Mbak In

Wesiati Setyaningsih

 

Namanya Aria Indrawati, SH. Orangnya kecil : langsing dan tidak terlalu tinggi. Suaranya tegas dan tawanya keras. Saya bertemu dia pertama kali ketika dari ruang technical meeting, saya diantar di sekretariat. Mestinya memang saya menunggu di sekretariat sejak awal dan bukannya ikut TM. Intinya, saya tadi nyasar. Ketika masuk, perempuan ini sudah duduk di sana. Dia tidak menatap ke arah saya yang baru saja masuk. Hanya kepalanya yang bergerak sedikit karena ada suara. Panitia yang mengantar saya memperkenalkan kami. Dia mengulurkan tangan untuk menyalami saya.

(Kemudian saya tahu bahwa dia selalu mendahului mengulurkan tangan. Orang-orang yang tidak mau menyalami lawan jenis sangat menyusahkan orang tuna netra seperti dia karena dia tidak melihat bahwa tangan orang di depannya hanya menangkup dan tidak menyambut tangannya).

Kemudian kami semua berkumpul. Panitia dan 3 juri saling memperkenalkan diri. Dia memperkenalkan diri, Aria Indrawati, biasa dipanggil, Iin dan dia mengaku low vision (masih bisa melihat sedikit dari jarak yang sangat dekat). Dia memperkenalkan diri bahwa dia dari Mitra Netra Jakarta. Tadinya saya kira dia berangkat bersama seseorang dari Jakarta, ternyata tidak.. Tidak tampak rasa rendah diri sedikitpun (dan memang dari semua peserta yang tuna netra pun, saya tidak melihat rasa rendah diri). Dia sangat enjoy dengan situasi yang ada.

Malam itu kami bertiga berembuk. Dia yang memaksa saya untuk mengajari saya tentang debat. Sedikit saja dia tidak jelas, dia akan bertanya pada saya untuk mendapatkan kejelasan sampai memuaskan dia. Dia juga yang berkeras kami memiliki batasan yang jelas sehingga meski dia sama sekali belum pernah terlibat dalam lomba debat sama sekali, dia ingin memberikan “jejak yang indah”. Saya yang tidak siap, karena memperkirakan bahwa para juri sudah punya bekal sendiri-sendiri, terpaksa memeras otak mengingat-ingat workshop yang pernah saya ikuti.

Berkat dia saya bisa memberikan acuan penjurian yang sepantasnya. Setidaknya memang ada yang harus kami ubah untuk para peserta yang tuna netra. Contohnya, kami sepakat tidak akan memasukkan ‘eye contact’ dalam penilaian. Hari pertama berjalan lancar. Saya semakin dekat dengan mbak In ketika kami istirahat sholat maghrib sekaligus istirahat makan malam. Saya ikut ke kamarnya (karena memang dia menginap di asrama yang ada, sementara saya karena tinggal di dalam kota, saya putuskan pulang) untuk sholat.

Saat itulah kami saling cerita tentang keluarga. Ibunya yang sudah meninggal, bapak saya yang juga sudah meninggal, dia yang tinggal sendiri dan single, saya yang punya anak dua dan tinggal bersama ibu saya, serta deodoran yang sudah kehilangan kemanjurannya di badan saya karena belum mandi lagi sejak pagi sementara dia memang alergi deodoran dan memakai bedak. Tanpa beban saya meminta bedaknya untuk menahan bau badan yang bahkan saya sendiri tidak tahan. Tiba-tiba kami sudah seperti dua bersaudara.

Sejak turun dari ruang lomba di lantai 3, dia menggandeng tangan saya. Lalu naik ke kamar di lantai dua, turun lagi setelah keluar dari kamar, naik lagi ke lantai 3 dimana ruang lomba berada. Dia yang memberitahu saya untuk membiarkan tuna netra yang menggandeng di siku dan bukan kita yang memegang tangan mereka. Karena begitulah cara membantu mereka berorientasi.

Di ruang lomba, ternyata masih kosong melompong. Karena AC masih tetap dihidupkan ketika kami semua keluar, saat kami masuk ruangan terasa begitu dingin. Kami duduk di tempat juri dan sepakat untuk bersabar sampai semua hadir dan lomba dimulai lagi.

“Tadi ruangan dingin banget waktu masuk ya? Sekarang agak panas,” katanya.

Mata saya menengok pintu masuk. Ternyata saya lupa menutup pintu dan kini kedua daun pintu itu terbuka.

“Tadi pas masuk pintunya tertutup mbak. Sekarang pintunya terbuka,” kata saya menjelaskan sambil mengagumi indera rasa dia.

Sambil menunggu, kami ngobrol lagi ke sana ke mari. Dia memuji Elisabeth yang katanya cantik, tapi bekerja sebagai pemijat.

“Dia kan jadi rawan pelecehan. Tuna netra, cantik dan profesi dia jadi pemijat gitu. Heran juga dia cerdas sekali. Padahal pekerjaan dia tidak melibatkan dia dengan berita-berita aktual.”

Saya kagum dengan cara dia menganalisa. Dan, bagaimana dia tahu Elisabeth itu cantik?

“Aku masih bisa melihat dalam jarak yang sangat dekat. Tadi aku ajak ngobrol dia karena dia dari Jakarta. Berarti dia ada di bawah wilayahku. Aku duduk sebelahan sama dia tadi.”

Aku paham. Seharian ini kami sudah jadi sahabat dan aku sungguh mengagumi semua cara dia. Dia menulis huruf braille dengan kotak plastik lebar yang digunakan untuk menjepit kertas lalu menusuki kertasnya. Dia mengetik di laptopnya dengan menggukan head set karena semua instruksi yang tertulis di laptop dirubah dalam bentuk suara. Dia mendengarkan pesan-pesan dari hape yang sudah dirubah dalam bentuk suara juga. Teknologi sungguh memudahkan para tuna netra.

 

Hari itu aku mendapat sahabat baru.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Mbak In"

  1. Meitasari S  17 June, 2012 at 18:14

    Mb wesi, keren !

  2. wesiati  17 June, 2012 at 18:04

    terima kasih sudah dibaca…

  3. Bagong Julianto  17 June, 2012 at 08:10

    Wesiati S>>>

    Trims…
    Tuna netra, mata kelopak fisiknya yang tak berfungsi (normal).
    Masih ada lagi mata(=indera) hati, mata tangan, mata hidung, mata telinga yang bisa saja melebihi kemampuan rata-rata manusia yang tak tuna netra.
    Di Segaran Sriwedari Solo jadul, tiap hari Minggu jadi ajang tampil Band SLB (Tuna Netra), juga main catur. Saya lawan satu pecatur SLB itu. Dia tahu saat kuda saya jalan miring. Kedua tangannya tak berhenti merabai seluruh bidak. Papan dilobang. Semua bidak punya paku pancang yang dicucukkan ke lubang setiap terjadi langkah. Saya makin terdesak. Saya nggak bisa dan mulai malu untuk mencoba curang lagi……hingga Skak mat. Lawan saya memutarkan punggungnnya membelakangi saya. Hhuuhhh, juara Kalurahan kalah kelak!
    Suwunnn…

  4. J C  15 June, 2012 at 05:30

    Apik, Wesiati…

  5. Dj.  14 June, 2012 at 13:37

    Persahabatan selalu indah, semoga bisa berjalan tanpa mengalami gangguan.

  6. Linda Cheang  14 June, 2012 at 11:16

    senangnya mendapat teman baru…

  7. Handoko Widagdo  14 June, 2012 at 10:55

    Terima kasih untuk sharingnya Wesiati.

  8. [email protected]  14 June, 2012 at 10:46

    Absen… no 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *