mereka mendapat penjelasan dari seorang pemadam, alat-alat yang digunakan dan fungsinya.
Bahkan mereka satu persatu boleh duduk di mobil pemadam.
- Mereka juga diajak ke kantor polisi (lalu-lintas) untuk bisa mengenal dan tidak takut terhadap polisi. Mereka banyak mendapat informasi dari polisi yang begitu bersabar menjelaskan kepada anak-anak.
- Mereka diajar untuk bisa menyeberang jalan dengan benar, mengenal lampu merah-hijau di perempatan dan menggunakannya.
Dan akhir dari kunjungan mereka, anak-anak juga boleh duduk di atas sepedamotor polisi, hanya untuk ambil photo saja.
- Mereka juga diajak ke Rumah Sakit, sekedar mengetaui apa itu Rumah Sakit dan apa yang ada di dalamnya. Agar mereka juga tidak ada rasa takut, bila satu saat harus ke dibawa ke Rumah Sakit. Nah ini saat mereka diperkenalkan dengan mobil Ambulanz dan mendapat penjelasan dari seorang dokter.
Dan satu persatu, mereka juga merasakan tidur di atas tempat tidur yang akan diangkut oleh mobil Ambulanz. Pura-pura sebagai Patien.
Ini semua menjadi program dari taman kanak-kanak dan hanya untuk mereka di tahun terakhir di Ki-Ta. Dengan demikian, berharap agar anak-anak tidak ada rasa takut dan bahkan siapa tau mereka sudah bisa memilih cita-cita mereka. Apakah mereka tertarik untuk jadi dokter, perawat, pilot, pramugari, polisi, atau sebagai pemadam kebakaran.
Nah baiklah Dj. tidak akan banyak cerita lagi dan ini berapa photo yang Dj. ambil di Ki-Ta (“Kinder Tagesstätte”) dimana Susi bekerja.
Photo dari depan Ki-Ta, banyak mobil orang tua yang mengantar anak-anak mereka.
Dari belakang Ki-Ta
Di depan kelas, ada tempat untuk menggantung Jacket, mantel, menaruh sepatu, juga tas berisi pakaian untuk senam. Walau mereka masih kecil-kecil, mereka melakukannya sendiri, juga memakai sepatu untuk di dalam ruangan, atau berganti sepatu saat mau keluar gedung.
Ruang-ruang kelompok..
Ruang untuk bermain senam, mereka boleh bergerak semaunya, hanya tetap daalam pengawasan gurunya.
WC dan kamar mandi untuk anak-anak dan bukan untuk orang dewasa.
Ruang untuk mengganti popok, bagi yang masih belum bersih, biasanya yang di bawah umur 3 tahun. Masih suka ngompol seperti mbak DA. hahahahahaha….!!!
Kalau mereka sudah bersih, maka siang mereka juga bisa tidur, malah diharap mereka akan tidur, walau tidak semua anak-anak mau tidur. Ini salah satu ruangan dimana mereka bisa tidur dan jelas ada yang mengawasi mereka.
Dapur untuk membagi makanan yang datang dari salah satu organisasi dan juga untuk cuci peralatan. Jadi bukan untuk masak. Jadi, anak-anak sarapan dan makan siang di Ki-Ta dan disitu juga para pendidik juga makan bersama. Di situ juga dianggap sebagai istirahat para pendidik, jadi dari jam 7:00 – 16:00 tidak ada istirahat yang sebenarnya.
Seperti pekerja kantor, toko atau di pabrik, misalnya jam 9:00 istirahat sarapan dan jam 12:00 istirahat makan siang. Para pendidik tetap siap untuk melayani anak-anak. Entah kalau di Indonesia…???
Gudang …
Kantor, maaf Dj. lupa ambil photo ruang rapat pendidik. Karena setiap hari Senin, para pendidik, tidak hanya bekerja sampai jam 16:00. Tapi mereka ada “Team” atau meeting sampai jam 18:00. Susi yang paling bahagia, karena Ki-Ta nya persis di belakang rumah, jadi sangat dekat.
Lho ini Dj. hanya photo ruangan saja, lha anak-anaknya dimana….??? Sabaaaaaaaarrrrr….!!! Anak-anaknya, Dj. usir keluar dan di taman belakang Ki-Ta, dimana Dj. akan ambil photo mereka, (photo bersama).
Okay, itu sedikit tentang Kinder Tagesstätte atau disingkat menjadi Ki-Ta.. Yang belajar kehidupan sosial dan apa yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang “mungkin” sedikit lain, anak-anak di Jerman pada umumnya, sudah diajak turut berbicara. Dj. ingat saat Dj. masih kecil, bahkan sudah sedikit besar, selalu harus menerima kata-kata seperti ini. KAMU ITU TAU APA…??? !!! (Pendapat anak-anak, jarang sekali dihargai).
Sedang di Jerman, anak-anak selalu diikut sertakan, bahkan tidak jarang, mereka diminta pendapat (idee) nya. Kalau seorang ayah atau ibu marah kepada anaknya, biasanya mereka tidak marah dengan kata-kata teriakan, apalagi mukul. Mereka akan mengundang si anak dan akan berkata “ WIR MUSSEN REDEN “ (Kita harus berbicara).
Dulu Dj. suka heran kalau bertamu di keluarga Jerman dan sang ayah berkata kepada anaknya, kalau bikin kesalahan. “SPÄTER WIR MUSSEN REDEN “ (Nanti kita harus berbicara), jadi anak-anak kecilpun, mereka juga sudah harus bisa bertanggung jawab akan apa yang mereka perbuat, baik kesalahan atau satu perbuatan yang baik. Dj. ingat dulu, kalau bikin kesalahan, langsung saja PLAAAAAK….!!! Ke pipi…. Hahahahaha…!!!
Semoga bagi para guru dan anda semuanya, boleh sedikit bermanfaat, melihat Ki-Ta di Mainz dan negara lain di Eropa, siapa tau di Belanda juga lain lagi. Mungkin nanti akan Dj. sambung dengan pesta anak-anak di Ki-Ta, dimana mereka bermain, bernyanyi dan menari ya…Bahkan mereka bikin theater yang benar-benar mengherankan kita, untuk mereka yang masih sangat kecil.
Maaf bila banyak kata-kata yang tidak berkenan.
Semoga Kasih dan Berkat TUHAN, selalu menaungi kita semuanya.
Salam manis dari Mainz.
Dj. 813
Pages: « 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »
Pages: « 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »
June 12th, 2012 at 16:50
Sekarang di Indonesia belajar calistung juga dilarang untuk level TK/PAUD. Namun sayangnya tidak ditaati oleh para penyelenggaranya.
June 12th, 2012 at 15:43
oom Dj… di Indonesia polisi buat nakut2in anak2 malah hehehe… klo nakal dipanggilin pak polisi, gak mau makan? pak polisi lg hehehe…
June 12th, 2012 at 15:19
@Djoko: aku tambahin sedikit ya; tidak semua Ki-Ta dijerman gratis lho; ongkos KiTa itu termasuk kebijakan pemerintah daerah, propinsi, jadi politik pendidikan diMainz (ptop. Rheinland-Pfalz) agak beda dengan politik pendidikan diMünchen (prop.Bayern). DiMünchen KiTa tidak gratis, harus bayar sesuai dengan gaji ortu.
Wah, bisa² anggota DPR mempunyai alasan lagi untuk studie banding soal Ki-Ta diJerman!!
June 12th, 2012 at 14:39
kalo ada artikel Oom DJ nongol [asti hari Selasa
Aku mengalami masa tumbuh seperti yang Oom Dj dapatkan. Maka aku bertekad kelak ketika aku harus mendidik generasi berikutnya, aku tak mau berlaku seperti generasi terdahulu perlakukan anak-anaknya.
TK di sini juga sudah mulai ada program ngunjungi beberapa tempat seperti kantor polisi, pemadam kebakaran, klinik, rumah sakit, tapi kalo ke airport, kayaknya belum, ya.
June 12th, 2012 at 14:24
Asyik sekali, yaaa. Di Indonesia, tentu di kota-kota, salah satunya Jogja, sudah ada STK atau pre-school semacam ini, tapi biayanya tentu sangat mahal, yang mampu bayar tentu juga yg kaya. Dulu, antara 1992-94, anak saya pernah merasakan di pre-school semacam ini, di Kanada. Kami dpt subsidi krn mahasiswa. Untuk bisa dpt subsidi hrs diseleksi. Sesekali saya jadi relawan kalo lagi pada jalan2 keluar. Dan waktu itu, 18 th yang lalu, fasilitasnya juga sudah sebagus di foto2 ini.
June 12th, 2012 at 13:58
MAS DJ : enaknya mbak-yu Susi, kerja tinggal mlompat pager omah hehehe…….
Ndak heran, mrk mandiri baik cewe/cowo, krn mmg sdh dididik utk mandiri sejak mrk iyek2…..
Apakah sekolahan spt ini ada di Indonesia? Plg tdk mirip2, klu sama pleg……aku yakin baru dialam mimpi hahahah
Apalagi yg GRATIS?????? Wakakaka…..ndak mungkin terjadi, mrk malah ber-lomba2 harga SPP semakin mahal semakin jossssss fasilitasnya…..tp entah pendidikannya lo….msh diragukan.
mas, ruang tidur, kelas, mirip dgn salah satu SD dimana saya mendptkan undangan utk jd guru, mengenalkan ttg Indonesia…..malah saya bawa batik, makanan, dan video you tube kiriman dr aki buto…..
anak2 sgt antusias mengacungkan tangan mrk utk bertanya…….tdk malu, apalagi takut………aku salutttttt……sm anak2 yg msh muda belia usianya………..tp aktif, tdk diam, sekedar mendengarkan saja………..
June 12th, 2012 at 13:55
Hallo Evii….
Terimakasih ya, sudah mampir…
Apa kabar Texas….??? Pasti sudah molai panas dan jalan-jalan dengan Bike nya ya….
Asyiiiiik…!!!
Hati-hati kalau dengan tembakan, langsung sembunyi, siapa tau ada peluru nyasar…. Hahahahaha….!!!
Salam manis dari Mainz….!!!
June 12th, 2012 at 13:52
Mbak Tammy….
Terimakasih ya, sudah mempir….
Memang demikian adanya, walau tidak semuanya tentu.
Nah, soal kemandirian itu, juga termasuk pendidikan dirumah juga kan…
Nah kalau di Indonesia, jangankan anak orang kaya, yang hidup sedrhanya saja, anaknya sangat dimanja.
Sebentar-2 mboook…!!! ambillkan ini, itu…!!
Bagaimana akan mendiri, tapi sekali lagi, tidak semua demikian.
Hanya ingat saat, mudik dan tinggal dirumah kaka, anaknya sudah SMA dan dia hanya teriak ke pembantunya,
untuk diambilkan kaos kaki. Saat si ragil yang saat itu, umur 4 tahun, langsung tanya ke Dj.
Memangnya dia sakit kakinya, kok tidak ambil sendiri…??? Hahahahahahaha….!!!
Dj. hanya bilang, mungkin ( bisa jadi ).
Salam manis dari Mainz…
June 12th, 2012 at 13:42
Waaaahhh hebat banget, tidak sekedar teori yang bisa lupa. Saya Aja yang sudah besar belum pernah ke tempat pemadam kebakaran Dan kantor polisi, tapi saya sudah pernah pegang pistol, lihat orang menembak Dan sering mendengar suara tembakan Dan letusan peluru yang meletus terus menerus sampai pelurunya habis (lokasinya di gudang peluru)
June 12th, 2012 at 13:38
DJ: kalo di negara2 maju kayaknya model pendidikan TK ato pre-school emang mirip2 begini. Yg ditekankan adalah bagaimana bersosialiasi, pengembangan akhlak (learning right from wrong) and belajar mandiri. entah kalo di indo anak umur berapa baru bisa mencapai taraf kemandirian seperti murid2 TKnya Bu Susi. Anak Indo kelas 5 SD mungkin gak semandiri anak umur 5 taun keluaran Ki-Ta.