Laut, Dewi Laut dan Tionghoa

Djenar Lonthang Sumirang

 

Studi Tentang Kelenteng di Lasem: Laut, Dewi Laut dan Tionghoa

Pengantar

Kota Lasem adalah salah satu kota pinggir pantai (Coastal city) di Jawa. Sebagai kota kuno yang yang terletak di pesisir utara Laut Jawa, Lasem telah memiliki sejarah panjang. Bukti-bukti sejarah panjang kota Lasem antara lain dapat ditunjukkan dari berbagai peninggalan arkeologi berupa situs-situs sejarah mulai zaman prasejarah, masa Hindu-Budha, masa Islam dan masa kolonial yang bertebaran di kota ini.[1]

(http://ayospe.multiply.com/photos/album/26/La_Petite_Chinoise)

Selain itu juga banyaknya sebutan yang dikenal oleh masyarakat, antara lain sebagai: Kota  Batik, Kota Tua, Kota Santri, Kota Cagar Budaya, dan peneliti Perancis menyebutnya dengan “Petit Chinoisatau Kota Cina Kecil, dan lain sebagainya. Tidak jelas kapan orang Tionghoa pertama-tama tinggal di Jawa. Menurut N.J.Krom sudah ada hunian orang Tionghoa selama zaman Majapahit (1294 – 1527).  Mereka datang ke Jawa sebagai pedagang dan sedikit demi sedikit membuat hunian. Dalam puncak kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-4, ningrat Jawa sudah memakai barang mewah dari Cina seperti pakaian dan porselen. Pigeaud telah menyatakan bahwa orang Tionghoa di pantai utara Jawa telah berintegrasi dengan orang Jawa dan menyebarkan Islam.[2]

 

Masyarakat Tionghoa di Lasem

Memasuki kota ini, kita akan sejenak “mundur” hingga 3-4 abad kebelakang. Bangunan-bangunan tua  berarsitektur China bertebaran disisi jalan utama. Apalagi jika kita blusukan di jalan-jalan kecil ke arah kanan atau kiri jalan Sultan Agung, Untung Suropati atau jalur selatan menuju Jatirogo/Bojonegoro yakni jalan Eyang Sambu, seolah berada di China tempo dulu.

Gaya tembok putih setinggi 3-4 meter dan gaya pintu khas cina menciptakan perkampungan pecinan yang eksotis maka tak heran tempat ini menjadi bagian lokasi syuting film Ca Bau Kan yang dibintangi aktris cantik Lola Amaria dan aktor Ferry Salim. Julukan china town memang layak disandang kota ini, jejak kedatangan orang-orang Tionghoa di Lasem termasuk gelombang pertama yang masuk bumi Jawa sekitar abad 14 masehi. Data statistik pemeluk agama pada tahun 2000 menunjukkan bahwa 21.244 orang penduduk adalah muslim, 1203 pemeluk agama Katholik Roma, 987 pemeluk agama Kristen Protestan dan 631 adalah pemeluk agama Hindu, Budha dan Confusius. Disamping beberapa mesjid, mushola dan langgar di Lasem terdapat sebuah Katedral, 6 gereja Protestan dan 3 kelenteng.[1] Meskipun hanya terdapat 3 kelenteng, suasana budaya Tionghoa terlihat sangat menonjol ketika berlangsung  perayaan hari raya Tionghoa.[2] Pada hari-hari seperti itu ribuan orang keluar ke jalan-jalan seakan menjadi bagian perayaan itu, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya Cina sangat mewarnai budaya yang ada di Lasem.[3]

(http://asengjayadipa.blogspot.com/2011/06/lasem-sebuah-kecamatan-di-kabupaten.html)

Suasana keramaian pada perayaan tersebut tidak terlepas dari peran  ketiga kelenteng di Lasem yang telah berumur ratusan tahun.  Pada peristiwa seperti ini kelenteng betul-betul berfungsi sebagailandmark bagi kota Lasem. Kelenteng bukan hanya sebagai tempat kehidupan keagamaan berlangsung, akan tetapi juga merupakan ungkapan lahiriah masyarakat yang mendukungnya.[4] Dua hal penting yang  berkaitan erat dengan peranan kelenteng di Lasem yaitu,  pertama kelenteng sebagai landmark bagi kota Lasem, dan yang kedua pengaruh timbal balik antara perkembangan tata ruang kota Lasem dengan tata letak ketiga kelenteng tersebut.

 

Kelenteng Cu An Kiong: Potret Keindahan Tionghoa Klasik 

Untuk memahami kepercayaan etnis Tionghoa dapat ditelusuri dari keberadaan kelenteng kuno Cu An Kiong di Lasem. Sudah menjadi kebiasaan umum bagi kaum perantauan Tionghoa untuk memohon perlindungan dari Dewi Laut Thian Shang Sheng Mu demi keselamatan  pelayaran mereka. Arca Dewi Laut yang juga dikenal dengan sebutan Ma Co Po atau Maku Po sering dibawa serta dalam pelayaran mereka.

Wajar saja bila kemudian, para perantauan Tionghoa ini mendirikan kelenteng Cu An Kiong sebagai tempat pemujaan Dewi Ma Co Po di pinggir sungai Babagan atau tepatnya di Jalan Dasun Lasem.

Tidak ada sumber pasti kapan Kelenteng Cu An Kiong ini dibangun, tetapi diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16. Sebuah peta Lasem bertahun 1590 sudah mencantumkan keberadaannya.[1] Seperti umumnya kelenteng kuno, kelenteng Cu An Kiong berlokasi di tepi sungai Babagan. Sungai yang membelah kota Lasem ini merupakan pusat lalu lintas perdagangan dari pelabuhan Lasem ke daerah pedalaman. Banyak gudang-gudang yang didirikan di sepanjang bantaran sungai oleh kaum perantauan Tionghoa.

Kompleks kelenteng ini terdiri dari bangunan utama yang diapit dua bangunan sayap di kanan-kirinya. Garis lengkung atap kelenteng tampak arca Delapan Dewa.  Tepat di atas gerbang terpasang paimelintang berwarna kuning emas dengan tulisan aksara Mandarin yang berbunyi Tian Shang Shen Mu, gelar sang Dewi Laut. Pai bagian tengah bertuliskan nama kelenteng dan Dewi Thian Shang Shen Mu. Dua pai di pintu kiri dan kanan dengan ukiran serupa berhiaskan tuilien khas dewi laut : Feng Thiao Yi Sun, Kuo Thai Min An, yang artinya, negara aman rakyat tenteram, bagaikan Samudera tenang tanpa badai dan gelombang.[2]

Tiang penyangga atas teras yang berderet dari kiri kekanan tampak ukiran kelelawar. Dalam kebudayaan Tionghoa, kelelawar atau Pien Fu melambangkan keberuntungan, rezeki dan kebahagiaan. Kelelawar merah juga melambangkan panjang umur. Arca 36 Panglima Langit terlihat menonjol untuk menghiasi tiang-tiang penyangga teras ini. Semenntara itu pasangan berbagai binatang legenda terukir dengan berbagai gaya di tiang-tiang palang teras. Di satu tiang palang teras dijaga oleh sepasang singa, hewan pengusir bahaya serta pembela keyakinan dan hukum Budha.

Pasangan Chilin, binatang supranatural Tionghoa menempati tiang palang yang lain. Chilin adalah hewan yang bertubuh Rusa, berkuku kuda, berekor lembu jantan dan berdahi serigala. Yang jantan dan bertanduk disebut Chi, sedangkan yang betina tak bertanduk disebut Lin. Hewan yang menampakkan diri ketika Konfusius dilahirkan ini merupakan lambang dari kebajikan sempurna, umur panjang, kepatuhan, keturunan yang cemerlang serta pemerintahan yang bijak.

Pada palang teras yang lain, lembu jantan dipasangkan dengan singa, dan juga gajah. Lembu atau sapi sebagai hewan suci.  Budha adalah lambang musim semi, kesuburan dan kerja keras. Lambang yang sesuai dengan harapan masyarakat Tionghoa Lasem jaman dahulu yang bergiat memperdagangkan hasil bumi Lasem ke luar daerah. Ukiran tembok bunga 4 musim berjajar menjadi hiasan utama dari dinding muka kelenteng Cu An Kiong. Musim semi dilambangkan dengan Bunga Magnolia atau Mu Lan. Bunga Peony melambangkan musim panas. Bunga Teratai atau Lien-huamelambangkan kemurnian. Bunga Crysantimum atau Ju-hua adalah lambang musim gugur. Harapan akan umur panjang dan kehormatan sering digambarkan dengan bunga Chrysan Mekar. Bunga Plum yang sedang mekar merupakan lambang dari musim dingin. Bunga ini juga menggambarkan ketulusan dan keperawanan.

(http://dgi-indonesia.com/perjalanan-lasem-1-sehari-kenali-peranakan-lasem/)

Tembok yang putih kuno dihiasi lukisan-lukisan hitam-putih dari berbagai cerita klasik Tionghoa. Ukiran berbagai burung dan bunga-bungaan terlukis dengan tinta emas pada pilar-pilar atas bagian dalam. Singa dan gajah memiliki kedudukan tersendiri dalam rangkaian ukiran kelenteng ini. Ukiran singa pada pilar koridor samping kiri kanan kelenteng Cu An Kiong digambarkan sebagai hewan jinak dengan ekor berkibar dan rambut indah berwarna-warni terlihat di antara bunga peony, yang menyimbolkan harapan akan kekayaan. Di bagian pilar yang lain, juga diukir sepasang singa lambang kekayaan ini. Singa jantan ditampakkan sedang bermain bola matahari, sedangkan singa betina sedang menggendong anaknya. Motif ini juga menyimbolkan keseimbangan Yin Yang, nasib baik, berkah dan perlindungan terhadap pengaruh jahat.

Keunikan lain dari ragam ukiran kelenteng Cu An Kiong ini adalah dengan adanya sepasang patung manusia penyangga tiang. Masyarakat Lasem mengartikan kedua patung tersebut sebagai salah satu bentuk siksa/hukuman neraka bagi para pencuri kayu jati di daerah ini.

Courtyard (halaman tengah di dalam bangunan) menjadi “batas suci” yang diterapkan kelenteng bagi pengunjung. Karena setelah courtyard adalah altar utama Kelenteng Cu An Kiong tempat bersemayamnya Dewi Mak Co dan Lo Cia. Bagian altar utama kelenteng disemayami oleh Dewi Laut Thian Shang Shen Mu atau Macopo. Altar kiri dihuni oleh Dewa Hok Tek Cing Sin atau Fu Te Cheng Shen.

Sebagai daerah yang mengandalkan hasil bumi, sudah sepatutnya Dewa Bumi yang mengatur kelimpahan panen ini dipuja di sini. Dewa Ka Lam Ya atau Qie Lan didudukkan di altar sebelah kanan. Dewa bertampang bengis dengan berpakaian perang lengkap dengan senjata kampak adalah Malaikat Pintu dan Pelindung bangunan-bangunan suci agama Budha. Altar ke tiga Dewa berada di dalam sebuah partisi. Berbagai macam ukiran perlambang didominasi warna emas. Hiasan bagian bawahnya masih didominasi binatang perlambang. Selain Chilin, terdapat ukiran Kijang dan Burung Bangau. Kedua hewan ini melambangkan harapan akan umur panjang. Pada tembok kiri kanan altar utama, terlukis 36 Pengawal langit, yang  memang menjadi salah satu kekhasan Kelenteng ini. Selain di tembok, arca 36 Pengawal Langit juga menghiasi Kio atau Joli kebanggaan masyarakat Tionghoa Lasem.

 

Penutup

Berbicara mengenai Lasem memang tidak ada habisnya, mulai dari sejarah kota yang panjang, kekayaan arsitektural antar budaya, proses kebudayaan antara jawa-islam dengan tionghoa, religiusme yang tinggi dan majemuk hingga sajian kuliner yang menggoda lidah. Tak seperti halnya kota-kota kecil lainnya di Jawa, Lasem mempunyai sejarah panjang dan catatan penting dan menarik untuk dikupas.

Sejarah perkembangan kota pantai (historical waterfront) berhubungan erat dengan awal kemakmuran dan awal pembangunan ekonomi di daerah ini. Sebagai sebuah kota kecamatan, denyut perekonomian lebih berkembang dibanding kecamatan lainnya yang ada di kabupaten Rembang. Jadi tak heran warga Lasem jaman dulu atau bahkan sampai sekarang lebih bangga mengaku warga Lasem daripada warga Rembang.

Pecinan Lasem punya tiga kelenteng, yakni Cu An Kiong di Dasun, Gie Yong Bio di Babagan, dan Poo An Bio di Karangturi. Ketiganya berada di antara permukiman penduduk yang bergaya Tionghoa dan Indische, dan bisa dicapai dengan berjalan kaki. Melihat potensi kota dan sarana pendukungnya maka tidak salah jika kota tua Lasem menjadi kota pusaka atau cagar budaya (heritage town).

 

[1] Hartono, Samuel dan Handinoto, Lasem Kota Kuno Di Pantai Utara Jawa Yang Bernuansa China. Universitas Kristen Petra, Surabaya. 

[2] Wawancara dengan Sigit Wicaksono (Usia 84 tahun) penduduk Desa Babagan Kecamatan Lasem. Beliau adalah generasi ke-4 dari pendatang Cina pertama di Lasem (Cina Totok) dan saat ini sebagai pengusaha batik Lasem cap “Sekarjagad”.

[1] Pratiwo, The Chinese Town Lasem dalam bab: Urban Life in Small Town The Chinese Town Lasem, dalam buku: The Indonsian Town Revisited, Lit Verlag, Institute Of Southeast Asian Studies, Singapore. Periksa dalam Bappeda Rembang, “Rembang dalam Angka” (Rembang: Pemda Rembang) 2004.

[2] Basuki Soedjatmiko (ed), Hari Raya Tionghoa Tempo Doeloe di Hindia Belanda 1885(Surabaya:Rama Press, 1983).

[3] Pada tahun 1967 rezim Orba mengeluarkan Inpres Nomor 14 Tahun 1967, yang isinya melarang perayaan-perayaan, pesta agama dan adat istiadat China. Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dikeluarkan Kepres Nomor 6 Tahun 2000, tentang pencabutan Inpres No. 14 Tahun 1967. Ini merupakan pengakuan bahwa masyarakat China adalah bagian dari bangsa Indonesia. Bahkan pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Hari Raya Imlek ditetapkan dalam daftar hari libur nasional almanak Indonesia.

[4] Claudine Salmon & Denys Lombard (1985), Klenteng-Klenteng Masyarakat Tionghoa di Jakarta, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.

[1] Dalam Serat Badra Santi, yang ditulis Mpu Santi Badra tahun 1479 dan diterjemahkan dalam bahasa Jawa oleh Kamzah R Panji, disebutkan bahwa pada tahun 1273 Saka atau 1351 Masehi, Lasem telah menjadi tanah perdikan Majapahit. Waktu itu, Lasem dipimpin seorang perempuan bernama Dewi Indu, keponakan Raja Hayam Wuruk bergelar Bhre Lasem—dalam versi Kitab Negarakertagama, Bhre Lasem waktu itu adalah seorang putri bernama Sri Rajasaduhitendudewi, adik perempuan Hayam Wuruk.  Lihat pula AM. Djuliati. S. , Sejarah dan Budaya Maritim di Lasem, (Semarang: Penelitian Didanai P4M, Tidak Diterbitkan, 1994) halaman 15.

[2] Peter Carey, 2008, Orang Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa, Perubahan Persepsi Tentang Cina 1755-1825, Jakarta: Komunitas Bambu halaman 11

 

15 Comments to "Laut, Dewi Laut dan Tionghoa"

  1. DLS  31 August, 2012 at 17:30

    terima kasih atas respon kawan2.

  2. Nur hasyim-Auk  31 August, 2012 at 15:24

    Salam hormat untuk orang-orang Lasem.
    Dengan membaca tulisan-tulisan diatas, saya merasakan kembali barada dikota Lasem mengingatkan kembali masa-masa kecil yang suka berenang di sungai/kali Babagan melihat Liang Leong diarak sepanjang jalan ditengah kota dari Klenteng 1 menuju Klenteng yang lain saat tembaru China tiba.
    Budaya masyarakatnya cukup bagus tulung tinulung, rukun dan damai tidak membedakan pribumi dan pendatang.
    Memang kata orang masuk kota Lasem sepertinya masuk di Negara China karena bentuk bangunan sepanjang jalan dihiasi rumah dan bangunan berarsitek China, seperti yang sering kita lihat dalam film-film silat Hongkong yang diputer di bioskop-bioskop dulu.
    Itu yang saya kenang sepanjang masa.

  3. DM  17 August, 2012 at 19:59

    lama nggak buka baltyra. pas chek terakhi buka tanggal 9 september 2010. sekarang buka malah nemu tulisan tentang lasem.

    ulasan yg sangat menarik. sebagai orang lasem saya sangat senang bacanya.

  4. DLS  18 July, 2012 at 20:36

    salam.. lama tidak buka internet., email saya ada di [email protected]
    suwun.

  5. Bagong Julianto  16 June, 2012 at 10:02

    Lani….kuwi ditulis ngono: Lasem-Rembang…..
    Berarti Lasem cedak Honolulu……hahahaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.