Tinggal Cerita

Ida Cholisa

 

Dulu, untuk menjangkau tempat tinggalku tak perlu berkeringat menembus kemacetan yang amat-sangat. Untuk menghirup udara segar, tak perlu bepergian jauh mencari rindangnya pepohonan dan sawah membentang. Cukup melangkah ke belakang rumah, maka akan terlihat pemandangan pepohonan bambu  yang memagari sawah  nan hijau. Bahkan dulu, untuk mendengar gemericik air sungai dan air kali kecil, aku tak perlu mencari tempat yang  jauh.

Kini semua tinggal cerita. Rumahku dikepung ketidaknyamanan segala rupa. Jalan raya yang selalu macet, pepohonan yang dibabat habis sedikit demi sedikit, sawah-sawah yang menghilang, air jernih yang lenyap, serta panas yang amat sangat yang selalu datang saat siang menjelang. Kenyamanan itu melenyap seiring pembangunan yang gencar dilakukan. Pepohonan dimatikan untuk kemudian ditumbuhkan bangunan menjulang. Sawah-sawah diratakan untuk kemudian ditanami perumahan. Sejauh mata memandang, bukan lagi hijau yang terbentang, melainkan atap-atap bangunan yang menyisakan kegersangan.

Tak perlu aku merindukan cerita dahulu, saat cinta bersemi di hatiku pada lelaki yang menyuntingku. Di rumah mungil itu, dahulu, lelaki itu, membaluriku dengan keindahan demi keindahan semesta yang menggelorakan cintaku. Tanah gembur menjadi sahabat yang senantiasa memberi kami sayuran segar beraneka ragam. Tanah resapan dengan kali yang mengalirkan air jernih dahulu menjadi teman lelaki itu saat cangkulnya membuka tanah. Biji-biji yang ia sebar akan tumbuh menjadi tanaman hijau dengan buah ranum menggiurkan.

Tapi sekali lagi, itu hanya cerita yang terjadi pada masa dahulu. Dan sekali lagi, aku tak perlu merindukan masa indah itu. Semua cerita telah berganti tema.

Rumahku dikepung kemacetan, panas serta banjir yang sewaktu-waktu mengintai saat hujan turun dengan derasnya. Inilah buah dari pembangunan. Ada sesuatu yang maju berkembang, tapi ada sesuatu yang terkorbankan; kenyamanan.

Memang cerita dahulu tinggal kenangan. Hijaunya alam dengan rimbunnya pepohonan telah menguap seiring kemajuan zaman.

Satu yang tetap seperti dulu, cintaku pada lelaki itu, lelaki penyuka tanah gembur dengan beragam tanaman yang menggelantungkan buah-buahan nan segar.

Di mana tanah gembur itu? Di mana beraneka ragam tanaman yang selalu ia siram saat sore menjelang?

Lelaki itu tak lagi mengayunkan cangkul seperti dulu. Dan aku tak lagi bisa mengintipnya melalui celah dedaunan, saat ia asyik mengayunkan mata cangkul ke tanah gembur itu.

Kusadari sepenuhnya, yang kunikmati dahulu bersama alam tempat tinggalku, kini hanya menjadi sebuah cerita semu…***

 

10 Comments to "Tinggal Cerita"

  1. Alvina VB  13 June, 2012 at 19:49

    Mbak, mustinya ada gerakan penghijauan kota/ desa lagi….semua yg disemen mustinya dibuka dan ditanami rerumputan dan tanaman lagi, jadi banjir bisa terhindari krn resapan air di bumi akan bertambah. Di kota dimana saya tinggal saat ini ada gerakan penghijauan kota, semua yg tadinya konkrit semen, dibuka dan ditanami aneka macam tanaman, jadi indah lagi dan kl hujan gak akan ada banjir. Dan burung2, kupu2 dan aneka serangga aneh2 berdatangan kembali…sekarang yg musti dibasmi para perokok yg membuang puntung rokok seenaknya dewe, bikin kota kotor dan bau rokoknya itu loh, aduh biyu…………

  2. Silvia  13 June, 2012 at 09:49

    Memang desa byk tergusur sekarang2 ini.

    Sy bersyukur walaupun tinggal dikota besar tapi pagi2 masih dibangunkan oleh kicauan burung.

  3. Bagong Julianto  13 June, 2012 at 05:31

    Ida Ch>>>

    Di sekitar Solo-Jateng, jadul th 1970-1980an daerah Sumber-nJajar-ngarah ke Colomadu masih terhampar sawah di kiri kanan jalan…. Sekarang sebagiannya jadi bangunan….

    Di Sekayu-Muba-Sumsel, tahun kemaren daerah/desa/dusun/kalurahan Kayuare, Serasan Jaya masih banyak sawah tadah hujan…..Sekarang sebagiannya jadi bangunan…..

    Suwunnnn..

  4. Dj.  13 June, 2012 at 02:08

    Ibu Ida…
    Kebalikan dengan kami.
    kami dulu tinggal ditengah kota, dimana-mana hanya bangunan, walau ada sish pohon yang sengaja ditanam.
    Tapi sekarang kami tinggal minggir dikit, jadi dibelakan rumah malah banyak pohon.
    Dan hanya jalan 200 meter ada taman untuk main anak-anak, ada mini Golf dan banyak orang bikin BBQ kalau sommer.
    Salam,

  5. dedushka  13 June, 2012 at 00:42

    di seberang apartemen saya ada hutan kecil dan banyak taman bermain untuk anak anak, kalau sabtu minggu orang berbondong bondong ke hutan kecil itu untuk piknik,BBQ,olahraga dll,suara burung masih kedengeran setiap saat.

  6. J C  12 June, 2012 at 21:24

    Aku masih cukup beruntung di desa tempat tinggalku sini, pepohonan masih rindang, pagi hari suara burung bersahutan, malam suara jangkrik dan kodok di kejauhan, kadang di halaman sendiri, sesekali pagi-pagi buta masih berkabut. Di lapangan rumput agak jauh dari rumah masih sering lihat gerombolan kerbau dan kambing yang diangon/digembala, mencari rumput. Kerbau-kerbau sering berlarian, kadang ada yang berendam di kubangan, anak-anak kambing berkejaran…

  7. probo  12 June, 2012 at 20:09

    menanam beton tepatnya dimas HW……sayang bukan beton nangka atau kluwih

  8. [email protected]  12 June, 2012 at 17:04

    hmmm…. dimana ya ada tanah subur….

  9. Linda Cheang  12 June, 2012 at 14:55

    sekarang jadi hutan beton.

  10. Handoko Widagdo  12 June, 2012 at 13:21

    Tanah-tanah kini subur untuk menanam semen.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *