Partner

Anwari Doel Arnowo

 

Kata judul ini di dalam bahasa kita berarti pasangan atau jodoh dalam masalah perkawinan atau kegiatan seperti olah raga dan juga berarti sekutu atau kompanyon di dalam kegiatan persekutuan dagang atau perpolitikan. Perkawinan dimaksud adalah antara dua manusia berjenis kelamin berbeda (heterogen) atau sama sekalipun, meskipun yang terakhir ini masih banyak yang menentangnya. Biarpun demikian adalah fakta nyata bahwa amat banyak dipraktekkan dimana-mana. Saya sendiri berpendapat bahwa hubungan dengan manusia berjenis kelamin sama, adalah hak azasi manusia, tanpa mereka sendiri sengaja merencanakannya. Pendapat seperti ini memang mungkin saja bertentangan dengan yang dianut banyak orang, karena saya baca juga tentang keyakinan beberapa ilmuwan yang menyatakan hampir pasti akan menuju ke arah masalah genus.

Setelah saya menyaksikan praktek semacam ini di banyak negara, saya tidak bisa memungkiri lagi bahwa ini adalah gejala yang sudah ada sejak jaman Nabi Luth, sepanjang sejarah manusia beribu tahun lamanya. Mengenai hal ini bagi kebanyakan orang yang tidak setuju adalah hal biasa saja di telinga, seperti indahnya sebuah gunung, sampai dia meletus dengan dahsyat serta tenangnya muka air laut yang menakjubkan sampai terjadi Tsunami. Selalu ada dua sisi dari kehidupan, suka atau tidak suka. Sudah pernah saya tuliskan mengenai LGBT (Lesbian – Gay – Bisexual – Transgender) yang saya saksikan di Toronto, Kanada. Mereka berpasangan atau berpartner dengan yang sejenis pada suatu saat. Iya, pada suatu saat, karena ada yang bisa berpasangan dengan dua jenis seperti yang ada di Transgender dan Bisexual. Bagi yang tidak mau tau soal ini, bahkan merasa jijik, itu saya ketaui dan maklumi saja. Yang lain dari pola pikir saya itu adalah hak azasi manusia lain, bahkan binatang lainpun, kalau saja mereka memang memiliki atau mempunyai hak azasi juga.

Dahulu sekali, saya pun merasakan bulu kuduk saya berdiri dan merasa kurang nyaman kalau melihat mereka yang disebut banci mendatangi rumah-rumah dan menyanyi seadanya dengan genit dan bergoyang-goyang badan sebisa mungkin dan sesexy mungkin. Berdiri bulu kuduk saya, meskipun secantik apapun yang saya lihat, saya tau dengan pasti dia itu laki-laki. Itu baru banci biasa. Sejak masa kanak-kanak, sudah biasa sekali saya menonton pertunjukan ludruk di Surabaya di mana ayah saya malah pernah berdiam berdekatan dengan tokohnya yang bernama Durrassim. Dia pernah dipukuli oleh Ken Pei Tai (Polisi Militer Jepang waktu Pendudukan Jepang) hanya karena syairnya: Bekupon Anake Doro, Melok Nippon Tambah Sengsoro (Bekupon Rumah Burung Dara, Ikut Nippon Tambah Sengsara).

Waktu mukanya masih dalam keadaan bengkak-bengkak begitu dia datang menemui ayah saya dan mengatakan: “Aku digebugi ambek Jepang” – Aku disiksa oleh Jepang. Waktu saya belajar di negara Jepang saya juga tau ada pertunjukan kesenian adat Jepang yang sudah amat kuno disebut dengan KABUKI. Mengapa saya sebut soal ludruk dan kabuki ini? Kedua kesenian rakyat jelata ini mempunyai ciri tersendiri, yakni diperankan seluruhnya oleh manusia laki-laki meskipun perannya adalah mengenai manusia perempuan. Mereka tetap berpenampilan cantik jelita meskipun berbadan laki-laki. Mengapa ada yang begini, saya merasa tidak berkompeten untuk berkomentar secara keahlian tertentu atau secara professional, karena saya yakin ada ilmu yang khusus tersendiri mendalami masalah seperti ini. Salah seorang yang ahli pernah menulis sepuluh tahun yang lalu bahwa mereka hampir pasti bahwa gejala ini memang berasal dari genus atau boleh saja disamakan dengan takdir atau karunia alam.

Saya minta maaf kalau pendapat saya ini akan ditampar dengan ketidak-setujuan. Kita boleh dong berbeda, berkat tambahan perubahan dalam  pengalaman masing-masing karena adanya perbedaan di mana-mana dan kapan saja?? Bukankah datangnya perubahan atau bahkan pengetauan baru kadang-kadang tidak kita ketaui atau sadari  kapan terjadinya atau malah tidak menyadarinya seratus persen?

Apa yang saya saksikan di Toronto dan tempat-tempat lain di dunia ada yang badannya pasangan ini buessuarr layaknya body builder, dua-duanya botak kepalanya, dua-duanya berjenggot berkumis dan bercambang, dua-duanya  mengenakan blue jeans dan baju kaos yang tidak penuh atau setengah telanjang, pakai hiasan  rantai macam-macam bergelantungan, tetapi di depan saya jarak kurang satu meter, berciuman bibir lamaaa sekali. Mesra !! Mula-mula saya keget setengah mati. Setelah menyaksikan praktek seperti ini lebih dari sepuluh pasangan dalam jarak beberapa puluh meter, maka mata saya mulai TER”BUDAYA”KAN atau TER”ADAB”KAN oleh dunia mereka.

Di situ, Church Street, sebuah jalan kurang dari dua kilometer, ditutup selama tiga hari tiga malam bagi kendaraan apapun, sekali setahun dan berlangsunglah hura-hura selama sehari 24 jam penuh. Ada manusia yang asal India, ada manusia asal Jepang, Australia, Amerika Serikat dan Afrika juga. Indonesia, memang saya tidak melihat, meskipun saya mengambil lebih dari 700an photo, siang dan malam. Belum lagi apabila mereka mengadakan carnaval allegiance (kesetiaan) terhadap alirannya masing-masing, apakah L atu G atau B atupun T.  Saya tidak bisa membayangkan bila yang seperti ini terjadi di Tanah Air kita. Akan banyak waktu dan biaya terbuang tanpa guna karena protes dan berupa penolakan, penyangkalan serta pengutukan kemarahan bahkan amok atau amukan masa.

Pawai seperti ini sah dan resmi, disubsidi biayanya oleh Toronto City Hall alias Kantor (Wali) Kotanya, jumlahnya audubillah besarnya. Iya, memang pada awalnya saya juga terperangah ada pembiayaan seperti ini, akan tetapi itu adalah fakta. Fakta yang nyata adalah saya berada di suatu tempat yang letaknya saja ada di balik Planet Bumi, di mana Republik Indonesia berada. Jadi apabila ada hal yang jungkir balik, saya harus dan HARUS menjadi maklum. Bukankah di sana siang hari, di sini malam dan seterusnya berlangsung yang sebaliknya? Itu memang kenyataan yang ada di dunia lain. Suka atau tidak suka.

Saat ini saya tergugah untuk menulis hal ini karena ada trend, kecenderungan baru yang saya baca di media pagi ini. Apa itu?

Saya sering menemukan pendapat bahwa di balik peran besar seorang besar di tingkat Kepala Negara atau Menteri, Raja dan CEO serta orang-orang yang dianggap amat berhasil, selalu ada seorang wanita di sampingnya atau seorang wanita dibalik kehidupannya. Hal semacam ini tidak dapat kita cegah apabila orang berkomentar tentang hal seperti ini. Saya bertanya: Apakah Presiden Roosevelt itu tenar da hebat berkat dan  karena istrinya Eleanor, memang pendorongnya? Bagaimana Napoleon? Ataukah Ferdinand Marcos dan Suharto. Saya kira masing-masing punya keunikan sendiri. Kita boleh suka atau sebaliknya, tetapi pasangan suami istri itu tidak menentukan apa-apa terhadap kenyataan kesatuannya dalam hidup berpasangan menjalani kehidupannya. Bukankah saingan Obama yang akan datang, Mitt Romney yang istrinya Ann ternyata belum pernah bekerja mencari nafkah biar satu hari sekalipun? Nancy Reagan juga tidak pernah mempunyai perhatian terhadap politik yang merupakan “makanan” sehari-hari bagi Presiden Ronald Reagan. Nancy dulunya adalah bintang Film Hollywood seperti suaminya.

Fakta baru sekarang adalah Presiden baru Prancis dan Jerman serta Walikota New York sekarang malah tidak beristri, tetapi me”milik”i partner atau pasangan tetap. Presiden Negara Prancis Fran¢oise Hollande berpasangan dengan seorang jurnalis politik bernama Valerie Trierweiler dan Presiden Jerman Joachim Gauck berpasangan dengan Daniele Schadt serta Walikota New York  Andrew Cuomo berpasangan dengan seorang guru dalam ilmu kerumah-tanggaan bernama Sandra Lee. (Data didapat dari media koran Jakarta Post karangan Naomi Wolf berjudul Exit the Political Wife).

Adakah di Indonesia yang seperti ini? ADA !! Tetapi semua tutup mulut kecuali kalau sedang ingin berkelakar oleh sebab dan oleh karenanya. Sekarang di pemerintahan yang ada sekarang? ADA !! Sama saja tutup mulut. Iyalah, saya sendiri telah lama belajar bahwa dalam hal mendapatkan dan menjalani hidup bersama dengan pasangan  pilihan masing-masing adalah pasti telah menggunakan nalar dan pikiran serta perkiraan individu setiap orang untuk kurun waktu tertentu. Bukankah banyak sekali terjadi talak, cerai, divorce dan lain-lain istilah yang maksudnya adalah TIDAK SESUAI LAGI. Biarpun saya tidak mau menganjurkan, tetapi cerai adalah keputusan yang lebih baik daripada hidup bersama yang layaknya menyakiti diri sendiri seperti masochist, sehingga menderita berkepanjangan, menyesal kemudian tiada gunanya, kan??

Dalam hidup berusaha mencari nafkah, saya menjumpai hal-hal dan pihak-pihak serta partner-partner usaha yang nakal padahal bertitel akademis dan agama-agama macam-macam, telah mengecewakan saya karena ketidak-jujurannya. Ah saya pikir lagi, jangan-jangan saya juga dicap seperti itu. Bukankah kita ini hanya mampu saling memandang dari tempat masing-masing kita berdiri? Yang penting saya selalu tetap berusaha jujur dan upaya saya itu mungkin masih saja dianggap kurang oleh pihak lain. Siapa yang tau?

 

Anwari Doel Arnowo

10 Juni, 2012

 

22 Comments to "Partner"

  1. Anwari Doel Arnowo  3 July, 2012 at 18:59

    INI BARU SAYA BACA HARI INI YANG SEPERTI DISEBUTKAN DI DALAM TULISAN DI ATAS.
    http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/reflecting-on-a-personal-journey-for-a-good-cause/528054

    ANWARI DOEL ARNOWO – 2012/07/03

  2. Anwari Doel Arnowo  24 June, 2012 at 11:03

    Hari ini di Koran Kompas Minggu halaman 10 dimuat berita Kelompok Minoritas: OBAMA, HAK AZASI MANUSIA, DAN POLITIK LGBT DI AMERIKA SERIKAT. Seperti halnya di Indonesia di USA mereka yang tidak suka kepada Obama bilang bahwa dia mendukung kebijakan untuk perkawinan sejenis yang merupakan hak-hak azasi manusia itu hanya untuk menerik LGBT memilih dia untu pemilihan ulang Obama menjadi Presiden kedua kalinya.. Pidato menteri Luar Negerinya Hillary Clinton di PBB pada Desember 2011 menyatakan bahwa pemerintahan Presiden Obama membela hak-hak komunitas LGBT.
    Di dalam konteks ini Deparlu USA mengundang media dari 19 negara untuk mengikuti liputan khusus mengenai perkembangan issue LGBT di USA. Harian Kompas termasuk yang diundang.

    Anwari Doel Arnowo – 2012/06/24

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.